Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
74


__ADS_3

Kakak reader sayang makasih buat yang udah like dan komen meski beberapa itu buat saya berarti banget. lope lope sekebon stoberi pokoknya. Saling sapa di ig yu, follow anisa_harir. Jangan lupa like, komen dan vote bila berkenan.


*****


"Males ikut deh kak kalau ada bang Sandi di sana," rengek Bumi saat Mereka hendak menuju hotel tempat resepsi Lila dan Damar. Reflek langkah Akas, Laut dan Ayesha terhenti dan kembali duduk di sofa ruang tamu.


"Tadi ngobrolin apa emang?" tanya Ayesha.


Bumi menceritakan obrolannya dengan Sandi. Tentang Sandi yang menurutnya terkesan memaksakan keinginannya untuk melamar dirinya.


"Aku pikir tempo hari cuma becanda, Kak. tapi tadi Tantenya Kak Lila ngajak aku ngobrol serius banget." Adu Bumi.


"Tante Shinta?" tanya Ayesha.


 


"Kamu nggak punya pacar kan?"


"Gimana kalau Aku lamar kamu buat Sandi?"


"Sandi serius suka sama Kamu."


"Kamu mau kan?"


-------------------------- 


"Kamu jawab apa, Dek?" tanya Laut.


Akash hanya diam menyimak dengan air muka tak suka. Hatinya panas sekali mendengar ada lelaki lain bahkan keluarga dari laki-laki itu melamar Bumi. Panas sekaligus iri.


"Kamu udah kasih jawaban kan?" Ayesha ikut bertanya lagi.


"Kamu nggak jawab iya kan,?" Akash panik ikut bertanya.


Bumi menggeleng, mengingat kembali jawaban yang diberikan pada Shinta. Dan cukup membuat Shinta kecewa.


 


"Maaf Tan, Aku nggak bisa."


"Aku kemarin baru aja dilamar duluan oleh orang lain."


"Maaf ya, Tan."


"Tolong sampaikan pada Bang Sandi permintaan maaf Aku."


 


"Kamu mau terima cowok yang di pesantren itu?" tuduh Akash seraya berdiri dan mengepalkan kedua tangannya.


"Kamu kenapa sih dek? aku minta kamu tunggu!" Akash kali ini berkata dengan nada tinggi.


"Kamu anggap apa sih perasaan Aku, dek?"

__ADS_1


"Kamu pikir perasaanku nggak penting? Kamu pikir Aku main-main? Aku cuma minta kamu tunggu!"


Akash terengah di akhir kalimatnya. Kalimat terpanjang yang pernah Bumi dengar. Suara bergetarnya dengan mata memerah menandakan pria itu sedang tidak baik-baik saja.


Akash beristighfar, dirinya kembali duduk seraya mengusap wajah. Diremasnya rambut seraya menunduk dengan tenggorokan yang terasa kering.


Bumi beranjak mengambilkan minum. Segera kembali dengan segelas besar air putih hangat. Bagaimanapun Bumi dapat merasakan luka hati Akash. Karena keduanya sama-sama terluka. Terluka dengan sebab yang sama.


"Minum dulu, kak!"


Bumi berjongkok di hadapan Akash. Matanya yang sudah berkaca-kaca mendongak agar bisa menatap langsung pada mata Akash.


Tangan Akash masih bergetar saat mwngambil gelas yang diulurkan Bumi. Meraihnya dengan hati-hati dan langsung meneguknya.


"Maaf, Aku nggak bermaksud membentakmu," ucap Akash dengan suara melembut.


Ingin rasanya meraih kedua pipi Bumi, namun tidak mungkin. Akash tidak ingin merusak proses perbaikan diri Bumi yang dilakukannya dengan susah payah.


"Kakak wudhu dulu ya!?" titah Bumi seraya meraih gelas kosong di tangan Akash. "Whudunya di kamar mama aja," ucap Bumi sebelum beranjak menyimpan gelas ke dapur.


Laut dan Ayesha memandang interaksi keduanya dengan tatapan iba. Kasihan sekali cinta keduanya yang harusnya mudah, dibuat rumit dengan perjodohan yang sama-sama mempertaruhkan perasaan masing-masing.


"Sorry ya," ucap Akash pada Laut segera berlalu untuk mengambil wudhu.


Sekembali Bumi dari dapur Akash masih belum selesai dengan wudhunya.


"Dek, kamu yakin sama keputusan kamu?" tanya Laut.


"Kamu harus baik-baik aja ya!" kali ini Laut merengkuh tubuh adiknya.


"Tidak ada wanita yang baik-baik saja setelah melihat pria yang dicintainya menikahi wanita lain," ucap Bumi sarkas. Tubuhnya tak merespon saat begitu erat Laut memeluknya.


"Aku harus gimana biar kamu baik-baik aja nantinya?"


"Hilangkan dia dari duniaku kak." Jawab Bumi cepat.


Laut mengurai pelukannya. menatap lekat pada manik mata Bumi.


"Biar Allah yang mengaturnya," Bumi mengulum senyum. "Aku nggak nangis," ucapnya meyakinkan Laut agar tidak khawatir.


"Kamu kuat?" Laut ragu.


"Aku nggak apa-apa, kak."


Dan setelahnya Laut menjauhkan diri demi melihat Bumi yang menampakan senyum lebar. Dia tahu adiknya berbohong namun biarlah seperti itu. Bumi pasti bisa menyembuhkan lukanya sendiri.


***


Akhirnya karena drama yang lumayan menguras emosi, baru pada jam 15.00 keempat orang itu sampai di hotel tempat resepsi berlangsung. Bahkan Rere dan Guntur sudah akan kembali pulang saat mereka baru saja tiba di parkiran.


Tanpa menunggu lama-lama keempatnya langsung menuju pelaminan untuk memberi selamat dan foto bersama. Damar sedikit protes tentang keterlambatan mereka, namun segera reda saat diberi hadiah berupa tiket liburan ke bali oleh Akash.


"Terhebat emang lo, Kash." Ucapnya menepuk bahu lebar Akash.

__ADS_1


Setelah berfoto ria dan puas dengan hasilnya, keempatnya kembali meninggalkan pelaminan. Berpencar mencari makanan.


"Aku sama Ayesha ke sana sebentar," tunjuk Laut pada kumpulan orang-orang berdasi yang duduk di pojok ruangan. "Mau nemuin pegawai yang lain dulu." Imbuhnya seraya berlalu menggandeng Ayesha.


"Kita ke mana?" tanya Akash.


Baru akan menjawab, mata Bumi menangkap sosok Sandi yang melihat ke arahnya. Dari gelagatnya sepertinya Dia akan menghampiri Bumi. Bumi tak ingin lagi berurusan dengannya.


"Kak, bisa nggak kakak bungkuk dikit aja kepalanya?" pinta Bumi.


Akash mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti. Bumi tiba-tiba meletakkan sebelah tangannya di bahu Akash.


"Bungkuk dikit, Kak!" Bumi mengulang permintaannya.


Akash menurut, membungkukkan kepalanya. Bagi yang melihatnya sekilas tentu berpikiran bahwa keduanya sedang berciuman.


Begitupun Sandi, langkahnya terhenti saat Akash mulai menundukan kepalanya. Bumi memejamkan matanya, kedua tangannya kini dia kalungkan pada leher Akash. Biarlah orang berkata apa, yang jelas dia ingin Sandi urung menemuinya.


Dirasa cukup, Bumi menurunkan tangannya dari leher Akas. Matanya menyipit mencari keberadaan Sandi yang tak tertangkap di manapun oleh penglihatannya.


Bumi membuang kasar nafasnya, memegangi dada yang terus bergemuruh. Jantungnya terasa mau loncat, lututnya sudah bergetar. Entah lapar atau bagaimana.


"Ada apa sih?" tanya Akash.


"Tadi ada Bang Sandi," nafas Bumi terengah seperti habis lari mengelilingi lapangan. "Tadi kayaknya mau nyamperin Aku," kata Bumi melanjutkan kalimatnya.


"Terus tadi nyuruh Aku nunduk ngapain?"


"Biar disangka lagi ciuman," Bumi menjawabnya dengan muka yang sudah tidak tahu lagi harus ditaruh di mana. Malu.


"Dan bikin Sandi cemburu?" tebak Akash.


"Supaya dia mikir kalau Aku bukan gadis baik-baik." Ucap Bumi.


"Kenapa gitu?"


"Nggak ada gadis baik-baik ciuman di depan banyak orang gini." Jawab Bumi dengan muka yang sudah sangat merah


Interaksi keduanya memang mencuri perhatian beberapa orang. Sampai ada yang memotretnya dengan kamera ponsel. Tapi, terlepas dari semua itu kini Bumi lega Sandi tak menemuinya. Bahkan sampai acara selesai dan mereka pamit pulang Sandi tak nampak batang hidungnya.


Saat berpamitan Bumi sekali lagi meminta maaf pada Shanti. Shanti tentu saja mengerti dan meyakinkan Bumi akan memberi pengertian pada Sandi.


Setelah mengantar Akash ke rumah Lila untuk mengambil motornya, Laut kembali melajukan mobil untuk segera pulang ke rumah. Ayesha sudah mengeluh badannya lemah sejak tadi.


Sampai di rumah Laut segera mengeluarkan benda pipih dari saku celananya yang dari tadi begetar bertubi-tubi. Matanya membelalak membuka pesan grup perusahaan. Di mana ada seseorang yang mengirim poto Akash dan Bumi yang terlihat sedang berciuman.


Keterangan pada poto itu yang semakin membuat Laut geram. Sengaja ditulis dengan hurup kapital. CALON SUAMI BU RERE KEDAPATAN SELINGKUH DENGAN CEWEK BERHIJAB.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2