Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
142


__ADS_3

Kesabaran Nadia akhirnya bermuara. Tepat seminggu setelah diwisuda, keluarga Hafidz kembali datang untuk menentukan tanggal pernikahan. Tak ingin menunda terlalu lama, akhirnya disepakati oleh kedua belah pihak keluarga, tanggal yang akan menjadi hari pernikahan Nadia dan Hafidz.


Di sinilah keluarga bahagia Akash dan Bumi berada. Di rumah ibu mertuanya. Rumah besar yang banyak mengukir kenangan masa kecilnya. Di rumah ini Bumi pernah terluka meski lebih banyak bahagia.


Kamar besar Akash dipenuhi suara ocehan tiga bayi yang selalu menyita perhatian Bumi. Si kembar sudah satu tahun. Mulai tidak bisa diam dan berjalan dengan berpegangan pada apa saja. Kosakatanya mulai jelas. Mulai dari 'nen' , 'mamam', 'yayah', 'nda', 'dida', 'ti'.


Aro paling tidak bisa diam. Bahkan dia sudah bisa berjalan satu dua langkah tanpa berpegangan. Paling bawel dan selalu tak suka jika berdekatan dengan Ara.


Aro paling tak boleh bila mainannya dipegang Ara. Dia juga tak suka bila makanannya dibagi dengan Ara. Lain halnya dengan Akhza. Si kalem itu selalu mau mengalah pada Ara. Bahkan, bila dirinya sedang makan sesuatu, tangannya pasti terjulur menyuapi Ara.


"Sayang, makan dulu! Biar aku yang jaga anak-anak." Akash yang baru masuk kamar langsung menghampiri Aro yang sedang berjalan ke sana kemari berpegangan pada dinding kamar.


"Nanti aja, deh," sahut Bumi yang sedang merebahkan diri di samping Ara. Tangan dan Kaki Ara terangkat hendak meraih boneka kecil yang sengaja Bumi angkat ke udara.


"Kenapa?" Akash ikut berbaring dan memeluknya dari belakang. "Capek, ya?"


Bumi menggeleng. Dia hanya merasa lemas saja. Tak berselera melakukan apapun. Bahkan Aro dan Akhza saja dia biarkan main sendiri. Membuat berantakan isi lemari pakaian Akash yang masih tersimpan beberapa potong di sana.


"Makannya sama apa?" tanya Bumi, bonekanya sudah dapat diraih oleh Ara. Kini bocah itu menggigiti kepala boneka dan Bumi sama sekali enggan melarangnya. Dia merasa tak ingin berdebat dengan siapapun.


"Opor ayam ada rendang juga sama balado kentang." Akash mengabsen satu-satu menu makanan yang terhidang.


"Nggak mau, maunya makan yang hangat dan berkuah." Rengek Bumi, membalikan badan menghadap suaminya.


"Aku bikinkan sayur bening?" tawar Akash tapi hanya mendapati gelengan dari Bumi.


"Mau bikin mi instan?" Akash menawarkan menu lain. Berharap Bumi menolaknya. Sebab ia sudah sangat merasa lelah.


"Mau, pakai cabai rawit yang banyak." Mata Bumi berbinar menerima tawaran Akash.


Akash tersenyum masam, dia pikir Bumi akan menolak dan memakan makanan yang ada saja. Tapi, istrinya itu malah memilih mie instan. Membuatnya segera beranjak dan kembali ke dapur.

__ADS_1


"Kak, aku maunya kakak yang buat bukan bibi," ujar Bumi saat suaminya hendak keluar pintu. Akash hanya mengangguk tersenyum, dalam hati berkata lain.


***


Akad serta resepsi Nadia dan Hafidz dilangsungkan di hari yang sama. Sama seperti saat pernikahan Bumi dan Akash. Resepsi Nadia dan Hafidz juga dilaksanakan di pekarangan rumah. Selesai akad, Bumi segera kembali ke kamar sebab ketiga buah hatinya sudah mulai merasa tak nyaman dengan banyaknya orang-orang. Apalagi Ara yang sudah mulai menarik-narik hijab yang dipakainya karena kepanasan.


Bumi meminta Eli dan Lina yang sengaja dia ajak untuk menemani anak-anak bermain. Ia merasa sangat mengantuk dan memilih tidur untuk memulihkan kondisi badannya agar lebih segar kembali.


"Bumi kenapa?" tanya mama keheranan, sebab biasanya putrinya itu pantang membiarkan anak-anak bermain dengan Eli walaupun Eli dia bayar untuk melakukan itu.


"Kayaknya lagi isi ya, Bu?" tebak Bi Eli.


"Isi? hamil maksudnya?" mama balik bertanya.


"Soalnya kelihatannya lemas terus, nggak biasanya seperti itu," ungkap Bi Eli yang sedang menina bobokan Ara.


Sementara Akhza dan Aro sudah tidak bisa dikendalikan. Keduanya asik dengan mainannya masing-masing dan dalam pengawasan Lina.


"Ya sudah, saya kembali ke bawah. Nanti suruh dia makan kalau sudah bangun," pinta Ayas kemudian kembali meninggalkan ruangan itu.


Tak lama Ayas pergi, giliran Akash yang datang. Ia juga keheranan mengapa istrinya terlihat tak semangat dan lebih banyak tertidur. Padahal semalam saja Bumi tidur lebih awal.


"Dari tadi tidurnya?" tanya Akash pada Eli dan hanya diangguki olehnya sebab Ara dalam gendongannya sudah mulai tertidur. Ia tak ingin suaranya membangunkan Ara.


Akash mendekat ke arah Bumi. Ia letakan telapak tangannya pada dahi Bumi. Normal, tidak panas.


"Mungkin lagi isi, Bang?" Eli kembali menebak hal yang sama.


"Isi?" Akash balik bertanya.


Eli hati-hati meletakan tubuh Ara di samping Bumi.

__ADS_1


"Hamil maksud saya," ralat Eli, bernapas lega karena akhirnya Ara sudah terlelap. Meski kecil, berat juga jika terlalu lama menggendongnya.


"Hamil?" Akash berusaha mengingat kapan terakhir kali istrinya haid. Dan ia tak dapat mengingatnya sebab Bumi tak pernah menolak bila diajak melakukan kegiatan menyenangkan itu.


"Diperiksa aja, Bang. Kalau benar hamil berarti jangan terlalu kelelahan dulu," saran Eli dan diangguki Akash


Bumi memang tak mengikuti program apapun untuk menunda kehamilannya. Tapi, bila memang secepat itu mereka kembali diberi amanah. Akash jelas yang paling merasa bahagia dalam hal ini.


"Dia belum makan dari pagi, nanti kalau sudah bangun tolong panggil saya," pesan Akash seraya meninggalkan ruangan.


Senyumnya sumringah saat keluar dari kamar. Ia akan bahagia sekali jika istrinya benar-benar hamil kembali. Tak peduli serepot apa nanti bila anak-anak saja masih kecil, tapi sudah akan memiliki bayi lagi. Bukankah itu akan menyenangkan?


"Eh, kenapa lo senyum-senyum sendiri?" Laut heran, tak biasanya adik iparnya itu memasang wajah seramah itu.


"Istri gue hamil lagi," jawab Akash cepat membuat Laut seketika menendang kaki Akash.


"Gila lo, adek gue lo apain sih? itu anak udah tiga masih aja minta jatah berlebih lo?" Tentu saja Laut bergurau.


"Emang Bumi nggak ikut program penunda kehamilan?" selidik Ayesha yang sedang menyuapi putranya makan.


"Sengaja, gue kan mau bikin kesebelasan," kelakar Akash yang langsung mendapat pukulan pada tengkuknya oleh Laut.


"Mau nyiksa Adek gue lo?" tuduh Laut.


"Kita ngelakuinnya suka sama suka, nggak ada pemaksaan. di mana letak menyiksanya?" elak Akash.


"Udah ... udah ...." lerai Ayesha. "Malu dilihat orang, nanti mereka nyangkanya berantem beneran," imbuhnya seraya menyerahkan putranya ke pangkuan Laut.


"Aku mau nemuin Bumi dulu, dia di kamar kan?"


"Lagi tidur, jangan diganggu. Nanti aja Temuinnya." Larangan Akash membuat Ayesha kembali duduk.

__ADS_1


Di kursi pelaminan, nampak Hafidz dan Nadia terlihat bahagia. Senyum tak pernah lepas dari kedua pasangan pengantin itu. Penantian yang panjang membuat keduanya sangat bersyukur karena akhirnya dapat bermuara pada rasa yang sama. Bisa berujung pada ikatan halal yang akan membawa mereka mengarungi kehidupan baru, saling mencurahkan cinta.


__ADS_2