Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
Bonchap (Eps. yang hilang)


__ADS_3

Akash bukan main mendengar percakapan Kak Zha dengan Bumi via telepon. Malam itu juga, tanpa bicara dulu pada orang ruman, Akash menelepon Paman Samosir serta Wak Haji Dahlan untuk menemaninya ke Malahayu menemui Bumi. Ia pastikan, kali ini bisa bersama dengan gadis yang selalu memenuhi relung hatinya itu. Wak haji dan Paman Samosir berkata bisa saja menemani Akash besok subuh. Pria itu sempat memaksa pada kedua saudaranya untuk berangkat malam ini juga, tapi mereka jelas menolak.


"Keras kepala kamu nggak pernah berubah. Besok subuh atau nggak usah sama sekali?" Ancaman via telepon Wak Haji layangkan.


"Nurun dari siapa sih keegoisan kamu itu? Kalau berangkat sekarang bukan lagi kita ketemu Bumi tapi dikubur bumi bisa jadi." Tanggapan Paman Samosir telak membuat Akash memilih mengalah.


Malam itu ia memutuskan untuk tidur saja di restoran meski hatinya gusar. Setiap jam dia bangun, dengan bayangan wajah Bumi menghiasi pikirannya.


"Dek, aku bisa gila kalo kali ini masih aja kalah sama takdir," gumam Akash yang memilih tak meneruskan tidur. Dia mengambil wudu dan melakukan Salat Tahajud. Meminta dengan kerendahan hati pada Sang Pencipta agar kali ini, jangan lagi dipisahkan dari Bumi.


Selesai berdoa, Akash duduk di tepian kasur. Masih menggunakan sarung pria itu kembali mengirimi pesan pada kontak Bumi yang masih saja memblokir namanya.


"Tega kamu bikin aku nggak waras gini, Dek." Akash memandangi foto Bumi dalam layar ponselnya.


Dia rasakan tiap menit hatinya yang terus menerus sakit kala tahu Bumi sudah dijodohkan. Hidupnya sempat terasa tak bermakna, namun begitu tahu kabar bahwa Hafidz justru mencintai Nadia. Dunia terasa kembali di genggaman. Semangat yang sempat lenyap kembali meluap-luap. Kali ini, Bumi harus didapatkan. Dia tak mau kalah lagi oleh takdir. Tak mau lagi dipermainkan keadaan. Tak mau lagi patah hati.


Mata bulatnya dilingkari garis hitam sebab semalaman tak tidur. Terang saja hal itu menjadi lelucon bagi Daud, putra paman Samosir sekaligus sepupunya.


"Gila, Kash. Gue nggak sangka elo bisa sebucin ini sama cewek, gokil lo, Man!" ledek Daud.


"Diem lo, liat nanti secantik apa cewek yang gue kejar mati-matian ini." Akash yang pagi itu sedang menyetir mendengus kesal pada sepupunya itu.


"Duh, kalo gue juga jatuh cinta sama dia gimana?" celetuk Daud.


"Gue bunuh lo!" ancam Akash dan dihadiahi gelak tawa oleh Daud. Paman Samosir dan Wa Haji hanya saling menggeleng.


"Kash, Uwa kira kamu mau gantiin Abi ngisi mimbar di berbagai podium. Ini malah ngejar-ngejar cewek," protes Wa Haji.


"Wa, jangan salah. Akash emang nggak bisa jadi orang saleh, tapi sama Bumi Akash insyaallah bisa mencetak anak-anak saleh. Bumi itu mahakarya Allah yang luar biasa, nanti Uwa liat sendiri deh kayak gimana Bumi itu." Akash tak mau kalah dari perkataan uwanya itu.


"Udahlah, Ji. Nggak akan menang kita kalo ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta," lerai Paman Samosir yang mulai geli dengan kelakuan keponakannya.


Hingga tiba di sebuah rumah dengan halaman luas dan pohon mangga besar. Akash turun dari mobil dan langsung mengetuk pintu rumah besar itu. Namun keadaan justru sepi. Lampu depan bahkan masih menyala. Tirai tertutup rapat, kemana Bumi dan mamanya?


Seperti orang gila, ia mulai panik. Dengan kesadaran yang setengahnya hilang, ia mengirimi deretan chat pada Bumi yang jelas-jelas memblokir nomornya.

__ADS_1


"Duduk, Kash ... Tenang," hibur Wa Haji.


"Ini Bumi kemana, Wa?" Akash menyugar kasar surainya.


"Bumi, kalo kali ini aku kehilangan jejak kamu lagi. Aku bisa beneran gila, Sayang." Akash bergumam dengan wajah menyedihkan membuat Daud di lain sisi ingin menertawakannya, tapi juga kasihan.


"Kash, sabar dulu. Siapa tahu mereka lagi ke pasar 'kan?" Paman Samosir berdiri lalu merangkul bahu keponakannya itu.


Hingga akhirnya dering ponsel Akash mengalihkan perhatian, matanya membulat begitu tahu yang menghubunginya adalah Bumi. Bahagia bukan main saat Bumi bilang dirinya sedang di rumah ummi. Gadis itu juga berkata bahwa sedang menunggu kepulangan Akash.


Akash lekas mengajak ketiga orang saudaranya untuk segera pulang, dalam perjalanan, Daud tak henti menertawakan kelakuan Akash. Namun, karena sedang bahagia Akash tak peduli dengan ocehan Daud.


Hingga tiba di rumah ummi pada malam hari, Akash kembali ditertawakan oleh Kak Zha dan Nadia. Namun, lagi-lagi Akash tak peduli. Ia malah menggendong Alisha tinggi-tinggi kemudian beralih menghujani pipi umi dengan kecupan. "Ummi, aku bisa nikah sama Bumi. Aku bisa bahagia sama dia, Mi," lirih Akash sambil memeluk umi.


"Pokoknya Kak Zha sama Bang Ilham harus tanggung jawab!" Akash bergantian menatap Kak Zha dan Bang Ilham.


"Kak Zha siapin barang buat aku lamaran besok." Akash memandang kakaknya penuh intimidasi. "Bang Ilham hubungi penghulu juga buat besok pagi aku nikah sama Bumi." Tak kalah tajam Akash memandang kakak iparnya.


"Dan kamu, Nad. Pokoknya ikut bantuin juga nyiapin semuanya. Nggak mau tahu, kalian malam ini nggak boleh tidur kalo persiapan buat lamaran sekaligus akad belum selesai!" ancam Akash.


"Kakak udah nggak waras." Nadia ikut protes.


"Ini udah jam 12, Akash!" Bang Ilham menggeleng tak mengerti.


"Siapa bilang subuh, Bang?" Akash menyeringai. "Kalian kan yang bikin aku sama Bumi hancur, tanggung jawablah."


"Assyam Al-Akash," lerai umi. "Kok gitu, sih?" Umi menarik lengan putranya untuk duduk di sampingnya.


"Bisa 'kan bicaranya baik-baik?" Umi mengusap pipi putranya itu.


"Nggak bisa baik-baik kalo sama mereka," sanggah Akash. "Kak, Bang, ayo gerak!" teriak Akash.


"Kash, elo mau kawin kek mau berak. Ngebet bener?" ledek Daud.


"Diem deh, elo nggak ngerasain gimana hancurnya pisah sama cewek yang disayangin." Akash memandang kesal pada Daud.

__ADS_1


"Nggak nunggu besok siang aja, Kash?" saran Paman Samosir.


"Iya, Kash. Malam begini mana ada toko yang buka. Penghulu juga udah tidur." Wa Haji mengingatkan.


"Bang Ilham 'kan banyak relasinya, permintaan aku mah cingcay banget 'kan ya, Bang?" Akash melirik pada Bang Ilham.


"Ok, ok, Saya usahain apa yang kamu mau."


"Dasar batu!" umpat Kak Zha membuat Akash malah tertawa.


"Kamu ini nggak ilang-ilang watak batunya," canda umi.


Akhirnya malam itu, Bang Ilham dibuat paling repot. Ia menghubungi rekannya yang bisa mengontak penghulu. Dari empat orang, hanya satu yang mengiyakan membantunya. Selain itu, pria itu juga akhirnya menelepon Koh Ahiang, pemilik toko mas untuk memesan cincin. Kak Zha juga sibuk menelepon rekannya, membeli seperangkat alat salat, serta pakaian dan barang lain untuk hantaran.


Hingga pukul 04.00 semua yang diminta Akash baru selesai terpenuhi.


"Penghulu siap, cincin setelah subuh diantar kemari." Bang Ilham akhirnya bernapas lega.


"Buat hantaran juga selesai, dasar gila!" kesal Kak Zha.


"Bagooooos!" seru Akash mengacungkan dua jempolnya.


Ia lekas ke kamarnya, bersiap melaksanakan salat Subuh ke Masjid. Dengan senyum yang tan hilang dari bibir.


"Bumi, Sayangku. Kali ini, kita nggak akan terpisah lagi. Selamanya," gumam Akash bahagia.


***


Gimana, gimana?


Next, aku tambahin lagi part-part yang hilang ya. Kalian mau part yang mana?


Deuh, Thor, laga pake nanya part yang mana? Dikira kita masih inget apa sama novel ini?


Aku yakin pasti ingetlah ya? Siapa nih yang sempat ter-Akash-Akash? 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2