Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
73


__ADS_3

Hari-hari berikutnya dilalui Bumi dengan sibuk terus memperbaiki diri. Semakin sering berinteraksi dengan Zahra dan Nadia bertanya tentang agama. Bahkan tak sungkan memperdengarkan cara mengajinya pada Ummi agar tahu di mana letak kesalahannya.


Ayesha masih mengalami mual di pagi hari, membuat Laut lebih siaga dan banyak membantu membereskan rumah. Sempat menginap di kediaman orang tuanya selama dua hari, Bumi turut ikut karena ketakutannya akan hantu tanpa kepala masih saja belum lekang dari ingatannya.


Pagi itu minggu yang cerah, bertepatan dengan hari pernikahan Lila dan Damar. Bumi menolak saat Lila memintanya menginap. Bukan tanpa alasan, dirinya enggan bertemu kembali dengan Sandi.


Mengenakan gamis yang sama dengan Ayesha, Bumi tampak manis dengan hiasan bros bunga mawar pemberian Akash. Ya, tempo hari saat di kampung terselip bros cantik itu di dalam bungkusan hijab yang diberikan Akash untuknya.


Mereka bertiga berangkat pukul 09:00 menuju kediaman Lila, hendak menghadiri proses ijab kabul yang memang digelar di rumah Lila. Baru setelahnya resepsi akan dilangsungkan di sebuah hotel setelah dhuhur.


***


Setelah kata sah terdengar dari para saksi kedua belah pihak, saat itu juga Lila resmi menjadi istri dari Damar. Hamdallah meluncur dari bibir setiap orang yang hari itu menjadi saksi ikrar cinta Lila dan Damar.


Bumi nampak bahagia, pernah menjadi bagian dari rencana Damar melamar Lila tempo hari. Tak luput bertubi-tubi terimakasih dari Damar diterima Bumi. Bumi hanya tersenyum dan mulai bosan saat Damar kembali mengucapkan kata itu.


"Udah dong, kak. Aku kesal lama-lama denger terimakasih mulu," protes Bumi saat mereka berkumpul.


"Abis gue merasa lo adalah orang yang paling banyak andil dalam hubungan gue dan Lila," ucap Damar.


"Udah ah, makan dulu deh kak." Bumi mengalihkan pembicaraan.


Satu meja bersama dengan Ayesha, Laut, dan Akash. Sebelumnya sudah mengambil makanan masing-masing. Bumi memilih nasi dengan sup sebagai pelengkapnya.


Tidak terlalu suka makan dengan berbagai menu membuatnya cukup hanya mengambil kerupuk udang sebagai pelengkap. Sudah tidak ada lagi yang bicara, Damar telah kembali ke dalam rumah. Hanya Ayesha yang sesekali protes pada Laut karena terlalu banyak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, atau terlalu sedikit memberikan dagingnya.


Langkah seseorang yang beradu dengan paving blok mengingat mereka sedang berada di halaman rumah Lila, ditangkap Bumi dengan jelas. Bumi dapat merasakan seseorang berdiri di belakang kursinya.


"Assalamualaikum, ukhti."


Suara yang Bumi kenal, itulah Sandi yang sudah sedari tadi dia hindari. Bumi melepas sendok yang dipegangnya. Ia kesulitan menelan nasi yang baru dikunyahnya. Menyesap kasar air mineral di hadapannya.


Semua mata memandang penuh curiga pada Sandi, terutama Akash. Dia merasa tersaingi meskipun tahu Bumi tak menaruh hati pada Sandi.


"Segini banyak orang tapi nggak ada yang jawab salamku," keluh Sandi.


"Waalaikumsallaam," jawab Bumi, mengembangkan senyum di bibir Sandi.


"Suaranya bikin melting deh," ucap Sandi cengengesan. Dirinya masih berdiri di belakang kursi yang Bumi duduki. Tak canggung memegangi sandaran kursi itu.

__ADS_1


Sandi bahkan tak menghiraukan orang-orang yang berada di antara Bumi. Padahal jelas-jelas tatapan mereka tidak menyiratkan keramahan sedikitpun.


"Boleh bicara bentar nggak?" pinta Sandi pada Bumi. Dia menyentak dagunya pada pucuk kepala Bumi.


Bumi reflek berdiri, menyentuh kepalanya seraya berbalik ke arah Sandi.


"Bang, jangan macam-macam!" ancam Bumi mengangkat telunjuknya.


"Widih galak bener, makin penasaran jadinya." Seloroh Sandi mengedipkan sebelah matanya.


"Bang, jaga bicaranya." Sekali lagi Bumi mengancam.


"Kita bicara dulu," ucap Sandi mencondongkan badannya. "Tapi empat mata, berdua aja," lagi-lagi mengedipkan matanya.


Bumi berdecak kesal, tapi jika tidak dituruti dipastikan Sandi akan terus mengganggunya. Setelah meminta izin pada Laut dirinya mengajak Sandi mencari tempat untuk bicara.


"Kenapa dibolehin sih?" protes Akash pada Laut.


"Dia nggak bakal pergi kalau nggak diturutin, Kash." Jawab Laut yang sedang memijat kepala Ayesha.


Akash sudah tidak bisa bicara lagi, matanya menangkap Bumi dan Sandi yang kini duduk tak jauh dari tempat mereka.


Di tempat lain yang masih terjangkau mata oleh Laut dan yang lain Bumi mulai membuka suara.


"Masih belum ada kesempatan kah?"


Bumi tak langsung menjawab, diputarnya bola mata seraya mendengus kecil. Sandi menelisik ke wajah Bumi, membuatnya tak nyaman. Berkali-kali Bumi membuang muka dengan Sandi yang terus menatapnya.


"Bang, sekali lagi Aku bilang. Aku nggak bisa. Bang Sandi pasti bisa cari yang lebih baik dari Aku." Tatapan Bumi mengiba.


"Sikap Abang bikin Aku nggak nyaman," lanjut Bumi dengan suara bergetar. "Abang tolong ngerti, ya!"


Sandi merasa dihujam ribuan tombak di dadanya. Tak menyangka jawaban seperti itu yang akan didapatnya. Jika biasanya dengan mudah ia mendapatkan lalu mencampakkan gadis, sekarang dia bahkan dicampakan tanpa sempat mendapatkan.


"Aku permisi ya, Bang. Aku harap abang nggak usah berjuang lagi. Aku udah ada seseorang yang menunggu," ucap Bumi seraya berdiri dan meninggalkan Sandi dengan rasa sakit hati dan berantakannya.


Bumi kembali ke tempat semula, dirinya lega telah membuat penolakan untuk kedua kalinya. Kali ini sepertinya berhasil sebab Sandi tak melakukan pengajuan apa-apa seperti tempo hari.


"Ngomongin apa, Dek?" tanya Laut.

__ADS_1


"Bukan apa-apa," bohong Bumi.


"Kamu nolak dia lagi?" selidik Ayesha.


"Nggak ada alasan buat diterima Kak, Aku udah janji sama Uti buat.... " Bumi menggantung kalimatnya. Sejurus menatap Akash yang juga sedang menatapnya, menunggu lanjutan ceritanya.


"Pulang aja, yuk!" tapi kalimat itu yang justru keluar dari mulutnya.


Ajakannya diangguki Laut dan Ayesha. Tanpa pamit pada Damar dan Lila dengan alasan nanti juga bertemu kembali di hotel saat resepsi. Akash sengaja ikut di mobil Laut. Begitu saja meninggalkan motornya di rumah Lila.


"Kak Akash nih nggak pernah kerja deh Aku lihat," protes Bumi saat keduanya duduk bersebelahan di kursi penumpang.


"Aku kan bosnya," kilah Akash.


"Kan bisa mantau anak buah kerja, ngapain aja gitu biar keliatan kerja."


"So' tahu, Aku bahkan udah mulai nyari duit pas SMA." Akash memukul kepala Bumi dengan ponselnya.


"Nggak percaya, mana ada?"


"Ya percayanya sama Allah aja, percaya sama aku jatuhnya musyrik."


Kemudian hening, Ayesha tertidur di bangku depan. Laut memilih serius mengemudikan mobil. Bumi sendiri memilih menyandarkan kepala miring menghadap ke luar jendela. Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu.


Betapa banyak dirinya meninggalkan shalat dan puasa tanpa rasa berdosa sedikitpun. Hatinya sedikit mencelos, takut sekali dosanya tidak diampuni. Menit berikutnya matanya terlelap. Ponsel yang dia pegangi sampai terjatuh. Akash mengambilnya, tak sengaja melihat poto dirinya sebagai wallpapper ponsel Bumi.


Ingin sekali membuka ponsel itu dan membuka blokir yang dilakukan Bumi pada kontaknya. Tapi, dia urungkan dengan alasan kesopan santunan.


"Dia tidur, Kash?" tanya Laut tanpa menoleh.


"Iya, ngantuk banget kayaknya."


"Semalaman kayaknya kurang tidur," ucap Laut.


Semalam memang baru terlelap pukul 01.30. Bumi sibuk memilah baju yang masih layak dipakai dan yang tidak. Dia kemas ke dalam kardus untuk nanti dibawa ke kampung diberikan pada tetangga di sana.


Lemarinya kini hanya ada beberapa potong gamis dan hijab. Harus mulai menyicil kembali membeli pakaian muslim.


"Kash, seandainya rencana lo nggak berhasil, gue harap lo jangan mempersulit keadaan Bumi ya!" pinta Laut.

__ADS_1


"Maksud lo?"


Laut tak menjawab, ada sesuatu yang tidak bisa dia ceritakan. Yang pasti dia hanya ingin adiknya bahagia.


__ADS_2