
Laut kalang kabut, foto itu terlanjur menyebar. Baru akan menelpon Rere, ternyata Rere sudah menelponnya terlebih dahulu.
"Laut, gimana sih mereka berdua. Bisa nggak hati-hati gitu. Beresin cepetan. Orangtua gue tahu bisa ancur semuanya!"
Teriakan Rere memekikan telinga Laut.
"Ok, gue suruh orang yang kirim poto barusan buat hapus postingannya."
"Buruan, gue nggak bisa mikir."
Sambungan telpon dimatikan sepihak oleh Rere. Laut segera membuat ultimatum, bagi siapapun yang menyebarkan poto tersebut akan dikenai sanksi. Bahkan jika tidak segera diklarifikasi jangan sesali jika sesuatu yang buruk akan terjadi.
Berhasil, keributan di grup chat itu mereda. poto yang dikirim sudah dihapus. Semua kembali aman. Baru akan duduk, Rere kembali menelpon.
"Siapa pelakunya?"
"Nggak tahu, yang jelas udah beres."
"Pecat aja yang berani-beraninya main-main!"
"Besok aja diobrolin lagi."
Rere tak memberi jawaban, kembali memutuskan sambungan telpon tanpa patahan kata.
Ayesha yang kembali dari dapur dengan secangkir teh panas keheranan melihat raut muka suaminya yang menegang.
"Kamu kenapa?"
Ayesha duduk di sebelah suaminya dan meletakan cangkir di atas meja. Belum sempat Laut menjawab, Bumi yang sudah berganti pakaian datang dan langsung menodong Laut dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Kak, potonya udah di hapus kan? siapa sih kak yang sebarin? belum nyebar luas kan kak? "
Kepanikan jelas terlihat di wajah Bumi. Laut menatapnya dengan penuh iba. Bagaimana cara para karyawan tadi menggunjing Buni membuat hatinya teriris sakit. Meski sekarang poto itu sudah terhapus bahkan sederet komen telah hilang juga, tetap saja jika Bumi melihatnya, gadis itu akan merasa dihinakan.
"Ini nggak seperti itu kak," Bumi kembali mengiba. "Aku cuma ngehindarin Bang Sandi," suaranya mulai melemah. "Nggak kepikiran kalau bakal ada yang poto." Sebulir bola bening kristal berhasil lolos dari ujung matanya.
Jangan nangis, jangan nangis, jangan nangis.
"Udah beres koq, udah dihapus potonya. Nggak akan ada lagi yang berani bahas masalah ini." Hibur Laut.
"Udah, jangan dipikirin. Aku buatin teh, mau?" Ayesha meraih tangan Bumi yang sedari tadi berdiri.
Jangan nangis, ayo jangan nangis.
"Enggak kak," tolak Bumi, "aku mau wudhu aja."
Bumi melangkah menuju kamar sang Mama. Segera mengambil wudhu dengan mengharap ketenangan setelahnya. Tak lekas kembali dari kamar Ayas, Bumi mendudukan diri di tepi tempat tidur.
Tangannya mengusap permukaan sprei yang halus namun dingin karena sudah lama tak ditempati pemiliknya. Tubuhnya mulai meminta direbahkan, Bumi merangkak ke tengah tempat tidur. Menumpuk bantal dan perlahan menjatuhkan kepala di atasnya.
Matanya tak lekas terpejam, dengan posisi miring Bumi meringkuk memeluk dirinya sendiri. Rekaman kejadian dari awal pertemuannya dengan Akash setelah berbelas tahun tak berjumpa berputar begitu saja di pikirannya.
Hatinya yang terpaksa patah di hari pertama bertemu sempat menciutkan nyali untuk lebih jauh mendekati pria jangkung yang selalu terlihat sendu itu. Namun, semakin hari Bumi merasa Akash membalas perasaannya. Bahkan nyatanya, berkali-kali pria itu berusaha menggagalkan perjodohannya.
Bibir Bumi mengulas senyum saat mengingat kejadian di gerai ponsel, ah ponsel itu bahkan sepeserpun belum Bumi bayar pada Akash. Rekaman itu sampai pada Akash yang memintanya menutup pundak dengan pashmina saat hendak menghadiri acara seserahan Laut pada Ayesha.
__ADS_1
Bagaimana cara Akash membentangkan kain itu menutupi kepalanya, namun menjatuhkannya kembali untuk menutupi pundaknya. Sejak saat itu Bumi mulai sadar, kehormatannya memang harus dirinya sendiri yang menjaga.
****
Hari-hari berlalu dengan cepat. Bumi menatap lekat surat undangan di tangannya. Surat undangan pernikahan Akash dan Andrea. Surat yang dia dapatkab seminggu yang lalu.
"Kamu mikirin apa?" tanya Ayesha membuyarkan lamunannya.
Bumi cepat-cepat menaruh surat itu di bawah bantal. Tak ingin membuat Ayesha iba padanya.
"Lagi kangen aja sama Mama," Bumi berbohong.
"Mau beli gamis samaan lagi nggak buat ke nikahan Rere?" tanya Ayesha sengaja hanya menyebut nama Rere.
"Gimana kakak aja,"
"Aku udah pesen sih, kita beli juga buat Mama."
"Mama nggak bisa datang, uti sakit Kak." Beritahu Bumi.
"Aku koq nggak tahu Uti sakit?"
"Aku dapet kabar barusan dari Mama,"
"Habis telpon mama?"
"Chatting aja kak," Bumi menggeleng.
Sudah seminggu utinya sakit. Awalnya terjatuh di kamar mandi karena tiba-tiba merasa pusing dan penglihatannya kabur. Begitu pesan dari sang Mama yang dikirim pada Bumi.
"Kan, soal resign itu aku serius."
Ayesha yang baru beranjak hendak keluar kembali mendudukan dirinya.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Kak, aku nggak mau terus-menerus jadi bayang-bayang di antara Kak Akash sama Rere." Keluh Bumi
"Dari awal seharusnya aku memang nggak kembali ke sini," ucap Bumi.
Ayesha masih setia mendengarkan keluh kesah adik iparnya itu. Tangannya tak berhenti mengusap punggung Bumi. Berharap memberikan kekuatan, jangan menangis Bumi.
"Kamu udah bilang sama Abang?" tanya Ayesha.
"Kak Laut ngedukung apapun keputusanku." Angguk Bumi.
"Tapi kan Akash dan Rere belum benar-benar menikah, nggak bisa kamu tunggu sebentar lagi?"
"Aku nggak berharap banyak kak, kalaupun benar pernikahannya gagal. Apa semudah itu kami bisa bersama?"
Ayesha membenarkan perkataan Bumi, meski pernikahan itu dapat digagalkan apa semudah itu mereka bisa bersama. Perkara perjodohan yang menyakiti banyak pihak itu memang sangat rumit.
****
Di ruangan pribadinya di restoran Akash menatap nanar surat undangan di tangannya. Pikirannya berkecamuk dan berkali-kali mengumpat karena tak bisa mengagalkan perjodohan ini. Tak bisa sekarang, mungkin bisa lewat tangan Guntur.
__ADS_1
Andai bukan Ilham dan Anggara yang berdiri di balik perjodohan ini mungkin masalahnya tidak akan berlarut-larut. Harusnya hal ini menjadi mudah, Akash dan Rere tidak saling mencintai. Namun, bagi mereka itu bukan alasan yang bisa membatalkan perjodohan yang sudah direncanakan sejak lama ini.
Anggara yang terlalu ambisius dan haus pujian merasa derajatnya akan semakin banyak disegani kolega bisnisnya jika menyandingkan putrinya dengan keturunan seorang kiayi. Selama ini acara menyedahkan sebagian harta di jalan keagamaan seperti menjadi ajang sebuah perlombaan dalam dunia mereka.
Selain sebagai rasa kemanusiaan hal tersebut juga merupakan ajang pencitraan agar dikenal sebagai pengusaha dermawan. Terlebih memang Anggara sangat menyukai jiwa kerja keras Akash yang terbukti lewat usaha yang ia rintis sendiri tanpa bantuan Ilham.
Anggara melupakan bahkan mengesampingkan perasaan putrinya sendiri. Sebenarnya bisa saja Akash memberontak seperti yang sudah dia lakukan selama ini. Tapi ancamannya adalah kesejahteraan Laut dan juga Ummi yang tak ingin melihat anak-anaknya berlarut-larut dalam perdebatan.
Hubungan Akash dan Ilham tidaklah baik. Bahkan dengan Zahra pun sudah tak sehangat dulu. Akash sadar dirinyalah yang menyebabkan jarak itu semakin membentang luas dan hal itu selalu dikeluhkan Ummi. Akash merasa Ilham terlalu banyak mengaturnya.
Padahal bisa saja perjodohan itu dia batalkan dengan sangat mudah. Bukankah Abahnya saja sudah tiada, perjanjian yang berawal dari candaan itu mengapa terus berlanjut diperkuat Ilham.
Perusahaan Ilham memang tidak lebih besar dari perusahaan Anggara, Ilham sering mwmendapat suntikan dana dari Anggara, begitu yang Akash tahu dari Zahra. Tapi, kenapa harus dirinya yang menanggungnya dengan menjadi menantu Anggara?
Akash dengan kasar melempar surat undangan yang rasanya ingin saat itu juga dia tarik dari peredarannya yang sudah rerlanjur menyebar ke tangan kerabat dan saudara.
Pikirannya seketika tertuju pada Bumi, bagaimana hati gadis itu saat ini. Sudah tidak bisa lagi berpikir yang lain, Akash menyambar kunci motor di atas meja di kamarnya. Tujuannya hanya ingin bertemu Bumi.
Setelah berpamitan pada Roni, orang kepercayaannya juga menemui sebentar Chef Roland, kepala chef andalannya Akash pergi meninggalkan restoran.
*****
Di rumahnya Bumi pun enggan beranjak tidak mengindahkan titah Ayesha yang menyuruhnya mandi. Jam di dinding menjadi alasannya untuk menunda satu jam lagi acara mandinya.
Awalnya ingin kembali merebahkan diri, namun ketukan di pintu membuatnya urung melakukan hal itu. Berjalan gontai menuju daun pintu. Mungkin Ayesha yang mengajaknya makan, begitu pikir Bumi.
Namun, saat membuka pintu yang didapatinya adalah Akash yang langsung menatapnya sendu. Bumi reflek memegangi kepalanya. Bernafas lega sebab masih mengenakan hijab.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Akash penuh khawatir.
"Kayaknya kamu deh yang kenapa-kenapa!?" tebak Bumi, segera berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
"Jalan-jalan yuk!"
"Jangan macam-macam, seminggu lagi nikah. Pamali nggak boleh ke mana-mana." Ujar Bumi.
"Kamu nggak yakin Rere bisa menggagalkan semua ini?"
"Aku cuma yakin sama Allah." Jawab Bumi berusaha tegar.
"Anggao saja Rere bisa menggagalkan semua itu."
"Jangan terlalu yakin,"
"Kalau gitu, habiskanlah waktu seminggu ini bersamaku."
"Buat apa?"
"Buat jadi kenangan, bahwa kita pernah mengukir kebersamaan yang indah."
Bumi ingin berkata tidak, tapi hatinya berontak ingin. Akhirnya mengangguk patah-patah dengan seulas senyuman. Keduanya mulai membuat daftar ke mana saja akan pergi selama beberapa hari ini.
Maaf ummi, nyatanya aku hanya pendosa ulung.
Batin Akash, setelah Bumi berlalu hendak bersiap. Tujuan pertama mereka adalah Bogor. Harus Bogor karena terlalu banyak mata-mata jika berkeliaran di Jakarta.
__ADS_1