Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
115


__ADS_3

"Kamu kenapa bikin keputusan nggak bicara dulu pada Ummi?" tegur Ummi begitu Akash sampai.


Kamar luas bernuansakan putih dan gold itu mendadak hening. Akash tak menyangka jika Ummi akan mempermasalahkan urusan Nadia dan Hafidz.


"Aku hanya ingin Nadia selesaikan kuliahnya dulu, Ummi." Akash mulai memberi penjelasan.


"Apa orang tua pemuda itu menerima?" selidik Ummi. "Kamu marahi putra mereka tanpa bicara pada orang tuanya?" desak Ummi.


Akash tak menjawab, sejurus memandang Ummi dengan penuh tanya. Apa Nadia yang mengadu?


"Istri kesayanganmu yang bicara pada Ummi," Ummi menjawab tanya dalam mata Akash. "Dia tak ingin melihat suaminya menjadi pedendam." Imbuh Ummi dengan penuh penekanan.


"Bukan begitu, Ummi, tapi Akash hanya ingin Nadia selesaikan kuliahnya." Tutur Akash dengan suara sangat rendah.


"Mereka tidak memenuhi undangan Ummi," keluh Ummi. Keluarga Hafidz tak hadir pada resepsi siang tadi. Hal itu yang membuat Ummi tak enak hati.


"Mereka ada halangan, Ummi." Akash menenangkan Ummi.


"Saudara mereka ada yang meninggal, buktinya Bi Lili saja tak datang. Hanya Paman yang hadir." Akash terus menenangkan Ummi.


"Ummi boleh tanya Nadia," usul Akash, "atau mau tahu langsung dari menantu kesayangan Ummi?" kali ini Akash bicara seraya merangkak ke tengah tempat tidur dan menaruh kepalanya di pangkuan Ummi.


"Menantu kesayangan Ummi jam segini tidur, marahin Mi." Akash mengadukan kondisi istrinya.


"Kamu ini. Ummi sedang marah malah seperti ini," Ummi mengulum kesal dengan membuang muka saat Akash hendak mencubit pipinya.


"Ummi tenang saja, orang tua Hafidz tidak marah. Jangan berfikiran aneh-aneh." Kali ini Akash berhasil meraih pipi Umminya.


"Benar mereka tidak marah?" todong Ummi menundukkan kepala agar dapat menatap wajah putranya.


"InsyaAllah, mi."


Pintu diketuk bersamaan dengan seseorang yang masuk karena pintu sudah terbuka setengahnya, tadi Akash tak menutupnya kembali.


"Kakak. aku kok ditinggal sih." Suara itu milik istri kesayangan Akash. Berlari-lari kecil menuju tempat tidur dan menyingkirkan kepala suaminya dari pangkuan Ummi.

__ADS_1


"Awas, Kakak udah nggak pantas manja-manja sama Ummi." Dirinya mengambil alih posisi Akash.


Ummi terkekeh melihat tingkahnya, diusap lembut pucuk kepala Bumi penuh sayang. "Bumi habis bangun tidur?" selidik Ummi dan dihadiahi anggukkan oleh Bumi.


"Marahin, Mi. Sore-sore tidur" cibir Akash, tangannya jahil masuk ke dalam perut istrinya. Dia menyerang Bumi di sana, menggelitiki perut yang teebungkus kaos berwarna biru.


Bumi berusaha melawan dengan tawa yang pecah, tangannya berusaha menepis tangan suaminya namun apadaya suaminya lebih kuat tenaganya.


"Udah ih, udah...." Bumi tak bisa menahan tawa karena kegelian. "Udah dong, Kak..." terus berupaya menjauhkan tangan suaminya. Kali ini berhasil, kedua tangannya mampu meraih tangan yang sedari tadi menggelitiki perutnya.


Kini tangan itu ia genggam, Ummi hanya menggeleng melihat tingkah keduanya.


"Kalian ini masih saja seperti waktu kecil, main kelitik-kelitikan." Sindir Ummi,


"Kita balik ke kamar ya, Mi. Udah mau maghrib." Ucap Akash, seraya turun dari tempat tidur. Tangannya melambai ke arah Bumi yang masih belum beranjak.


"Kakak duluan deh, aku sholat di sini bareng Ummi." Tolak Bumi, seraya mendekat pada Ummi dan bergelayut manja di lengan ibu mertuanya itu.


Akash hanya mengangguk sebagai jawaban kemudian pergi meninggalkan kamar dan menutup pintunya.


"Ummi mikirin Pak Haji dan Bu Haji yang tidak hadir tadi siang, ya?" tebak Bumi dan diangguki oleh Ummi.


"Ummi hanya takut mereka tersinggung oleh ucapan suamimu," keluh Ummi.


"Hafidz bukan orang seperti itu, dia pasti bisa menyampaikan dengan baik apa yang Kakak maksud." Tutur Bumi


"Suamimu itu keras, Ummi takut Hafidz tersinggung." Ujar Ummi, wajahnya menyiratkan kekhawatiran.


"Hafidz orangnya santai, Ummi. Bumi yakin dia nggak ambil hati ucapan Kakak." Bumi meyakinkan mertuanya itu hingga akhirnya mengangguk dan menanggalkan segala perasaan gamangnya.


Adzan magrib berkumandang, keduanya segera bergegas mengambil wudhu. Selesai shalat Bumi segera pamit, Ummi sendiri enggan beranjak dari tempat shalatnya.


Tujuan Bumi adalah kamar Nadia, dia khawatir akan keadaan adik iparnya itu. Nadia sedang melantunkan ayat ke-10 surah Al-kahfi saat Bumi tiba di kamarnya. Mendengar pintu terbuka, Nadia segera beranjak dari atas sajadah.


"Kakak ganggu nggak, Dek?" tanya Bumi, demi melihat mushaf di tangan Nadia.

__ADS_1


"Enggak kok, Kak. Ada apa?" Nadia ikut mendudukkan diri di samping kakak iparnya tepat di tepian kasur.


"Kamu nggak marah kan sama Kakakmu?" selidik Bumi.


"Enggaklah, Kak. Aku justru sadar omongan Kakak ada benarnya. Cuma ya cara dia mengutarakannya aja yang bikin aku kesel." Gerutu Nadia.


"Kakakmu itu nggak bisa manis-manis sama orang lain. apalagi sama cowok. Kak Laut aja dia nggak mau panggil Kakak." Tutur Bumi, bibirnya menyunggingkan senyum mengingat kelakuan suami dan kakaknya jika sudah adu mulut.


"Dan Kak Bumi adalah pawang si keras kepala itu," ujar Nadia dan keduanya tertawa membicarakan orang yang kini masih berada di masjid.


Kedua telapak tangannya menengadah khusyu. Tak terganggu oleh beberapa jamaah lain yang mulai beranjak meninggalkan tempat suci untuk beribadah itu.


Banyak do'a yang ia panjat, salah satunya meminta keselamatan sang Ayahanda agar terhindar dari siksa kubur yang pedih. Akash memang selalu menunggu hingga waktu Isya' baru akan pulang dari masjid.


Do'anya ia cukupkan, mengusap telinganya beberapa kali karena terasa panas. "Pasti ada yang lagi ngomongin gue nih," gumamnya seraya berjalan menuju lemari kecil berisi Al-qur'an dan mulai membukanya untuk melanjutkan bacaan tadi shubuh.


Sementara itu Bumi masih asyik berbincang dengan Nadia, keduanya nampak riang membuka-buka album foto Alisha saat bayi.


"Lisha tuh kalau dilihat-lihat matanya mirip Kak Akash." Bumi menunjuk satu foto di mana Alisha sedang mengemut jari dengan mata terbuka sempurna.


"Iya, banyak yang bilang gitu. Alisha lebih mirip Kak Akash." Nadia setuju dengan argumen Kakak iparnya.


"Kakak sayang banget sih sama, Lisha." Ungkap Bumi seraya kembali membuka lembar album. Telunjuknya terangkat mengusap foto yang menampilkan Akash sedang menggendong Alisha yang masih bayi.


"Tuh lihat, bibirnya tuh emang susah senyum." Komentar Bumi pada foto yang sedang diamatinya.


"Kayaknya pas hamil Kakak, Ummi terlalu banyak makan es batu jadi anaknya dingin gitu," kelakar Nadia disambut gelak tawa oleh Bumi.


"Tapi sayangnya aku cinta banget sama si batu yang diberi nyawa ini," gumam Bumi seraya mengusap perutnya. "Semoga aku cepet hamil ya, Dek. Doakan."


"Aamiin, Kak. Tapi semoga anaknya nggak kayak ayahnya yaa...." lagi-lagi keduanya tertawa.


Kumandang isya' menghentikan kegiatan keduanya. Bumi dan Nadia kembali berwudhu untuk melaksanakan shalat. Kali ini Bumi berjama'ah bersama Nadia.


Hatinya diliputi rasa syukur yang amat. Memiliki keluarga yang selalu menyayangi dan memperlakukannya dengan baik. Berbelas-belas tahun tinggal jauh dari orangtua sempat membuatnya kesepian dan merasa tidak diinginkan kehadirannya. Namun kini Allah sepertinya sedang memberikan buah dari kesabaran Bumi.

__ADS_1


.


.Like dan komennya Kakak. Aku bikin seringan mungkin cerita ini yaa....


__ADS_2