Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
141


__ADS_3

Si kembar kembali tidur, tapi tidak dengan Ara. Selesai menghabiskan susunya, bayi cantik itu malah seolah mengajak main. Matanya terbuka sempurna, tidak ada tanda-tanda ia mengantuk.


Bumi menggendong Ara, diendusnya leher Ara yang sangat wangi menyegarkan. Perpaduan minyak telon dan bedak yang sangat membelai manja indra penciumannya.


Sementara keluarga yang lain sedang berkumpul di ruang tengah, ia memisahkan diri membawa Ara menuju ke kafe. Gusar di hatinya karena perkataan ummi dan Zahra, membuat ia kehilangan selera bicara dan tertawa.


"Sibuk banget nggak, Teh?" Bumi menghampiri Lina yang sedang merapikan uang di meja kasir.


"Enggak, Mbak. Ada apa?" Lina segera beranjak mendekati Bumi.


"Titip Ara sebentar, aku mau keluar dulu beli sesuatu," ungkap Bumi, belum Lina menjawab, tubuh mungil Ara sudah ia serahkan pada Lina.


Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera pergi dengan raut wajah yang sendu. Ia hanya ingin menangis, kenapa ummi dan Zahra terkesan tidak menyukai Ara. Apa karena Ara berbeda? apa karena Ara lahir dari seorang yang bukan muslim? Ara tak bersalah, dia berhak menemukan kebahagiaan.


Bumi semakin jauh melangkah meninggalkan kafe. Tahu-tahu ia sudah berada di sebuah taman yang saat hamil sering ia kunjungi. Taman itu tidak terlalu ramai, Bumi duduk pada kursi di bawah pohon sawo besar yang sedang berbuah.


Punggungnya ia sandarkan pada kursi taman yang catnya sudah mengelupas di mana-mana. Matanya terpejam penuh mencoba mencari ketenangan. Ia takut benar-benar harus terpisah dengan Ara. Banyak mimpi yang sudah dirajut untuk gadis kecil itu walau belum genap dua hari mereka bersama.


Tak kuasa lagi menahan sesak yang terus memaksa meminta dikeluarkan. Akhirnya, meski dengan mata terpejam air mata itu luruh deras. Masih dengan posisi yang sama Bumi mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.


Hingga ada tangan seseorang yang menangkup kedua pipinya. Sontak Bumi merasa kaget dan langsung merubah posisi duduknya. Ia buka lebar-lebar matanya dan mendapati sosok Akash yang membungkuk di hadapannya


"Kakak ...."


"Cari aku jika ingin menangis, meski aku belum tentu dapat menyembuhkan lukamu. Setidaknya, aku memiliki bahu yang siap menopang sedihmu." Akash duduk di sebelah Bumi dan langsung merengkuh bahunya.


Bumi menyandarkan kepalanya di bahu Akash, kembali menangis tanpa suara. Cukup lama ia menangis, hingga kepalanya terasa pusing.


"Jadi, apa yang membuat sedih?" Akash menarik dagu istrinya agar dapat memandang wajah itu.


Bumi pelan-pelan mulai menceritakan apa yang terjadi. Meski ada sedikit tak enak karena itu artinya dia membicarakan Zahra dan Ummi.

__ADS_1


"Aku bukan mengadu, ya," ujar Bumi setelah dirasa selesai dengan ceritanya.


"Nanti aku bicarakan sama ummi, jangan sedih!" Akash mendekap erat tubuh itu.


Cukup lama keduanya mengobrol. Sudah lama rasanya tidak menghabiskan waktu berdua, membuat keduanya menyadari bahwa bicara dari hati ke hati itu ternyata membuka apa yang selama ini keduanya sembunyikan.


"Jadi kamu merasa kehilangan aku?" selidik Bumi saat Akash bilang rasanya kesepian saat Bumi selalu sibuk dengan anak-anaknya.


"Sedikit, tapi aku mengerti walau kadang ada sedikit cemburu sih. Kamu sekarang udah nggak pernah minta disisir rambutnya. Nggak pernah minta aku yang suapin makannya. Aku rindu jadi orang yang paling kamu butuhkan." Rentetan pengakuan Akash membuat Bumi kembali berkaca-kaca.


"Padahal aku hanya nggak mau selalu merepotkanmu. dengan segala urusan pekerjaan kamu, aku takut kamu kelelahan kalau harus selalu membantuku," aku Bumi, tangannya terangkat mengusap wajah mulus suaminya.


"Segala kebutuhanmu adalah kewajibanku, termasuk kebahagiaanmu. Aku nggak mau kamu terlalu larut memikirkan masalah ini, hmm!" Akash meraih tangan Bumi yang sedang memegang pipinya. Ia genggam tangan itu dan menciuminya bertubi-tubi.


"Jangan takut kehilangan Ara, serahkan pada Allah. Sesuatu yang memang sudah ditakdirkan jadi milik kita, maka Allah tidak akan mengambilnya kembali." Terang Akash.


"Segala yang kita miliki adalah titipan, termasuk anak-anak. Kita hanya perlu menjaganya, untuk apa yang terjadi selanjutnya, serahkan pada Allah." Bumi mengangguk mengerti, ia jauh lebih merasa baik. Gusar dalam hatinya menguap.


"Tadi begitu aku sampai, aku lihat kamu keluar dari kafe. Jadi aku ikutin," jelas Akash membuat Bumi mengangguk. Keduanya memutuskan untuk pulang. Bergandengan tangan menapaki paving block trotoar. Obrolan ringan menemani langkah keduanya hingga tak terasa sudah sampai di depan kafe.


Teh Lina sedang menggendong Aro yang terlihat habis menangis. Bumi buru-buru melepaskan tangan Akash dan meraih tubuh putranya.


"Sayang, kenapa?" Bumi mengusap punggung putranya, merasa bersalah telah meninggalkannya terlalu lama.


"Mas Ar cari Bunda?" Akash ikut menyapa putranya seraya mengusap kepalanya.


Aro tersenyum seraya memukul-mukul dada Bumi meminta segera diberikan kesukaaannya.


"Mau nen?" goda Bumi seraya menyatukan hidungnya dengan hidung Aro.


"Kalian dari mana saja?" suara ummi yang datang bersama Zahra yang menggendong Akhza mengalihkan perhatian Bumi dan Akash.

__ADS_1


"Ini yang Ummi takutkan, Sayang. Kamu mengurus dua anak saja sudah kewalahan apalagi ditambah satu anak lagi. Aro tadi nangis cariin kamu, untung abangnya nggak rewel." Rentetan perkataan ummi tak mendapat jawaban dari Akash dan Bumi.


"Kamu nen in Mas Ar di kamar aja, ya!" suruh Akash pada Bumi seraya mengusap pucuk kepala Bumi. Bumi mengangguk, seraya pamit pada Zahra dan juga ummi.


Akash mengambil Akhza dari gendongan Zahra, dia ciumi penuh sayang putranya itu.


"Umi, Kak, aku mau bicara sebentar. Ini tentang Ara." Pinta Akash tanpa basa-basi.


Zahra dan ummi saling berpandangan kemudian mengangguk. Ketiganya sepakat bicara di kursi pojokan yang terhalang oleh pot besar.


"Aku langsung aja, nih. Mengenai Ara, aku sama Bumi udah pikirkan matang-matang mau mengasuhnya," papar Akash membuat Zahra tersulut emosi.


"Ngurus anak orang tuh nggak gampang, lagian kenapa sih harus kalian yang urus?"


"Iya, Kash. Ummi cuma nggak mau cucu-cucu Ummi terlantar. Ummi mau kamu dan Bumi hanya fokus sama Mas Ar dan Abang." Ummi menimpali protesan Zahra.


"Umi, Kak, bayi itu nggak punya ayah. Ibunya masih sekolah. Keluarga besarnya nggak ada yang tahu tentang kelahiran bayi itu," papar Akash membuat Zahra dan Ummi saling berpandangan.


"Anak yang lahir dari hubungan terlarang?" todong Zahra.


"Tanpa ikatan pernikahan?" desak Ummi.


"Apa salahnya? yang berdosa orang tuanya. Bukan Ara," tegas Akash meninggikan suaranya.


Ummi dan Zahra kembali berpandangan. Dalam benaknya, ummi membenarkan perkataan Akash. Zahra mulai merasa kasihan pada Ara. Awalnya mereka pikir Ara memiliki orang tua lengkap.


"Gimana, Mi, Kak?" Akash meminta pendapat keduaanya.


"Ummi nggak mau Bumi kelelahan, nggak mau juga cucu-cucu Ummi terlantar." Suara Ummi melemah.


"InsyaAllah kami akan menjadi orang tua terbaik untuk mereka," janji Akash seraya mencium pucuk kepala Akhza yang sedari tadi duduk dalam pangkuan Akash memainkan tasbih Ummi.

__ADS_1


__ADS_2