Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
60


__ADS_3

Waktu seminggu berlalu dengan cepat. Atas permintaan Lila, Bumi sore itu berangkat ke rumah Lila untuk menginap di sana. Keadaan di rumah Lila cukup ramai. Dua adik Siwi dari luar kota datang menginap.


Ada Shinta, adik Siwi datang bersama suaminya yang bernama Gilang dan tiga orang anaknya yang masih balita. Dua diantaranya adalah sepasang anak kembar perempuan berusia dua tahun. Dan yang satu lagi adalah anak laki-laki berusia empat tahun. Saat dikenalkan pada Bumi, ketiga anak itu saling berebut menyalami Bumi.


Juga ada Sandi adik bungsu Siwi yang usianya terpaut tiga tahun dengan Lila. Meski Sandi memiliki Ibu yang berbeda dengan Siwi dan Shinta, namun Dia tetaplah menjadi adik kesayangan keduanya.


"Aku jadi bingung yang namanya Qanita yang mana Kineta yang mana?" tanya Bumi saat melihat si kembar yang sangat mirip itu. Keduanya memakai over all berwarna pink dengan kaos putih lengan pendek. Rambut dikuncir dua dengan poni lebat menghalangi jidat.


"Kalau dilihat baik-baik beda koq," ujar Lila yang saat itu sedang menyesap teh manis dalam cangkir. Lalu katanya lagi, "Kineta mukanya lebar hidungnya juga agak bulat. Kalau Qanita itu yang dagunya lancip idungnya bangir dikit."


Bumi melihat si kembar yang sedang asyik bermain boneka dari kejauhan.


"Repot banget ya Tante Shinta ngurusin anak kembar udah gitu yang gede juga masih empat tahun."


"Kata Tante Shinta sih repot-repot enak, enaknya ya jadi sekalian capeknya. Nggak enaknya ya kalau kayak gitu tuh.... " Lila menunjuk dengan dagu ke arah tiga orang anak yang sedang saling berebut mainan.


Sutan sang Kakak laki-laki tidak mau mengalah saat mainannya yang berupa pistol air hendak dipinjam oleh si kembar. Hasilnya ketiga saudara kandung itu saling menjambak rambut masing-masing. Bahkan Sutan masih dengan erat memeluk mainannya meski kedua adiknya terus menjambak bahkan memukulnya.


Shinta terlihat kewalahan melerai pertengkaran tiga buah hatinya. Sementara Gilang malah asyik memvideo kegiatan ketiga anaknya.


"Duuh berisik banget sih, pasti anak-anak Kak Shinta nih yang bikin ulah." Seorang pria yang hanya mengenakan celana boxer dan kaos rumahan tiba-tiba ikut duduk di antara Bumi dan Lila.


Dialah Sandi. Memiliki perawakan tinggi dengan kulit bersih dan bahu lebar membuat Sandi memang banyak digilai para wanita. Meski begitu keinginannya untuk berumah tangga masih belum terlihat hilalnya. Dia masih senang bermain-main.


"Lo suruh diem dong sepupu Lo!" Seru Sandi pada Lila.


"Itu kan ponakan Lo, Bang. Lo lah yang suruh diem." Jawab Lila tak mau kalah seraya mengambil keripik talas di hadapannya dan mulai mengunyahnya. "Lagian kan Abang yang tinggal bareng Mereka, pasti hafal seluk cara melerai pertengkaran anak." Lila menambahkan kalimatnya dengan mulut penuh.


Bumi hanya tersenyum dan gemas sendiri melihat Shinta yang semakin frustasi sementara Gilang masih setia mengambil video ketiga anaknya.


"Aku coba lerai deh, Kak." Bumi beranjak dari duduk dan mulai mendekat ke arah tiga anak yang masih bertengkar dan menangis.


Sandi baru menyadari bahwa dari tadi ada sosok lain di antara dirinya dan Lila.


"Siapa Dia?" tanya Sandi seraya ikut memakan keripik talas.


"Bumi, adiknya temanku."


Sementara Bumi sedang berusaha melerai ketiga anak yang masih berebut mainan itu.


"Halo anak-anak. Aduuh ada yang mau dengar cerita Kak Bumi nggak nih." Kalimat pertama Bumi diabaikan.


bumi tak menyerah, Dia kembali berbicara di antara kebisingan tangis dan saling mengumpat.


"Halo Kineta, Qanita dan Sutan. Ada yang mau dengar cerita Kak Bumi?" Bumi kembali bicara dengan menepuk pipi ketiga anak kecil tersebut. Tangis dan umpatan mulai reda, bahkan Kineta mulai melepas cengkraman pada lengan Kakaknya. Qanita yang sedari tadi menjambaki rambut Sutan pun reflek melepasnya.

__ADS_1


"Celita apah Kakah?" Kineta mulai penasaran.


"Atu nda syuka kalouw celita antu, atu maunah celita binatang." Qanita ikut bicara.


"Kalau mau dengar cerita harus baikan dulu...." Bumi meraih tangan mungil itu satu-satu dan dipaksanya saling bersalaman.


Ketiganya menurut, pertengkaran berhasil dipangkas Bumi. Melihat kedua adiknya yang antusias mendengar cerita Bumi, Sutan secepat kilat berlari keluar rumah untuk mengisi kembali pistol airnya dengan senjata.


Gilang yang sudah puas mengambil video anak-anaknya ikut beranjak menyusul Sutan atas suruhan istrinya.


"Kamu punya adik atau keponakan?" tanya Shinta sedikit keheranan mengapa oleh Bumi ketiga anaknya terutama si kembar bisa menurut.


"Engga koq, Tan. Ya feeling aja sih." Jawab Bumi seraya mengikat rambutnya. Lalu katanya lagi, "anak kecil itu semakin dilarang malah semakin penasaran. Jadi, lebih baik alihkan perhatiannya."


Shinta mengangguk, selama ini Dia lebih sering melarang ketimbang mengalihkan perhatian. Mengapa pikirannya tak sampai ke situ. Pantas saja anak-anaknya terkadang susah diatur.


"Koq Kamu bisa berfikiran seperti itu?"


"Suka iseng aja baca di artikel. Biar nanti kalau sudah punya anak tinggal praktek," jawab Bumi sembari mulai berfikir akan cerita apa pada dua gadis kecil yang sedang menunggunya bercerita.


"Kamu udah punya pacar?" selidik Shinta.


"Enggak Tan, pengennya langsung nikah aja. Islam melarang pacaran kan?" Bumi bertanya mencari pembenaran atas perkataannya.


Shinta hanya mengangguk, ilmu agamanya sangat dangkal. Dengan hijabnya saja Dia masih ragu, memakainya hanya karena mengikuti fashion. Seperti yang sekarang Dia kenakan. Pashmina yang Dia gunakan benar-benar hanya menutupi kepala, dadanya masih bebas Dia umbar.


"Atu juda ndak sabal pen dengel celita," Si bangir ikut-ikut menambahi membuat Bumi pusing.


"Iya, ini mau cerita." Bumi masih gelagapan, bingung tidak ada ide.


Sadar dengan kepanikan Bumi, Shinta meminta permisi. Siapa tahu dengan kepergiannya membuat Bumi lebih leluasa bercerita.


Sementara itu dari arah lain, Sandi diam-diam mulai memperhatikan Bumi. Seulas senyum hinggap di bibirnya saat Bumi tanpa risih mendudukan kedua keponakannya di atas pangkuannya.


Bumi sendiri akhirnya lega karena telah mendapatkan ide bercerita. Melihat si kembar membuat Bumi teringat dengan serial animasi dari negeri jiran dengan tokoh utamanya adalah sepasang anak kembar. Idenya terlintas begiti saja. Baiklah, Bumi siap bercerita tentang Kambing dan sang pengembala.


"Kineta sama Qanita tahu kambing nggak?"


"Tahu, mbeeeeek!" Jawab keduanya kompak seraya menirukan suara kambing. Suaranya yang melengking memekakan telinga Bumi.


"Ok, bagus kalau gitu. Kak Bumi mulai ya ceritanya?" tanya Bumi memandang bergantian si pemilik mata bening. Keduanya mengangguk setuju.


"Pada suatu hari, Seorang pengembala.... " baru saja dimulai Qanita sudah memotong perkataan Bumi.


"Pengembala ituh apah kak?"

__ADS_1


Bumi gelagapan, Dia baru sadar anak seusia Si kembar belum paham kosakata. Yang terlintas di pikiran anak-anak itu pasti hanya mamam, bobok, dab main.


"Pengembala itu orang yang menjaga binatang peliharaannya sambil mencarikannya makanan." Adalag Sandi yang menjawab pertanyaan si kembar itu.


"Pelihalaan ituh apah?" si kembae terlalu banyak protes. Sandi dan Bumi saling melempar pandang. Saling mengandalkan untuk menjawab pertanyaan itu.


"Peliharaan itu ya binatang yang dijaga, seperti Kineta dan Qanita kan punya binatang peliharaan. Dua kucing kan?" penjelasan Sandi menghadirkan anggukan di kepala kedua gadis itu.


"Tapi butan tucing, namanya Bubu cama Lili. Janan pandil tucing, entel cedih." protes Kineta.


"Heueuh, Bubu cama Lili ndak boleh cebut tucing," Qanita ikut bicara. Padahal kalimatnya hasil copas dari perkataan kembarannya.


"Tlus pengembala ngapain?" Kineta antusias.


"Pengembala membawa domb.... eh kambing ke padang rumput yang sangat luas dan sepi." Bumi menyambung ceritanya. Hampir menyebutkan nama Domba. Beruntung segera diralat.


"Telus tambingnah mamam lumput ya? taya tambing mang Dudu, matan lumput kan oum?" Qanita bertanya pada Sandi. Sandi mengangguk mengiyakan.


"Aah nda celu celitanyah udah ditebak Qaqan," protes Kineta menyebut nama panggilan Qanita versinya sendiri.


"Cali Kak Syutan aja yuk?" Qanita memberi usulan yang langsung diangguki Kineta.


Si kembar mulai aktif kembali, sebetulnya bukan karena merasa bisa menebak jalan cerita, namun kembali teringat akan pistol air milik kakaknya. Keduanya kocar-kacir mencari keberadaan Sutan.


"Mampus, Lo Kak shinta. Anak Lo emang trouble maker!" seru Sandi yang langsung mendapat lirikan tajam dari Bumi.


Lila melihat jelas kecanggungan di wajah Bumi saat tiba-tiba Sandi duduk di sampingnya. Bumi menggeser tubuhnga agak menjauh dengan berkali-kali menyelipkan rambut. Lila tak tahan melihatnya langsung menghampiri Bumi dan Sandi.


Saat Lila dan Bumi akan pergi ke kamar Lila, Sandy protes dan melarangnya. Dia dengan tanpa basa basi mengajak Bumi berkenalan dengan mengulurkan tangannya. Sontak saja ditolak Bumi.


"Namaku Bumi," ucap Bumi seraya mengatupkan kedua tangannya di bawah dagu.


"Dan Aku air, jadi avatar dong." Seloroh Sandi lalu tertawa sendiri.


Bumi dan Lila hanya mengerenyitkan kening seraya beranjak meninggalkan Sandi dengan tawanya.


****


Lila tampak anggun mengenakan kebaya dan kain batik. Bumi tak kalah mempesona, enggan memakai kebaya Bumi memilih memakai blus putih tulang yang dipadukan dengan celana kulot. Keinginan dirinya untuk menutup aurat semakin dalam. Bumi hanya sedang bingung bagaimana cara memulainya.


Rangkaian demi rangkaian acara berjalan lancar. Seluruh keluarga besar cepat sekali berbaur mengingat memiliki darah yang sama. Menikmati hidangan memang selalu jadi hal paling menyenangkan dalam sebuah acara.


Bumi memilih duduk sendiri daripada ikut bergabung dengan yang lain. Tekadnya untuk menjauh dari Akash benar-benar bukan isapan jempol semata.


Lila dan Damar sibuk berkenalan dengan seluruh anggota keluarga. Akash tertangkap oleh mata Bumi berkali-kali mencuri pandang terhadapnya. Bumi hanya pura-pura tidak melihat. Bahkan Bumi akan cepat berpindah dari tempat Dia berada saat Akash mulai mendekatinya.

__ADS_1


"Sendirian aja Neng, Abang temenin ya?" suara berat seseorang yang masih asing di telinga Bumi mengagetkan lamunan Bumi. Hampir saja piring berisi buah yang sedari tadi Dia pegang terjatuh.


__ADS_2