Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
98


__ADS_3

Sementara Hafidz dan Pak Haji menyantap makan siang, Bumi memilih duduk menyendiri di bawah pohon mangga yang buahnya sudah dipetik sebagian. Matanya tajam memandang Hafidz yang makan dengan lahap. Sesekali ada tawa di bibirnya


"Dasar cowok!" umpatnya, antara kesal gemas dan mungkin senang.


Ya senang, senang bisa memegang kartu pria jahil itu. Senang karena itu artinya dia bisa membatalkan pernikahan ini.


"Lagipula kesannya aku tuh kayak buluk banget pakai dijodohin segala!" mulai bersungut-sungut seraya mencabuti rumput di sampingnya menyalurkan kekesalannya.


"Sama dia lagi," masih terus bersungut-sungut. "Liat tuh muka jahilnya, kadang pengen nangis kalau dia udah mulai jahil."


"iih kesel!" geramnya mengepalkan tinju dan menonjokkannya ke udara.


"Trus ngapain godain aku kalau masih menyimpan nama lain di hatinya?" kali ini sampai menghentakkan kakinya.


Ruang hati yang sudah penuh tidak mungkin bisa ditempati. Andai bisa, pasti sangat sempit dan membuat sakit


Rupanya pria yang sedari tadi diumpatnya telah selesai makan. Dia beranajak dari duduknya dan turun dari kursi yang terbuat dari bambu. Mencuci tanyannya dengan air jernih yang mengalir di pinggir kursi. Setelahnya berjalan ke arah Bumi dengan tampang jahilnya.


"Kenapa sih?" tanyanya, ikut duduk kemudian katanya lagi, "diliatin dari tadi komat-kamit terus, lagi baca mantra?"


"Mau minta pesugihan di bawah pohon mangga?" selorohnya, "minta pesugihan di gunung sana!" tangannya menunjuk ke sembarang arah.


"Berisik, ngapain sih ke sini?" uja Bumi, menggeser sedikit tubuhnya.


"Kamu yang kenapa?" Hafidz balik bertanya,


"Nggak apa." Jawab Bumi singkat. Kemudian pura-pura membuka ponselnya.


Melihat Bumi membuka ponsel, Hafidz ikut merogoh saku celananya. Dia ikut membuka ponsel dan teringat sesuatu saat tampak pada layar kaligrafi sebuah nama yang ia buat sendiri.


"Tadi kamu masuk kamar saya?" tanyanya.


"Hmm."


"Lihat ponsel saya?"


"Hhmm, dan lihat poto di meja belajar kamu. Perlu aku baca ulang tulisan di balik poto itu?" Bumi menyeringai puas.


Ternyata Hafidz cukup pintar membaca situasi dan menyadari kenapa Bumi bersikap aneh.


"Saya bisa jelaskan!" seru Hafidz, wajahnya sudah sangat pias.


"Sebelum kamu jelaskan, aku mau nanya." Ujar Bumi seraya berdiri, mengibaskan bagian belakang gamisnya. "Jadi kenapa harus repot-repot so' baik sama aku?" harusnya kamu bilang dari awal, nggak perlu bohong!" Bumi mencak-mencak dengan kedua tangan mengepal.


"Saya bukan ahli dalam membantah keinginan orangtua," alasan hafidz.


"Tapi ahli membohongi wanita?" cibir Bumi.

__ADS_1


"Kamu nggak tahu apa-apa." Hardik Hafidz.


"Siapa nama asli kamu?" kini tatapan penuh belati menancap tepat di netra Hafidz,


"Muhamad Hafidz Malik." Jawab Hafidz cepat, tatapannya selalu jahil.


"Bohong!" tuding Bumi.


"Nanti saya kasih lihat ktp saya."


Bumi sudah tak ingin lagi bicara saat itu. Dia pulang terlebih dahulu bahkan tanpa berpamitan pada Bu Haji dan Pak Haji. Hafidz enggan mengejarnya dalan keadaan marah seperti itu.


"Khumaira, kenapa harus sesulit ini?" gumamnya memandangi kaligrafi bertuliskan Khumaira pada layar ponsel yang dijadikannya sebagai wallpaper.


Sementara Bumi sudah berlari cukup jauh, hingga kakinya kini terasa pegal. Pantas dari awal sulit sekali menyediakan tempat sedikit saja di hati untuk Hafidz.


Inikah cara Allah membuka segalanya? Di saat Uti sudah meninggal hal seperti ini baru diketahuinya. Bumi sadar, Uti akan jadi orang yang paling kecewa jika dirinya membatalkan perjodohan ini.


Tapi, peduli apa sekarang? Uti sudah tidak ada dan Hafidz bukanlah pria tanpa pemilik hati. Harusnya bisa saja tadi Bumi memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan ini.


Tapi, masih ada sang Mama yang harus diajak bicara. Bumi tak peduli siapa nama asli Hafidz, sekali pembohong tetaplah pwmbohong.


*******


Setelah isya Bumi enggan keluar kamar, hanya bergemul di bawah selimut. Ponselnya berkali-kali bergetar. Saat dilihat ternyata panggilan video dari Zahra, Bumi tak langsung menjawab. Pasalnya dirinya sedang tak mengenakan hijab.


Hanya dua kali berdering, layar ponselnya sudah menampakkan wajah menggemaskan Alisha yang mengenakan hijab warna putih. Senada dengan piyama yang dipakainya.


"Onti Buniiiii." teriaknya histeris, sepertinya berjingkarak-jingkrak sebab gambae pada ponselnya bukan lagi menampakan wajah Alisha melainkan gambar buram. Disusul suara Zahra yang mengingatkan agar segera duduk manis supaya bisa mengobrol dengan melihat wajah onty Buni.


Sekarang keadaan kembali stabil, gadis kecil itu sudah duduk. Wajahnya kembali terlihat.


"Iiih aunty kangen banget sama Alisha!" riang gembira Bumi menyapa gadis manis dalam layar ponselnya.


"Lica pen temu onti buni." Terlihat wajah menggemaskan itu cemberut.


"Emm tapi Lica masih nen botol nggak?" tanya Bumi, ikut memanggil dengan sebutan Lica.


"Masyih, tapi ndak pate popok." Jawab Alisha menepuk-nepuk bawah perutnya.


"Waah udah bisa bilang kalau mau pup dan pip?"


"Bilang, jadi Lica ditasih lumah belbi cama Ooum." Jawabnya seraya memamerkan giginya, tersenyum lebar.


Layar ponsel kembali bergoyang, menampakkan gambar buram disusul suara Nadia atau entah Zahra yang berteriak agar Alisha tak berlari-lari. Alisha terdengar menyahuti namun tidak jelas. Suaranya bersahutan dengan nafasnya yang terengah.


Tak lama layar kembali stabil, menampilkan tembom putih kemudian.

__ADS_1


Deg.


Wajah Akash yang sedang tertidur, matanya tertutup rapat. Kemudian disusul wajah Alisha yang dia tumpuk di atas kepala Akash yang tidur dengan posisi miring.


"Onti taneun Ooum ndak?"


"Iya dong, kangen semuanya. Kangen Jidah juga."


Bumi tak bisa membayangkan bagaimana jika Akash bangun dan melihat dirinya dalam layar ponsel. Alisha menubruk-nubrukan kepalanya ke pipi Akash, terdengar seperti menyuruh Akash bangun.


Tentu saja, tak lama terlihat dalam layar Akash mulai mengerjapkan matanya. Menguceknya sekilas dan langsung menghadap layar. Sepersekian detik keduanya bersitatap kemudian segera layar kembali buram.


Terdengar Alisha menyuruh Akash duduk, tak lama gambar kembali normal. Menampilkan Alisha yang kini duduk di pangkuan Akash. Ponsel sepertinya dipegang Akash karena kedua tangan gadis mungil itu bergerak-gerak seperti sedang menghafal menyanyikan nama-nama malaikat.


"Ada cepuluh malaitat, yang wajib ditetahui. Jiblil, Mitail..."


Suaranya terhenti, sedang bertanya pada Akash bait selanjutnya apa. Bukan menjawab Akash malah menyuruh Alisha menanyakannya pada Zahra.


Terlihat Alisha beranjak dari pangkuan Akash. Panggilan video beralih menjadi panggilan biasa. Bumi reflek menerima panggilan itu.


"Assallamuallaikum," Akash menyapa lebih dulu, Bumi menjawab dengan patahan suara yang bergetar.


"Keluar yuk!"


"Ngapain?"


"Keluar dulu, lihat langit."


Sayangnya Bumi malah menurut, untuk dapat menatap langit Bumi harus keluar kamar, melewati ruang tamu barulah keluar dari pintu utama.


"Sudah?"


"Udah, mau ngapain?"


"Senang ya, malam ini kita menatap langit yang sama. Semoga hati kita tetap sama."


"Jangan aneh-aneh."


"Hatiku yang aneh, tubuhnya di sini tapi tinggalnya di sana."


Bumi melipat bibirnya ke dalam, beruntung Akash tak perlu melihatnya menahan senyum.


"Ya sudah, tidurlah. Terimakasih sudah mau mengangkat telponku."


"Hmm."


"Satu lagi, Assallamuallaikum, Bumi Hansa."

__ADS_1


Setelah menjawab salam dan mematikan panggilan Bumi tersenyum memeluk ponselnya. Hampir saja dicium. Dan betapa kaget saat berbalik sudah ada sosok pria yang tengah membuatnya kesal.


__ADS_2