
Bumi masih mematut diri di depan cermin meja riasnya. Selama tiga belas tahun tidak pernah satu hari pun ia lewatkan tanpa merindukan Akash. Setelah Ayas dan Laut tentunya. Akash selalu membelanya saat teman-teman mengoloknya. Awalnya Bumi merasa perasaan sayangnya terhadap Akash hanya sebatas perasaan adik terhadap kakak. Namun, semakin dewasa Bumi yakin jika perasaan itu adalah perasaan jatuh cinta.
Selama ini Bumi hanya mampu melihat wajah Akash lewat poto. Lewat feed Ig Laut ataupun Ayesha, di mana saat mereka bersama-sama selalu diunggah lewat akun sosmed masing-masing. Bumi sudah memfollow akun milik Akash namun ternyata dikunci. Bumi sudah memupuk rasanya untuk Akash sebaik mungkin. Bumi tidak pernah menanggapi setiap ada teman pria yang menyatakan perasaannya. Bumi jaga perasaan itu untuk Akash seorang. Dia rawat dan siram setiap hari dengan penuh keyakinan jika saatnya kembali bertemu dapat memetik hasil dari yang dia tanam dan jaga selama ini.
Namun, sungguh sayang. Perkara memupuk cinta bukanlah seperti menanam pohon mangga. Yang semakin lama dijaga makan akan semakin banyak buah yang dipetik. Bumi frustasi sendiri. Patah hati. Kenyataan yang sudah tak mungkin lagi bisa di tikung lewat sepertiga malam. Apalagi mengingat Bumi yang tidak pernah terjaga di sepertiga malam. Jikapun terjaga, Dia hanya membuka platform menulisnya untuk mengecek berapa saldo pemasukannya dan membaca kolom komentar yang selalu mampu membuatnya tersenyum.
"Aargh cape-cape Aku tanam cinta ini, Aku pupuk pakai pupuk paling mahal. Aku doain setiap malam jum'at eeh taunya cuma jadi jodoh orang. Iish miris banget. Tau gitu dari dulu nanam duren aja bisa kali sekarang jadi juragan duren. Sia-sia banget uuuh," Bumi mengacak-acak rambutnya yang masih basah sehabis mandi. Cukup lama Dia berendam di bathub. Bisa mengisi airnya tapi tak bisa membuang air bekas berendam. Hampir setengah jam Dia celingukan mencari sesuatu yang dapat membuat air kotor itu terbuang. Dia terus memutar-mutar bulatan pada bagian bawah bathub namun tidak bergerak. Sampai akhirnya Dia merasa kesal dan dengan sengaja menghentakkan tumitnya pada bulatan itu. Dan, airnya keluar. Akhirnya Dia tahu bagaimana cara membuang air bekas berendam. Mudah, tinggal ditekan bulatan itu bukan diputar.
"Udah cinta bertepuk sebelah tangan malu-maluin pula nggak tahu cara buang air bekas berendem," Bumi berteriak seolah kesetanan membuat Ayesha, Laut dan Akash yang sedang berada di balkon kamar Laut segera berlarian.
"Deek, Kamu kenapa?" Laut segera merengkuh bahu adiknya lalu mengusap kepala nya.
"Kamu kenapa Dek?" Ayesha ikut khawatir.
Bumi masih enggan menjawab. Dia ingin Akash nya juga bertanya.
"Lo kenapa, Bumi? Jangan bikin kita khawatir?" Akash memandang keadaan Bumi lewat pantulan cermin meja rias.
"Aku kesetrum, Kak. Tadi iseng aja masukin jari ke stop kontak abisnya mau dipake buat hairdryer nggak bisa nyala eh pas dicobain pake jari malah kesetrum," bohong Bumi. Tapi membuat ketiga orang itu percaya. Pasalnya memang ada hairdryer di meja rias dan posisi rambut Bumi basah.
"Aneh-aneh aja sih, lo. Aah elah masih aja kayak bocah!" Akash memeriksa hairdryer itu.
"Oneng, tombol on nya tadi lo teken nggak?" Akash melihat hairdryer itu dalam keadaan tombol off.
"Enggak!" jawab Bumi polos.
"Bumiiiiiiii!" teriak Ayesha dan Laut memekikkan telinga Bumi.
__ADS_1
"Aku nggak tahu, belum pernah pake gituan. Nggak ngerti juga gimana caranya. Biasa pake setrikaan sih kalau di kampung," Bumi nyengir kuda dan sontak saja mendapat toyota dari sang kakak.
Akash hanya geleng-geleng, Bumi memang tidak pernah berubah. Selalu bisa menarik perhatian.
"Sini, Kakak aja yang keringin rambutnya. Kalau kayak gini jadi lebih mirip singa bangun tidur. Nggak ada mirip-miripnya sama Dokter Kang."
Ayesha mulai mengambil hairdryer dan menyalakannya. Sementara Akash dan Laut kembali ke balkon kamar Laut.
***
Hari pertama masuk kerja untuk Bumi sangat mendebarkan walau bukan pengalaman pertama. Sebab saat SMK dia pun pernah magang beberapa bulan di sebuah klinik. Setidaknya ia sudah tahu cara mengukur tensi darah. Lalu saat kuliah ia pun pernah kembali bertugas di salah satu rumah sakit yang memerlukan waktu sekitar 45 menit jika ditempuh menggunakan motor dari rumah Uti.
Ayesha meminta Bumi datang jam 07.00 agar bisa masuk shift pagi di hari pertamanya bekerja. Setelah turun dari mobil Laut, Bumi melangkah dengan penuh percaya diri sambil memeriksa ponselnya yang bergetar.
[Aku masih di jalan, sebentar lagi sampai. Tunggu di luar]
Pesan dari Ayesha menghentikan langkahnya. Baru akan membalas sebuah tepukan di bahunya menghentikan jarinya mengetik di layar ponsel.
"Yeey Kakak, baru mau dibales udah dateng>" Bumi memasukkan ponsel ke dalam rok jeansnya.
"Tadi rebutan angkot sama anak-anak SMA makanya telat dikit."
"Hai, Bumi!" sapa Lila yang tadi datang bersama Ayesha.
"Kak Lila kerja di sini juga?" Bumi sedikit kaget.
"Iya, tapi tugasku di lantai paling atas, Kamu nanti bekerja di bawah perintah Ayesha. Hati-hati ya dia suka mencubit ginjal rekannya kalau salah dikit aja. Aku duluan!" Lila segera berlari sambil tersenyum jahil ke arah Ayesha.
__ADS_1
"Serius Kamu sesumanto itu Kak?" Bumi menatap Ayesha dengan tatapan ngeri.
"Sumanto?" Ayesha mengerutkan kening.
"Pemakan daging manusia, coba gih cari di google!" Bumi sedikit menjauhkan diri dari Ayesha.
Ayesha masih bingung dengan perkataan Bumi. Apa katanya tadi? Sumanto? Google? Aaah Ayesha baru paham maksud Bumi.
"Lila becanda Bumi. Kenapa jadi ketakutan gitu sih?"
"Aku juga takutnya cuma becanda, Kak. Serius amat sih. Ngilangin deg deg an di hari pertama kerja nih." Bumi tertawa lalu kembali mendekat ke arah Ayesha dan merangkul bahu Ayesha.
"Ya udah ayo masuk, anak baru! Kamu harus diospek," Ayesha dan Bumi melangkah dengan saling berangkulan.
Di lantai tiga lah Ayesha dan Bumi bertugas. Ayesha membawa Bumi ke sebuah ruangan dan sudah ada beberapa orang di sana.
"Pagi semuanya, yo gur kenalin nih anak baru. Sini liat sini!" Ayesha dengan santainya menggerak-gerakkan tangan meminta perhatian beberapa perawat di sana.
"Ini namanya Bumi, Dia mulai hari ini bekerja di sini sama kaya kalian. Gue harap Kalian bisa bantu Dia, ok!"
"Ok, Mbak!" serempak mereka menjawab.
"Bumi, itu yang pakai kacamata Rumi trus yang berhijab Sofi dan yang cowok itu Lundra. Kamu baik-baik sama mereka ya!" Ayesha memperkenalkan ketiga perawat itu.
Setelah perkenalan itu Ayesha memberikan seragam khas perawat pada Bumi untuk segera dipakai. Benar kata Lila, kelakuan Ayesha saat memberi arahan pada bawahannya sungguhlah terasa sedang mencubit ginjal bahkan hati. Tidak ada pengecualian kah untuk calon adik ipar?.
.
__ADS_1
.
.