Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
111


__ADS_3

Sesuai yang telah direncanakan, pagi itu Akash dan Bumi menuju kediaman Sang Mama untuk pergi bersama-sama ke kampung. Pukul menunjukkan 07:10 saat keduanya sampai di rumah sederhana itu. Laut bahkan belum pergi ke kantor. Masih sedang sarapan bersama Ayesha dan Ayas.


Bumi dan Akash turut serta menyantap nasi goreng buatan Ayas itu, rasanya sudah lama Bumi tak menyantap hidangan lezat Sang Mama.


Selesai makan Nadia datang, gadis itu akan ikut ke kampung untuk menemui Hafidz.


"Aku nggak telat 'kan?" tanya Nadia, seraya menyalami satu persatu semua anggota keluarga.


"Kalau telat kita nggak ada di sini," jawab Bumi. "Lagipula kan mobilnya mau pakai punya Ummi, aku kan nggak punya mobil."


"Bukan nggak punya, Dek. Tapi belum dikirim," Akash meralat perkataan Bumi.


"Ah Kakak, percuma juga kalau aku nggak boleh belajar nyetir, Kak Zha sama Nadia saja bisa nyetir." Protes Bumi seraya berdecak sebal.


"Aku bukan Bang Ilham yang tega membiarkan istrinya kemana-mana sendiri," ujar Akash. " Aku yang akan mengantar kemanapun kamu pergi," imbuhnya seraya berlalu keluar rumah mengecek keadaan mobil.


Laut dan Ayesha sudah berangkat saat Nadia datang tadi, tinggalah Ayas dan Nadia yang saling melempar pandang. Kikuk sendiri melihat respon Akash yang seolah kesal dengan protes yang Bumi layangkan.


"Kamu harus nurut sama suami," ucap Sang Mama. "Dia itu kelihatan sayang banget sama kamu," imbuhnya. "Sana minta maaf, Mama tadi lihat rautnya sangat kesal." Titah Ayas dan diangguki Bumi seraya pergi hendak menemui Akash.


"Bumi itu terkadang suka keras kepala," tutur Ayas pada Nadia.


"Kak Akash juga sama, Mam." Nadia menuturkan watak Kakaknya.


"Tapi Mama bisa lihat kesungguhan Akash dalam mencintai Bumi," papar Ayas seraya terswmenyum hangat.


"Kakak sama Kak Bumi punya cinta yang sama-sama kuat, mereka panutan buat aku." Ungkap Nadia.


"Apa yang bisa dijadikan panutan?" selidik Ayas.


"Keduanya saling melengkapai, walau kelihatannya Kakak itu berlebihan sama Kak Bumi. Aku yakin itu karena Kakak cinta banget." Jawab Nadia panjang lebar.


"Mama jadi tenang sekarang Bumi sudah ada yang tanggung jawab," ujar Ayas.


"Iya, Mam. Kita sama-sama tahu gimana sulitnya mereka sampai ada di tahap ini. Semoga selalu bahagia," tutur Nadia dan diaamiinkan oleh Bu Ayas


Sementara itu di luar Bumi langsung memeluk tubuh suaminya dari belakang yang sedang memeriksa mesin mobil yang ternyata baik-baik saja. Saat memeriksa air radiator ternyata keadaannya penuh dan air reservoirnya juga sampai batas level. Masih sangat aman.


"Eeh kenapa ini tiba-tiba meluk, ada maunya nih?" selidik Akash segera membalikkan badan, jadilah keduanya berhadapan.


"Mau apa?" tanya Akash.


"Mau minta maaf soalnya udah maksa pengen belajar nyetir, aku nggak mau Kakak marah." Tutur Bumi kepalanya mendongak agar dapat memandang wajah suaminya.

__ADS_1


"Aku nggak marah kok, kita siap-siap berangkat." Ujar Akash.


"Bener nggak marah?" desak Bumi tak mau melepaskan pelukkannya namun bukan jawaban yang ia dapat melainkan wajah suaminya yang tiba-tiba saja terbenam sempurna ke wajahnya. Dan itu artinya Bumi tahu, si tukang sosor itu memang tidak marah.


*****


Tepat pukul 13:15 saat Akash menepikan mobil di halaman rumah Uti. Meski sudah beberapa hari ditinggalkan keadaan halaman rumah tetap bersih sebab Lili setiap hari merawatnya.


Kedatangan mereka ternyata sudah disambut oleh Lili san Yudis, keduanya berdiri di ambang pintu saat Ayas, Nadia, Bumi dan Akash turun dari mobil.


Keempatnya kompak mengucap salam dan dijawab serentak pula oleh Lili dan Yudis. Saling menyalami dan bertanya kabar seraya berjalan ke dalam rumah.


"Bumi nih, nikah dadakan sekali." Protes Yudis seraya mengusap pucuk kepala keponakannya.


"Kalau nggak dicepetin takut ada yang ngambil, Paman." Seloroh Akash ditimpali gelak tawa semuanya.


"Kalian mau minum apa?" tawar Lili.


""Teh manis saja, Li. Jangan yang aneh-aneh," tutur Ayas seraya mendudukan bokongnya ke atas sofa di ruang tamu. Begitupun yang lainnya.


"Ini putri bungsu Ummi?" tebak Yudis seraya menunjuk Nadia dengan ibu jarinya.


"Oh jadi ini calonnya Hafidz?" teriak Lili dari arah dapur. " Cantik banget seperti Arumi Baschin." Sambungnya masih dengan teriakan.


Mendengar Bumi menyebut Hafidz dengan embel-embel Mas membuat Akash sedikit tak suka.


"Jangan panggil dia dengan sebutan itu," bisik Akash tepat di telinga Bumi. Pelan namun penuh penekanan.


"Iya, Sayang. Aku lupa," Bumi balas berbisik dengan suara lembut dan sedikit desahan. Biar saja, biar tahu rasa.


Akash senjata makan tuan, niatnya dia yang akan menggoda namun dirinya yang kena perangkap. Kalau saja tidak di hadapan banyak orang, sudah dibuatnya Bumi kehabisan oksigen.


"Bisik-bisik apa sih?" tanya Nadia, Ayas dan Yudis juga nampak penasaran.


"Kakak lapar katanya, cuma malu mau bilang langsung." Cicit Bumi sekenanya.


"Sejak kapan Kakak punya malu?" cibir Nadia,


"Nanti kamu rasakan sendiri deh gimana malunya bilang lapar di hadapan mertua kamu," tutur Akash seraya mencubit jahil pinggang istrinya yang sudah mengerjainya.


Bumi membalasnya dengan hal sama, bukan mencubit melainkan meraba membuat Akash membulatkan mata. Bumi tahu itulah sensor Akash, dia tidak akan berkutik jika Bumi menyentuhnya dengan gerakan halus seperti itu.


"Jangan macam-macam, Sayang." Bisik Bumi, halus.

__ADS_1


Akash sudah tak berani lagi membalas perbuatan istrinya yang selalu dapat mengalahkannya.


"Kalian kenapa sih?" tanya Ayas penasaran. "Dari tadi bisik-bisik terus."


"Taraaa teh manis gula batu sudah siap," Lili datang membawa gelas dan poci di atas nampan. Nadia membantu menata gelas-gelas di meja. Tangannya tergerak untuk menuangi gelas dengan teh yang hangat itu. Tadi Lili mencampurnya dengan air dingin agar tidak terlalu panas.


Namun karena salah perhitungan sebab Nadia tak memegangi tutup poci saat menuangkan isinya. Alhasil membuat tutupnya ikut terbuka dan tumpah ruahlan teh manis iti mengenai meja dan taplaknya juga karpet yang tergelar di wajahnya.


Nadia tampak panik. ia dengan cepat mengambil tutu poci yang jatuh ke atas karpet.


"Nggak apa-apa, Dek." Tutir Bumi.


"Iya nggak apa, lagipula tutup pocinya memang udah nggak bisa diajak kompromi.


Sementara itu Akash menatap masygul adiknya. Lihat kan, menuangkan teh ke dalam gelas saja Nadia belum tahu dengan baik caranya. Apalagi mengerjakan tugas rumah lainnya.


Bukan tanpa alasan Akash memintanya untuk menunda pernikahan hingga lulus kuliah. Banyak hal yang harus Nadia pelajari.


"Udah nggak apa, yang penting tangan kamu nggak panas kan?" tanya Ayas menyentuh bahu Nadia.


"Nggak kok, Mam." Tutur Nadia dengan raut penyesalan, kenapa tidak dipegangi saja tutupnya saat menuangkan teh itu.


*****


Selepas kejadian ruang tamu, Ayas membawa Nadia ke kamarnya untuk istirahat. Bumi dan Akash juga memilih menghabiskan waktu di kamar. Saling bertujar cerita selama beberapa bulan kemarin keduanya terpisah.


Karena setelah mereka menikah sampai detik ini tidak banyak melakukan obrolan sebab selalu melakukan aksi menyenangkan saja. Hingga lupa saling bertanya kegiatan masing-masing.


"Oh jadi kamu sempey deket sama Hafidz?" todong Akash. Terkadang masih ada saja rasa cemburu itu padahal Bumi sudah jadi istrinya.


"Nggak deket banget, Kak." Ucap Bumi, mulai geram jika sudah menganggapi hal seperti ini.


"Iya lah orang kamu cintanya sama aku doang," seloroh Akash.


"Mulai deh gede kepalanya." Timpal Bumi seraya melempar bantal pada muka Akash.


Bumi terperanjat, mengingat sesuatu. Dia belum sempat bercerita tentang keberadaan Guntur.


"Aku tahu Dokter Guntur di mana." Tuturnya membuat Akash semakin penasaran.


(づ ̄ ³ ̄)(。’▽’。)♡(。’▽’。)♡


Like dan komennya ditunggu kakak,

__ADS_1


__ADS_2