Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
77


__ADS_3

Masih setia kan kak, semuanya komen dong. Dukung aku gampang tinggal komen dan like. Ada poin lebih boleh kasih. Biar Akunya betah di Noveltoon, kenalin karya Aku ke reader yang lain. Baca karyaku kan gratis gak pakai koin. Boleh follow ig juga ya anisa_harir.


*****


Akash dan Rere yang akan menikah, namun Bumi yang gelisah. Mulai hari ini Bumi resmi mengundurkan diri. Banyak yang menyayangkan keputusannya, namun Ayesha mengerti betul mengapa Bumi melakukannya.


Batal ataupun tidak pernikahan Akash, Bumi akan tetap pulang ke kampung di mana ia dibesarkan. Satu buah koper menjadi tanda bahwa perkataannya bukan isapan jempol semata.


*****


"Kakak kasih kado apa buat Kak Akash?" tanya Bumi pada Laut saat mereka baru saja selesai makan malam.


"Bingung, dua-duanya udah banyak duit." Seloroh Laut


"Hadiah itu bukan seberapa besar harganya, tapi seberapa besar niat dan ketulusannya." Ucap Bumi mengingatkan.


"Kamu kasih kado apa?" Laut balik bertanya.


"Ada deh, rahasia...."


"Kamu kasih kado apa, aku juga bingung mau kasih kado apa?" Ayesha ikut bertanya.


"Nggak mau kasih tahu, ah!" Bumi masih merahasiakan kado yang akan diberikan pada Akash dan Rere.


"Kita mau kasih kado apa dong, Bang?" tanya Ayesha.


"Nanti aja dipikirin, masih ada waktu. Kan acaranya lusa." Jawab Akash.


Bumi merasakan hatinya disayat saat mendengar ucapan Laut yang menyebut lusa adalah pernikahan Akash. Meski beberapa hari lalu Bumi sudah mengakhiri semuanya, tetap saja luka itu masih menganga. Sesak di dadanya masih sangat terasa.


"Aku ke kamar duluan ya, mau bungkus kado. Selamat berpusing ria memikirkan kado." Kelakar Bumi seraya beranjak meninggalkan keduanya.


"Kasihan Bumi, hatinya pasti nggak baik-baik aja." Keluh Ayesha.


"Bumi itu lebih kuat dari yang kamu kira." Ujar Laut.


Ayesha hanya mengangguk. Dia sangat menyayangi Bumi meski hanya adik ipar tapi baginya Bumi sangatlah berharga. Sikap Bumi yang selalu hangat dan ceria selalu membuat Ayesha nyaman berada di rumah itu. Memikirkan Bumi yang akan pulang kampung menorehkan kesedihan mendalam di hati Ayesha. Selain kehilangan perawat terbaik, dirinya juga kehilangan adik terbaik.


******


Di kamarnya Bumi dengan sepenuh hati membungkus kado untuk Akash dan Rere. Sebuah peci hitam untuk Akash dan sajadah berwarna cantik untuk Rere. Setelah menuliskan kata-kata manis pada kertas kecil, Bumi menyelipkannya di bagian tengah antara peci dan sajadag itu.


Seulas senyum Bumi tampakan di bibirnya saat memasukan kedua benda itu ke dalam kotak hadiah berwarna biru langit. Bumi mengusap permukaan tutup kotak hadiahnya lalu meletakannya ke atas meja di samping tempat tidurnya.


Adzan isya berkumandang membuatnya serta merta mengambil wudhu dan segera melaksanakan shalat empat rakaatnya. Tempo hari Ummi sudah memberitahunya agar shalat witir sebelum tidur, tapi masih lupa ia kerjakan.


Sebuah do'a terakhir terucap lirih dari bibirnya.


*Allahumma Yaa muqallibal quluub tsabit qalbi 'ala diinika


(Wahai Rabb yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku pada agamamu*)


*****


Pagi menyapa dengan kicau burung yang bersahutan, langit sudah nampak cerah sepagian ini. Bumi masih mengenakan piyama panjang saat turun ke lantai bawah. Dilihatnya Laut sedang menikmati teh dan Ayesha sedang menyesap susu hamilnya.


"Kalian berdua tuh lucu," komentar Bumi. "Suami bikinin susu istri, istri bikinin teh suami." Imbuhnya seraya tertawa sambil menggeleng.

__ADS_1


"Lucu di mananya?" tanya Laut.


"Ya kenapa nggak dilakuin sendiri-sendiri aja, kak Laut buat teh sendiri. Kak Ayesha buat susu sendiri."


"Dibikin sama bikin sendiri rasanya beda, dek." Sahut Ayesha, susunya kini sudah tandas.


"Lebay," ledek Bumi.


"Awas ya kalau nanti udah nikah jadi lebay juga!" ancam Laut tenti saja becanda.


"Lihat nanti deh, takut lebay juga soalnya." Kelakar Bumi disambut tawa oleh Laut dan Ayesha.


Ketukan di pintu disusul salam dari seseorang membuat ketiganya saling berpandangan.


"Kak Laut yang buka ya, aku tanggung pengen bikin teh manis." Ucap Bumi yang memang sedang menyendokan gula ke dalam cangkir.


Laut hanya mengangguk seraya beranjak membuka pintu. Menyembulah kepala Akash saat pintu itu terbuka, tidak ada senyum seperti biasa. Kedua tangannya ramai membawa bungkusan kresek putih.


"Ngapai pagi-pagi datang?" tanya Laut.


"Nganterin sarapan," jawab Akash seraya masuk saja melewati Laut yang bahkan masih berdiri.


Akash meletakan kedua bungkusan yang dibawanya ke atas meja makan. Bumi dan Ayesha hanya saling pandang melihatnya. Bumi reflek memegangi kepalanya. Dalam hati berhamdallah mendapati ternyata kepala itu tertutup hijab.


"Malah pada bengong, ayok sarapan bareng!" ajak Akash serta merta menarik salah satu kursi dan langsung mendudukinya.


Keras kepala banget sih, sudah kubilang jangan lagi menampakan diri dihadapanku masih saja dilakukan.


Laut kembali dengan senyum mengembang demi melihat Akash mengeluarkan beberapa makanan dari bungkusan yang dibawanya.


"Sering-sering deh kayak gini," ucap Laut yang langsung dipelototi Ayesha.


Bumi tak menjawab, langkahnya kasar mengambilkan dua buah piring dan diberikan pada Akash.


"Kami dong yang siapin!" protes Akash tak menerima saat Bumi mengulurkan piring itu.


Masih dengan wajah datar, Bumi memasukan makanan yang dibawa Akash. Beberapa potong pastel, lontong isi daging serta roti kopi andalan restorannya ada di sana.


"Dimakan dong, bukan dilihat saja!" seru Akash saat Bumi hanya diam sementara Laut sudah mengambil lontong dan Ayesha tentu saja roti.


Bumi tak menjawab, tangannya tergerak mengambil roti. Perlahan menggigitnya. Terasa berat mengunyahnya apalagi menelannya.


Pikirannya tertuju pada kejadian beberapa hari lalu di stasiun Palmerah


 


Setelah Bumi berkata ingin mengakhiri semuanya, tangan Akash mencengkram lengannya erat lalu membawa Bumi ke sebuah kursi tunggu yang terlerak tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Lepas, sakit tahu!" Bumi berusaha berontak.


"Apa kamu bilang? akhiri?" tanya Akash dengan gigi gemelutuk menahan amarah. "Kamu pikir semudah itu, hah?"


"Lepas dulu, kak!" pinta Bumi dengan wajah mengiba.


Akhirnya Akash melepaskan cengkramannya dan meninju udara di hadapannya.


"Apa kamu nggak bisa sebentar lagi menunggu?"

__ADS_1


"Menunggu apa?"


"Dengar Bumi, Rere pasti berhasil membatalkan pernikahan itu. Kamu harus tetap diam di tempat."


"Kalaupun pernikahan itu batal kamu pikir kita bisa bersama?"


"Kamu tuh membuat semuanya jadi rumit, Bumi."


"Tapi kenyataannya memang begitu kan kak?"


"Kenyataan apa?"


"Kamu pikir ini sinetron yang saat pengantin wanita membatalkan pernikahannya perannya bisa diganti dengan wanita lain?"


Akash sejurus terdiam, dalam pikirnya memang begitu. Saat Guntur datang membawa berita palsu lalu pernikahan bersama Rere batal. Kemudian jadilah Bumi yang menggantikan posisi Rere.


Namun, benar kata Bumi, kehidupan mereka bukan sinetron. Tidak semudah itu keinginannya bisa terwujud.


"Sudah ya, kak. Mari kita akhiri semuanya. Kita berpisah hari ini kak."


Akash tak menjawab, kepalan dari kedua tangan cukup menyiratkan betapa dirinya marah.


"Sampai bertemu di hari pernikahanmu. Aku harap kamu tak menampakan diri di hadapanku lagi sebelum hari pernikahanmu. Kenanglah aku sebagai adikmu."


Ucapan panjang lebar Bumi tak Akash hiraukan sedikitpun. Telinganya tak ingin mendengar semua itu.


"Kamu tahu kan arah jalan pulang? aku permisi duluan!"


Hari itu Bumi meninggalkannya sendirian di stasiun palmerah. Meninggalkannya dengan sejuta luka di hati. Bumi membawa segenap rasa cinta yang selama ini dia pupuk sedemikian rupa. Sepanjang perjalanan pulang yang Bumi lakukan dengan berjalan kaki, tangannya tak lepas dari memegangi dada.


Buncahan dalam dada rasanya ingin ia keluarkan lewat tangisan. Namun, dia sudah berjanji untuk bisa melawan dirinya sendiri. Berjanji untuk tidak meratapi kesedihan ini. Perkara patah hati memang hanya waktu yang dapat mengobayinya.


 


Bumi patah-patah mengunyah rotinya ketika Ayesha bahkan sudah menghabiskan dua potong sekaligus. Laut yang melihatnya hanya menggeleng, beruntung pagi ini mualnya tidak terlalu hebat.


"Lo berangkat kerja jam berapa?" tanya Akash.


"Abis ini langsung berangkat," jawab Laut.


"Lo jam berapa?" kali ini bertanya pada Ayesha.


"Gue off hari ini," jawab Ayesha.


Akash hendak bertanya pada Bumi, namun urung demi melihat gadis itu masih saja memalingkan wajah.


"Ok, gue balik dulu. Tapi, ntar sore ke sini lagi." Ucap Akash berdiri.


"Bumi, waktu Laut akan menikah kan kamu buatkan dia mie. Aku juga mau. Nanti sore buatkan ya!"


Bumi tak menjawab, menoleh saja dia enggan.


"Ok, kalau diam berarti iya."


Detik selanjutnya Akash benar-benar pergi setelah mengucap salam dan sempat menelisik dalam ke dalam wajah Bumi yang sama sekali tak tertarik menoleh padanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2