
Mendengar kata kebakaran tiba-tiba membuat perut Bumi mulas. Dia meringis memegangi perutnya. Roti bakarnya sudah tak menarik lagi. Apa aku mau melahirkan sekarang? monolognya dalam hati.
Ayas yang melihat perubahan pada wajah putrinya sedikit kaget. Apa jangan-jangan putrinya sedang mengalami kontraksi?
"Kamu kenapa?" Ayas panik segera beranjak dan berdiri di hadapannya.
Ini masih beberapa minggu dari hari perkiraan lahir, tidak mungkin ini kontraksi.
"Mulas dikit, Mam. Tapi kayaknya cuma kontraksi palsu soalnya sudah hilang lagi." Bumi mengendurkan cengkraman pada gamisnya.
"Memangnya kapan HPL nya?" Ayas panik, ia takut jika berita yang ia sampaikan adalah pemicu kontraksi palsu itu.
"Aku lupa, Mam. Tapi, ada di buku kesehatan aku." Sahut Bumi, perutnya kembali tak enak. Atau jangan-jangan karena masuk angin saja karena semalam terlalu lama melakukan kegiatan menyenangkan dengan suaminya?
"Hari ini temani periksa ya, Mam. Takut kalau Kakak nggak bisa pulang cepat." Bumi beranjak dari duduknya. Berjalan-jalan di halaman belakang mungkin bisa meminimalisir ketidaknyamanan perutnya.
"Aku jalan-jalan dulu ya, Mam." Pamitnya tanpa peduli pada roti dan susu yang dibuatkan suaminya.
Buah tomat yang menguning terasa menyejukkan pandangannnya. Sawi yang segar dan hijaunya menggoda membuatnya tiba-tiba ingin memakan mie instan. Aaah nggak boleh. suami kamu nanti marah. Jangan bikin dia tambah pusing. Sabar Bumi.... Lagi-lagi bermonolog dalam hati menepis keinginan yang harus ia hindari.
Bumi terus-menerus berjalan mengitari halaman belakang rumahnya. Berulang-ulang mengambil dan membuang nafas. Perutnya terasa kencang dengan pinggang yang tiba-tiba menjadi panas. Dia berusaha tak panik dan menikmati semua itu. Hal tersebut biasa terjadi menjelang kelahiran. Dokter sudah sering memaparkan, Bumi berusaha tenang.
Lelah terus berjalan meski hanya mengitari taman kecilnya, Bumi duduk di salah satu kursi kayu. Kakinya ia selonjorkan. Berkali-kali mengusap perutnya. Entah sudah berapa lama ia melakukan semua itu. Hingar bingar di kafe mulai terdengar. Bahkan aroma kopi sudah mulai tercium. Membuatnya ingin sekali menyesap kopi, tapi segera ia tepis kembali keinginannya itu.
"Bumi, suamimu telpon nih." Ayas datang membawa ponsel Bumi yang tertinggal di meja makan tadi. Bumi meraih poselnya, terlihat dalam layar panggilan dari suaminya sedang berlangsung.
"Sayang sudah sarapan? jangan panik, ya." Terdengar siara panik di seberang sana.
"Kamu kali yang panik, eh udah sampai?"
"Sudah, baru saja. Kamu udah sarapan belum?" Terdengar suara ribut di balik suara panik suaminya. Membuat Bumi merasa bersalah karena sudah selalu merepotkan suaminya dengan manjanya yang berlebihan.
"Udah, kamu hati-hati di sana." Bumi berbohong perihal sarapan, ia bahkan sudah tak selera lagi saat tiba-tiba perutnya kembali mulas. Wajahnya yang meringis membuat sang Mama panik. Ia langsung merangkul bahu putrinya itu. Mencoba memberinya ketenangan.
__ADS_1
"Ya sudah, aku ada urusan dulu. Kalau mau apa-apa minta tolong Mama. Jangan lupa ke dokter jam 9. Naik taksi minta antar Mama. Jangan mikir aneh-aneh ya." Akash mengingatkan jadwal kontrolnya, bersamaan dengan itu nama Akash dipanggil oleh seseorang.
Bumi mengakhiri panggilan setelah Akash menjawab salamnya. Tiba-tiba hatinya terasa sendu dengan air mata yang tanpa permisi meleleh di pipinya.
"Mulas lagi?" Ayas panik, tangannya mengelus-elus pinggang Bumi seolah tahu jika pinggang itu sedang diserang panas yang hebat.
"Maafin aku yang banyak salah sama Mama, tadi mau minta maaf sama kakak tapi takut malah nangis nanti Kakak panik."
"Banyak salah sama Kakak, suka durhaka sama dia. Nanti Allah marah nggak sama aku, Mam?" Tangisnya semakin pecah mengingat sikapnya yang manja dan selalu menyuruh suaminya melakukan ini itu.
"InsyaAllah suami kamu itu ridho," hibur Ayas terus mengusap pinggang putrinya.
"Perutnya terasa kencang? pinggangnya panas?" tebak Ayas dan diangguki Bumi. Meski sekarang semuanya ia rasa berangsur normal.
"Mau jam berapa ke dokternya?" tanya Ayas.
"Jam 9 aja, semalam Kakak udah buat janji sama dokternya." Bumi mulai meredakan tangis bersamaan dengan keadaan perut dan pinggangnya yang kembali normal. Ayas mengajaknya untuk bersiap-siap sebab sudah hampir pukul 9. Keduanya kembali ke dalam rumah dan menyiapkan diri untuk pergi ke dokter.
"Sepertinya terjadi konslet arus listrik, Bang." Tutur salah satu karyawan restoran Akash.
"Sudah nggak apa-apa, yang penting kalian nggak ada yang jadi korban. Ini musibah, bukan salah siapa-siapa." Akash menenangkan karyawannya yang memang menempati mess di restorannya.
Bersamaan dengan itu, tiga chef terbaiknya datang dan meminta maaf atas musibah yang terjadi.
"Bukan salah kalian, ini murni karena konslet dari aliran listrik. Semua ini musibah dan mungkin teguran bagi saya." Akash kembali menenangkan tiga chef yang terlihat sangat merasa bersalah.
Bangunan yang terletak di kebun jeruk itu memang hampir seluruhnya hangus terbakar. Tidak mungkin dalam waktu dekat bisa kembali beroperasi. Beruntung tiga karyawannya yang menempati mess sudah terbiasa bangun pada jam 03.00 dini hari, jadi mereka bisa menyelamatkan diri dan segera keluar dari gedung meminta perrolongan warga sekitar.
Tak ada yang tahu kejadian detailnya seperti apa, yang jelas sebagian bangunannya sudah hangus terbakar. Termasuk dapurnya yang menjadi titik paling penting dalam restoran ini.
"Rugi banyak nih, Bang." Ujar salah satu chefnya.
"Nggak apa, Pak. Sudah saya katakan yang terpenting tidak ada korban nyawa dan tidak merugikan bangunan lain."
__ADS_1
Beruntung Akash membangun restoran itu tidak berdekatan dengan bangunan milik orang lain. Sehinnga kerugian benar-benar hanya menimpanya.
Setelah tim pemadam kebakaran menyelesaikan tugasnya, mereka semua pamit. Terlihat gagah mengenakan seragam orange, definisi pahlawan masa kini mungkin. Dua orang polisi pun pamit setelah Akash menuturkan bahwa kebakaran murni kecelakaan dan tidak ada unsur kesengajaan.
"Terus kita gimana nih, Bang?" salah seorang chef mulai gusar akan nasibnya.
"Kalian saya tempatkan di dua restoran saya mungkin beberapa bisa ikut saya ke Bogor. Terserah, keputusan ada di tangan kalian. Yang jelas, saya belum bisa secepatnya kembali memvangun restoran ini. Istri saya sebentar lagi melahirkan." Penjelasan Akash cukup bisa dipahami oleh pegawainya, adapun sang manager keuangan hanya terlihat pasrah saat Akash berkata belum bisa secepatnya kembali membangun restoran.
"Kenapa nggak sambil dibangun lagi saja, Bang. Pelanggan kita sudah banyak." Terdengar nada kecewa dalam kalimat orang kepercayaan Akash itu.
"Saya harus menguras habis tabungan jika kembali membangunnya, ini harus dari nol pembangunannya." Akash memberi alasan, padahal sebetulnya bukan itu alasan yang menguatkannya.
"Saya nggak yakin kalau kendalanya di modal, Bang." Lelaki yang usianya lebih tua dari Akash itu membaca kebohongan dalam diri Akash.
"Pak Priyo bisa baca pikiran saya?" tebak Akash seraya tertawa masam.
"Iya, Bang. Segera dibangun lagi saja, kita terlanjur nyaman bekerja di sini. Order katering lagi banyak. Sayang kalau terlalu lama vacum." Ucap karyawan yang lain.
"Iya, Bang. Kalau kendalanya di waktu, Bang Akash bisa serahkan pada kami. Kami carikan kontraktor terbaik, Bang. Atau bila perlu kami sendiri yang mengerjakannya." Seloroh salah satu chefnya.
"Bukan semen yang lu adonin, terigu lu pake buat masang keramik." Timpal Priyo, orang kepercayaan Akash.
"Ya intinya kita siap membantu, Bang."
Akash sejenak berfikir, ini memang menyangkut orang banyak. Walaupun sudah pasti akan menguras banyak tabungannya tapi akhirnya ia setuju untuk segera kembali membangun restorannya.
Keputusannya tentu menjadi kebahagiaan untuk para karyawannya termasuk Priyo. Ia berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Akash. Meski berat, masalah akhirnya menemukan jalan keluarnya.
Selama pembangunan berlangsung, Akash mempersilahkan karyawannya memilih untuk bekerja di antara dua restoran lainnya atau ikut bersamanya di Bogor. Sebagian dari mereka memilih untuk istirahat sejenak menunggu restoran kembali beroperasi sementara yang lainnya akan tetap bekerja.
Satu orang chefnya ikut ke Bogor sementara satu lagi memilih akan memantau langsung pembangunan restoran bersama Priyo dan satu chef lagi Akash titipkan di restoran sahabatnya, Ragga.
Sebelum kembali ke Bogor, Akash menyempatkan diri pulang ke rumah Ummi. Rasanya dia benar-bemar butuh sosok itu saat ini.
__ADS_1