
Hampir dua jam Bumi menunggu urusan Guntur dan Rere selesai. Dia sendiri sudah mulai merasa bosan. Pasalnya Nenek Karina malah beranjak tidur setelah Bumi menolaknya menonton drama Korea. Entahlah, akhir-akhir ini Bumi lebih sering menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku islami.
Merasa pegal sendiri duduk di tepi tempat tidur Nenek Karina, Bumi memutuskan keluar saja dari kamar itu. Dia ingin menemui Guntur dan pamit pulang lebih dulu. Bingung harus mencari ke mana, Bumi memutuskan naik ke lantai dua. Langkahnya pelan menaiki anak tangga. Hingga di depan sebuah pintu bercat putih langkahnya terhenti mendengar percakapan Guntur dan Rere.
"Aku sudah minta pada orangtuaku untuk membatalkan pernikahan ini, tapi susah sekali meyakinkannya."
"Aku sangat mencintaimu, Re."
"Kamu pikir Aku tidak merasakan hal yang sama, Aku bisa apa?" terdengar suara Rere frustasi.
"Selama ini Aku menjauh untuk melupakanmu, nyatanya tidak bisa. Habiskan waktumu bersamaku sebelum pernikahan kalian terjadi."
"Tentu saja, bahkan Kita masih bisa kan bersama walaupun Aku sudah menikah. Biarkan pernikahanku hanya menjadi sebuah status. Hatiku seutuhnya milikmu."
Bumi menutup mulutnya yang menganga. Kaget mendengar perbincangan itu. Dengan langkah sempoyongan Dia memilih segera pergi saja. Dikiriminya pesan singkat pada Guntur bahwa Dia pulang lebih dulu.
Sepanjang perjalanan hanya Akash yang terlintas dalam pikirannya. Rere ternyata tidak sungguh-sungguh mencintainua. Bumi menyesal telah merelakan begitu saja perasaannya. Jika Rere saja bisa berbuat seperti itu di belakang Akash, kenapa Akash justru tidak boleh melakukan hal yang sama. Bumi merasa bersalah karena beberpa waktu ini sudah mengabaikan Akash.
Langkahnya semakin cepat saat memasuki rumah karena melihat mobil Laut dan motor Akash yang sudah terparkir di depan rumah. Senyumnya melengkung riang. Bumi mempercepat langkahnya bahkan lupa menemui Mamanya. Tubuhnya terasa meringan seperti kapas. Dia yakin Laut dan Akash berada di atas.
Suara tawa yang terdengar dari arah kamar Laut menjawab pertanyaan Bumi. Setelah melepas sepatu dan menyimpan tas di kamarnya, Bumi segera masuk ke dalam kamar Kakaknya.
"Assallamuallaikum," tawa riang khas Bumi membuat Akash dan Laut keheranan. Terbata menjawab salam.
"Kamu dari mana sih? kelayaban terus setelah kenal dokter Guntur."
"Iiih Kakak adiknya pulang bukan disambut," ucap Bumi memukul pelan bahu Kakaknya.
Akash tak berani bertanya, rasa cemburu dan kesal bersarang jadi satu. Melihat Bumi yang tertawa riang sepulang pergi dengan Guntur membuat dadanya sesak.
"Kita makan mie yuk, Aku yang buatkan!"
"Waah kebetulan belum makan, nih. Boleh deh." Jawab Akash.
Akash tidak menoleh, Dia malah sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Kak Akash mau juga makan mie?" tanya Bumi.
Akash tidak menjawab, mungkin Bumi salah menyebut nama. Begitu pikirnya.
"Kash Lo mau makan mie nggak?" Laut menyenggol bahu Akash.
"Kamu bicara padaku?" tanya Akash menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya di sini ada lagi yang bernama Akash selain Kakak?" Bumi balik bertanya, menatap Akash penuh arti. Akash dibuatnya salah tingkah. Hanya anggukan sebagai jawaban yang diberikan pada Bumi.
"Ayok ke bawah, Aku ganti baju dulu." Ucap Bumi seraya pergi meninggalkan kamar Laut.
"Dia Bumi? baru beberapa jam yang lalu Dia menyebut Gue cuma batu yang dikasih nyawa, sekarang tiba-tiba baik?" Akash masih heran.
"Mungkin do'a Lo sedang Allah kabulkan. Sudahlah, kasihan juga Gue sama Bumi yang terus-terusan berusaha menjauh padahal hatinya pasti sakit."
Laut dan Akash pun meninggalkan kamar.
Bumi terlihat sedang menuangkan air ke dalam panci lalu meletakannnya di atas kompor. Akash dan Laut menunggunya di meja makan. Dari sana Akash memerhatikan gerakan bahu Bumi. Terlihat cekatan dan lincah.
"Pakai" Laut dan Akash kompak menjawab.
Bumi memasukkan telur lalu disusul potongan sosis dan bakso kemudian tiga potong mie instan menyusul. Setelah itu barulah potongan sayur dan cabai segera bergabung bersama bahan-bahan tadi. Letupan air sedikit menciprat tangan Bumi, membuatnya reflek mengaduh. Akash yang melihatnya langsung menghampiri.
"Kenapa? hati-hati dong!"
"Keciprat sedikit, panas."
"Basuh dulu di keran biar reda rasa panasnya!"
Bumi menurut, kucuran air sedikit membuat rasa panasnya hilang.
"Mangkuknya di mana?" tanya Akash, hendak membantu menuangkan Bumbu.
"Kita bertiga makan di pancinya langsung ya? biar kayak di drama." Bumi mengakhiri kalimatnya dengan bercengenges ria.
__ADS_1
"Ini sudah matang," ucap Akash mematikan kompor.
Bumi mendekat, dimasukkannya bumbu yang sudah Akash gunting. Aroma soto khas mie instan menyeruak. Kepulan asapnya menggoda untuk segera dicicipi.
"Yakin makan langsung dari pancinya?" tanya Akash.
"Yakin, Kak. Enak tahu!" Bumi hendak membawa panci itu namun Akash menahannya.
"Biar Aku yang bawa, kamu ambil sendok garpu saja." Akash mengambil lap di tangan Bumi untuk membawa panci panas tersebut.
Mereka memutuskan makan di lantai tanpa alas apapun. Sensai makan mie langsung dari panci memang luar biasa. Tingkah ketiganya yang berebut saat menusuk bakso sangat kontras dengan usianya.
Saling melempar tawa dan canda. Bahkan sesekali tak ragu Bumi menyenggol tangan Akash yang akan menyuap hingga mienya jatuh kembalu ke dalam panci. Bahkan Akash membalasnya dengan merebut mie dengan mukutnya langsung yang akan Bumi suapkan ke mulutnya. Ketiganya terus bercanda sampai mie dalam panci itu habis tanpa sisa.
"Lain kali Kita makan mie dalam panci lagi sebelum Laut melepas lajang dan sibuk dengan keluarga baru," ucap Akash seraya mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.
"Oh iya lupa," Lauy memukul keningnya sendiri.
"Maam, mama!" Laut berlari meneriaki Mamanya yang sedang berada di kamar.
"Kamu lupa hari ini kita mau fitting baju? tadi Mama sempat mau mengingatkan tapi Kalian begitu asyik makan Mie. Sampai lupa umur sepertinya?" sindir Mama yang baru keluar dari kamar dengan pakaian syar'i nya.
"Ya sudah mam, ayok berangkat." Laut bahkan sebenarnya sudah bersiap dari tadi, gara-gara Bumi mengajaknya makan mie dalam panci dia lupa jadwalnya hari ini.
Setelah Ayas dan Laut pergi kecanggungan tercipta di antara Bumi dan Akash. Hanya deru nafas dan detak jarum jam yang terdengar di antara kedua nya.
"Kak, maaf untuk sikapku beberapa waktu ini," ucap Bumi memecah keheningan.
"Aku tidak mau memaafkan, Kamu udah bikin hatiku sakit bahkan menangis." Akash meninggalkan beranjak. Namun Bumi mencegahnya.
"Kak, Allah saja Maha pemaaf. Kakak sombong sekali. Atau Kakak memang benar-benae cuma sebuah batu yang diberi nyawa?"
"Kamu itu bukannya merayu, malah mengataiku batu yang diberi nyawa." Akash menatap tajam ke arah Bumi.
"Aku harus bagaiman agar dimaafkan?"
__ADS_1
"Menikahlah denganku!"