
Sebelum lanjut Aku mau curhat dulu dikit. Aku pernah baca karya seseorang yang menargetkan sekian like dan komen baru mau up. Widiih kalau aku yang bilang gitu pasti reader pada kabur ya. Aku sih gak muluk-muluk kak, please kalian yang udah mampir di sini. Tolong like dan komen, baca cerita aku kan gratis jadi aku minta like dan komennya kakak-kakak reader kesayangan aku. aku semangat nih karena udah ada beberapa orang yang sering bgt komen. pengennya semua komen, biar aku tambah betah di Noveltoonnya. Nanti aku upnya semangat.
*****
Setiap awal pasti ada akhir, dan inikah akhir dari kisah cinta Bumi dan Akash? atau Allah sedang menguji keduanya menuju kebahagiaan?
Rombongan keluarga Akash sudah sampai di rumah megah Rere. Mobil yang ditumpangi Laut, Ayesha dan Bumi tiba paling akhir. Tak banyak yang ikut, hanya keluarga saja. Tak nampak hiasan apapun pada rumah megah itu, hanya terdapat banyak rangkaian bunga yang dikirim oleh para rekan bisnis. Isinya sama, selamat menempuh hidup baru Akash dan Andrea.
Bumi patah-patah mengeja tulisan yang dirangkai dari bunga berwarna-warni itu. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Hatinya terus berdzikir, meminta kekuatan pada Allah. Berkali-kali mengepalkan tangan, upaya menahan tangis.
Satu persatu rombongan mulai masuk ke dalam rumah, walaupun tak sedikit dari mereka memilih duduk saja di luar karena sudah banyak kursi dan meja disediakan.
Awalnya Bumi enggan untuk ikut masuk, langkahsnya sempat tertahan. Namun sebuah tangan menggenggam jemarinya. Ummi tersenyum simpul, tatapan teduhnya membuat bumi ikut tersenyum.
"Temani Ummi di dalam ya, Sayang!?" pinta Ummi penuh harap.
"Baik, Ummi." Patah-patah Bumi mengangguk.
Keduanya berjalan ke dalam. Ruangan itu digelari karpet lembut berwarna merah maroon. Akash sudah duduk menghadap kiblat berhadapan dengan Anggara yang di sampinya duduk pula sang penghulu. Juga ada dua orang saksi dari kedua belah pihak. Wak Haji Hamdan, Kakak dari Abah Akash sebagai saksi mempelai pria. Om Radit, adik dari Anggara sebagai saksi mempelai wanita.
Dada Bumi bergemuruh hebat, tangannya semakin kuat menggenggam jemari Ummi. Ummi menyadari hal itu, diusapnya punggung tangan Bumi seraya berbisik, "dunia tidak akan runtuh hanya karena Akash menikah dengan Rere. Kamu gadis kuat."
Bumi menghela nafasnya pelan, membalas mengusap punggung tangan Ummi yang masih bertumpu di punggung tangannya.
"Insya Allah, Bumi nggak apa-apa." Ucap Bumi tersenyum meski dalam hati rasanya hujaman itu terus saja menyerangnya.
Nadia yang juga duduk di sampingnya ikut mengusap punggung Bumi. Perlahan namun tak dilepas. Zahra yang duduk di sebelah Ummi beserta Ilham di sampingnya sesekali menoleh pada Bumi. Sesal hatinya karena sempat mencemooh Bumi.
Lamat-lamat seseorang yang ditunjuk sebagai pembawa acara mulai mengucap salam. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-qur'an oleh salah satu paman Akash, dilanjut membaca khutbah nikah yang juga dilakukan oleh orang yang sama.
Setelah penghulu mengecek kelengkapan surat, matanya mulai menatap Anggara dan Akash bergantian.
"Sudah siap?"
Akash tak menjawab, tak juga mengangguk. Rere yang saat itu masih berada di kamarnya semakin panik karena panggilannya terhadap Guntur tak kunjung dijawab.
"Kash, sudah siap?" penghulu kembali bertanya.
__ADS_1
Akash masih tak memberikan jawaban, ingin rasanya lari saja dari semua ini.
"Asyam Al-akash, sudah siapkah Ananda mengucap ijab kabul?" Kali ini penghulu bicara penuh penekanan.
"Boleh saya bicara sebentar dengan Ummi?" pinta Akash. Penghulu mengangguk sebagai jawaban.
Akash berbalik badan, matanya langsung menangkap sosok Ummi. Badannya bergerak berjalan dengan lutut bersimpuh di pangkuan Ummi.
Tangisnya pecah, tak bisa lagi dia menahan gemuruh dalam dada yang sejaj tadi meronta-ronta. Ummi dan Bumi saling berpandangan. Bumi melepaskan genggaman tangannya. Kini kedua tangan Ummi mengusap lembut kepala putranya. Ummi menundukan kepala dan berbisik, "lakukan sayang, jangan membuat kecewa banyak orang. Ummi selalu mendo'akanmu."
Akash semakin terisak, kedua tangannya kini melingkar di perut Ummi.
Dengan memberanikan diri, Bumi ikut berbisik di telinga Akash. "Lakukan, Kak. Aku baik-baik saja. Lihatlah, langit tak kan runtuh hanya karena kita berpisah."
Kalimat itu membuat Akash mengangkat kepalanya, melihat Bumi yang sedang tersenyum. Wajahnya tidak menyiratkan kesedihan, tentu saja sudah dia sembunyikan dalam hati.
Baru kali ini Bumi melihat Akash berderai air mata, hidungnya sampai merah sama seperti mata dan pipinya.
Bumi tersenyum mengangguk, sebelah tangannya mengepal lalu diangkatnya ke udara. Mengukir kata semangat dengan bibir tanpa suara.
Akash mengangguk, mengusap air mata dengan kedua tangannya. Nadia menjulurkan tisu basah dan diraih Ummi. Penuh kelembutan Ummi mengusap sisa air mata yang menganak sungai di pipi putranya.
Akash membalasnya dengan menciumi wajah Ummi bertubu-tubi. Sebelum kembali ke tempatnya, matanya kembali menoleh pada Bumi yang lagi-lagi tersenyum, kali ini seraya mengangguk dan menacungkan ibu jarinya.
Akash mulai berbalik dan kembali duduk mengarah kiblat berhadapan dengan Anggara.
"Sudah siap?" tanya penghulu.
Akash hanya mengangguk seraya menghela nafas. Sudahlah, apa yang terjadi padanya pasti itu yang terbaik dari Allah.
Penghulu mempersilahkan Anggara dan Akash berjabat tangan. Satu kali masih salah menyebutkan nama. Air matanya kembali berderai, bahkan sesenggukan. Sampai membuat Ummi menghampirinya seraya mengusap punggung dan air mata yang kembali mengalir deras.
"Lakukan Sayang," Ummi kembali menguatkan. Akash mengangguk, kembali mengulurkan tangan.
Sementara itu di kamarnya Rere mulai gelisah, pasalnya Guntur tetap tak menjawab panggilannya. Dirinya yang ditemani salah satu asisten rumah tangganya di ruangan itu terus mondar-mandir seraya berulang menelpon Guntur.
Ketukan di pintu membuat Rere segera berlari, mengangkat kain batik yang membebat kakinya.
__ADS_1
"Keluarlah nak, kamu sudah sah menjadi istri Akash mulai detik ini." Ucap Yona, sang Mami.
Sontak Rere membulatkan matanya, dunia seakan berhenti berputar. Kemana Gunturnya? Di mana janjinya?
"Ayo, Sayang. Kamu harus tanda tangani surat-surat." Ajak Sang Mami meraih pergelangan tangannya.
"Tapi, Mi. Apakah ini nyata?"
"Iya, Sayang. Meski Akash sedikit gugup tapi, dia berhasil mengucapkan ijab kabul." Begitu penjelasan Yona.
Rere tak tahu lagi harus bagaimana, ini kiamat baginya. Bagaimana mungkin semua ini terjadi.
"Ayo, Sayang. Temui Akash, suamimu." Ajak Yona lagi.
Rere akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti langkah Yona. Kain batik yang membebat kakinya membuat langkahnya sedikit risih.
Rere menunduk saat mulai menuruni anak tangga. Tubuh tinggi semampainya terbungkus indah oleh balutan kebaya putih dan kain batik. Rambutnya digelung sempurna dengan meletakan bunga melati yang menjuntai hingga dadanya.
Terus menunduk hingga sampai di hadapan Akash. Bingung harus berbuat apa, Rerw masih enggan mengangkat wajahnya yang sendu.
"Mau dibaca sendiri atau dituntun untuk do'anya?" tanya penghulu.
"Dituntun saja," jawab Akash. Seharusnya dia bisa sendiri tapi enggan melakukannya.
Lamat-lamat penghulu mulai melafalkan do'a.
Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakuma fii khoir
Artinya:
Semoga Allah memberi keberkahan padamu, memberi keberkahan atasmu, dan semoga Dia mengumpulkan di antara kalian berdua dalam kebaikan. (Hadist Riwayat Ahmad dan Hakim)
Penghulu mempersilahkan Rere mencium tangan Akash, berat sekali Rere mengangkat tangannya. Dengan kaku dia meraih tangan Akash yang dingin. Menciumnya punggung tangan putih bak pualam itu sekilas.
Alih-alih mencium kening Rere, Akash malah berbalik berhamburan kembali ke pangkuan Umminya. Kali ini Ummi tak kuasa menahan lagi air matanya. Tangisnya pecah bersamaan dengan Akash yang semakin sesenggukan.
Sementara Rere sendiri sudah berada di pelukan Yona, sama sesenggukannya. Anggara ikut menenangkan dengan mengusap punggungnya.
__ADS_1
Pertanyaannya, ke manakah perginya Guntur?