
Setelah menempuh perjalanan 2,5 jam dengan membawa motor dalam kecepatan sedang karena Bumi terus-menerus protes. Akhirnya, Akash menepikan motornya di depan sebuah bangunan yang terbuat dari kaca dan kayu di sisi-sisinya. Bangunan yang sama persis dengan restorannya di Jakarta.
Keduanya turun dari motor. Bumi membuka helm dan sedikit memijat keningnya karena merasakan sakit di kepalanya.
"Eeeh kenapa, Dek?" Akash panik melihat Bumi yang meringis sambil memijat-mijat kembali kening hingga pelipisnya.
"Nggak apa Kak, agak pusing aja." Bumi tersenyum walau sepertinya masih menahan sakit.
"Masuk aja, yuk! Aku buatkan teh hangat." Akash berjalan duluan memasuki tempat yang sepertinya masih dalam tahap pembangunan itu. Terlihat beberapa orang pekerja sedang memasang lampu hias.
"Bang, kemana aja baru ke sini?" sapa seorang pekerja tanpa menoleh karena sedang memasangkan bohlam kecil.
"Sibuk cari receh buat halalin anak orang," Akash melirik Bumi. Yang dilirik senyum senang.
"Nggak percaya deh, bos mana butuh duit receh," ujar pekerja yang bergerak menuruni tangga.
"Sejuta juga nggak akan jadi sejuta kalau kurang seribu," Akash menyalami laki-laki bertopi yang menghampirinya.
"Pacar nih?" Laki-laki itu melirik ke arah Bumi yang berusaha menyapa lewat senyum dan anggukkan kecil.
"Calon istri." Jawab Akash sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah pekerja itu karena suaranya sengaja Dia pelankan. Namun, Bumi masih mendengarnya.
"Mantap, Bang. Jinak-jinak merpati kayaknya." Goda pekerja itu membuat Akash mengerutkan dahinya.
"Gak ngerti Saya, Kang. Saya ke bawah dulu!" ujar Akash menepuk lelaki itu lalu mengajak Bumi turun ke lantai bawah.
"Ini tempat apa, Kak?" Mereka tiba di lantai bawah. Bumi terperangah disuguhkan pemandangan yang masih bisa dilihat dari dalam ruangan karena bangunan itu memang terbuat dari kaca.
Dari dalam saja terlihat pemandangan dengan banyak tumbuhan hijau. Ada kolam yang lumayan besar dengan berbagai ikan warna-warni. Suara percikan dari kucuran air pada kolam menambah suasana hening semakin mententramkan.
"Ini restoran atau semacam kafe deh bisa dibilang. Belum selesai pembangunannya. Masih menunggu waktu yang pas buat launchingnya," Akash sengaja memilihkan tempat duduk di pojokan yang langsung menghadap ke luar.
"Bagus tempatnya, Kak. Betah deh kalau tinggal di sini," Bumi tersenyum menatap takjub pada beberapa burung yang bertengger di atas pohon.
"Aku juga kayaknya bisa betah kalau...." Akash menggantung kalimatnya, Dia mengurungkan melanjutknnya kembali karena tak ingin membuat Bumi merasa diberi angan-angan.
"Kalau apa?" Bumi mengernyitkan dahi seraya menopang kepalanya dengan telapak tangan yang dia letakan di atas meja.
"Enggak apa-apa, Aku bikinkan teh hangat dulu. Sebentar," Akas beranjak tanpa mendapat persetujuan dari Bumi.
Bumi hanya menghela nafas panjang, membetulkan posisi duduknya dengan menyandarkan punggung dan kepalanya disandaran kursi kayu itu. Dia mengetuk-ngetukkan telunjuk di atas meja mengusir rasa bosan.
Semakin lama perasaan takutnya akan ketidakbisaan bersama Akash semakin terbayang. Terkadang Dia yakin sekali hubungan ini akan berhasil. Tapi, jika sudah melihat keluarga Akash Bumi akan merasa sangat kerdil dan rasanya sulit menjangkau mereka. Jangankan berharap jadi istrinya, jadi asistennya saja rasanya sudah tak mungkin.
Akash pun bukan lelaki yang mudah ditebak. Selama dekat dengannya, tidak pernah ada pernyataan cinta dari Akash. Sikapnya pun terkesan cuek. Kadang sampai seharian tidak ada kabar jika Bumi tidak lebih dulu menyapa.
__ADS_1
Lamunan Bumi buyar saat Akash sudah kembali membawa nampan berisi segelas teh hangat dan secangkir kopi.
"Pesanannya Mbak," Akas menggoda Bumi.
"Makasih, Kak." ucap Bumi segera menggenggam gelas tinggi itu menghangatkan tangannya yang dingin.
Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam. Hanya ada suara gemericik air dari kolam dan suara burung bersahut-sahutan. Bumi sesekali menenggak tehnya. Sakit kepalanya terasa mereda.
Selalu saja seperti ini jika sedang berdua, mereka lebih banyak berdiam. Membiarkan waktu terbuang tanpa adanya perbincangan. Tapi, Bumi selalu merasa bahagia saat-saat seperti ini. Dia bisa sepuasnya melirik wajah tampan kekasihnya. Kekasihnya? bukan. Calon suami? itu lebih tidak mungkin. Lalu Bumi harus mengangap Akash itu siapa?
"Bumi, masih pusing?" tanya Akash memecah keheningan.
"Sudah membaik, Kak." Jawab Bumi cepat. Tangannya masih menggenggam gelas yang mulai dingin.
"Kamu sekarang jadi banyak diamnya, bicaralah. Aku bukan orang yang pandai membuka percakapan." Pinta Akash.
"Aku cuma ngerasa nggak enak badan aja," Bumi memegangi lehernya, badannya memang terasa tidak enak.
"Mau tiduran saja? Aku temani," Akash menyentuh pundak Bumi dan itu untuk pertama kalinya. Bumi membulatkan matanya menoleh pada Akash.
"Hah gimana maksudnya?"
"Eenggak maksudku aku antar ke kamar kalau mau tiduran," Akash menyadari sudah salah bicara.
"Enggak Kak, di sini saja" Bumi menggeleng kembali menatap keluar.
"Kakak pasti tahu apa yang Aku pikirkan," alih-alih menjawab Bumi malah memberi teka-teki.
Akash beranjak dari kursinya lalu berdiri di belakang kursi yang Bumi duduki, sedikit menempel pada kepala Bumi.
"Kamu dengar nggak suara detak jantungku?" tanya Akash seraya mendekatkan dadanyanya ke kepala Bumi. Jika tidak ada sandaran kursi mungkin tubuh mereka sudah menempel.
"Detaknya kencang sekali, seperti orang yang sedang jatuh cinta," jawab Bumi.
"Detak jantung Kamu begini juga tidak saat dekat denganku?" Akash kembali bertanya.
"Iya, bahkan hanya dengan mwnyebut nama Kakak saja jantungku rasanya mau lompat," Bumi mengusap lembut wajahnya sendiri, tersenyum malu.
"Kenapa begitu?" Terus saja bertanya.
"Orang yang jatuh cinta memang begitu kan, Kak. Cara kerja jantungnya jadi tak karuan." Jawab Bumi.
"Jadi kalau jantungku juga berdetak lebih kencang saat dekat denganmu Kamu tahu itu artinya apa?" Akash menaruh dagunya di kepala Bumi. Kedua tangannya menekuk pada sandaran kursi.
"Kak, Kamu membuatku takut. Aku takut semakin jatuh cinta sama Kamu. Aku kalau dekat dengan orang yang Aku cinta bawaannya suka pengen meluk dan nggak mau lepas lagi," ucap Bumi dengan suara gemetar.
__ADS_1
Akash tersenyum, Dia mulai menemukan sosok Bumi yang asli. Dia jauhkan badannya dari sandaran kursi dan otomatis membuat Bumi merasakan pergerakan dan Akash yang menjauh. Bumi menoleh, Dia melihat Akash sudah mundur beberapa langkah dengan senyuman menggoda.
"Kakak, menyebalkan ih. Sengaja ya mau menggoda?" Bumi segera mendekati Akash yang melangkah mundur secara perlahan.
"Kak, kalau kena Aku peluk ya!" Bumi sengaja mempercepat langkahnya dan berhasil menangkap lengan kiri Akash. Ingin menepis tapi tidak enak.
"Bumi, jangan dong!" Akash memperingati.
"Sebentar saja Kak," Bumi memohon.
Akash malah tertawa dan menutup mulutnya dengan lengan kanannya.
"Aku senang akhirnya sifat asli Bumi keluar. Bumi yang suka merengek dan agresif," Akash merentangkan tangannya menyambut pelukkan Bumi. Tapi Bumi malah mendengus.
"Katanya mau peluk, malah diam?"
Bumi tak menjawab, dia mencebikkan bibirnya. Bumi melipat kedua tangannya di dada sambil mengkomat-kamitkan mulutnya.
"Percuma meluk Kak Akash tuh kayak meluk patung, nggak pernah dibalas,"
"Ya sudah sini, nanti Aku balas," Akas menggerak-gerakan tangannya.
Bumi masih diam, memutar bola matanya.
Akash berjalan mendekatinya dan melakukan hal itu untuk pertama kalinya. Dia membawa Bumi yang masih melipat kedua tangannya di dada ke dalam pelukkannya. Bumi membulatkan matanya. Dia dipeluk oleh Akash. Akas mengusap surai rambut Bumi lembut.
"Jangan terlalu memikirkan banyak hal. Jangan terlalu cepat berprasangka. Aku hanya perlu lebih banyak waktu untuk membuat Kamu dan Aku menjadi Kita," Akash membisikkan kata itu tepat di telinga Bumi. Bumi mengangguk.
"Jujur saja memang akan sulit, tapi Aku akan berusaha,"
"Kalau gagal?" Suara Bumi kembali bergetar.
"Jangan pesimis, yakinlah akan berhasil."
Bumi kembali mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada Akash dan mendengarkan debaran jantung Akash yang menurutnya seperti irama musik yang indah.
"Bumi, bener nih kata Kamu. Rasanya tidak enak saat pelukkan Kita nggak dibalas," ucap Akash. Bumi terhenyak menyadari tangannya yang masih terlipat di dada.
"Biar aman, Kak. Emang Kamu bisa nahan kalau badan Kita benar-benar menempel. Anak ustad mana boleh main peluk-peluk gini," Bumi sengaja meledek kekasihnya itu.
Akash hanya tertawa lalu melepaskan pelukkannya.
"Makasih Kak, Kamu ternyata romantis juga. Aku sekarang lebih tenang." ujar Bumi jujur dengan perasaannya. Akash hanya mengangguk lalu kembali mengajak Bumi untuk duduk karena melihat seorang pegawai yang tadi diminta tolong membawakan makanan sudah datang. Beruntung acara berpelukkannya sudah selesai.
.
__ADS_1
.
.