Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
58


__ADS_3

"Jadi gimana nih?" rengek Damar pada Laut saat pagi harinya.


"Gue juga nggak ngerti harus gimana, Urusannya ribet gitu." Ujar Laut yang sedang membaca koran pagi.


"Dah Lo sih emang nggak pernah bisa ngasih solusi. Gue mending tanya Bumi aja," ucap Damar seraya mengangkatkan bokongnya hendak beranjak.


Namun saat itu juga Bumi dan Lila menghampiri keduanya dan ikut mendudukan diri di kursi ruang tamu. Sementara Ayesha sendiri masih di dapur sedang membuatkan kopi untuk Laut. Hijab warna biru langit berbahan wolfis yang dikenakannya ikut basah karena rambut yang baru beberapa menit lalu dikeramas.


"Dih Kak Laut rambutnya masih basah aja nih, tadi juga di dapur Aku lihat Kak Ayesha hijabnya basah deh kaya abis keramas." Goda Bumi terhadap Kakaknya yang enggan menjawab malah pura-pura serius membaca sambil menggumam dan menganguk-angguk. Bagaimana bisa Lila ceroboh


"Bumi, bantuin dah Gue ama Lila. Gimana caranya tuh biar Mamanya Lila ngerestuin Kita." Kali ini Damar merengek pada Bumi.


"Mamanya Kak Lila itu lagi merajuk jadi ya harus dibujuk. Kak Damar dong baik-baikin. Nah sekarang nih anterin Kak Lila pulang sambil bawain oleh-oleh buat Mama Kak Lia," ucap Bumi seraya memperagakan tangannya.


"Kamu ngusir Aku?" Lila menunjuk dirinya sendiri tepat di hidungnya.


"Kapan Aku bilang ngusir?" Bumi balik bertanya.


"Tadi itu Kamu nyuruh Damar anterin Aku pulang," tuding Lila.


"Maksudku itu kalau nanti mau pulang, Kak." Desis Bumi seraya memutar bola mata.


Nyatanya patah hati membuat tingkat kecerdasan seseorang menurun drastis. Sudah sejak shubuh tadi Lila selalu ngaco saat Bumi ajak bicara. Fokusnya selalu gagal. Bumi memintainya tolong ambilkan sandal jepit saat dirinya membuka kamar mandi sehabis wudhu dan tertahan di bibir pintu sebab lupa membawa sendalnya. Yang Lila berikan malah jepitan rambut. Biarpun sama-sama terdapat kata jepit tapi itu cukup membuktikan bahwa pikiran Lila memang tidak baik-baik saja.


Ayesha ikut berkumpul dengan membawa secangkir kopi hitam di tangannya. Uapnya yang mengepul menyeruakan bau harum khas kopi yang sangat menggiurkan. Perpaduan rasa manis dan pahit akan memberikan efek rileks bagi si peminumnya. Laut yang memang pecinta kopi langsung mengambil si hitam pekat itu setelah mengucapkan terimakasih kepada si pembuat yang dibalas dengan senyuman dan anggukkan.


"Gue nggak dibikinin Sha?" protes Damar dengan wajah memelasnya.


"Aku buatkan ya kalau mau?" usul Lila, Damar reflek mengangguk dengan sorot mata penuh sendu ke arah Lila. Lila beranjak dengan mengulas senyum tipis di bibir. Saat hendak melangkah, Damar meraih lengannya membuat kedua pandangan itu saling beradu.

__ADS_1


"Maaf ya, nggak seharusnya Aku marah-marah sama Kamu."


Lila tersenyum, mengusap punggung tangan Damar yang masih memegangi lengannya.


"Kita bisa hadapin ini kalau berjuang sama-sama."


Damar mengangguk dan melepaskan pegangan tangannya, membiarkan Lila kembali melangkah. Bumi, Laut dan Ayesha saling melempar pandang dengan seulas senyum tipis di bibir, ketiganya sama-sama merasa lega karena Damar akhirnya mengakui kesalahannya yang melampiaskan marahnya pada Lila.


"Nah, gitu dong Kak. Akur," ucap Bumi seraya mengedip-ngedipkan matanya. Damar hanya mendesis seraya melempar Bumi dengan bantal kursi, namun reflek Bumi nyatanya lebih mulus. Bantal itu tidak mengenai Bumi malah mendarat cantik di atas lantai.


"Kalau Mama tahu pasti sedih perabotannga Lo lempar-lempar gini," ucap Laut seraya mengambil bantal segi empat dengan sarung bermotif pulkadot itu. Sang pelaku hanya cengengesan seraya mengatupkan kedua tangan di dada sebagai permintaan maaf.


Deru mesin motor yang terdengar dari luar rumah membuat pandangan ke empat anak manusia itu sama-sama mengalihkan pandangan pada sumber suara. Si pria pemilik wajah tampan dengan mata bulat nan sendu turun dari motor dan membawa sekotak kardus kecil yang sebelumnya Dia ikat di bagian jok belakang motornya. Pria jangkung dengan ransel yang selalu tersampir di punggungnya ke manapun Dia pergi mulai melangkah masuk dan mengucap salam saat tiba di bibir pintu. Dialah Akas, sang kiblat cinta bumi. Seseorang yang sedang Bumi hindari keberadaannya.


Sepagian tadi Laut sudah menelponnya dan memintanya datang pagi hari untuk membawakan roti buatan restorannya sendiri. Meski awalnya mengumpat, tak ayal pria yang lebih tidak terlalu banyak bicara dan tidak suka berfoto ria itu nyatanya datang juga.


"Fresh from the oven kah?" tanya Laut langsung membuka tutup dus berwarna coklat dengan logo nama restoran Akash di atasnya.


"Roti tahun lalu itu," canda Akash seraya membuka sarung tangannya dan memasukkannya ke dalam ransel. Gerak-geriknya tidak lepas dari lirikan Bumi yang duduk berhadapan dengannya. Akash menaruh ranselnya tepat di sampingnya. Jaket hitamnya pun Dia lepas lalu Dia lempar ke arah Bumi tepat mengenai wajah Bumi. Reflek bumi memekik namun tetap menangkap jaket itu. Mata Bumi membulat mencengkram kuat jaket yang menyeruakkan aroma parfum si pemakainya.


"Kamu butuh jaket buat menghangatkan sikapmu," seloroh Akash dengan mengulas senyum miring dan berdiri.


"Gue numpang ke kamar mandi, kamar siapa yang bisa Gue pake?" itu masih suara Akash yang bicara. Dirinya kini sudah berdiri dengan ransel di tangannya.


"Di kamar Mama aja deh, kamar Abang belum Aku beresin. Nggak apa-apa kan Bang?" Ayesha bertanya lada suaminya dan langsung mendapat anggukan.


Tanpa berlama-lama lagi Akash langsung pergi meninggalkan ruang tamu tanpa mempedulikan jaketnya yang masih dicengkeram oleh Bumi. Ingin melempar kembali jaket itu, namun rasanya tidak tega. Terlebih aroma khas tubuh Akash menempel sekali pada jaket itu.


"Kalian masih marahan?" tanya Ayesha.

__ADS_1


Bumi hanya menggeleng dan mulai melipat jaket itu dengan rapi lalu menaruhnya di atas meja. Dia usap sekali lagi jaket itu sebelum benar-benar Dia lepaskan.


"Akash ngapain sih ke kamar?" tanya Damar dengan mulut penuh mengunyah roti pada siapa saja yang mau menjawab.


"Shalat dhuha lah, kayak baru kemarin aja Lo kenal Akash sampai nggak tahu kebiasaannya." Jawab Laut yang juga sedang menguyah roti rasa kopi itu.


"Pantesan rezeki tuh anak mulus kayak jalan tol yang baru dibikin. Gue denger dia punya kafe baru ya di Bogor?"


"Iya.... "


Ayesha yang melihat Laut dan Damar yang sangat menikmati roti ikut tergiur dan mulai mengambil satu. Matanya langsung berbinar pada gigitan pertama. Rasa manis serta aroma kopi langsung membuatnya ingin cepat-cepat menelan kunyahannya demi kembali menggigit kembali roti tanpa toping itu.


"Wiiih ada roti mahal nih, Akash yang bawa?" tanya Lila yang baru saja kembali dapur dan membawa secangkir kopi untuk Damar.


"Iyalah siapa lagi yang punya produk roti kayak gini kalau bukan si ustadz gagal itu," ucap Damar yabg sudah menghabiskan dua potong roti.


"Ngomongnya jangan gitu ngapa Yang, nggak enak kalau Akash dengar." Protes Lila seraya mengambil satu roti yang masih hangat saat Dia sentuh. Sama halnya dengan Ayesha, mata Lila langsung berbinar saat gigitan pertama roti itu masuk ke dalam mulutnya.


"Kamu nggak mau?" tanya Ayesha pada Bumi yang hanya terdiam. Sejujurnya Bumi pun sangat tergoda, Dia pernah menikmati roti itu saat bertemu dengan Ilham tempo hari. Rasanya memang benar-benar enak.


"Cukup kesal sama orangnya aja, makanannya jangan. Ayo makan, nanti habis sama Dia." Kali ini Laut yang bicara seraya menunjuk dengan dagunya ke arah Damar.


Bumi hanya mengangguk tipis. Tangannya mulai mengambil roti itu bersamaan dengan Akash yang kembali dari kamar. Hanya memakai sarung hitam dan kaua lengan pendek. Ujung rambutnya masib basah bekas air wudhu. Akash kembali duduk di samping Damar dan berhadapan dengan Bumi yang mulutnya sedang penuh mengunyah roti.


"Roti juga bisa bikin hangat, makan yang banyak ya!?" kalimat Akash sontak membuat semua orang membulatkan matanya. Pasalnya sejak kapan pria itu bicara begitu manis kepada seorang wanita di hadapan mereka. Jika sedang berduaan mungkin memang sudah sering. Tapi, kali ini Akash mengatakannya di hadapan banyak orang.


"Bucin juga Lo ternyata," ucap Damar dengan tawa meledek.


Tak ada yang menjawab, Bumi menundukkan wajahnya. Tidak bisa disangkal, hatinya mencelos saat kalimat Akash yang terdengar manis itu Dia tangkap. Kunyahannya terhenti bahkan tenggorokannya tersengal. Haruskah kembali ingin melanjutkan hubungan yang tidak jelas ini?

__ADS_1


__ADS_2