Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
99


__ADS_3

20 menit berlalu antara Bumi dan Hafidz. Keduanya duduk di teras pada kursi kayu yang dihadapannya terdapat meja bulat. Dua buah gelas bekas teh manis gula batu menjadi penghiasnya.


Keduanya menatap lurus ke depan, entah apa yang masing-masing dari keduanya tatap. Apakah pohon mangga yang buahnya sudah diambil sebagian. Atau rumput jepang serta pucuk merah yang nampak berkilauan terpapar sinar lampu.


"Batalkan perjodohan ini, Mas." Bumi memberanikan membuka suara. Kekesalan dan emosinya masih belum menguap, tapi bila tak diselesaikan sekarang juga semuanya akan berlarut-larut.


Dalam kekesalannya Bumi merangkai potongan-potongan cerita Nadia yang pernah dia dengar.


Tentang seorang pemuda dari kampung. Hanya seorang guru dan orangtuanya pun guru ngaji biasa. Tidak berlimpah harta sebab seorang petani saja.


Bumi menghela nafas panjang, mengapa baru sekarang dia menyadari itu. Tapi, Khumaira itu siapa?


"Saya akan bicara pada Ibu dan Ayah," ucap Hafidz penuh sesal. "Tapi, saya harap kamu mau memaafkan saya." Lanjutnya menunduk.


Bumi menghadiahi ucapan Hafidz dengan tawa. Lebih tepatnya menertawakan kebodohannya. Merasa benci seketika dengan yang namanya perjodohan. Lihatlah betapa perjodohan itu telah menorehkan luka di hatinya.


Memorinya kembali ditarik untuk mengingat Akash. Lihat bagaimana perjodohan telah membuat Akash dan Rere hanya saling menyakiti dan berakhir luka. kali ini dia tak mau jadi korban selanjutnya.


"Apa Nadia dan Khumaira adalah orang yang sama?" selidik Bumi, tak mungkin Hafidz playboy.


"Iya, aku lebih senang menyebutnya Khumaira." Jelas Hafidz. Kebiasaannya menyebut nama orang seenak dirinya sendiri.


"Karena dia cantik dan memiliki pipi yang selalu bersemu saat tersenyum?" tebak Bumi dan diangguki Hafidz.


"Lalu siapa Abqari?"


"Nama penaku," Hafidz menjawab cepat dengan sedikit menunduk.


"Sudahlah, aku tak tertarik." Ujar Bumi dengan Nada ketus sambil membuang pandangan pada kucing Uti. Si gembul yang sangat malas sekali. Setiap hari hanya makan, tak mau bergerak. Hanya pergi ke kamar mandi untuk buang hajat, lalu kembali meringkuk.


Perbincangan itu berakhir dengan keputusan bahwa keduanya sepakat mengakhiri perjodohan ini. Sepakat untuk tidak melanjutkan pernikahan. Dan Bumi memaksa Hafidz untuk berterus terang pada Nadia. Sebab Bumi tahu betul bagaimana perasaan Nadia terhadapnya. Bagaimana bisa gadis itu bersembunyi di balik rasa yang menyiksanya.

__ADS_1


Hafidz bilang akan memikirkannya, biarkan seperti ini saja sampai Allah yang pertemukan mereka dengan caranya.


***


Perkara bicara pada Bu Haji dan Pak Haji nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Hafidz semalaman sudah merangkai kata agar kedua orang tuanya dapat menerima keputusannya. Namun, lidahnya terasa kelu saat sudah berhadapan dengan kedua orang tuanya sore itu.


Kacang rebus sudah habis sepiring, bahkan air teh dalam poci sudah tandas. Tinggal yang tersisa sedikit di gelas masing-masing.


"Ayah, Ibu sebetulnya ada yang ingin Mas sampaikan." Dengan keberanian Hafidz membuka suaranya.


"Apa, Mas, bicara saja!" seru Bu Haji.


"Sebelumnya maaf, tanpa mengurangi rasa hormat. Saya memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Bumi Hansa."


Bu Haji dan Pak Haji saling melepmpar pandang. 1 detik, 2 detik dan detik berikutnya Bu Haji memekik, "jangan becanda, Mas, malu Ibu pada saudara-saudara bila pernikahanmu tak jadi."


Sementara Pak Haji mengekrutkan kening seraya memijat pelipisnya. Mungkin pusing mendengar pekikan istrinya.


Sontak Bu Haji, Pak Haji dan Hafidz memandang bersamaan ke arah Bumi. Bibir Bumi terlihat bergetar, bagaimanapun dia sangat ketakutan menyampaikan hal ini.


"Tapi, dengan gadis lain, Bu Haji." Bumi meremas gamisnya, mencari kekuatan di sana. Menyiapkan diri dengan segala jawaban yang akan diterimanya.


Bagaimanapun, sosok Bu Haji telah banyak memberinya ilmu agama. Bumi merasa tak enak hati, tapi, hatinya juga tak mau terus-menerus dia bohongi.


"Siapa gadis itu?" Bu Haji mendelik, baru kali ini Bumi melihat Bu Haji marah.


Nadia jangan sampai merasakan apa yang Bumi rasakan. Gadis itu tidak setegar Bumi. Nadia harus bisa bersama dengan Hafidz. Itu yang Bumi inginkan. Bagian yang menyakitkan adalah saat melihat seseorang yang kita cintai menikah dengan orang lain. Dan akan lebih menyakitkan bila semua itu Nadia yang mengalami.


Bagi Bumi Nadia adalah adiknya, begitupun sebaliknya. Lebih baik dimarahi Bu Haji hari ini daripada harus menyakiti Nadia.


"Nadia, Bu." Jawab Bumi dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Kalau begitu, antar Ibu ke rumahnya besok!" seru Bu Haji dan tak dapat ditolak.


Pandangan Hafidz memelas pada Bumi. Mata itu seolah meminta tolong pada Bumi.


"Tentu, Bu Haji. Bumi sendiri yang akan mengantar Ibu ke sana." Ujar Bumi ada kelegaan dalam hatinya saat Bu Haji mengangguki perkataannya.


Bagi Bu Haji Endah yang paling penting adalah putranya dapat menikah. Dengan siapapun asalkan seiman. Memang kesalahannya yang begitu memaksa saat meminta Hafidz berkenalan dengan Bumi. Obrolan gurauan dirinya dengan Almarhumah Uti nyatanya ditimpali serius oleh Uti.


"Saya punya cucu perempuan, cantik, kalau mau bisa dijodohkan dengan Hafidz." Ujar Uti kala itu.


"Tentu, saya juga sudah sudah sangat ingin Mas menikah, tapi dia tak pernah memberikan tanda-tanda memiliki gadis spesial."


Sejak saat itu keduanya sepakat mendekatkan Bumi dan Hafidz. Bumi sempat merasa beruntung karena yang Hafidz cintai adalah Nadia, dirinya memiliki alasan yang kuat untuk membatalkan perjodohan ini.


Bu Haji memang tak main-main dengan ucapannya, malamnya dirinya menelpon Bumi agar mengajak serta Ayas untuk ikut. Beliau berkata, jika diperkenankan besok juga ingin langsung saja melamar Nadia.


Sungguh segundah itu perasaan seorang Ibu yang anaknya belum menikah. Apalagi Bu Haji adalah tipe Ibu yang sangat menyayangi anak-anak. Mungkin kerinduan terhadap anak-anak pula yang membuatnya ingin agar Hafidz segera menikah.


Malamnya setelah bertelepon dengan Bu Haji. Bumi menelpon Zahra, menceritakan semua kejadian sekaligus memberi tahu kedatangannya besok untuk menemui Nadia.


Terdengar suara Zahra sangat riang, berkali-kali mengucap syukur. Zahra bilang akan memberi tahu Ummi saja supaya tidak kaget. Sementara pada Nadia, dirinya ingin merahasiakannya. Biar saja jadi kejutan, agar Nadia yang beberapa hari ini terlihat murung mendapatkan hadiah besarnya besok.


Bumi segera beranjak ke tempat tidur. Hatinya ikut gelisah namun bahagia. Berkali-kali memeluk guling lalu kembali melepasnya. Dipeluk lagi, kembali melepasnya.


Nadia yang akan didatangi, kenapa dirinya yang kegirangan?


Tentu saja, jika beruntung pasti dirinya akan bertemu dengan Akash. Akankah semuanya terulang dan kali ini tanpa ada hati yang dipatahkan?


***


Siap-siap ya, hilal TAMAT sudah mulai terlihat, tergantung like dan komen nih. Follow ig dong anisa_harir, nanti ghibah online tentang Akash dan Bumi hehe.

__ADS_1


__ADS_2