
Kalau suka dan sudah mampir, please nggak bosen-bosen otor amburadul minta Like, komen, vote dan hadiahnya yaa. Makasih, Aku tanpa kalian atulah apa.
*****
Jalanan menjelang sore lumayan padat merayap, kumandang adzan ashar sudah terdengar beberapa saat yang lalu.
"Mampir ke mesjid depan dulu nggak masalah kan?" tanya Akash menunjuk masjid besar saat perjalanan mereka tertahan terjebak kemacetan.
"Iya, lagian macet juga." Jawab Bumi tanpa berani menoleh ke arah sumber suara.
Biang dari kemacetan adalah sebuah angkot yang tiba-tiba mogok di tengah jalan akibat mesinnya yang kepanasan. Kendaraan dapat kembali dilajukan setelah angkot tersebut berhasil didorong dan ditepikan ke pinggiran jalan.
Akash kembali melajukan mobil dan berbelok memasuki sebuah masjid, tidak terlalu besae namun terlihat rapi dan bersih.
Setelah memastikan Bumi masuk ke bagian tempat wudhu wanita, Akash mulai melangkah menuju tempat di mana seharusnya Dia melaksanakan wudhu juga.
Keduanya memang shalat di tempat berbeda, hanya di bawah atap masjid yang sama dan mungkin dengan do'a yang sama.
Akash segera ke luar masjid setelah menyelesaikan dua rakaat shalat sunat dan empat rakaat shalat asharnya. Dia berjalan menuju mobil, menunggu Bumi di sana.
Sementara yang ditunggu sepertinya masih enggan melepas mukena berwarna putih yang Dia kenakan. Meski milik masjid, mukena itu cukup harum dan bersih. Pasti pengurusnya sangat bertanggung jawab.
Lamat-lamat Bumi merapalkan do'a dalam hati. Membawa nama Ayas dalam bait pertama do'anya. Dilanjut menyebut Laut juga Ayesha. Setelahnya membawa Uti, Paman Yudis dan ada nama Akash di sana. Do'a untuk Akash singkat saja, semoga selalu bahagia.
Terakhir Dia meminta do'a untuk dirinya sendiri. Do'a agar dijadikan hamba sholehah dengan iman yang kuat. Menjadi manusia sebaik-baiknya manusia yang mati membawa iman islam serta khusnul khatimah.
Amiinnya begitu takjim, berakhir sebulir air mata di pelupuk mata. Mengingat dosa yang terlanjur ditumpuk, dengan taubat yang masih dalam rencana.
Dilipatnya kembali mukena dan dimasukkan ke dalam lemari kaca yang sangat mengkilap. Sekalu lagi, pengurus masjid pastilah orang yang sangat bertanggung jawab. Seseorang yang meyakini bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.
Bumi melenggang keluar. Saat melihat kotak amal hatinya menggerutu sebab dompetnya masih di tangan Akash. Dirogohnya saku celana seragam perawatnya, sepertinya ada uang kembalian saat makan siang tadi.
Beruntung, selembar rupiah berwarna ungu didapatnya dari sana. Malu-malu Dia masukkan ke dalam kotak amal dengan berniat dalam hati.
Semoga sedekahku menjadikan pahala kepada papa, aamiin.
Setelah menalikan sneaker putih berharga 200 ribuan, Bumi mulai melangkah menuju Akash yang sedari tadi sudah menunggunya.
"Ketiduran atau lupa pintu keluar?" tanya Akash sekaligus protes.
Bumi tak menjawab hanya memutar bola seraya masuk ke dalam mobil. Akash melakukan hal yang sama. Padahal tadinya ingin membukakan pintu seperti pada drama-drama itu.
"Kita langsung ke rumah," beritahu Akash. "Damar sama Lila nunggu di sana," tambahnya setelah membaca pesan dari Laut lalu meletakan ponselnya di saku jaket.
"Rumah siapa?" tanya Bumi.
__ADS_1
"Maunya rumah Kita, tapi belum bisa." Selorohnya dengan senyuman tipis.
"Nggak lucu," cebikan hinggap di bibir Bumi.
"Kan bukan pelawak," sahut Akash. Tangannya mulai melajukan mobil.
Jalanan ternyata masih padat merayap. Sesore itu cuaca cukup cerah ditambah dengan jam pulang kerja menjadi salah satu alasan orang-orang berada di jalanan dengan kendaraannya.
"Kak, balikin tasku!" pinta Bumi setengah merengek.
"Kan dari tadi juga suruh ambil sendiri," ucap Akash.
Bumi melirik tasnya yang masih dalam posisi seperti awal. Tidak mungkin Dia melakukannya sendiri.
"Aku mau tanya sesuatu, boleh?" tanya Akash melirik lawan bicaranya yang sedang memajukan bibirnya.
"Balikin dulu tasnya!" Bumi memberi syarat.
"Kalau gitu nanti aja di rumah," ucap Akash lalu kembali fokus menyetir.
Tidak ada lagi dialog dalam mobil itu, hanya suara deru mobil juga bunyi klaksok yang saling bersahutan. Umpatan-umpatan kecil dari para pengendara yang disalip oleh kendaraan lain. Biasanya yang mengumpat adalah pengendara mobil dan yang diumpat adalah pengendara motor yang senangnya menyalip di saat-saat seperti ini.
Perjalanan tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai Akash sudah sampai di depan rumah yang gerbangnya terbuka sempurna.
Tanpa patahan kata Bumi keluar terlebih dahulu setelah membawa bungkusan berisi sosis dan teman-temannya itu. Untuk kardus berisi bakso, tentu saja Dia tidak kuat.
Seperti biasa, suasana pasti berisik bila ada Damar. Tawanya yang tidak dapat dipelankan serta gaya bicaranya yang asal menjadi ciri khasnya sendiri.
"Ini Dia pria tak bermodal, ganti uang bensin Gue!" selorohnya, tentu saja becanda.
Akash tak menjawab, Dia melewati ruang tamu karena harus menaruh kardus di dapur. Didapatinya Bumi sudah duduk di ruang makan sedang menenggak air putih dalan gelas besar.
"Supir nggak ditawarin minum, nih?" tanya Akash ikut duduk di sana.
"Ambil sendiri, kan punya tangan."
"Tamu kan raja, harus diistimewakan."
"Kamu kan bukan tamu,"
Sorot mata keduanya bertemu. Jika memang benci, Akash tidak melihat kebencian itu di mata Bumi. Sepersekian detik pandangan keduanya beradu dengan Bumi yang memaling terlebih dahulu.
Akash menyerahkan tas yang sedari tadi dia sampirkan di bahunya. Mungkin dapat mengurangi rasa kesal Bumi.
"Maaf kalau udah bikin kamu kesal," ucapnya dengan suara berat. "Aku nggak sepintar Kamu dalam menyembunyikan perasaan." Lanjutnya mengambil gelas di hadapan Bumi dan meminum isi di dalamnya hingga tandas.
__ADS_1
"Aku permisi," pamit Akash kemudian beranjak.
Bumi melihat punggung itu dengan tatapan bersalah. Dirinya melihat kesedihan di wajah Akash. Apakah sikapnya terlalu berlebihan sehingga melukai hati Akash.
Tak ingin penasaran, Bumi berinisiatif memanggil kembalu pria itu.
"Kak, tunggu!"
Akash tentu menghentikan langkahnya, tanpa membalikan badan. Bumi melangkah mendekatinya. Dengan jantung yang tak mau diatur memberanikan diri berdiri di samping Akash.
"Apa Aku menyakitimu, Kak?" tanyanya dengan nafas tersengal. Lalu masih lanjutnya, "maaf ya, Aku Aku Ak...." selanjutnya hanya tangisan yang keluar dari bibir Bumi.
Akash tentu terkejut. Bukankah seharusnya dirinya yang menangis. Dia bingung kenapa justru malah Bumi yang terkesan disakiti.
"Koq malah nangis?" kepanikan dalam diri Akash meningkat manakala gadis di sampingnya semakin terisak dengan kedua telapak tangan menyembunyikan wajahnya.
Bahu Bumi naik turun menandakan betapa sesak di dadanya itu sedari tadi Dia tahan.
Akash tak bisa melihat itu lebih lama lagi. Dia menarik pergelangan tangan Bumi membuat sang pemiliknya menampakan wajahnya.
"Kita bicara di atas," ajaknya masih memegangi pergelangan tangan itu dan membawa langkahnya menaiki tangga.
Sampai di ruang atas Akash menyuruh Bumi duduk dan Bumi menurut. Dia sendiri masih berdiri, dengan melipat kedua tangan di dada. Memperhatikan gadis yang terus saja menangis. Kedua tangannya saling bertautan dengan bahu yang terus naik turun. Menangis tanpa suara justru sangat terlihat iba.
Hampir 15 menit Akash menunggu sampai Bumi meredakan tangis tanpa suara itu. Sesenggukannya sudah hilang, menyisakan mata sembab dengan bekas air mata yang mengering di pipi.
Akash mulai berani mendekatinya, duduk di sebelahnya dengan menyisakan tempat kosong sebagai pemisah.
"Kamu kenapa nangis?" Akash memelankan suaranya. "Apa Aku berbuat salah?" lanjutnya masih dengan suara pelan.
"Aku nggak tahu kenapa jadi pengen nangis," jawab Bumi menyeka sisa-sisa air mata dengan ujung lengan cardigannya.
"Dadaku sesak, jantung rasanya mau lompat. Patah hati apa sesakit ini?"
Akash tertawa kecil. Jadi itu penyebabnya? itu bukannya ciri-ciri seseorang yang sedang cemburu dan jatuh cinta dalam wakti bersamaan.
"Kan sudah kubilang, tunggu dan diam nanti Aku kembali." Ucap Akash, ingin mengusap kepala itu namun tak jadi. Tanggannya menggantung di udara.
"Kalau Aku tunggu apa Kamu akan datang lagi?" tanya Bumi. Kali ini lebih berani beradu pandang. Akash tidak memberi jawaban Dia hanya tersenyum mengannguk.
"Kalau gitu Aku mau menunggu," Bumi tersenyum dan kembali memalingkan wajahnya.
"Boleh Aku bertanya?"
"Apa?"
__ADS_1
"Apa jawaban Kami saat Om nya Lila bilang mau meminangmu?"