Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
12


__ADS_3

Sepanjang acara berlangsung Bumi merasa sangat asing sekali berada di antara Ibu-ibu dan para remaja yang terus melantunkan ayat-ayat suci dan juga sholawat yang asing di telinganya. Kalau seperti ini Bumi jadi merasa sedang berada di antara para benih-benih surga sedang ia sendirilah sebagai benih-benih neraka.


Dari banyaknya lantunan ayat suci serta shalawat yang dibaca hanya Alfatihah dan Al-ikhlas yang ia hafal. Setiap shalat magrib saat malam jum'at, Bumi selalu berjamaah dengan Ustadzah dan Dia tidak pernah membaca bacaan apa-apa karena berpikir bacaannya sudah dihandle oleh sang Imam. Barulah saat rakaat terakhir dia akan membaca Al-fatihan dan Al-ikhlas karena suara Imam mulai tidak dikeraskan.


Setidaknya Bumi bisa membaca Al-Qur'an walau tidak paham dengan ilmu tajwidnya. Pernah satu kali khatam saat kelas 5 SD dan tidak pernah ia ulang hingga sekarang. Bumi hanya hapal soal artis-artis Korea.


Pikiran Bumi sudah melayang-layang saja. Berkali-kali berusaha melihat ponsel namun dengan sigap mama memberinya kode agar disimpan kembali benda pipih itu. Apalagi saat acara membaca sholawat usai dan dilanjutkan dengan tausyiah oleh ummi yang oleh para jamaah selalu dinanti-nanti.


Ummi memiliki postur tubuh tinggi besar dengan kulit yang sangat putih bersih. Hidungnya sangat mancung dengan tulang pipi yang tegas serta alis tebal dan bulu mata lentik dengan mata yang bulat. Dagunya lancip dengan bibir mungilnya yang selalu dihiasi senyuman. Suaranya saat berbicara selalu lembut dengan bahasa yang baik. Membuat siapa saja akan tersihir dengan segala ucapan ummi.


Semua itu tidak menarik perhatian Bumi. Ia hanya menunduk sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas karpet membunuh rasa bosan. Di saat-saat seperti itu, ia malah memikirkan tentang drama yang tadi siang ditontonya bersama Ayesha dan Lila. Mereka bertiga benar-benar memutar episode 'special' sebuah drama yang dibintangi Lee Min Hoo.


Kamu kenapa ganteng banget sih, Mas?


Memikirkan Lee Min Hoo membuat Bumi mengingat sosok seseorang yang juga memiliki tubuh tinggi dan kulit putih. Seorang pria yang lahir dari rahim wanita yang sedang tausyiah di hadapannya. Baru kali ini Bumi merasa kerdil saat membayangkan cintanya terhadap Akash.


Siapa Bumi? Gadis pecicilan yang tidak pernah sholat dengan korea sebagai kiblat fashionya sementara kiblat cintanya ia tujukan pada Asysam Al-Akash. Bukan ustadz tapi tetaplah putra seorang Kiai yang tumbuh dan besar dalam lingkungan serba religi. Lancang sekali bukan? Bumi tanpa mendengarkan apa yang sedang dibicarakan ummi mengangkat kepalanya menatap sosok ummi, Zahra dan Nadia.


Tiga wanita beda usia dengan paras cantik yang sama. Memandang wajah mereka membuat hati damai. Tatapan mata mereka sangat teduh. Gamis serta hijab yang dipakai Mereka sudah mencerminkan bagaimana akhlak dan shalihahnya mereka.


Bumi kembali menunduk, benar kata Laut. Bumi dan Akash berbeda. Namanya lancang jika diam-diam Bumi mengiblatkan cintanya pada Akash sementara dirinya masih sering mengumbar aurat bahkan tidak pernah shalat.


Gemuruh suara para jamaah yang mengucapkan Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh menandakan tausyiah dari Ummi telah usai. Bumi tersadar lamunannya saat para jamaah satu persatu mulai menyalami dan berpamitan pada Ummi. Bisa dibayangkan rasanya jadi Ummi disalami berpuluh-puluh manusia yang mengagumi sosoknya. Bumi mulai terpesona dengan kharisma Ummi.


Tinggal mama dan Bumi yang mulai merangkak berjalan dengan dengkul mereka menuju Ummi. Ummi sudah menyambutnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Assalamualaikum"


"Waallaikumsallaam"


Ummi mempersilahkan mama dan Bumi duduk.


"Ini Bumi?" Ummi bertanya setelah mama dan Bumi menyalami ummi, Zahra dan Nadia. Jangan tanya bagaimana gugupnya Bumi saat bolak balik mencium tangan Ummi.


"Iya, Ummi. Maaf baru sempat diajak ke sini. Bumi sekarang sudah bekerja," jawab mama


"Ummi apa kabar? Kak Zha dan Nadia. Lama banget gak ketemu!" Bumi menyapa ketiga bidadari cantik di hadapannya.


"Alhamdullillah, Kami baik-baik. Kamu cantik sekali Bumi." Ummi berhasil membuat Bumi semakin gugup.


"Hehehe Aku kan kerja Dek, waktu itu kebetulan aja ada perlu jadi dianter Kak Akash bukan sengaja jalan-jalan." Bumi berkilah. Tiba-tiba Bumi merasa malu jika ketahuan Ummi tentang cara berpakaiannya.


"Assalamualaikum."


Suara yang sangat familiar di telinga Bumi mengucap salam. Akash, Dia datang dengan membawa sebuah kotak makanan di tangannya.


"Waalaikumsalaam"


"Waduh inget pulang juga kamu, Kak!" belum apa-apa Nadia sudah mengibarkan bendera perang. Akash hanya tersenyum lalu menyalami Ummi seraya mencium kedua pipinya.


"Kakak bawa donat nih, Dek. Kakak kan lagi banyak pesanan Dek," Akash mengusap kepala belakang Nadia lalu mencium pucuk kepala adiknya itu. Hal yang sama ia lakukan pada Zahra. Pada mama dan Bumi dia hanya mengatupkan kedua tangannya di bawah dagu.

__ADS_1


"Ummi, izin ajak Kak Bumi ke kamar Aku boleh nggak?" Nadia merajuk pada Umminya.


"Boleh, kebiasaan apa-apa selalu sambil merajuk," Ummi tersenyum pada Nadia. Nadia hanya tertawa lalu beranjak dan menarik pergelangan tangan Bumi tanpa bertanya mau apa tidak ikut dengannya.


"Dek, gak mau donat?" Akash merasa kesal donatnya diabaikan.


"Gak sudi disogok donat, sogok pakai hape baru dong!" Jawab Nadia membuat Bumi merasa tak enak hati.


Jangan-jangan Nadia tahu.


"Sudah, nanti juga Dia mau. Anak gadis biasanya akan nyaman bicara dengan teman sebayanya." Zahra menghibur Akash yang terlihat kecewa karena donatnya diabaikan.


Akash sendiri tidak mengerti kenapa ingin sekali pulang setelah tahu Bumi akan datang ke pengajian. Dia sempat memperhatikan Bumi tadi. Benar dugaannya, Bumi akan sangat terlihat cantik saat mengenakan gamis dan hijab. Dia merasa puas melihat penampilan Bumi. Setidaknya kepulangannya tidak mengecewakan karena bisa melihat sosok lain dalam diri Bumi.


Tiba di kamarnya Nadia langsung banyak cerita tentang kesehariannya selama tidak bertemu Bumi. Kalau dilihat dari isi kamarnya pastilah Nadia tidak suka drakor. Di dalam kamarnya tidak ada satupun poster Oppa yang ada hanyalah kaligrafi ayat kursi. Tidak satu server dengan Bumi.


Kamar Nadia cukup luas dan nyaman. Ruangan yang didominasi warna putih dengan sedikit sentuhan warna biru langit pada sebagian dindingnya itu menggambarkan bagaimana penghuninya. Nadia gadis baik yang lembut dan sholehah. Membuat siapa saja yang dekat dengannya merasa betah dan nyaman.


"Nadia punya pacar nggak?" dan itu pertanyaan bodoh Bumi saat sudah bingung mau bertanya apalagi.


"Enggak, Kak. Kuliah saja masih dua tahun lagi. Emang Kak Bumi punya pacar?" Nadia bertanya hal yang sama.


"Maunya sih punya, tapi sayangnya gak ada yang mau," jawab Bumi malu-malu.


"Kata Ummi pacaran itu nggak mencerminkan seorang muslim yang baik. Nadia sih takut jika berbuat sesuatu yang dibenci Allah, nanti dosanya datang pada abah. Nadia lebih baik dijodohkan saat menikah nanti. Kakak tahu 'kan, sekali Kita berbuat dosa di dunia maka orang tua kita yang telah tiada akan mendapatkan siksaannya juga. Abah Nadia dan papanya Kak Bumi kan telah tiada, jadi mending sebagai anak kita selalu berusaha menjadi muslimah yang baik agar apa yang datang pada mereka juga kebaikan."

__ADS_1


__ADS_2