Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
21


__ADS_3

Sementara itu di dalam mobil dengan sangat sengaja Rere memukul-mukul dashboard dengan kepalan tangannya. Umpatan-umpatan untuk Bumi lolos sempurna dari bibirnya yang dipoles lipmatte mahal. Tak puas tangannya yang bergerak kakinya ikut dihentak-hentakkan. Mungkin jika dilihat dari luar pasti mobil BMW putih miliknya bergoyang-goyang dan akan memancing prasangka buruk yang melihatnya.


Merasa tangannya sudah sakit, kini giliran dahinya yang Rere sengaja bentur-benturkan pada dashboard. Melihat kejadian itu, Aldric yang sedari tadi hanya duduk diam dibalik kemudi reflek berpindah ke kursi yang diduduki Rere sehingga membuat tubuh mereka sangat berdekatan tanpa celah. Aldric menarik kepala Rere dan membawanya ke pelukkannya.


"Cukup, Re. Kasihan tubuh Lo sampai Lo sakitin begini," Aldric dengan sangat lembut mengusap kepala Rere. Wangi aroma tubuh Rere menyeruak begitu saja di hidung Aldric. 'Bagaimana bisa Rere mendapat penolakkan dari Akash?' ucap Aldric dalam hati.


"Gue marah, Gue kecewa, Gue kesal, Gue benci sama Bumi!" Rere terus mengumpat seraya menumpahkan tangisannya di dada Aldric.


Aldric bingung harus berkata apa, Dia hanya mampu menepuk halus punggung Rere. Merapikan rambut yang menutupi wajah Rere. Tak canggung Dia menghapus air mata Rere yang terus mengalir deras. Peduli apa Dia tentang status Rere yang seorang bos nya jika di kantor.


Aldric sendiri bingung, hal apa yang dapat mendorongnya hingga melakukan kegilaan seperti ini? Berani sekali mendekap tubuh bosnya. Biarkan saja jika nanti Rere protes, bilang saja ini hanyalah jiwa kemanusiaan.


"Gue harus nikah sama Akash. Gue nggak mau kalah dari Bumi!" pekik Rere masih dengan isak tangisnya.


"Iya, tapi stop menyakiti diri Lo sendiri. Ada cara lain buat bikin hati Lo lebih tenang. Bukan kayak gini,"


Rere mendongakkan kepalanya menatap dalam mata Aldric.


"Temenin Gue, Gue nggak mau sendirian," ucap Rere menarik diri dari dekapan Aldric. Aldric segera berpindah kembali ke kursi kemudi. Rere merapikan kembali penampilannya lalu memakai sabuk pengaman. Barulah Aldric melajukan kendaraannya meninggalkan komplek perumahan Bumi.


*****


Sementara itu di ruang tamu ketegangan masih terasa mencekam. Pertanyaan bertubi-tubi terlontar dari Ayesha dan Lila.


"Lo sama Bumi dari mana sih?"


"Tadi Lo kelihatan bahagia banget pas bukain helm Bumi, ngomongin apa sih?


"Pacaran ya sama Bumi?"


"Calon istri Lo aja nggak pernah diajak boncengan kan?"


Ayesha dan Lila terus melontarkan pertanyaan secara bersahutan. Persis seperti sedang membaca puisi berantai.


"Sudahkah Anda berdua puas bertanya? Saya permisi sudah Adzan magrib," Akash berdecak kesal meninggalkan ruang tamu tanpa menjawab pertanyaan Lila dan Ayesha.


"Temen Kamu tuh nyebelin banget, ditanya baik-baik juga," Ayesha mengadu pada Laut yang sedari tadi hanya diam. Masalah akan segera dimulai. Akash mulai menabuh genderang perangnya. Dan Rere sudah mengibarkan benderanya. Hanya soal waktu semua akan menjadi rumit dan saling menyakiti.


Laut memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Dipijatnya pangkal hidungnya. Dia tidak mempunyai kekuatan untuk membantu sang adik terlepas dari amarah Rere.


"Kamu kenapa sih?" tanya Ayesha melihat kekasihnya yang terlihat kacau. Belum sempat menjawab suara salam seseorang mengalihkan perhatian mereka.


"Assallamuallikum."


"Waalaikumsallaam."


Ayas tersenyum menghampiri mereka yang satu persatu mulai mencium punggung tangan Ayas.


"Bumi dan Akash mana?" Ayas meyakini putrinya itu sudah pulang sebab motor Akash sudah terparkir di depan rumah.


"Di kamarnya, Mam. Mau dipanggilkan?" tanya Akash.


"Tidak usah, ini Ibu tadi habis belikan Dia pakaian. Nanti saja setelah isya ibu berikan." Jawab Ibu seraya memperlihatkan tiga buah papperbag di tangannya.


Bersamaan dengan itu adzan magrib berkumandang membuat Mereka mengucap Hamdallah bersamaan sebagai tanda rasa syukur masih diberi kehidupan sampai detik itu.


****


Di kamarnya Bumi merasakan hatinya kembali berdenyut nyeri. Kegamangan membuatnya semakin gelisah. Apa lebih baik menyerah saja? Melihat Rere yang sangat marah dan pasti hatinya terluka. Tiba-tiba saja Bumi memikirkan bagaimana jika keadaan dibalik? Bagaimana jika Bumi yang berada di posisi Rere.


Pintu diketuk dari luar. Membuat gadis yang sedang duduk di lantai memeluk kedua kaki dan bersandar pada pintu itu reflek mengusap air mata yang sedari tadi membanjiri wajahnya.


Pintu kembali diketuk karena sang pemilik kamar masih enggan membuka. Setelah merapikan rambut, Bumi segera berdiri dan membuka pintu. Muncullah wajah Akash saat Bumi membuka pintu dengan segelas air putih di tangannya.


"Minumlah, tenggorokanmu pasti sakit karena terus menangis."


Bumi berusaha tersenyum dengan senggukkan yang tersisa. Segera di raihnya gelas itu dan berkata terimakasih walau hanya sekedar gumaman.


"Aku mau bicara, boleh?" tanya Akash mencoba mencari persetujuan Bumi.


"Boleh, Kak. Kita duduk di tangga saja." Bumi segera melangkah terlebih dahulu dengan langkah besar dan duduk di tangga. Tenggorokannya memang sangat kering, air dalam gelas itu sudah habis seluruhnya Dia teguk.


"Jangan terlalu memikirkan perlakuan dan perkataan Rere," Akash membuka pembicaraan.


"Aku merasa seperti seorang pencuri, Kak. Boleh Aku menyerah sampai di sini? Aku lihat Kak Rere tadi sangat terluka. Aku mana bisa bahagia di atas penderitaan orang lain?" suaranya bergetar.


"Kamu harus bisa bertahan, sedikit lagi. Aku yakin bisa membujuk keluargaku."


Ucapan Akash tak sedikitpun berpengaruh pada keadaan hati Bumi. Dia seperti sedang berada di persimpangan, entah harus memilih berjalan ke arah mana.

__ADS_1


"Udah tatap-tatapannya, sudah magrib. Ayo sholat dulu." Ujar Laut. Kedatangan Laut, Ayesha dan Lila setidaknya mampu mengikis kegundahan hati Bumi.


"Ayo Kak, shalat di kamarku." Bumi melirik Lila dan Ayesha bergantian lalu segera beranjak menuju kamar.


*****


Di tempat lain, Aldric membawa Rere ke sebuah pasar malam.


"Buat apa Kita ke sini?" protes Rere merasa risih saat kakinya yanh memakai heels menyentuh rumput basah yang menurutnya menjijikan.


"Cari hiburan, biar Lo nggak gila."


"Gue nggak gila!" Rere memukul bahu Aldric tapi malah tangannya yang terasa sakit. Dia mengibas-ngibaskan tangannya seraya meringis dan mengaduh.


"Awwww," pekik Rere.


Aldric reflek meraih tangan Rere dan memegangnga dengan kedua tangannya. Punggung tangan Rere merah, memar. Sepertinya pukulan berulang-ulang pada dashboard tadi sangat kuat.


"Kuat juga tenaga Lo, tapi sayang cuma nyakitin diri sendiri."


Aldric mencium tangan Rere, meniupinya lalu kembali menciumnya. Rere terpaku membulatkan matanha. Hangat. Itu yang Dia rasakan.


"Iiih apaan sih, lepasin!" Rere menarik tangannya. Menyembunyikan perasaan gugup.


"Mau cari makan atau main dulu. Tuh mau naik bianglala nggak?" Aldric menunjuk bianglala yang sedang berputar. Beberapa saat Rere melihat pergerakan bianglala itu. Cukup banyak yang menaiki permainan itu. 'Apa itu menyenangkan?' Rere berkata dalam hati.


"Gue sebenarnya nggak level main di tempat seperti ini, tapi Gue hargai usaha Loe," Rere menyibak rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya karena tertiup angin. Cantik. Itu yang ada dalam pikiran Aldric saat melihat pergerakan tangan Rere menyelipkan rambut di belakang telinganya.


"Jadi mau main apa?" tanya Aldric tanpa melepaskan pandangan dari gadis yang berhadapan dengannya itu.


"Gue nggak tahu, Lo aja yang tentuin."


"Mau coba main itu nggak?" Aldric menunjuk stand permainan mencapit boneka.


"Boleh juga, Gue pasti bisa." Rere melenggang pergi tanpa menunggu Aldric.


"Tadi bilang nggak level, tapi sekarang semangat banget sampai Gue ditinggal."


Setelah membeli koin Rere mulai memainkan permainan itu. Matanya berbinar dengan senyum riang saat mengarahkan pencapit pada boneka. Hap! dapat, namun kembali terlepas saat hampir saja selesai. Rere berkali-kali mengulang namun gagal. Alih-alih marah Dia malah tertawa dan mengumpat boneka-boneka kecil di dalam kaca.


"Ayo coba sekali lagi, kalau kalah fix ini permainan pake guna-guna" ujar Rere kembali memasukkan koin ke sepuluh pada claw machine tersebut.


Rere sampai loncat-loncat kegirangan, berputar lalu refleks memeluk Aldric yang ikut merasakan kebahagiaan Rere.


"Lihat kan Al, Boneka aja bisa Gue dapetin masa Akash enggak bisa?"


"Akash bukan boneka!" seru Aldric.


"Tapi Gue tetep bakal berusaha buat mendapatkan Dia, buat apa selama empat tahun Gue nunggu kalau akhirnya nyerah?" Rere menyunggingkan senyum jahat.


"Perasaan Lo sekarang gimana?" tanya Akash mengalihkan pembicaraan.


"Gue lega sih, Gue semangat."


"Baguslah, janji jangan menyakiti diri sendiri lagi?" Aldric mengacungkan kelingkingnya.


"Apaan sih, kayak bocah. Ayok pulang!" Rere malah menepis tangan Akash dan pergi begitu saja.


"Ok. Sama-sama," ucap Akash seraya meninjukan tangannya ke udara.


*****


"Mobil mobil apa yang ada di atas pohon?" Tanya Damar yang selepas isya datang ke rumah Laut untuk menjemput Lila, sang kekasih. Mereka sedang berkumpul di ruang tamu dan bermain tebak-tebakan.


"Mobil kurang kerjaan!" seru Lila.


"Bukan dong sayang, jawabnya ngotak dong!" Damar memukul kepala Lila dengan ponselnya.


"Mobil-mobilan kan? Udah pasti bener itu," jawab Ayesha bersemangat.


"Kamu nggak usah ikut-ikutan jawab deh Sha! dari tadi juga jawaban Kita selalu disalah-salahkan sama Dia," kata Laut seraya menunjuk ke arah Damar.


"Kalian saja yang kurang pintar, menjawab nggak bisa. Kasih tebakan nggak bisa," Damar berkilah berdecak kesal.


"Ya sudah, Kita menyerah. Ayok, apa jawabannya?" Bumi berdiri dari duduknya lalu berkacak pinggang. Sweater oversize yang Dia kenakan bersama celana piyama bergambar monokurobo terlihat membuatnya semakin lucu. Tangannya sampai tak terlihat karena lengan sweaternya yang panjang.


"Jawabannya adalah. Jeng jeng jeng jeng. Mobilang mangga keq, mobilang jeruk keq, mobilang apel keq."


Huuuh! Damar mendapatkan teriakan juga lemparan bantal kursi dari teman-temannya. Hanya Akash yang diam saja sambil tersenyum kecil melihat tingkah Bumi yang sedang ikut memukuli punggung Damar bersama Lila dan Ayesha. Akash duduk bersila di atas kursi dengan kedua tangan dilipat di perut. Pandangannya tak lepas dari gerak-gerik Bumi yang terua tertawa riang sepanjang permainan tebak-tebakkan berlangsung.

__ADS_1


"Sekarang giliran Aku nih punya permainan, mudah koq. Kalian pasti bisa jawab," Bumi menggulung sweaternya agar tangannya bebas bergerak.


"Ayo semuanya berdiri di meja makan saja," Bumi memberi komando.


"Permainan apa sih, Bumi?" tanya Ayesha penasaran.


Bumi tak menjawab. Dia mengambil pulpen dan kertas yang selalu Sang Mama simpah di sela-sela sarung lemari pendingin.


"Ayok sini semuanya!" perintah Bumi karena baru Ayesha dan Lila saja yang mendekat.


"Awas ya kalau nggak lucu!" ancam Damar segera menarik tangan Laut untuk bergabung.


Akash tetap pada posisinya, memperhatikan.


"Kak, sini dong. Seru lho!" teriak Bumi pada Akash yang masih enggan beranjak. Akash hanya menggeleng dan tersenyum manis membuat Bumi kesusahan menelan ludahnya sendiri. Tatapan mata elang yang selalu berubah meneduhkan saat tersenyum itu membuatnya tersihir.


"Kash, sini ikut main. Kasihan lho Bumi!" Ayesha ikut teriak.


"Biarkan saja Kak kalau nggak mau, dasar kanebo kering. Kaku!" ucap Bumi mencebikkan bibirnya lalu dengan sengaja memelototi Akash.


Akash tertawa, Dia beranjak tak mau membuat Bumi nya kecewa. Dengan hanya mengenakan sarung dan kaus lengan pendek Akash menghampiri teman-temannya.


"Beda ya auranya kalau udah ganteng dari lahir, sarungan doang aja keren banget," ucap Lila saat Akash mulai bergabung bersama mereka.


"Sayaaang!" bentak Damar lagi-lagi memukul kepala Lila dengan ponsel.


"Iya maaf, mulutnya keceplosan kalau lihat yang ganteng-ganteng."


Lila memukul-mukul bibirnya sendiri.


"Emang Aku nggak keren? nggak ganteng?" tanya Damar berapi-api.


"Enggaaaak," jawab Mereka semua kompak.


"Udah deh kalian ini, ayo sayang katanya mau bikin permainan?" Akash sengaja menggoda Bumi. Dia tak ingin perkataan Lila yang memuji ketampanannya beribas buruk pada perasaan Bumi.


"Ciee udah berani bilang sayang, sejak kapan Lo bucin gini? harusnya Lo bucinya sama Re...." belum sempat Damar melanjutkan kalimatnya Lila sudah membekap mulutnya lebih dulu.


"Ayok cepetan Bumi, Loe mau buat permainan apa?" Lila segera melepaskan bekapan pada mulut kekasihnya setelah berbisik "Jangan sebut-sebut nama Rere!"


Bumi mulai menggambar sesuatu pada kertas. Dia membuat garis-garia bergelombang.


"Anggap aja ini sungai ya! Aku nggak terlalu pintar gambar," ucao Bumi. Kemudian dia mengambil tusuk gigi yang ada di meja dan meletakannya di tengah-tengah gambar suangainya.


"Nah pertanyaannya, bagaimana cara kalian menyebrangi sungai ini?" Bumi memandang satu-satu dari kelima manusia yang berdiri mengerubuni gambarnya.


"Gampang dong, tinggak nyebrang. Eeh ada tongkat juga, bisa dibuat jembatan," Damar yang pertama kali menjawab. Dia memegang tusuk gigi itu lalu meletakkannya kembali.


"Iya ih gampang banget, tinggal ambil kayu ini terus menyebrang."


Lila ikut menjawab dan meletakkan kembali tusuk gigi tersebut. Membuat Bumi senyum-senyum sendiri. Akash dan Laut saling melempar pandang. Ini permainan masa kecil mereka dulu.


"Iya sih ini nggak ada lucu-lucunya Bumi. Tinggak diangkat kayunya trus dibuat jembatan deh," Ayesha ikut-ikutan tingkah Lila dan Damar.


"Kak Akash sama Kak Laut mau coba menjawab juga?" tanya Bumi memandang Akash dan Laut bergantian.


"Aku nggak bisa jawab deh, nyerah."


"Aku juga nggak bisa dek, tantangannya berat."


Akash dan Laut berusaha menahan tawa dengan menutup bibir mereka menggunakan tangan.


"Yaah payah nih dua jagoan nggak bisa jawab," Bumi memasang wajah kecewa, tapi pura-pura.


"Jadi jawaban Kita bener? yaah nggak seru. Standar!" ujar Damar.


"Jawaban kalian memang benar, tapi menurut kalian itu yang kalian pegang-pegang dari tadi apa?" Bumi menunjuk pada tusuk gigi.


"Kayuuuuu," Lila, Ayesha dan Damar kompak menjawab.


"Itu tuh kotoran! PUP hahaha. Lihat tuh iih jorok banget kalian udah pegang-pegang itu dari tadi," tawa Bumi pecah disusul Akash dan Laut yang juga terbahak.


"Bumiiiii!" teriak ketiga orang yang sudah berhasil Bumi kerjai.


Bumi segera menghindar, Dia berlindung di belakang tubuh Laut. Ayesha, Damar dan Lila langsung saling memberi kode untuk menyerang Bumi. Dengan gaya seperti banteng hendakenyeruduk mereka bersiap menyundulkan kepala pada tubuh Bumi.


Namun Akas juga segera mendekat dan menarik tubuh Bumi dari punggung Laut. Sehingga yang mereka sundul justru badan Akash. Sementara Bumi sekarang berada di samping Akash dan menyandarkan kepalanya di lengan Akash.


"Kamu masih ingat permainan Kita?"

__ADS_1


"Apa sih yang bisa Aku lupakan tentang Kita? tentang Kamu? Aku ingat semua!" Bumi mendongakkan kepala ke atas dan langsung menatap Akash yang juga sedang menatapnya. Aah, bagaimana jika kebahagiaan ini hanya sesaat?


__ADS_2