
Memandangi wajah buah hati saat mereka tertidur memang obat yang tak dapat dibeli di toko manapun. Mata mungilnya yang terpejam, dengan raut wajah teduh dapat meluruhkan segala letih bahkan sakit yang hebat sekalipun.
Bumi selalu menyukai momen seperti itu. Saat dua jagoannya tertidur, maka ia akan memandanginya satu persatu dengan senyum tipis di bibirnya. Apalagi kini hadir si kecil Ara di antara mereka. Meski belum sepenuhnya mengenalkan Ara pada kedua putranya. Bumi tetap menempatkan ketiganya bersamaan jika sedang tidur.
Suara pintu kamar mandi terbuka membuyarkan konsetrasinya yang sedang memandangi putra putrinya. Senyuman jahil sang suami membuat pandangannya teralihkan. Bumi segera beranjak dari tempat tidur yang kini terasa sempit itu.
"Aku mau pergi," ucap Akash seraya memakai kaosnya.
"Ke mana? Ummi mau datang loh?" todong Bumi seraya mengambil handuk basah dari suaminya.
"Temenin Ragga transaksi tanah." Sahut Akash. Ia berjalan ke arah tempat tidur mengamati ketiga buah hatinya.
"Mas Ar mukanya tengil banget." Komentar Akash saat melihat wajah Aro.
"Sama kayak kamu, dia tuh udah pasti gedenya sebelas dua belas sama kamu." Cibir Bumi yang baru saja mengambilkan celana untuk Akash dan langsung ia berikan padanya.
"Bikin yang perempuan, yuk!" seloroh Akash sambil mendekatkan wajahnya ke arah Bumi. Sontak Bumi dorong wajah mulus itu jauh-jauh dari hadapannya.
"Udah ada Ara, jangan macam-macam!" ancam Bumi kemudian pergi meninggalkan kamar membawa handuk basah dan pakaian kotor. Akash hanya terkekeh dengan ancaman istrinya itu.
***
Suasana bertambah ramai manakala Ummi, Nadia dan keluarga kecil Zahra tiba. Alisha semakin tumbuh tinggi. Bicaranya kini benar-benar sudah jelas.
"Kok adek bayi jadi ada segini?" tanya Alisha seraya mengangkat tiga jarinya.
Kini ketiga bayi itu sedang berkumpul di ruang televisi. Aro kembali tidur, Akhza dipangku oleh Ummi seraya memainkan tasbih dan si kecil Ara nampak berbaring tenang diajak bicara oleh Eli.
"Berapa itu?" Nadia balik bertanya.
"Tiga dong onti, masa nggak tahu syiih!" omel Alisah seraya melipat kedua tangannya didada.
"Aku kira lima." Sahut Nadia seraya mengangkat sepuluh jari-jari tangannya.
"Itu sepuluh, ontiiiiii .... " Alisha memutar bola mata, kesal digoda oleh Nadia.
__ADS_1
"Aunty Natnat, jangan bikin dia marah deh!" omel Zahra yang sedang menyuapi putranya makan. Anak kedua Zahra tak kalah montoknya dengan Aro dan Akhza.
"Iya, nanti aku nggak bagi es krim kalau nyebelin, huh!" ancam Alisha seraya beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke arah dapur mencari-cari sesuatu atau seseorang.
"Cari apa, Sayang?" tanya Bumi yang baru selesai memanaskan masakan.
"Oom manah?" Alisha balik bertanya. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Oomnya nggak ada, lagi pergi. Alisha mau apa?" Bumi mensejajarkan dirinya dengan Alisha. Ia rapikan anak rambut yang keluar dari hijab keponakannya itu.
"Mau es krim," sahutnya cepat.
"Aunty nggak punya, tapi Alisha ke atas saja minta sama Oom atau Tante. Di atas banyak es krim." Saran Bumi dan diangguki Alisha. Gadis kecil itu langsung saja berlarian girang.
"Sini, dek!" Zahra melambaikan tangan ke arah Bumi dan tentu Bumi segera beranjak dari tempatnya berdiri.
Bumi duduk di samping Zahra yang baru selesai menyuapi putranya. Pipi bulat itu belepotan terkena bubur yang baru disantapnya.
"Kamu yakin mau mengadopsi bayi ini?" tanya Zahra seraya menunjuk ke arah ara.
"Sudah, Mi. Kasihan, kalau bukan Bumi siapa lagi yang mau merawat." Sahut Bumi.
"Anak kamu laki-laki loh, dan bayi ini perempuan. Mereka tidak ada ikatan darah. Ummi nggak mau suatu saat masalah ini menimbulkan fitnah." Tegas Ummi panjang lebar membuat Bumi sejenak berpikir.
"Kamu nggak kasih dia ASI kamu kan?" tuding Zahra membuat Bumi cepat menggeleng.
"Itu yang sedari malam Ummi takutkan, jangan sampai kamu menyusuinya." Kali ini Ummi sampai mengacungkan telunjuknya ke udara. Suaranya yang agak sedikit tinggi membuat Aro terbangun.
Bayi menggemaskan itu langsung duduk dan mengucek matanya. Ia mengedarkan pandangan, tangisnya hampir pecah sebelum melihat sosok Bundanya. Bumi sengaja tak buru-buru meraihnya. Ia ingin tahu apa yang akan putra kesayangannya itu lakukan.
Aro meronta-ronta. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara. Bokongnya ia angkat pula, berharap Bumi segera datang padanya.
Dengan senyuman riang Bumi segera mendekat pada buah hatinya. Ia langsung meraih tubuh gempal itu. Diciuminya kepala, pipi hingga leher Aro. Aro tertawa geli menerima kejahilan Bundanya.
"Uh ... uh ... uh." Akhza menunjuk-nunjuk. Ia mengangkat bokongnya dari pangkuan Ummi.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang?" Bumi meraih telunjuk Akhza yang menunjuk padanya. " Bunda nen in dulu Mas, ya. Abang kan sudah barusan." Bujuk Bumi, seolah mengerti, Akhza kembali tenang duduk di pangkuan Jiddanya.
"Anak sholeh, cucu Jidda." Ummi mencium gemas pipi cucunya itu. Akhza tertawa geli dibuatnya.
"Lalu mereka kalau tidur bareng bertiga?" selidik Nadia.
"Berlima dong, Kak. Ada Bunda sama Ayah." Ralat Bumi seraya mengusap kepala Aro yang berkeringat. Tangan Aro mulai menarik-narik ujung jilbabnya. Seperti biasa, kakinya ia tendangkan ke udara.
"Kalau kamu mau merawat bayi itu, terpaksa saat remaja nanti mereka harus dipisah. Jangan sampai satu rumah." Saran Ummi membuat Bumi menatap sedih ke arah Ara yang tengah tersenyum diajak bicara oleh Eli.
"Kenapa gitu, Mi?" Nadia menimpali perkataan Ummi.
"Mengantisipasi kalau-kalau salah satu di antara mereka ada yang saling suka, iya kan, Mi?" Zahra meminta persetujuan Ummi atas pendapatnya.
"Iya, Bunda. Apalagi si kembar itu ganteng-ganteng. Neng Ara juga cantik, saya juga sempet mikir ke situ. Eh, ternyata Ibu juga sama." Eli tersenyum penuh hormat ke arah Zahra. Zahra tersenyum balas mengangguk.
"Bumi terlalu senang, nggak mikir sejauh itu, Mi, Kak." Aku Bumi, ada sesal dalam hatinya.
Ara mulai bosan, ia mulai merengek. Sepertinya ia tahu sedang jadi bahan pembicaraan orang-orang di sekitarnya.
"Tolong buatin susunya, Bi. Sekalian panggilkan Mama, ya!" pinta Bumi pada Eli.
Eli mengangguk seraya beranjak. Ara terus merengek, Bumi menatapnya sedih. Ia tak mungkin melepaskan Aro yang tengah rakus menghisap kesukaannya.
"Ammah, tolong diajak bicara dulu Aranya. Dia paling senang diajak bicara sambil diusap pahanya." Bumi memohon pada Nadia. Adik iparnya itu mengerti, ia mendekati tubuh mungil Ara.
Melihat Ara seperti itu membuat Bumi sedih. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia sudah sangat jatuh hati pada Ara.Tak ingin sampai Ara harus pergi dari hidupnya. Ia hanya ingin, kelak dewasa Ara, Aro dan Akhza dapat saling berdampingan. Saling menyayangi layaknya saudara kandung.
.
Like
komen
dan vote.
__ADS_1