
Sebelumnya mau minta maaf dulu buat bab kemarin apabila ada kata-kata yang gak enak dibaca. Apalagi kalau ternyata ada dedek-dedek gemes yang ikut mampir baca. Please itu part cuma buat yang udah nikah. Kalian nggak usah bayangin apa-apa. Cukup bayangin aja daringnya. Like dan komennya ditunggu Kakak. Author nggak dibayar gak apa yang penting kalian like dan komen. Nggak sampe bikin jari keseleo koq, cukup aku yang sering keseleo jari buat nulis cerita ini. Kalian tekan klik, komen setitik aja udah bayaran paling berharga banget buat aku. Miris banget kalau cuma baca gak mau like dan komen, aku berasa dianggurin Kakak. Dianggurin nggak enak, aku lebih suka diapelin ehh.
( ̄3 ̄)( ̄3 ̄)( ̄3 ̄)
Akash sudah menyelesaikan mandinya saat Bumi mengganti sprei. Dia lupa tadi tak menggantinya dengan warna yang lebih gelap, alhasil bercak darah itu nampak mencolok sekali pada spreinya yang putih.
"Aku saja yang memasangnya," Akash menyentuh tangan istrinya yang sedang memasukan ujung sprei pada kasur.
"Dikit lagi kok, Kak." Sejurus Bumi menghentikan gerakkannya dan menoleh pada suaminya yang wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahnya.
"Aku ninggalin kamu buat mandi aja udah kangen banget," ujar Akash, tangannya berpindah menyelipkan rambut Bumi ke balik telinganya. "Definisi cantik luar dalam itu ya, kamu," seraya kembali menenggelamkan wajahnya ke wajah Bumi.
"Kak, emm, udah dulu ih," Bumi terpaksa harus mendorong dada suaminya agar berhenti bermain-main, bibirnya sudah sangat panas.
Akash terkekeh, mengusap rambut indah istrinya. "Mandi gih, nanti airnya keburu dingin." Suruhnya, "atau mau kumandikan?" godanya dengan kerlingan mata.
"Enggak, emang aku bayik dimandikan segala." Sergah Bumi, mulai berjalan dengan sangat hati-hati. Dia belum terbiasa dengan sesuatu yang masih terasa mengganjal di bawah perutnya. Masih nyeri dan perih.
Akash memperhatikan Bumi yang berjalan menyeret langkahnya, "aku gendong aja ya?" tawar Akash seraya mendekati tubuh istrinya dan menggendongnya.
"Eeh jangan, aku jalan saja." Bumi meronta, namun Akash tetap tak menurunkannya hingga sampai ke dalam kamar mandi.
"Jangan lupa wudhu dulu," Akash mengingatkan. "Menghadap kiblat pas baca do'a nya." Lanjutnya, kemudian teringat sesuatu, "Eh udah bisa kan do'a nya?" selidiknya membuat Bumi mengangguk cepat.
"Harusnya belum bisa, biar bisa aku yang ajarkan sekalian praktekkan." Selorohnya dan segera mendapat pukulan di bahu depannya oleh Bumi.
"Kak, kenapa mesum banget sih?" protes Bumi. "Udah sana," suruhnya seraya mendorong-dorong tubuh suaminya. Akash tak menurut, dirinya lagi-lagi menenggelamkan wajahnya pada wajah istrinya. Padahal Bumi sudah ingin menolak. Tapi tubuhnya malah ingin menerima. Semuanya Akash akhiri setelah merasa kehabisan oksige.
"Nabung biar nggak kangen," selorohnya mengusap bibir.
Bumi tak menjawab, bibirnya masih terasa panas. Segera ia kunci pintu kamar mandi begitu Akash keluar. Alih-alih langsung mandi, dirinya lebih memilih bersandar pada pintu. Memegangi dadanya, lalu bibirnya dan mengulas senyum tipis. Mengingat kegilaan yang dia lakukan karena telah memancing Akash terlebih dahulu.
__ADS_1
********
Bumi merasakan pegal di sekujur tubuhnya saat matanya terbuka, sayup-sayup suara adzan yang disuguhkan lewat pengeras suara sudah terdengar. Ia menangkap sosok suaminya sedang mematut diri pada cermin meja rias. Wangi parfum khasnya tercium, menyeruakan aroma yang selalu menyenangkan bagi Bumi.
"Kak....," panggilnya lirih.
Seketika Akash membalikkan bada dan berjalan ke arahnya, "mau digendong lagi ke kamar mandi?" tawarnya dan langsung dihadiahi dengusan kecil oleh Bumi.
"Badanku pegal, nyeri semua." Keluhnya seraya menggerak-gerakan kedua tangannya. "Aku koq nggak dibangunin?" protesnya, "jadi nggak tahajud, deh," sesalnya. "Kakak sih gangguin tidur aku semalam." Omelnya seraya memukul lengan suaminya.
Akash terkekeh, semalam dia hanya berniat menggoda. Namun, siapa sangka Bumi malah merespon dan menerima kembali kehadirannya. Kegiatan menyenangkan itu kembali terulang, bahkan lebih lama.
"Mau mandi sekarang?" selidik Akash dan diangguki Bumi. "Aku siapkan air hangatnya," Akash beranjak namun Bumi mencegahnya.
"Nggak usah, Kak." Tolak Bumi, dia menyingkap selimut yang dipakainya, perlahan mulai turun dari tempat tidur.
"Kakak ke masjid sana, nanti telat."
"Kakak, udah deh." Omelnya dan dihadiahi kekehan oleh Akash. Tanpa aba-aba dia mendaratkan ciuman di kening istrinya lalu berlari menghindari omelannya.
Bumi jadi senyum-senyum sendiri sambil mengusap keningnya yang masih terasa basah namun hangat. Dadanya berdebaran, sebahagia itu. Mengingat kejadian semalam membuat dirinya meringis, antara malu dan ingin lagi. Eh.
Bagaimana tidak ingin lagi, setiap Akash mengajaknya mendayung di atas awan menuju nirwana indah, dia benar-benar merasa terbuai dan hanyut dalam kenikmatan. Sebuah kegiatan yang menyenangkan dan selalu tak ingin diakhiri dengan cepat.
"Iih Bumi, mikirin apa sih?" monolognya seraya memukul kepalanya sendiri dan mulai berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya ia seret. Seperti semalam, air hangat akan segera meringankan rasa nyerinya.
Bumi meloloskan pakaiannya, dia memeriksa area leher dan dadanya yang terasa nyeri lewat pantulan cermin. Matanya terbelalak, bagaimana tak nyeri. Tanda merah kebiruan itu penyebabnya. Bumi mengusap satu persatu tanda itu seraya mengulas senyum. "I Love you, Kak." Gumamnya, kemudian mulai memakai handuk untuk terlebih dahulu mengambil wudhu.
******
Sekembalinya Akash dari masjid, ia mendapati istrinya sedang tidur meringkuk di atas sajadah dengan masih mengenakan mukena. Ia segera menghampirinya. Diusapnya pucuk kepala istrinya itu.
__ADS_1
Tidurnya benar-benar pulas. Mata tertutup sempurna dengan mulut yang terbuka, namun tetap cantik di matanya. "Maaf ya, gara-gara aku kamu pasti kelelahan." Monolognya seraya mengangkat tubuh itu untuk dipindahkan ke atas tempat tidur dengan sprei yang sudah diganti lagi.
Bumi tak terusik, hanya menggeliat sebentar kemudian kembali tertidur. Akash tak tega mengganggunya, dia memutuskan untuk membiarkan saja istrinya tidur walaupun sebenarnya tidak baik tidur setelah shubuh.
Mata Akash menangkap dua buah sprei yang tersimpan dalam keranjang di depan pintu kamar mandi. Sadar gara-gara siapa sampai dua kali ganti sprei dalam semalam, otaknya langsung menyuruh untuk bertanggung jawab.
Dia melepas koko dan menggantungnya di balik pintu. Lalu mengambil sprei untuk dicuci. Beruntung bukan sekali dua kali dia menginap di rumah itu. Sudah hafal betul di mana dia dapat mencuci.
Untuk sprei yang berwarna putih dengan noda darah, Akash menyikatnya terlebih dahulu pada area yang terkena noda. Ulasan senyum di bibir karena mengingat kegiatan menyenangkan semalam. Kejadian kedua kalinya yang lebih lama dan berhasil membuat Bumi merasakan pegal-pegal dan nyeri.
"Kash, sedang apa?" suara Mama mertuanya membuat sikat di tangannya hampir terjatuh.
"Kamu mencuci?" selidik Ayas, matanya memicing pada sprei yang dipegang Akash, sedang disikat.
"Biar Bumi yang melakukannya," protes Ayas yang sedang membawa keranjang pakaian kotor di tangannya.
"Ada apa nih pagi-pagi diskusi di tempat pencucian?" Laut ikut penasaran. "Masyaallah, Akash sedang mencuci?" dengan nada pura-pura kaget Laut bicara. "Nggak nyangka gue, seorang Akash bisa takut juga sama istri."
"Bukan takut, tapi tanggung jawab." Elak Akash, tangannya memasukan sprei ke dalam mesin cuci yang sudah terisi air dan detergen. "Mau sekalian dicuci biar otaknya agak bersih dikit?" tawar Akash menunjuk pada mesin cuci yang sedang menggiling dua buah sprei itu.
Baru saja Laut akan berucap, Ayas sudah terlebih dahulu berkata, "jangan debat pagi-pagi atau Mama suruh istri kalian nanti malam tidur dengan Mama?!" ancam Ayas, meletakkan keranjang cucian di samping mesin cuci dan berlalu meninggalkan keduanya.
"Mama nggak jadi mencucinya?" teriak Laut.
"Nanti saja," jawab Ayas dengan sura yang tak jelas dalam pendengaran Laut. Dirinya sempat melirik Akash, sejujurnya dia memuji kelakuan Akash itu tapi enggan mengungkapkannya.
Lebih memilih pergi meninggalkan Akash tanpa bicara apapun. Akash memandang punggung Kakak iparnya yang hilang di balik pintu kamarnya. Merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Laut. Meski kerap berdebat dan tak ingin saling menunjukan kepedulian. Tapi, keduanya sama-sama tahu apa yang dirasakan oleh perasaan masing-masing.
(づ ̄ ³ ̄)づ
Note
__ADS_1
Terimakasih sudah membersamai Bumi dan Akash. Baru dikit ya bikin dua orang ini bahagia. Lanjut? like dan komen masih ditunggu.