
Sudah pukul 21:30 saat Bumi kembali ke rumah. Seharian ini banyak pesan yang masuk dari Laut yang berisi permintamaafan namun tidak Bumi balas. Bukan karena marah melainkan Bumi hanya merasa Laut memang tidak salah. Ada baiknya Bumi berbicara langsung saja.
Malam itu Akash mengantar Bumi pulang namun segera kembali ke restoran dan tidak mampir. Akash cukup paham Bumi dan Laut butuh waktu berdua.
Setelah menemui Ayas dan berbincang sebentar Bumi segera memasuki kamarnya karena merasa tubuhnya sudah sangat lelah. Saat sampai di depan pintu kamar, Bumi dikagetkan dengan keberadaan Laut.
"Oh my God, Kak. Aku kira setan!"
Bumi mengusap-usap dadanya kaget.
"Maaf ya, Dek. Dari kecil selalu Akash yang lebih mengerti Kamu," Laut segera meraih tubuh adiknya dan memeluknya erat.
"Iya, Kak. Sudah dong, Aku gak bisa nafas nih dipeluk erat gini. Rasanya aneh juga," Bumi berusaha mendorong tubuh Laut.
"Kamu kalau mau menangis, ayo menangislah!" Laut mengusap-usap punggung Bumi.
"Aku gak mau menangis, Kak. Tadi Aku sudah menangis. Capek tahu!" Bumi masih berupaya melepaskan pelukkannya.
"Diam, sebentar saja. Aku lagi latihan memeluk perempuan yang baik itu seperti apa?"
"What? selama ini pacaran ngapain aja?" Bumi memukul-mukul punggung Kakaknya.
"Kadang Ayesha suka marah-marah meminta Aku memperlakukannya dengan manis. Tapi, Aku gak tahu caranya."
"Hahahaha, sudah lebih baik menikah saja. Aku tahu Kakak takut dosa, kan?"
Laut mengurai pelukkannya, lalu memegang kedua bahu adiknya.
"Kamu tahu dosa, dek?"
"Nadia yang kasih tahu," Bumi menggedigan bahunya merasa geli. Pasalnya selama ini Laut tidak pernah memeprlakukannya seperti ini.
"Kamu mau taubat?" Laut berganti merengkuh kedua pipi Bumi.
"I'll wanna try, help me!" Bumi menatap intens ke dalam manik mata Laut.
Laut kembali memeluk tubuh Bumi.
"Kamu harus lebih sering dengarkan pengajian Ummi, baru disentuh oleh Nadia sudah begini apalagi jika disentuh Ummi."
Bumi mengangguk dalam pelukkan Laut. Dia tidak mau menangis tapi air matanya tidak bisa dikondisikan.
"Maafin Bumi, Pa."
__ADS_1
"Papa pasti maafin Bumi."
****
Niat Bumi untuk memperbaiki diri memang sudah ada. Tapi, memulainya itu yang menjadi kendala. Saat dibangunkan shalat shubuh Dia masih enggan beranjak. Seperti biasa baru bangun jam 10:00. Dengan muka bantalnya, Bumi turun mencari keberadaan Ayas.
"Ma, maaf ya. Bumi masih susah menghilangkan kebiasaan lama," Bumi memeluk tubuh Ayas yang sedang mencuci sayuran.
"Eh eh Sayang, iya gak apa-apa. Pelan-pelan nanti terbiasa," Ayas membalikkan badannya membalas pelukan Bumi.
"selama ini Bumi sudah terlalu banyak memupuk dosa. Bumi malu buat memulainya," Bumi mengendus-enduskan hidungnya di leher Ayas.
"Sekarang lebih baik makan lalu mandi nanti shalat dhuhur berjama'ah," Ayas mengurai pelukkannya lalu menarik pergelangan tangan Bumi menuju meja makan.
Bumi mulai memakan nasi dan lauk pauk yang diberikan oleh Ayas. Hatinya terus terasa bergetar sedari kemarin. Mengingat sudah berapa banyak rakaat shalat yang Dia tinggalkan. Sudah berapa kali puasa ramadhan yang Dia abaikan. Apakah Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
"Sayang, sudah makan itu harus cepat-cepat ditaruh piringnya dan dicuci. Mama mulai sekarang akan membiasakan hal-hal kecil seperti ini. Gak apa-apa kan?" Ayas mengusap punggung tangan Bumi.
Bumi mengangguk dan tersenyum lalu beranjak membawa piring kotornya ke tempat pencucian piring. Ayas mengekorinya dari belakang. Sambil mulai memotong sayuran Ayas kembali bicara.
"Allah tidak menyukai hambanya yang berlama-lama berdiam diri setelah makan dan membiarkan alat makannya tanpa dicuci. Itu dapat menyebabkan kefakiran kepada diri kita."
"Itu makanya keluarga Ummi selalu terlihat tidak pernah kekurangan harta ya, Mam?" Bumi mengelap tangannya menggunakan lap yang digantung di samping rak piring.
"Berteman dengan Kak Akash boleh?"
"Tentu saja boleh, Akash sudah seperti anak bagi Mama. Dia juga pasti sudah anggap Kamu seperti adiknya."
Bumi menyayangi Kak Akash bukan seperti itu Mam. Kak Akash itu kiblat cinta Bumi. Bolehkah Bumi sedikit lancang dengan berharap menjadi istrinya kelak?
****
Bumi sudah melakukan shalat berjamaah dengan Ayas. Meskipun masih kaku dan lupa dengan bacaannya. Beruntung Ayas dengan sabar membimbing Bumi. Ayas sengaja mengeraskan bacaan shalatnya.
Bumi mulai memilah pakaian, sedikit malu karena hanya memiliki dua buah celana panjang dan sisanya hanya celana pendek.
"Sedikit-sedikit saja merubah penampilannya. Bumi bisa melakukannya dengan memakai celana dan baju panjang," Ayas sangay sabar menemani putrinya memilih pakaian.
"Nanti Mama pisahkan pakaian yang terlalu terbuka, ya?"
"Iya, Mam. Maaf Bumi merepotkan," Bumi meraih kemeja bewarna putih yang agak longgar di badannya dengan celana hitam yang juga tidak terlalu pas. Itu adalah seragamnya saat magang dulu.
"Jadi seperti anak magang," gumamnya saat becermin.
__ADS_1
"Nanti Mama belikan pakaian yang lebih tertutup, ya?" Ayas mendekati Bumi dan merangkul bahunya.
"Iya, makasih Mam. Bumi belum punya cukup uang untuk membeli pakaian baru."
Setelah merasa cukup dengan penampilannya Bumi segera pamit pada Ayas untuk berangkat bekerja. Sedari tadi Bumi sudah berkirim pesan dengan Ayesha menanyakan rute angkot untuk sampai di rumah sakit. Ternyata hanya butuh satu kali naik angkot. Bumi sudah terbiasa menaiki angkutan umum saat di kampung dulu. Dia hanya perlu penyesuaian saja.
Baru menutup pagar, sebuah decitan rem motor mengangetkan Bumi.
"Assallamuallaikum."
Tiba-tiba saja semilir angin surga terasa sejuk mengelus pipi saat sosok iti membuka helm dan mengucap salam.
"Waalaikumsallaam, Kak. Cari Kak Laut?"
Akash menggeleng lalu memberikan helm pada Bumi.
"Ayo, Kita berangkat bersama. Tadi habis nengok Ummi."
"Ummi sakit?" Bumi mulai memakai helmnya.
"Sakit menahan Rindu pada putranya yang paling tampan ini katanya," Akas tertawa kecil.
"Mulai deh keluar sombongnya," Bumi mencibir.
"Kan Aku memang tampan!"
"Sudahlah, selain sombong juga keras kepala," Bumi mulai memposisikan diri untuk naik ke motor Akash.
"Tunggu, Bumi tolong Kamu telpon ke nomorku. Ponselku sepertinya tertinggal," Akash meraba-raba saku celana dan jaketnya.
Bumi menyerahkan ponselnya yang memang tidak Dia screenlock agar Akash melakukan sendiri panggilannya.
"Aku tidak punya nomor Kakak, Kakak hafal dong nomor sendiri?"
"Tega Kamu, Aku yang belikan ponsel tapi nomorku sendiri tidak Kamu simpan," Akash mulai membuka ponsel Bumi, Dia tersenyum saat melihat wallpaper foto Bumi yang terlihat imut. Akash menekan beberapa digit nomor ponselnya lalu melakukan panggilan.
Dari dalam tas terdengar ponselnya berdering.
"Ternyata ponselku ada dalam tas. Nih, simpan nomorku," Akash kembali menyerahkan ponsel pada Bumi.
"Kakak sengaja ya, bilang saja ingin tahu nomor ponselku!"
"Percaya diri banget, sudah cepat naik."
__ADS_1
Bumi hanya mendengus. Sementara setelah memakai helmnya Akash tersenyum puas. Dia memang sengaja melakukan itu untuk mengetahui nomor ponsel Bumi. Masih terlalu gengsi untuk berterus terang meminta nomor ponsel secara langsung. Akash segera menyalakan motornya lalu melaju meninggalkan pekarangan rumah itu.