Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
95


__ADS_3

"Kak Ayesha nggak usah ikutan," Bumi memasukkan beberapa mie instan ke dalam plastik sedang. "Istirahat aja di kamar," imbuhnya.


"Bosan dong, Dek." Keluh Ayesha yang ikut membantunya mengemas sembako untuk diberikan pada para tetangga yang akan menghadiri tahlil nanti malam.


"Bumi, kamu ambil pesanan kue rumah Bu Jasiah ya?!" ucap Ayas yang tiba-tiba datang seraya menatap ponselnya. "Anaknya yang biasa antar pesanan katanya sakit," lanjut Ayas.


"Iya, aku perginya pakai ojek lagi?" selidik Bumi.


"Susah juga kalau pakai ojeg sih, soalnya banyak." Sesal Ayas.


"Aku yang antar, gimana?" suara seseorang menyambar. Suara yang sangat dirindui Bumi.


Pemilik suara yang sedari malam hanya berani memandangnya, belum menyapa.


"Boleh, Mam?" Bumi memastikan, takut Ayas tidak mengizinkan.


"Boleh, tapi ajak satu orang lagi biar bisa bantu angkat kardusnya nanti." Ayas beralasan.


Ingin tidak mengizinkan namun tak enak hati pada Akash. Ayas tak ingin membuat kecewa siapapun. Baginya Akash sudah seperti anaknya.


Akhirnya Bumi mengajak Vina, teman mengajinya yang usianya masih 16 tahun untuk ikut. Bumi sengaja duduk di kursi belakang bersama Vina. Tak ada sapa apalagi bincang di antara Bumi dan Akash. Perbincangan didominasi Vina yang terus menerus membicarakan tentang dirinya yang diberi nilai C oleh Hafidz saat di sekolah.


"Mas Hafidz nggak ada ampunnya deh, Mbak." Adu Vina, "aku padahal salah sedikit tapi sampai dikasih nilai C pakai balpoin merah pula," Vina bersungut-sungut.


"Guru apa sih dia?" tanya Bumi, merasa tak mengenal calon suaminya sendiri.


"Bahasa arab, kadang ngajarin Fiqih sama Akhlak juga sih." Jelas Vina yang membuat Bumi manggut-manggut.


"Mas Hafidz ganteng ya, pantas Mbak Hansa mau jadi calon istrinya." Ujar Vina membuat Bumi geram.


Ingin rasanya dia sumpal mulut gadis itu agar diam saja. Sedari tadi hanya membicarakan Hafidz, seperti dirinya saja yang suka. Membuat Akash yang sedang menyetir berkali-kali melirik ke belakang lewat spion.


Tiba-tiba Akash menepikan mobilnya, membuat Bumi dan Vina keheranan sebab tempat yang dituju masihlah jauh. Hal itu mau tak mau membuat Bumi membuka percakapan.


"Kak, masih jauh tempatnya."


"Hmm, aku haus. Boleh minta belikan es itu?" ujar Akash, menunjuk pada kedai es yang ada di seberang tempatnya menepikan mobil.


"Oh, itu memang lagi viral di sini." Jawab Vina, matanya berbinar. Dapat es gratis, pikirnya.


"Bisa tolong kamu yang belikan?" pinta Akash pada Vina, tentu diangguki gadis itu.


Akash menyerahkan dua lembar lima puluh ribuan dan langsung disambar Vina.

__ADS_1


"Boleh sekalian beli makaroninya?" tanya Vina. Ada toko aneka makanan ringan di samping kedai minuman itu.


"Boleh, secukupnya uang saja." Ujar Akash tentu membuat Vina berhore riang dan segera keluar dari mobil.


Tinggalah kini mereka berdua di dalam mobil. Bumi berkali-kali memainkan kukunya yang panjang membunuh rasa bosan. Akash berkali-kali hanya berani melirik tanpa menoleh.


Antrian untuk membeli es cincau itu ternyata cukup panjang, entah karena apa. Akash segera membuang semua rasa canggungnya. Dia ingin tahu banyak hal dari Bumi.


"Dek." Panggil Akash.


Membuat Bumi rasanya mengawang. Panggilan itu sudah lama tak ia dengar. Hatinya mencelos saat mendengarnya. Rasanya seperti berada di tengah taman dengan bunga-bunga indah dan di kelilingi kupu-kupu indah.


"Dek" panggil ulang Akash, kali ini seraya menoleh sebab yang dipanggil tidak lekas menjawab.


Padahal saat netranya menangkap sosok gadis yang sedang mengenakan hijab hitam itu, dirinya sedang menatap lurus ke depan. Tatapan kosong dengan mulut sedikit terbuka.


"Dek" ketiga kalinya Akash memanggil Bumi, kali ini sampai mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Bumi.


"Eeeh iya, Kak. Kenapa?" tanya Bumi, tersadar dari lamunanya. Taman indah penuh bunga dan kupu-kupu itu kini lenyap dari penglihatannya.


"Apa kabar?" Akash merutuki pertanyaan bodoh nan klisenya itu.


"Baik, Kak. Kakak?" tanya balik Bumi yang juga membuat hati Akash mencelos. Gantian, kini fatamorgana taman beserta bunga dan kupu-kupu indah itu berpindah ke dalam diri Akash.


Rasanya sejuk, seperti bumi gersang karena dilanda kemarau panjang kemudian diberi hujan yang menyejukan. Lebih dari itu, badannya terasa meringan. Seperti melayang di angkasa di puncak nirwana terindah.


"Iya, Kak. Aku sudah menerima dia." Jawab Bumi, meski berat dia harus mengucapkannya.


"Kalian akan menikah? kapan?" tanya Akash, harus tabah.


"Mungkin empat bulan setah hari ini." Jawab Bumi, hatinya sakit sendiri.


"Tidak adakah kesempatan untukku kembali menjemputmu?" harap Akash.


"Semua tentang kita sudah selesai, Kak." Jawab Bumi, getaran suaranya adalah efek dari gemuruh di dadanya.


"Hampir aku bisa menjemputmu," angannya masih di sana. "Tapi, nyatanya aku kalah cepat." Keluhnya tertawa untuk dirinya sendiri.


"Padahal puzzle cerita kita hampir terisi sempurna."


"Kupikir saat aku menengok, kamu masih di sana."


"Aku terlalu sombong dan angkuh, terlalu yakin jika aku adalah pemenangnya."

__ADS_1


Akash menghela nafas panjang, punggungnya ia jatuhkan pada sandaran kursi. Menelungkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang terasa panas.


"Maaf, Kak. Nyatanya puzzle itu memang tidak akan sempurna. Biarkan semuanya hanya jadi kepingan yang akan terlepas satu-satu dari tempatnya seiring berjalannya waktu."


"Aku hanyalah penumpang yang kembali mendapatkan kendaraan setelah lelah berdiri menunggu jemputan."


"Maaf, Kak. Aku tak ingin lagi kehujanan dan kepanasan setelah menepi begitu lama."


"Kamu bisa melanjutkan perjalananmu tanpa ada aku di dalamnya."


"Kisah kita sudah usai, jangan menoleh lagi. Aku sudah tidak di sana."


Dan kalimat terakhir Bumi bersamaan dengan Vina yang datang membawa satu kresek sedang makanan ringan dan tiga cup es cincau segar.


Akash sudah tak lagi bicara. Dia sudah dapatkan jawabannya walau masih ada yang terasa mengganjal. Jadwal kepulangan bersama Laut adalah besok pagi. Dia akan menanyakan hal itu pada Bumi nanti saja.


Satu cup es itu nyatanya tidak memberikan efek sakit hati jadi membaik. Hanya membasuh tenggorokan yang terasa kering. Bumi bahkan enggan menyesapnya, gemuruh di dadanya membuat enggan menelan apapun.


Saat Vina bertanya mengapa hanya didiamkan minumannya, Bumi menjawab sedang puasa dan itu membuat Vina percaya saja. Lupa dia bahwa tadi saat berangkat Bumi sempat memasukan sebutir permen mint ke dalam mulut pemberian darinya.


Sebahagia itukah Vina dapat jajanan gratis, dibohongi Bumi saja hanya mengangguk percaya. Setelah sampai di tempat yang dituju ternyata kue sudah dikemas ke dalam tiga kardus besar. Entah apa isinya, Bumi belum tahu.


Kardus itu disusun rapi di bagasi, selesai menyerahkan sejumlah uang pada Bu Jasiah Bumi segera pamit.


Es cincau dalam cup masih enggan dia sesap, ditaruh begitu saja di kursi mobil. Membasahi sebagian jok karena es batunya sudah meleleh sempurna sejak tadi.


"Eh tunggu, Mbak Hansa bohong ya soal puasa?" tanya Vina mulai sadar kalau tadi sebelum berangkat Bumi sempat memakan permen pemberian darinya.


"Vina, aku nggak suka dipanggil Hansa. Panggi Bumi saja!" Ujar Bumi dengan nada tinggi.


Ini semua gara-gara Hafidz yang menyuruh seluruh santri memanggil Bumi dengan nama belakangnya. Entah kenapa rasa kesal pada Hafidz kembali memuncak. Bumi merasa keberadaan lelaki menyebalkan itulah membuat semuanya menjadi rumit.


"Maaf, Kak. Aku kan cuma ikutin kata Mas Hafidz, eh maksudku Ustadz Hafidz." Vina meralat panggilannya pada Hafidz, sebab di sekolah Hafidz memang dilabeli dengan kata Ustadz meski dirinya sendiri sangat risih dengan label itu.


Lamat-lamat Akash menangkap obrolan Bumi dan Vina dengan kesimpulan yang membuat kedua bibirnya tertarik ke atas. Sedari tadi Bumi tidak menanggapi celoteh Vina tentang Hafidz, bahkan terkesan malas menanggapi.


Bumi, sebelum janur kuning melengkung aku masih bisa menikung.


.


.


Like dan komennya makasih ya, Kak.

__ADS_1


Curhat dikit


Disukai atau tidak sebuah karya, seorang Author tetap harus menyelesaikan ceritanya. Tanggung jawabku menyelesaikan cerita hasil jemari yang menari di atas aksara dengan penuh keburikan ini. Tiap baca ulang selalu merasa malu pada diri sendiri. Apalagi jika sudah kubandingkan dengan cerita Author lain rasanya aku ingin tenggelam saja huaaa. Tapi, aku pasti akan menyelesaikan cerita ini. seperti yang kubilang, disukai atau tidak cerita ini harus kupertanggung jawabkan sampai selesai.


__ADS_2