
Selesai mandi dan berganti pakaian, Vanya dan Celin pamit pulang karena sudah merasa tak enak dengan sikap Akash. Awalnya, Bumi mencegah karena merasa kasihan pada Vanya. Meskipun, menurut Bidan Wiwit keadaan Vanya baik-baik saja. Tapi, tetap saja tidak ada wanita yang tak sakit setelah melahirkan.
"Kakak sih judes banget, kasihan Vanya jadi nggak betah," sungut Bumi yang kali ini sedang menyusui Akhza.
"Aku nggak bisa basa-basi orangnya," sahut Akash yang sedang memainkan tangan kecil putranya.
"Nggak bisa basa-basi kok bangga," cibir Bumi seraya mengambil tangan Akhza yang sedang dimainkan suaminya.
"Pelit banget! dia kan anakku juga," protes Akash, dia yang awalnya bersandar pada bahu Bumi, bergeser menyandarkan punggung pada sofa.
"Aku nggak suka kamu kayak gitu sama orang," ungkap Bumi, dia membantu Akhza kembali mendapatkan ASInya yang sempat terlepas. " Jangan mentang-mentang Vanya habis melakukan dosa, kamu merasa jadi orang paling benar dan menghakiminya," lanjut Bumi masih dengan nada penuh emosi.
"Iya, nanti aku minta maaf sama dia." Akash kembali bersandar pada bahu istrinya.
"Kamu tuh ... awas argh, orang lagi nen in Abang masih aja gelayutan gini." Bumi menggedigan bahunya agar Akash menyingkir. Tapi, pria itu bergeming. Malah pura-pura tidur dengan memejamkan mata.
Jika yang sedang disusui adalah Aro, sudah pasti Akash akan ditendang habis-habisan. Beruntung yang sedang menyusu adalah si kalem Akhza. Bayi itu meski sama rakusnya, namun tetap menutup mata dan tangannya hanya fokus memegangi jilbab Bundanya. Tidak bergerak ke sana kemari seperti adiknya.
Bumi tersenyum seraya mengusap kepala putranya itu. Ia tak menghiraukan suaminya yang pura-pura mendengkur. Lebih tertarik menyusuri alis anaknya yang lebat. Hidungnya mancung dengan pipi kemerahan. Sekilas wajahnya mirip Nadia, mungkin karena pipinya merah. Bumi jadi teringat Nadia. Bukankah sebentar lagi dia akan wisuda?
Bahunya kembali ia gerakkan agar Akash bangun dari pura-pura tidurnya.
"Kak, bangun dulu. Aku pengen ngobrol sama Nadia dong."
Tak ingin membuat istrinya marah, Akash yang pura-pura tidur bergeser seraya merentangkan tangannya.
"Sudah pagi, ya?" selorohnya membuat Bumi akhirnya tertawa juga.
"Kamu tuh bukan aktor, nggak bakat akting." Bumi merapikan rambut Akash yang berantakan. Menyebalkan sekaligus menggemaskan.
"Bakat aku kan cuma mencintaimu." Akash beranjak untuk mengambil ponsel Bumi di bawah bantal. Ia sudah hafal, jika mencari ponsel istrinya dan remot AC, maka akan mencarinya di bawah bantal.
"Mau ganti nggak ponselnya?" Tanya Akash seraya membuka layar smartphone itu dan mencari kontak Nadia. Dia ketikkan huruf N namun tak muncul.
__ADS_1
"Nama kontaknya Ammah cantik," ujar Bumi seolah tahu apa yang sedang dilakukan suaminya. Akash mengerungkan dahi.
"Dia sendiri yang ganti nama kontaknya." Bumi menjawab kebingungan suaminya.
Panggilan terhubung, dalam satu kali dering Nadia langsung menerimanya.
"Hallo, assallamuallaikum. Dengan Ammah cantik di sini."
Bumi tertawa seraya menjawab salam adik iparnya itu. Ia tanyakan kabar Ummi, kabar Zahra dan yang lainnya.
"Kak Bumi punya dedek bayi lagi ya?"
Bumi mengerungkan kening, namun kembali mengendurkannya saat menyadari pasti suaminya lah yang memberitahu Nadia.
"Iya, Ammah ke sini dong. Ajak Ummi, aku kangen sama kalian."
Terdengar Nadia mengucap hal yang sama. Gadis itu juga berkata, bahwa besok ummi memang mengajaknya mengunjungi Bumi. Setelah dirasa cukup, Bumi mengakhiri panggilannya.
"Sholeh Bunda bobo lagi ... sebentar bobonya, ya ... habis itu Abang harus mandi." Bumi mengancingkan kembali gamisnya. Dia beranjak membawa tubuh montok putranya untuk dibaringkan di tempat tidur.
"Pantas nggak bersuara, tahunya tidur juga," gumam Bumi saat mendapati suaminya tertidur seraya memeluk tubuh Aro. Dengan sangat hati-hati ia baringkan Akhza di samping Aro yang tidur miring ke kiri. Entah bagaimana caranya, tangan mungil Aro yang mengepal berada di pipi Akash.
"Kalian bertiga tuh sama, mirip semuanya." Bumi mengelus punggung Akhza dan memastikan bayi itu benar-benar pulas sebelum ia tinggalkan. Bumi manumpuk bantal dan guling di sisi tubuh Akhza untuk menjaga bayi itu agar tak terjatuh.
"Aman rasanya kalau kalian bertiga pulas begitu," gumamnya seraya keluar dari kamar.
Niat Bumi keluar kamar adalah untuk melihat kondisi Ara. Terakhir bayi itu tertidur di keranjang milik putra kembarnya. Namun saat sampai di ruang santai, Ara sedang menangis digendong oleh mama.
"Loh, kenapa, Mam?" tangan Bumi langsung terangkat meraih tubuh Ara dari gendongan mama.
"Mama juga nggak tahu, dikasih mimi nggak mau," adu mama, seraya menutup botol susu milik Ara.
"Aduuh ... cantik Bunda kenapa? shalihah kenapa, Sayang?" Bumi menimang-nimang tubuh mungil itu. Saat ditimbang tadi, bobotnya hanya 2500 gram.
__ADS_1
"Eeh kok dia diam kalau kamu yang gendong?" Mana keheranan. Padahal tadi dia melakukan hal yang sama seperti Bumi. Menimang bayi itu.
"Anak Shalihah mau digendong Bunda, ya?" Bumi menatap bayi mungil itu penuh sayang.
"Kasihan dia, semoga kamu diberi kemudahan dalam merawat dan membesarkannya, ya." Ucapan mama langsung diaaminkan oleh Bumi.
Bersamaan dengan itu, Lina datang dengan seorang wanita seusia mama. Hanya saja, wanita itu sedikit lebih gemuk.
"Naah, Mbak, ini yang mau kerja di sini." Lina memberitahukan siapa yang datang bersamanya.
"Kerja?"
"Iya, kan Bang Akash tadi yang minta saya untuk mencari orang yang biasa kerja rumahan," papar Lina. Bumi mengangguk mengerti.
Dirinya dan mama langsung menyalami wanita bernama Eli itu.
"Bu Eli masih kuat bekerja?" selidik Bumi membuat Eli tersenyum seraya mengangguk.
"Allhamdullillah, tapi, anak saya tiga. Masih bayi semuanya. Nggak apa-apa sedikit repot?" Bumi meyakinkan Eli bahwa bekerja di rumahnya akan sedikit repot dengan keberadaan tiga bayi sekaligus.
"Saya sudah biasa bekerja, Neng." Sahut Eli seraya membungkukan badan.
"Bibi panggil nama saja, dan nggak usah membungkuk begitu," ralat Bumi seraya mengusap bahu Eli. Ara dalam gendongan sudah kembali terlelap.
"Saya nggak enak kalau panggil nama langsung." Eli tersenyum malu-malu.
"Panggil Bunda saja, biar sama seperti anak-anak," usul mama dan diangguki Eli. Bumi awalnya tak setuju. Dia akan nyaman bila dipanggil nama saja. Tapi, ia biarkan saja asal Eli kerasan bekerja di rumahnya.
Setelah berbasa-basi bertanya pada Eli, mama mengajaknya ke halaman belakang untuk memberitahu tugas Eli apa saja. Sementara Lina juga pamit kembali ke kafe.
Bumi membawa Ara duduk. Bayi mungil itu terlihat damai dalam lelapnya. Dia seperti mimpi bisa memiliki anak perempuan.
"Jadi anak baik, ya, Ara. Bunda akan selalu ada di samping Ara," ucapnya seraya menitikan air mata.
__ADS_1