
"Jadi kenapa kemarin kabur?" tanya Akash.
"Pulang, bukan kabur."
"Kamu dengar pembicaraanku dengan Kak Zha?"
"Menurut Kamu?"
Akash tak menjawab, Dia yakin pembicaraan kemarin yang menjadi Bumi tiba-tiba pulang dan menghindarinya. Bumi melipat kedua tangan di dada lalu menyandarkan tubuhnya pada mobil. Entah mobil siapa. Dia menggerak-gerakan kaki yang memakai heel di atas aspal. Memangkas keheningan.
"Kamu nggak usah dengarkan ucapan Kak Zha," ucap Akash.
"Nggak didengarkan tapi diresapi lalu menyadarkan diri bahwa Aku memang nggak pantas jadi pendampingmu."
Tanpa menoleh dan fokus menatap aspal yang digesek oleh heelsnya, Bumi sebisa mungkin tidak bertemu pandang dengan pria yang berdiri di hadapannya.
"Rere juga bukan seseorang yang sempurna."
"Sebagian orang menilai bahwa harta dan jabatan itu adalah tolak ukur seseorang bisa dihargai. Aku tidak punya keduanya."
"Tapi Aku mencintaimu,"
Akash sudah berputus asa meyakinkan gadis di hadapannya agar tidak usah mendengarkan perkataan Zahra.
"Tapi cintamu saja tidak bisa jadi alasan untuk Kita bisa bersama kan, Kak?"
Bumi sekuat tenaga menahan air matanya yang mulai memupuk. Lutuynya lemas, penglohatannya sedikit kabur.
"Kamu jangan-jangan cuma batu yang diberi nyawa ya?"
Deg!
Bisa-bisanya kali ini Bumi yang dikatai Akash dengan sebutan itu. Bumi menegakkan tubuhnya. Pandangannya sejurus menatap Akash yang menarik sudut bibirnya. Merasa berhasil mengguncang pertahanan Bumi.
"Batu yang diberi nyawa itu Kamu. Aku bukan keras kepala. Aku hanya menepi, Aku lelah terlihat baik-baik saja padahal besok lusa harus hidup dalam kekalahan. Sebesar apapun cintamu padaku itu percuma. Jadi, biarlah mulai sekarang Aku menjauh."
Akash menggeleng, dipijatnya pangkal hidung. Dia mendongakan kepala menatap langit cerah dengan matahari yang terik.
__ADS_1
"Udah kan ngomongnya? Sodara-sodaraku mau pulang, takut Mama mencariku. Aku ke dalam duluan."
Tanpa menunggu jawaban Akash, Bumi melangkah dengan sedikit berlari kecil. Semalaman Dia tidak bisa tidur. Keinginannya kali ini hanya pulang dan bisa tidur nyenyak.
Acara belum selesai saat saudara-saudara Ayas memilih pulang terlebih dahulu karena Mereka takut terlalu malan sampai di kota masing-masing. Kesedihan nampak jelas di wajah Ayas saat melepas satu persatu keluarhanya pamit. Termasuk paman Yudis. Uti jadi ikut-ikutan ingin pulang. Ingat pada kucing peliharaannya yang baru melahirkan. Tetangganya kemarin menelpon, anak kucingnya mati satu.
Bumi sendiri lebih memilih pulang, kantuknya semakin berat. Padahal hari itu keluarga Akash hanya menghadiri akad. Mestinya ini jadi waktu berharga untuk bisa menghabiskan waktu bersama. Namun setelah mengingat kembali ucapan Zahra, Bumi memilih pulang. Tidur di kasur empuknya lebih menngoda.
Dia melewati Akash yang sedang mengambil minuman tanpa teguran. Biarkan saja, begitu pikirnya. Akash yang melihatnya berniat mengejar namun pergelangan tangannya ditarik seseorang. Laut.
"Biarin dulu Dia sendiri. Semalaman Dia nggak tidur."
"Dia ngomongin Kak Zha?" Akas berusaha menebak.
Laut hanya mengangguk, semalaman Bumi menangis di kamarnya. Laut sampai kehabisan kata menyuruhnya berhenti menangis.
"Maaf, Gue nggak bisa nepatin janji buat nggak bikin Dia nangis." Sesal Akash.
"Lo tenang aja, Bumi cukup terlatih buat nyembuhin lukanya sendiri." Laut menepuk bahu sahabatnya.
"Gue yang nggak bisa," ucap Akash dengan suara lemah.
Sempat terlintas di pikiran Laut untuk menelpon Rere semalam. Namun, urung karena Bumi melarangnya. Bumi sepertinya tahu dengan siapa Rere pergi. Hanya saja Dia terlalu takut untuk menyelidiki.
"Udah Gue coba, orangtuanya malah marah. Gue juga yakin Rere sebenarnya udah nyerah. Tapi, bisnis Bang Ilham dan orantua Rere yang nggak bisa dilawan."
"Ya udahlah, semoga ada lain kali buat hubungan Lo dan Bumi." Laut kembali menepuk bahu Akash memberu semangat.
Lambaian tangan Ayesha dari arah pelaminan membuat Laut dengan berat hati meninggalkan Akash. Akash hanya bisa menyuruh Laut segera kembali dan mengatakan dirinya baik-baik saja.
Acara resepsi itu selesai pukul 17:00. Ayas pulang diantar oleh Akash. Saat menyuruhnya mampir Akash menolak dengan sopan. Baginya, untuk apa bertemu dengan Bumi jika tidak ada sapa di antaranya. Dia memilih kembali melajukan mobil menuju restoran.
Cuaca memang tidak bisa ditebak. Siang sangat terik sorenya hujan besar. Akash sampai di restoran dan langsung naik k rooftop setelah menyapa karyawannya dan bilang tidak ingin diganggu. Ucapan Akash adalah perintah. Sekalipun presiden yang meminta bertemu, karyawannya tidak akan ada yang berani mengganggunya.
*****
Semakin malam hujan semakin deras. Bumi duduk di depan jendela kamar yang dibiarkannya terbuka. Tempias air hujan terasa dingin menyentuh pipinya. Pikirannya menangkap sosok Akash. Nyatanya lukanya semakin perih saat wajah tampan itu selalu terekam jelas dalam ingatan.
__ADS_1
Lamunan itu buyar oleh deringan ponsel, Laut menelpon.
"Tidur sana, udah malem."
"Baru bangun, Kak."
"Nggak sholat magrib?"
"Lagi haid, Kak Laut nggak malam pertama? malah telpon Aku. Cocok banget ini hujan." Bumi cekikikan sendiri mendengar kalimatnya.
"Lagi haid juga, hari pertama lagi. Sabar sampai tujuh hari kemudian." Suara Laut terdengar lemah, tawa Ayesha juga terdengar di sana.
"Ya udah sabar dulu, kan bisa main yang lain. Main ludo misalnya?" tawa Bumi kembali pecah.
"Ya udah, Kakak istirahat dulu. Baik-baik ya. Jangan begadang."
Bumi mematikan panggilannya setelah Laut mengucao salam dan Dia membalasnya. Beranjak menutup jendela dan bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Bahkan kebaya tadi siang masih melekat di tubuhnya.
Sementara itu di kamar lain sepasang pengantin baru duduk bersandar pada heardboard tempat tidur. Jalinan cinta yang berawal dari coba-coba itu akhirnya berakhir dalam sebuah rumah tangga.
"Jadi dulu yang jatuh cinta duluan itu siapa sih?" Ayesha mengenang kembali masa-masa pertama dekat dengan Laut.
"Kamu lah, siapa yang dulu suka curi-curi pandang?" Laut menarik tubuh istrinya untuk bersandar di dadanya. Jemarinya meraih jemari Ayesha untuk ditautkan.
"Kalau ingat dulu, nggak nyangka aja bisa sampai sejauh ini. Kamu kan cuek, aku kode in buat minta cium aja nggak peka."
"Bukan nggak peka, tapi saking sayangnya. Aku nggak mau ada yang lebih dari sekedar ciuman." Laut mengelus-elus perut rata Ayesha. Kenapa harus perut?
"Lebih juga Aku kasih padahal." Ayesha tertawa kecil.
"Nakal, terlalu banyak nonton adegan film dewasa jadi kotor pikirannya."
"Malam pertamanya gagal." Ayesha berdecak, malah Dia yang paling kecewa.
"Siapa tahu di sini langsung jadi bayi, selepas haid itu masa-masa subur lho. Rencana Allah selalu lebih indah."
Lauy masih terus mengelus perut Ayesha, bahkan tangannya sudah berada dibalik piyama dan merasakan tangannya yang hangat saat bersentuhan langsung dengan perut istrinya.
__ADS_1
Ayesha mendongakan kepalanya, menatap Laut yang juga menatapnya. Dengan gerakan cepat Ayesha mengecup bibir yang baru saja berkata bijak itu. Setelagnya Dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, Laut hanya tertawa saja dengan tingkah istrinya.