Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
23


__ADS_3

Kamu dan segala kenangan


Menyatu dalam waktu yang berjalan


Dan Aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


Sepenggal lagu dari Maudy Ayunda yang Bumi play lewat ponselnya berulang-ulang Dia putar sampai Ayas yang selesai shalat shubuh menghampirinya. Semalam nyatanya Bumi tidak melanjutkan tidur di kamar Sang Mama. Pukul 01:00 dini hari Bumi pindah ke kamarnya.


"Bumi, jangan terlalu berlarut-larut bersedih. Cobalah lihat dunia luar. Pasti masih banyak orang-orang yang lebih buruk nasibnya dari Kita," ucap Ayas mengusap punggung putrinya yang tengkurap.


Bumi seperti sedikit mendapat pencerahan. Dia segera duduk. Dilipatnya kedua kaki lalu berusaha tersenyum.


"Setelah ini Bumi akan baik-baik saja, Mam."


"Nah, begitu dong. Kamu rindu nggak sama Uti?" tanya Ayas mengusap wajah Bumi dengan ibu jarinya.


"Bumi hampir setiap hari koq telpon Paman Yudis, Uti sekarang rajin ke pengajian lho, Mam!" seru Bumi. Terakhir bertelepon dengan Uti, Beliau baru pulang dari pengajian.


"Alhamdullillah, semoga istoqomah"


"Aamiin!"


Lalu keduanya kembali bercengkrama. sejak kedatangannya dari kampung Bumi memang langsung disibukkan dengan bekerja. Jarang mendapat waktu berdua dengan Ayas. Ayas menyerahkan beberapa potong baju yang kemarin dibelinya untuk Bumi.


Empat potong blus dengan berbeda warna juga tiga buah celana longgar dan sebuah rok plisket tiga perempat. Warna yang dipilih Ayas sesuai dengan kesukaan Bumi. Warna-warna soft namun tetap lucu.


Setelah dirasa cukup menghangatkan hati putrinya, Sang Mama pamit untuk membuat sarapan. Hari ini Bumi memutuskan akan memakai blus warna broken white dengan celana longgar warna grey.


*****


Sang kiblat cinta Bumi, yakni Akash sedang bertamu di rumah Kakaknya. Setelah shalat shubuh tanpa mempedulikan apapun pria jangkung dengan memakai pakaian serba hitam melajukan motornya dengan perasaan kacau.


"Kakak kenapa berbuat seenaknya tanpa bicara padaku?" tanya Akash tanpa basa-basi setelah mengucap salam dan dijawab oleh Zahra.

__ADS_1


"Duduk dulu!" Zahra seperti sudah tahu hal ini akan terjadi.


"Aku sudah bilang tidak mau menikah dengan Rere!"


Zahra membetulkan hijab yang tadi Dia pakai sambil berjalan karena kedatangan adiknya yang tiba-tiba itu.


"Kash, mau Kamu itu apa sih? Kamu itu udah gagal jadi penerus Abi!"


"Aku tahu! tapi kenapa harus Rere?" Akash menatap tajam Kakak cantik dengan dua orang anak itu.


"Kash, mereka itu keluarga terpandang. Cinta itu akan datang dengan sendirinya. Kamu lihat Kakak dan Abang kan? kita menikah dijodohkan tapi Kami bisa bahagia dan salinh mencintai," ucap Zahra.


"Itu karena saat menikah Kakak dan Abang memang tidak sedang jatuh cinta pada orang lain" timpal Akash, mulai berapi-api.


"Kamu serius jatuh cinta sama Bumi?"


Akash tak menjawab, hanya berusaha mengalihkan pandangan dari Zahra yang menatapnya dengan senyum ejekan.


"Kash, Kamu tahu Bumi itu siapa?" Zahra masih berusaha menatap adiknya.


"Sejak kapan Kakak memandang seseorang dari status sosialnya? Kakak juga sayang kan sama Bumi? apa masalahnya?" tanya Akash. Kali ini keduanya bersitatap.


"Lalu apa keluarga besar Kita akan terima? Keluarga Ummi dan keluarga Abah? Kamu nggak kasihan pada Bumi jika nanti Dia diremehkan?"


"Yang akan menjalani kan Aku dan Bumi, peduli apa Aku sama Mereka!"


Zahra memutar bola matanya. Akash memang selalu keras kepala. Tapi, untuk kali ini Zahra tidak akan mengalah lagi.


"Setidaknya sekali saja Kamu nurut sama Kakak. Kasihan Ummi kalau sampai tahu masalah ini." Zahra menggenggam tangan adiknya yang mengepal.


"Aku tetap tidak bisa," ucap Akash.


Zahra menghela nafasnya dalam, sulit sekali membujuk si kepala batu ini.


Kedatangan Ilham dari mesjid membuat suasana semakin tegang. Di antara semua keluarga memang Ilhamlah yang paling bertanggung jawab atas perjodohan Akash dan Rere. Orangtua Rere adalah rekan bisnis Ilham. Mereka terbiasa bekerja sama dan saling menguntungkan. Walaupun sudah jelas perusahaan Orangtua Rere yang lebih maju dan besar.


Setelah menjawab salam dan menyalami Abang iparnya, Akash kembali melayangkan protes. Kali ini pada Ilham.


"Bang,Saya nggak mau perjodohan ini diteruskan."


Ilham diam, digulungnya lengan koko yang Dia kenakan. Sebelum bicara Dia berdehem.


"Rere sebenarnya kurangnya apa sih? Dia cantik, pintar dan sesuai dengan kriteriamu kan?" ucap Ilham sok tahu.

__ADS_1


"Saya nggak mau, Bang!"


"Apa sih hebatnya Bumi?" tanya Ilham, namun tak dapat jawaban.


"Lebih baik Rere kemana-mana, Bumi hanya gadis biasa Dia nggak bisa mengimbangi Kamu!" lanjuta Ilham.


Akash menyipitkan matanya, hatinya terasa sakit mendengar Bumi dicemooh seperti itu.


"Percuma Saya di sini, Saya permisi!"


Setelah menyalami keduanya Akash melenggang meninggalkan rumah besar dengan dua lantai tersebut. Sia-sia saja pembicaraannya. Kedua lawan bicaranya susah dilumpuhkan. Dengan kecepatan tinggi Dia melajukan motornya. Membelah jalanan yang mulai padat dengan langit yang semakin terang. Tujuannya sekarang adalah rumah Mama Ayas.


****


Mobil Laut baru akan meninggalkan pagar pendek rumahnya saat Akash dengan motornya tiba. Laut segera keluar dari mobil, Dia tak ingin Akash menemui Bumi.


"Lo ngapain pagi-pagi datang?" Laut berkacak pinggang.


"Santai dong, Lo daripada marah-marah mending bantuin Gue buat gagalin pernikah ini!" Akash membuja gerbang warna putih itu dan mendorong motornya memasuki gerbang.


"Awas Lo bawa adek Gue pergi, Gue cabut duluan. Calon istri Loe bisa ngomel kalau Gue telat."


Laut segera menaiki mobil dan melajukannya meningglkan Akash yang mematung. Ragu-ragu melangkah ke dalam. Jika pagi-pagi begini Ayas memang sengaja membuka lebar pintu dan jendela.


Tanpa ragu Akash mengucao salam dan langsung mendapat jawaban dari arah dalam oleh Ayas yang baru saja selesai sarapan dengan Bumi.


"Masuk saja, Kash."


Akash segera masuk, penampilan serba hitamnya sederhana namun sangat mempesona. Dia melepas jaket dan ransel kemudian menaruhnya di sofa ruang keluarga. Segera mempercepat langkah menuju ruang tamu. Hatinya langsung sakit melihat mata sembab Bumi. Gadis itu pasti menangis semalaman.


"Kash, kebetulan Kamu ke sini." Ayas langaung saja bicara.


"Mama tahu Kalian saling mencintai, Mama hargai itu"


"Itu artinya Mama mau membantu?" tanya Akash antusias.


"Hanya Do'a yang bisa Mama berikan. Mama hanya berpesan tolong jangan saling melukai. Lepaskan dan relakan perasaan kalian. Mama sendiri tidak meyakini jika hubungan Kalian akan berhasil," ucap Mama.


"Jangan batalkan pernikahannya, Kak. Kasihan Ummi. Jangan membebaninya!" Bumi bicara tanpa menoleh pada Akash.


"Kamu nggak kasihan sama Aku? baru kemarin Kita komit kan Bumi?" Akash masih bersikeras.


"Aku sadar sudah melakukan kesalahan dengan masuk ke wilayah Kak Rere. Tolong jangan mempersulit keadaan, Kak."

__ADS_1


__ADS_2