Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
17


__ADS_3

Samar-samar terdengar sura bumi bersenandung mengikuti musik yang Dia putar di ponselnya.


Whenever you're ready, whenever you're ready


Whenever you're ready, whenever you're ready


Can we, can we surrender


Can we, can we surrender


I surrender


Laut berkali-kali mengetuk pintu namun diabaikan oleh Bumi. Sampai akhirnya Laut membuka sendiri pintu yang tidak dikunci itu.


"Masa udah mau menyerah? berjuang juga belum," decak Laut mengacak rambut adiknya yang sedang duduk di atas tempat tidur memeluk kedua kakinya.


"Kakak, kenapa nggak ketuk pintu dulu?" Bumi kesal.


"Kalau mau jadi menantu Ummi pagi-pagi itu mestinya ke dapur bikinin sarapan. Dan satu lagi, masa mau jadi menantu Ummi yang dihafal lagu begini? Hafal tuh Al-qur'an!" Laut mematikan musik yang di play Bumi pada ponselnya.


"Apa sih masih pagi udah ngajakin ngehalu aja," Bumi mengambil ponselnya dari tangan sang Kakak.


"Calon suami tuh nginep di sini," Laut menggoda Bumi. Menaik turunkan kedua alisnya.


"Makin ngaco aja bicaranya, udah sana Aku mau mandi!" Bumi mendorong bahu Laut yang duduk di sebelahnya.


"Serius itu ada Akash, semalam Dia ke sini. Secara resmi meminta restu pada sang Kakakmu ini," lagi-lagi rambut itu diacak.


"Masa? Koq bisa?"


*****


Brugh


Baru saja Laut yang hendak memejamkan matanya mendapati tubuhnya ditindih oleh seseorang yang sudah Dia hafal dari aroma parfumnya saja.


"Aduuuh ustadz gagal move on, ngapain malam-malam ganggu orang?" Laut mendorong tubuh Akash yang menindihnya.

__ADS_1


"Malas ah suka bawa-bawa aib orang, Allah saja menutup rapat aib setiap hambanya nah elo sebagai hamba terang-terangan buka aib saudara lo sendiri," Akash mendecak kesal. Pasalnya Dia selalu risih saat Laut mengatainya ustadz gagal.


"Becanda kali ah," Akash mendapat toyoran di kepalanya dari Laut.


"Dosa lo noyor kepala anak yatim," Akas membalas dengan menonjok bahu Laut.


"Anak yatim kepala lo peang, sebentar lagi kawin masih mau dibilang anak yatim."


"Beneran nih Gue direstuin?" Tanya Akash seraya memegang bahu Laut dengan kedua tangannya.


"Direstuin apa sih?" Laut balik bertanya.


"Gue cuma mau nikah sama Bumi. B-u-m-i." Akash tersenyum tanpa menampakkan giginya.


"Ngaco Lo. Kemaren Mama cerita katanya habis melakukan pertemuan keluarga ya? jadi kapan nih tanggalnya?"


Raut wajah Akash langsung berubah. Dia mengusap wajahnya kasar lalu menjambak sendiri rambutnya.


"Sefrustasi itukah Kash? Rere cantik, bahkan Gue aja sempet naksir. Dia sebetulnya baik, Lo nya aja yang selalu nggak bisa bawa Dia ke dunia Lo."


Akash terdiam. Dulu sekali saat SMA Laut memang sempat dekat dengan Rere. Namun, setelah tahu Rere itu anak orang kaya Laut mundur teratur. Apalagi setelah tahu bahwa Rere dijodohkam dengan Akash semakin tahu diri saja Laut itu. Dia susah payah menata hatinya dan mulai membuka diri pada Ayesha yang saat kuliah semester akhir menyatakan cinta terlebih dahulu padanya.


"Jangan ngaco deh, Bumi itu hafalannya saja hanya sebatas surat Al-ikhlas. Dia nggak akan pernah bisa ngimbangin Lo dan keluarga Lo dalam hal apapun!"


"Gue akan bikin Bumi sampai tahu surat lainnya, biar Gue yang temani Dia menuju ridha-Nya. Sebagai langkah awal, Gue butuh restu dari walinya. Gue butuh restu Lo." Lagi-lagi Akash mengharap pada Laut. Dia sampai bersimpuh pada Laut.


"Lo jangan berlebihan gini Kash. Rasullullah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Cinta Lo yang terlalu berlebihan ini akan membuat mata Lo buta dari setiap kesalahan Bumi. Bumi itu banyak salahnya, dosanya banyak." Laut meyakinkan agar Akas tersadar akan siapa itu Bumi.


"Siapa Lo bisa menjudge Bumi itu banyak dosanya? Lo malaikat pencatat amal? siapa tahu saat Bumi memohon ampun dengan hatinya yang tulus, saat itu juga Allah mengampuni dosanya?" perkataan Akash membuat Laut mengusap dadanya seraya beristighfar.


"Rere juga bukan seseorang yang baik. Dia masih mengumbar aurat. Gue tahu Dia shalat saat ke rumah Gue doang. Dia masih suka dugem bahkan minum-minum sama rekan-rekan kerjanya, kan?" Akash melanjutkan kalimatnya.


"Setidaknya Lo dan Rere itu sama-sama dari keluarga terpandang. Derajat kalian sama!" Laut tak mau kalah. Bukan tanpa alasan Laut melarang hubungan Bumi dan Akash. Laut hanya tidak ingin hanya kekecewaan yang didapat oleh Bumi. Semua orang tahu, Laut dan Bumi hanyalah serang anak-anak dari supir pribadi keluarga Ummi.


"Tapi Gue nggak cinta sama Dia!" Akash masih berkilah. Dia kali ini harus mendapatkan restu Laut.


"Lo cinta sama Bumi?"

__ADS_1


"Sangat!" Akash menjawab tanpa perlu berfikir lama.


"Kenapa Bumi? apa alasan Lo cinta adik Gue?" Laut bertanya serius.


"Tanya sama Allah kenapa menggerakkan hati Gue buat cinta sama Bumi?" Akash tersenyum licik.


Laut menyerah, pertahanannya hancur. Dia tahu seperti apa Akash itu. Meski ragu akhirnya dia mengeluarkan kata restu itu dari bibirnya.


"Ok, Gue kalah. Gue restuin kalian. Tapi ingat, Gue hanya sekali ngasih kesempatan. Kalau sampai Lo gagal. Jangan harap Lo bisa lihat lagi Bumi di hidup Lo." Nada ancaman Laut terdengar mengerikan dan sedikit membuat Akash meringis.


"Lo udah lihat kan seberapa Gue selalu berhasil mengalahkam keinginan keluarga Gue?"


"Gue nggak yakin sih, tapi Gue tunggu saat Kita berjabat tangan di hadapan penghulu," Laut mengulurkan tangannya lalu diterima oleh Akash dan mereka saling berangkulan menepuk bahu masing-masing.


****


Bumi memandang Kakaknya dengan tatapan berbinar penuh kebahagiaan. Akhirnya tembok itu dihancurkan sendiri oleh Kakaknya. Bumi berhamburan ke pelukkan Laut dan menhujani kepala kakaknya itu dengan ciuman.


"Makasih, Kak. Makasih. Kakak tahu nggak? Bumi itu udah sayang sama Kak Akash sedari kecil. Bumi nggak nyangka ternyata perasaan Bumi terbalas," Bumi melepaskan pelukkannya.


"Kenapa bisa secinta itu sih sama Akash?"


"Iyalah, Kak Akash itu ganteng banget. Dia selalu tahu dan ngerti keadaan Bumi. Kakak tahu saat dulu Dia marah sama Bumi? Bumi rasanya saat itu pengen mati aja."


Laut menggeleng-geleng kepalanya. Dari otak saja Bumi dan Akash itu sudah jelas beda.


"Si Akash kebentur apa sih sampai jatuh cinta sama manusia yang otaknya sebatas jempol doang," Laut kembali mengacak rambut adiknya.


"Maksud Kakak Aku bodoh? Nggak pinter?" Bumi merengut.


"Kalau pinter bacaan shalat gak mentok di surat Al-ikhlas terus," Laut tertawa sementara Bumi langsung menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi di punggungnya.


"Ampun, Dek. Udah, dek," Laut memegangi kedua tangan Bumi yang mulai menghentikan gerakannya.


"Tapi, Kamu harus ingat. Kalau Akash gagal sekali saja, Kakak sendiri yang akan bawa Kamu pergi selamanya dari hidup Akash."


"Kakaaaak iih, doainnya yang bagus keq. Jangan kaya gitu," Bumi menarik tangannya yang dipegang Akash.

__ADS_1


Laut tak menjawab, Dia kembali mengacak rambut adiknya lalu melompat dari tempat tidur meninggalkan Bumi dengan rasa kesalnya.


__ADS_2