
Semua anggota keluarga termasuk Laut dan teman-temannya sudah bersiap berangkat. Hanya Bumi yang masih di kamar dan belum berkumpul bersama Mereka.
"Bumi ngapain aja sih dandannya lama banget dah, jangan-jangan selain bulu alis bulu yang lain jga dia kerok kali." Damar mulai menggerutu.
"Yank, Kamu kala bicara kelewatan deh. Tadi tuh Bumi sibuk bantuin Tante Rina ngiketin rambutna Nana jadi mandinya sedikit telat," ucap Lila seraya memukul lengan kekasihnya itu.
"Tadi Dia yang menyuruh Kita cepat-cepat bersiap sekarang Kita yang nunggu Dia. Maunya apa sih tuh anak?" tidak jera mendapat pukulan di lengan, Damar melanjutkan ocehannya.
"Sekali lagi Lo ngomel, Gua larang Bumi bantuin Lo!" Bisik Akash pelan namun penuh penekanan. Bulu kuduk Damar sampai meremang. Damar tentu saja diam tak lagi bicara.
Dari arah tangga ketukan heels yang beradu dengan lantai keramik mengalihkan pandangan seluruh orang yang siap berangkat dan tinggal menunggu Bumi. Suara ternyata berasal dari langkah Bumi yang anggun dengan kain batik yang membuat langkahnya terpaksa sangat perlahan.
Bumi tampak anggun dengan kebaya berwarna mocca yang memperlihatkan pundaknya. Riasan pada wajahnya sangat natural namun tegas. Karena tidak sempat keramas, rambut sebahunya terpaksa Bumi gelung dengan menyisakan sedikit anak rambut di kedua sisi pelipis hingga telinganya.
Dengan senyuman yang selalu manis Dia segera menghampiri dan meminta maaf karena sudah membuat mereka menunggu.
"Lo Bumi? Pantesan lama ternyata dandanan Lo cantik begini. Puas dah ah Gue lihatnya." Ucap Damar yang langsung mendapat pelototan dari Lila. "Tinggal bilang cantik aja bisa nggak?"
Damar hanya nyengir kuda mendapat pelototan dari kekasihnya.
"Ayok berangkat, keburu siang." Bumi melenggang dengan anggun. Tas kecil Dia sampirkan di pundaknya.
"Tunggu dulu!" suara Akash membuat langkah mereka terhenti.
"Ini baju nggak ada yang lebih tertutup?" Akash menunjuk tepat di pundak Bumi.
"Memangnya kenapa?" Bumi balik bertanya. Kebayanya memang sedikit terbuka di bagian pundak tapi tidak menampakkan belahan dadanya sama sekali.
"Mam, Mama tidak melihat saat Bumi membeli kebaya ini?" Akash memandang Ayas dengan sorot tajam membuat dirinya sedikit merinding.
"Bukannya itu beli lewat online dan sepaket dengan batik yang Kamu kenakan ya?" Mama balik bertanya. Bumi sedikit menyesal karena tidak memperlihatkan dahulu kebaya yang Dia beli pada Mamanya.
"Mama ada pashmina yang warnanya sama seperti kebaya Bumi tidak?" tanya Akash yang terkadang selalu baku dalam hal berbicara.
"Ada, sebentar Mama ambilkan." Dengan gerakan cepat Ayas membuka pintu kamar dan secepat kilat kembali membawa pashmina berwarna mocca.
Tidak terlalu sama namun hampir. Akash menerima pashmina itu. Dalam hati Bumi berfikir bahwa Akash akan memintanya memakai hijab. Akash membentangkan pashmina dan menyampirkannya pada kepala Bumi. Perlahan Dia memakaikan pashmina itu hingga menutup sempurna kepala dan rambut Bumi.
"Kamu tambah cantik jika seperti ini, tapi Aku mau Kamu memakainya atas kehendak sendiri" Akash kembali menurunkan pashmina dari kepala Bumi dan menyampirkannya di pundak Bumi.
"Pundakmu cantik, jangan biarkan sembarang orang melihatnya. Termasuk Aku." Kata-katanya halus namun terasa menusuk kalbu.
Bumi diam saja tak ingin membantah.
"Duuh Akash, romantis Lo memang beda dari yang lain." Ucapan Lila membuat wajah Bumi bersemu merah. Semua yang melihat adegan itu merasa terbawa suasana akan perlakuan Akash pada Bumi.
"Ya sudah Ayok berangkat, kasihan Ayesha sudah menunggu." Laut memberi komando agar segera kembali pada acara inti yaitu seserahan. Bukan menonton live drama Akash dan Bumi.
Semua anggota keluarga mulai menaiki mobil masing-masing. Total ada 25 orang yang akan berangkat ke rumah Ayesha. Laut sendiri satu mobil dengan Ayas, Uti dan Yudis. Sementara Akash satu mobil dengan Bumi, Damar dan Lila beserta barang-barang seserahan. Kali ini Akash yang bertugas menyetir dengan Bumi yang duduk di sampingnya.
"Jangan dilepas pashminanya!" titah Akash pada Bumi saat mulai melajukan mobil.
"Enggak, makasih ya Kak sudah mengingatkan." Bumi tersenyum manis.
"Jaga kehormatan Kamu," ucap Akash tanpa menoleh dan tanpa senyuman.
Bumi tentu saja merasa menjadi wanita paling istimewa. Benar seperti perkataan Lila, Akash romantis dengan caranya sendiri.
*****
Akash mendapati ponselnya yang disimpan di saku celana terus berdering. Dengan sedikit kesusahan Dia mengambil benda pipih tersebut dan menyodorkan pada Bumi.
"Tolong jawab, Aku tidak biasa terima panggilan saat menyetir."
__ADS_1
Bumi mengambil ponsel Akash namun saat akan menggeser tombol hijau panggilannya mati dan digantikan dengan notif pesan.
"Pesan masuk, Kak."
Akash melirik sekilas meminta Bumi membaca pesannya.
"Passcode nya tanggal lahir Kamu." Ucap Akash tanpa menoleh. Bumi tersenyum tipis, apa wallpappernya juga fotonya. Namun saat sudah terbuka layar menampakkan wajah Ummi yang sedang tersenyum di pelukkan Akash. Bumi segera membuka pesan masuk.
"Dari Ummi, katanya sudah sampai lokasi." Bumi sedikit kecewa pasalnya jika ada keluarga Akash Dia tidak bisa leluasa berdekatan dengan Akash.
"Balas saja, Kita masih di jalan. Sebentar lagi sampai," Akash melirik sekilas pada Bumi. Dia dapat melihat perubahan raut wajah Bumi. Dia mengerti hal itu dan hafal apa yang dirasakan Bumi. Akash menengadahkan tangan kirinya. Bumi meletakkan ponsel pada telapak tangan kekar itu.
"Bukan ponsel, tapi tanganmu." tanpa menoleh dan tetap fokus menyetir. Bumi kembali mengambil ponsel dan meletakkan tangan sebelah kanannya.
"Dosa ditanggung masing-masing ya," ucap Akash segera menggenggam tangan mungil Bumi dan membawanya ke atas dadanya. Bumi hanya tersipu mendapat perlakuan seperti itu. Di sana Dia dapat merasakan jantung Akash yang berdetak tak karuan.
"Aku juga ingin memegangmu di bagian ini untuk merasakan apakah jantungmu sama kacaunya seperti jantungku saat Kita berdekatan? tapi takut salah sentuh." Akash tertawa tanpa melepaskan genggaman tangan itu.
"Pegangang aja terus, anggap aja yang di belakang nggak lihat." Damar menyindir dengan celotehan khasnya.
"Lo pikir Gue ngga lihat Loe berdua ngapain dari tadi?" Akash melirik keduanya lewat spion.
"Emang kelihatan Kash?" Damar balik bertanya.
"Mata Gue yang suci ini sampai ternoda lihat ciuman panas kalian," Akash berdecak kesal. Pasalnya Damar dengan sangat agresifnya mencium bibir Lila dan adegan itu terpampang nyata pada kaca spion dan tepat sekali saat Akash melihat ke arah kaca.
"Sorry Kash, Gue nggak tahu Loe bakal lihat." Damar merutuki kebodohannya.
"Memang Lo tuh ceroboh, bukan sekali dua kali Gue lihat adegan kayak gitu dari Lo berdua." Akash kembali mengingatkan sudah sering Damar melakukan itu bahkan di tempat umum sekalipun. Lila yang mukanya sudah merah padam hanya dapat menunduk sambil terus mencubiti lengan kekasihnya.
"Udah Kak, kasihan Kak Lila kan jadi malu." Bumi mengusap-usap punggung tangan Akash yang masih saling menggenggam.
"Mending Lo rapihin lipstik Lo, La. Sebentar lagi Kita sampai." Akash kembali melirik Lila lewat kaca spion. Lila dengan cepat mengambil cermin dalam tas kecilnya lalu kembali mengapukan lipmatte pada bibirnya.
Akash menepikan mobil karena mereka sudah sampai di tempat tujuan. Ternyata mereka sampai paling akhir. Laut bersama yang lain sudah berbaris rapi di halaman rumah Ayesha.
"Dilepas nih pegangannya? Nggak rela!" Seru Bumi seraya mau tidak mau melepaskan genggamannya dan Akash hanya tertaw.
"Rapikan dulu pashminanya, jangan sampai terbuka." Akash kembali mengingatkan kemudian mereka semua turun dari mobil dan segera membuka bagasi untuk mengeluarkan parcel seserahan.
Dibantu beberapa keluarga lain parcel itu berpindah dari bagasi mobil ke tangan tangan masing-masing saudara Bumi. Awalnya Bumi ingin membawa satu parcel namun diambil alih oleh Akash, Dia tak ingin Bumi merasa pegal. Keluarga Akash ternyata sudah baris paling depan bersama Laut dan juga Mama Ayas.
Tuan rumah mulai membuka acara dengan menghadirkan seorang ustadz setempat sebagai penyambut tamu. Beruntung acara penyambutan itu tidak terlalu lama dan para tamu dipersilahkan masuk setelah barang seserahan beralih dari tangan keluarga Laut ke tangan keluarga Ayesha.
Mereka semua dipersilahkam masuk ke dalam ruang tamu yang cukup besar. Tidak ada kursi, hanya ada karpet dan sebuah meja bulat di tengahnya. Ruang tamu yang cukup luas mampu menampung seluruh keluarga besar namun sebagian keluarga memilih duduk di halaman rumah yang sudah disediakan beberapa kursi dan juga meja.
Ayesha sendiri duduk diapit kedua orangtuanya. Terlihat sekali wajahnya gugup namun tidak mengurangi kadar kecantikannya yang hari itu memakai hijab syar'i. Ayesha sudah memutuskan untuk menutup aurat sejak beberapa hari yang lalu.
Bumi duduk terpisah dari Laut dan Ayas. Kedua keluarga besar duduk melingkar. Tak lama terdengar kembali suara sang Ustadz mengucapkan terimakasih atas kedatangan para tamu dan dengan senang hati menerima pemberian dari sang calon mempelai pria.
Bumi tidak begitu mendengarkan apa yang kedua belah pihak bicarakan yang jelas Dia hanya merasa sangat mengantuk. Semalaman susah sekali ingin tidur, ada saja yang mengganggu.
"Kakak, Aku mengantuk." Bumi sedikit berbisik pada Akash yang duduk di sampingnya. Zahra dan Ilham sedari tadi sudah memelototinya karena duduk bersebelahan dengan Bumi.
"Memangnya Kamu tidak tidur semalam?" Akash membalas bisikan Bumi.
"Tidak, Nana terus menangis. Aku susah buat tidur jadinya." Bumi sedikit mendongakan wajah untuk berbisik pada Akash. Berada sedekat ini membuat keduanya susah payah harus mengendalikan detak jantung masing-masing.
"Ya sudah tidur saja, bersandar di bahuku." Akash melirik bahunya sendiri.
Tentu saja tanpa disuruh dua kali Bumi segera menyandarkan kepalanya di bahu Akash.
Dengan sangat sengaja Dia meraih tangan Akash dan menggenggamnya. Melupakan beberapa sorot mata tajam yang memandang ke arah Mereka.
__ADS_1
"Jangan dilepas ya, Kak. Nanti Aku jatuh." Setelah mendapatkan posisi nyaman dengan bersandar pada bahu Akash dan satu tangan memeluk lengan serta sebelahnga lagi menggenggam tangan pria jangkung itu Bumi mulai memejamkan mata.
Zahra tidak tahan lagi melihatnya, Dia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan mengetikkan pesan untuk dikirim pada Akash.
/Jaga sikap Kash, semua orang tahu Kamu sebulan lagi akan menikah dengan Rere/
Mendapati ponselnya bergetar Akash membuka pesan itu. Membacanya lalu dengan sedikit kesusahan mengetik balasan.
/Suruh Nadia kemari/
Terlihat Zahra berbisik pada adik perempuan yang duduk di sebelahnya. Ragu-ragu Nadia beranjak berjalan susah payah mengandalkan lutut dengan badan terus membungkuk melewati para keluarga Mama Ayas.
"Kamu gantiin Kakak pegangin tangan Kak Bumi, Kakak takut ditelan Kak Zha." Begitu kata Akash saat Nadia sampai di hadapannya.
Perlahan keduanya bertkuar posisi. Bumi yang nyatanya memang benar-benar terlelap tak menyadari bahwa sekarang bahu Nadia yang menjadi sandarannya. Akash memilih keluar saja karen suasana hatinya menjadi sangat kacau. Ternyata Damar pun memilih duduk di luar, tepatnya di kursi yang sengaja disiapkan tuan rumah.
"Kenapa keluar, Lo?" tanya Damar yang sedang menghisap rokoknya di sebelahnya terdapat meja dan juga terdapat kopi yang masih mengepul mengeluarkan asap.
"Dapat dari mana kopi?" Akash lebih tertarik pada kopi.
"Tuh mbak yang pakai jilbab biru," ucap Damar menunjuk wanita yang sedang meletakan piring berisi kue di meja lain.
"Mintain buat Gue dong!" Akash menyenggol bahu Damar.
"Lo aja yang minta," tolak Damar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Anggap aja Lo bayar dosa karena udah mesum di dalam mobil Gue," Akash menyindir kembali perbuatan Damar dan Lila.
"Ya elah et daah buset pake dibahas terus. Lagian itu mobil Ummi bukan punya Lo." Damar memelototi Akash namun juga tak bisa lagi membantah titah nya.
Dengan menghentakan kakinya Damar mendekati wanita berjilbab biru dan meminta dibuatkan kopi seraya menunjuk ke arah Akash.
Setelah dirasa mengerti dengan permintaannya Damar kembali ke tempat semula dan Sang wanita berkerudung biru pergi ke tempat lain.
Sementara itu dari dalam terdengar riuh tawa dua keluarga besar yang sepertinga sudah mulai akrab dan berbaur. Sahutan suara suitan menggoda kedua calon mempelai juga terdengar membuat Bumi terbangun dari tidurnya yang cukup lelap. Bumi mengerjapkan mata, Dia mendapati sosok lain saat sudah membuka matanya sempurna.
"Nadia?" Bumi kembali mengedipkan matanya berkali-kali.
"Iya ini Nadia, Kak Akash tadi ditegur oleh Kak Zha. Kalian kalau mau bermesraan jangan dihadapan Kak Zha makanya," ucap Nadia tertawa geli.
"Aku nggak suka bermesraan Nad, tadi itu ngantuk banget." Bumi dengan perasaan malu mengerucutkan bibirnya.
"Becanda, Kak." Nadia mengusap-usap punggung tangan Bumi.
Gadis cantik yang memiliki tubuh lebih tinggi daripada Bumi itu mengenakan pakaian syar'i serba pink nude. Mata bulat dengan hidungnya yang mancung terbingkai cantik di wajah dengan dagu runcing dan bibir merah tanpa polesan apapun.
"Aku mau menemui Ummi dan Kak Zha, Ayok temani." Pinta Bumi seraya menarik pergelangan tangan Nadia. Nadia menurut dan keduanya berjalan menggunakan dengkul seraya membungkukan badannya.
"Assallamuallaikum, Ummi." Salam Bumi seraya mencium tangan Ummi bolak balik. Umi menjawab salam lalu mencium kedua pipi Bumi dan mengelus pelan pundak gadis yang berhasil memporak porandakan hati putra tercintanya itu.
"Apa kabar Ummi?" Kalimat tulus dari Bumi yang sering orang lain gunakan untuk basa-basi saat berjumpa dengan seseorang.
"Alhamdullillah sehat Sayang, Kamu apa kabar?" Ummi balik bertanya seraya mengusap pipi Bumi.
"Alhamdullillah, Bumi sangat sehat." Jawab Bumi lalu beralih menyalami Zahra dan Ilham dan bertanya hal sama. Pandangan Bumi beralih pada gadis kecil yang memakai pakaian syar'i dengan warna senada seperti Ummahnya, Zahra.
"Eeh Assallamuallaikum cantik." Bumi mengulurkan tangan dan langsung disambut gadis kecil yang memiliki mata bulat seperti Ummahnya.
"Mau digendong sama Kakak? Kita main yuk ke depan!" Bumi mengangkat kedua tangannya.
Alisha, nama gadis kecil itu mendongakkan kepala menatap wajah Zahra meminta persetujuan. Anggukkan dan senyuman cukup menjadi jawaban pengganti kata boleh dari Zahra.
Dengan tawa riang Alisha segera berhambur ke pangkuan Bumi. Bumi dan Nadia segera pamit dan tak lupa membawa tas perlengkapan Alisha karena balita itu masih suka meminta menyusu di dot.
__ADS_1