
Sementara itu di sebuah swalayan Guntur justru sedang sibuk membantu Ida, sang asisten rumah tangga Anggara. Ida dengan sengaja mendatangi kediaman Guntur pagi-pagi sekali.
Meminta Guntur untuk mengantarkannya ke swalayan membeli beberapa keperluan dapur. Ida beralasan jika dirinya sengaja diminta Rere untuk dibantu Guntur saat berbelanja.
Guntur dengan mudahnya percaya begitu saja pada Ida. Tanpa curiga sedikitpun. Perasaannya mulai tak tenang saat melirik jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul 09:30 dan Ida masih saja sibuk belanja.
"Bi, ayok nanti kita telat ke acaranya Rere." Ajak Guntur agar segera pergi dari swalayan.
"Memang sekarang jam berapa?" tanya Ida.
"Jam setengah sepuluh, kita udah telat." Guntur mulai panik, terlebih saat menyadari ponselnya tertinggal di dalam mobil.
"Ya sudah, ayok!" seru Ida. Padahal sedari tadi dirinya yang terus mengulur-ulur waktu. Keduanya mulai meninggalkan swalayan.
Guntur segera mengambil ponselnya saat sudah berada di dalam mobil. Berkali-kali Rere menelpon dan mengiriminya pesan. Guntur mengumpat dalam hati saat dirinya kembali memanggil Rere namun nyatanya nomor Rere sudah tak aktif.
Guntur seketika mengendus sesuatu yang ganjil. Sebelum melajukan mobil, Guntur menatap marah ke arah Ida yang duduk di kursi penumpang.
"Bi Ida sengaja kan bikin saya terlambat ke acara akad Rere?" tuding Guntur.
"Saya cuma disuruh Pak Angga," Ida menciut seketika.
Guntur memukul setir dengan kasar.
"Dari mana Bi Ida tahu rencana kita?" todong Guntur membuat Ida ketakutan.
"Saya sering mendengar Non Rere membicarakannya dengan Nenek Karina," jujur Ida.
Guntur meremas rambutnya kasar seraya berteriak membuat Ida semakin ketakutan. Dibenturkannya kepala ke atas setir seraya terus memanggil nama Rere. Hancur sudah mimpi yang sempat dirangkai bersama Rere.
"Maafkan saya, Den." Suara Ida lirih berkata.
"Nggak ada gunanya Bi Ida minta maaf," jawab Guntur dengan nafas tersengal. "Sekarang pasti Rere sudah sah menjadi istri Akash."
"Tetap saya minta maaf," ucap Ida menyesali perbuatannya.
"Saya bisa saja maafkan, tapi nggak tahu dengan Rere." Ujar Guntur membuat hati Ida kian menciut ketakutan.
Sedang tidak marah saja Rere selalu ketus, apalagi jika marah.
"Saya ingin bertemu Rere, tolong Bi Ida bantu saya."
Ida mengangguk patah-patah. Selama beberapa waktu ini, dirinya memang ditugaskan oleh Anggara untuk menyelidiki gerak-gerik Rere saat di rumah. Angga sebetulnya sudah mengetahui hubungan Rere dan Guntur.
Dengan berdalih ingin memberikan yang terbaik untuk Rere dengan menikahkannya kepada Akash, Anggara tega menjebak putrinya sendiri.
Sebagai orangtua dirinya merasa perlu memberikan yang terbaik untuk putrinya, termasuk jodoh. Anggara yakin Rere akan memiliki kebahagiaan berada di tengah-tengah keluarga Ummi.
Namun pikirannya salah besar, Rere nyatanya tidak pernah merasa bahagia bersanding dengan Akash yang selalu bersikap buruk padanya. Terlebih saat tahu Akash lebih mencintai Bumi.
__ADS_1
*****
Keharuan di rumah Anggara mulai mereda, kedua pengantin yang telah menyelesaikan acara sungkeman dan beramah tamah dengan sanak keluarga mulai melepas lelah.
Rere kembali ke kamarnya ditemani Karina, sementara Akash memilih bergabung bersama Laut dan yang lainnya di halaman rumah. Mereka akan kembali menggelar resepsi malam harinya.
"Kiamat dunia gue, bro." Keluh Akash pada Laut dan Damar.
"Males banget gue harus pura-pura baik sama Rere." Lanjutnya seraya melepas peci putih itu dan meletakannya ke atas meja.
"Jangan gitu lah Kash," hibur Laut. "Lo lihat Bumi, seberapa besar dia berusaha tegar." Lanjut Laut seraya menoleh ke arah Bumi yang sedang tertawa memangku Alisha di kursi lain.
"Gue bukan lagi orang yang bisa jadi penyebab Bumi bahagia," ujar Akash ikut menujukan pandangan pada Bumi. Senyuman di wajahnya tak pernah hilang.
"Allah tidak akan menimpakan musibah di luar kuasa hambanya," ucap Laut.
"Menikah dengan Rere juga bukan musibah, justru anugerah." Kini giliran Damar berseloroh, berharap dapat menghibur. Namun, malah semakin membuat Akash sedih.
"Semoga Allah segera mencabut segala musibah ini," ucap Akash.
Laut dan Damar tak berniat mengamini, bagaimanapun Rerw merupakan sahabat mereka. Mereka ingin Rere juga bahagia.
Sementara di kursinya Buminyang duduk mengelilingi meja bundar bersama Lila, Ayesha dan Nadia sedang asyik menanggapi celotehan Alisha. Alisha bercerita bahwa baru saja mengadopsi kucing anggora lucu.
"Mamnyah halus yang masyih balu, ndak mahu yang betas."
(Makannya harus yang baru, nggak mau yang bekas)
"Belagu banget kucingnya," komentar Lila.
"Kucing high class." Timpal Ayesha.
"Manja banget ya!?" Nadia menambahkan.
"Kasihan kucingnya pasti kupingnya kepanasan dighibahin onty-ontu nih." Seloroh Bumi mengundang gelak ketiganya.
"Dibah itu apa?" tanya Ayesha, baru mendengar kosakata ghibah.
"Ghibah itu membicarakan keburukan orang," ucap Bumi. "Muslimin muslimat dilarang keras berghibah," tambah Bumi seraya memebetulkan posisi duduk Alisha di pangkuannya.
"Ndak boleh dibah don?" tanya Alisha penasaran.
(Nggak boleh ghibah dong?")
"Nggak boleh, dong!" jawab keempatnya kompak membuat Alisha terkaget.
"Atu tadet suaranya telas,"
(Aku kaget suaranya keras)
__ADS_1
Sontak saja keempatnya kembali tertawa. Alisha memberengutkan wajah seraya turun dari pangkuan Bumi. Dilipatnya kedua tangan di dada, bibirnya mencak-mencak.
"Onty, onty bitin tadet atu. Huaaa, om atas, ontinah dahat om. Huaaaa."
(Aunty, Aunty bikin kaget Aku. huaaa, Om Akash, Auntynya jahat, Om)
Akash yang memang sudah sejak tadi memperhatikan interaksi mereka segera saja menghampiri.
"Kenapa Sayang? jangan nangis." Hibur Akash seraya meraih tubuh Alisha ke pangkuannya.
"Kita tuh ketawa keras Kak, dianya kaget. Eh malah nangis." Nadia menjelaskan kejadian sesungguhnya.
"Jangan nangis, cantik." Akash mengelus lembut punggung Alisha.
"Alisha cari Ummah aja yuk, Kamu kayaknya ngantuk tuh." Ajak Nadia.
Alisha menolak mentah-mentah, merengek minta diantar oleh Bumi saja untuk menemui Ummahnya. Dengan sedikit canggung Bumi mengambil tubuh Alisha dari pangkuan Akash, seoersekian detik keduanya sempat bersitatap.
Bumi teringat akan kadonya yang dia simpan di atas kursi yang tadi diduduki. Kemudian sebelum pergi, Bumi menyempatkan menyerahkan papper bag itu pada Akash tanpa berkata apa-apa. Lalu dirinya pergi membawa Alisha mencari Zahra.
Akash menatap nanar papper bag di tangannya. Sedikitpun tak merasa senang. Bukan ini yang diharapkannya. Baru akan melangkah, salam seseorang mengalihkan perhatuannya.
Guntur datang bersama Ida. Keadaannya sudah sangat berantakan.
"Kash, gue dikerjain sama nih orang," ucap Guntur tanpa basa-basi.
"Maksud lo?"
"Ceritain Bi!" seru Guntur pada Ida.
Ida menceritakan semua kejadiannya, dirinya kembali berkali-kali meminta maaf. Akash ikut geram sekali. Lagi-lagi Anggara berada di balik semua ini.
"Cepat Bi, pertemukan Saya dengan Rere!" pinta Guntur.
Ida segera berlalu dengan segenap ketakutan dalam dirinya.
"Hancur Kash, hancur semuanya." Ucap Guntur meninju udara di hadapannya.
"Gue lebih hancur, Bumi pasti menderita."
Keduanya kini berada di posisi yang sama. Sama-sama hancur dan terluka. Dari kesemuanya, hanya Bumi yang mampu tegar. Meski hatinya sudah porak poranda, dirinya tak menampakkan semua itu.
Tetap tersenyum saat menyerahkan Alisha pada Zahra. Lain halnya Zahra, dirinya menarik tubuh Bumi ke dalam pelukannya. Tangisnya pecah dengan sejuta sesal di dada.
"Maafkan, Aku. Maaf Bumi."
.
.
__ADS_1
Like dulu, komen dulu. please kasih semangat.