Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
26


__ADS_3

Siang menjelang sore dengan langit yang masih cerah walau matahari sudah tidak terik. Bumi menggeliatkan badannya, terasa sakit semua setelah seharian bekerja. Dia menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah lebar. Bayangan akan merebahkan diri di atas kasur sudah mengisi penuh otaknya.


Saat akan masuk lift pergelangan tangannya ditarik seseorang. Ingin teriak namun segera diurungkan sebab itu ternyata Guntur.


"Dok, bikin kaget saja. Ada apa? Aku lelah dok, please biarkan Aku pulang!" Bumi mengatupkan kedua tangannya di atas kepala. Dokter Guntur yang melihatnya jadi tertawa.


"Memang Saya mau berbuat apa, Saya hanya minta ditemani ke rumah Nenek Karina. Dia menanyakan soal drama Korea."


Bumi tersenyum malu, Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kupikir harus membujuk lagi pasien."


"Duluan ke bawah, tunggu saya di sana!"


Tanpa disuruh dua kali Bumi langsung masuk ke dalam lift. Ingin menolak tapi tidak enak. Guntur selalu bersikap baik padanya, bisa jadi teman bicara yang asyik. Bahkan Guntur bisa mengalihkan perhatiannya dari Akash. Walau ternyata cinta Bumi terhadap Akash masih sama, tidak hilang sedikitpun.


Saat tiba di depan rumah sakit Bumi melihat ada tukang es cendol di seberang jalan, tepatnya di depan restoran Akash. Ada beberapa orang sedang membeli. Bumi jadi menelan ludah sendiri. Membayangkan sensasi dari gula merah dan santan yang akan terasa sejuk di tenggorokan. Tanpa pikir panjang Bumi melangkahkan kaki menuju tukang es cendol.


"Bang, pesan satu ya!"


"Dua, Bang!" seru seseorang yang Bumi hafal suaranya. Bumi lupa ini di mana, ingin pergi tapi tidak rela dengan es cendolnya.


Akash berdiri di samping Bumi. Diraihnya dua gelas besar es cendol itu.


"Bayarin, Aku tunggu di sana!" tanpa menunggu jawaban Akash meninggalkan Bumi. Bumi berdecak kesal, seenaknya saja. Dia menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan dan mendapat kembalian sepuluh ribu.


"Bang harga gelasnya berapa?" tanya Bumi.


"Lima ribu, Neng"


"Ini ambil saja, biar Abang nggak menunggu lama. Beli yang baru ya Bang gelasnya." Bumi berlalu setelah menyerahkan uang sepuluh ribuannya pada tukang es cendol yang menatap kepergian Bumi dengan melongo.


"Ada-ada aja dah tingkah anak muda sekarang. Beli cendol sama gelasnya sekalian." Tukang es cendol segera mendorong gerobaknya setelah mengusap keringat di dahi dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya.


Bumi mau tidak mau harus duduk berhadapan dengan Akash. Cendol di gelas Akash sudah tinggal setengahnya.


"Apa kabar?" pertanyaan Akash dijawab Bumi hanya dengan sebuah anggukkan. Es cendol yang melewati kerongkongannya tidak sesegar yang dibayangkannya tadi.


"Pelan-pelan minumnya, Nggak ada yang minta!" protes Akash saat melihat pipi Bumi membulat karena penuh dengan es cendolnya. Bumi tidak menjawab hanya memberi tatapan tajam. Akash tertawa melihatnya. Setidaknya Bumi mau menatapnya.


"Aku permisi, udah ditunggu Dokter Guntur!" Tanpa menoleh Bumi beranjak dari duduk. Namun pergelangan tangannya ditarik oleh Akash.


"Kita bicara sebentar," ucap Akash seraya berdiri.


"Aku nggak bisa, kasihan kalau Dokter Guntur menunggu." Bumi tak mau menoleh. Hembusan napas Akash bahkan terasa oleh Bumi, debaran jantungnya pun terdengar jelas.

__ADS_1


"Ikut Aku ke rooftop!"


"Jangan maksa!"


"Makanya nurut saja, atau mau aku gendong?" Akash berbisik di telinga Bumi.


"Iya, Ayo bicara di rooftop. Puas?" Bumi memelototi Akash. Dan Akash suka, Dia tersenyum lalu melangkah tanpa melepaskan pergelangan tangan Bumi. Bumi sedikit kepayahan mengimbangi langkah besar Akash dengan kakinya yang panjang itu.


Mereka duduk berhadapan, Bumi masih enggan bicara saat Akash berbasa-basi. Dia hanya akan menggeleng dan mengangguk.


"Kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini!" Akash kesal karena merasa tidak dianggap.


"Aku harus bagaimana, Kak?"


"Katakan Kalau kamu mencintaiku, aku akan berusaha membatalkan pernikahan ini. Katakan!" Akash sedikit berteriak, membuat Bumi sedikit ketakutan.


"Aku nggak cinta kamu, aku sedang berusaha melupakan semuanya!" Bumi balas berteriak.


"Bohong!"


"Kamu lama- kelamaan seperti batu yang diberi nyawa. Keras!" Bumi menatap tajam ke arah Akash.


"Maksudmu aku keras kepala? kepala batu?" Akash bertanya memperjelas ucapan Bumi.


"Dan Kamu air, air yang dapat meluluhkan batu ini. Aku membutuhkanmu. Seperti batu membutuhkan air untuk menghancurkannya!"


Bumi rasanya ingin tertawa. Orang yang tidak pandai menggombal atau merangkai kata memang sangat menggelikan saat bicara seperti itu.


"Aku udah berusaha mengikhlaskan semuanya, Kakak jangan merusaknya."


"Tapi, ini nggak adil. Kamu mendiamkan Aku sementara tertawa dengan lelaki lain!" Akash mengusap wajahnya kasar.


"Lelaki yang mana?" Bumi mengerutkan kening.


"Dokter itu, Aku cemburu melihatnya. Jangan dekat-dekat dengannya!"


Dering ponsel dari dalam saku jaketnya menyelamatkan Bumi agar tidak harus menjawab pertanyaan Akash.


"Halo, oh iya maaf Dok. Saya segera ke sana!"


Bumi beranjak dan meninggalkan Akash tanpa kata. Tapi, setelah beberapa langkah Dia kembali lagi mendekati Akash


"Sepertinya aku sudah suka dengan pria lain, jadi simpan saja cemburumu itu."


Akash tidak terpengaruh dengan ucapan Bumi, hanya memalingkan wajah sebagai responnya. Bumi benar-benar pergi meninggalkannya. Akash frustasi dibuatnya.

__ADS_1


Hanya bayangan Ummi yang saat itu terlintas. Akash pun pergi meninggalkan rooftop.


****


Akash menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ummi yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya sore itu.


"Ini sudah mau menikah masih saja manja," ucap Ummi seraya mengusap lembut kepala putranya.


"Bolehkan kali ini Aku berontak lagi, Mi?" Akash berbalik memalingkan wajahnya agar bersembunyi diperut Ummi nya.


"Jika Ummi bisa sudah dari kemarin semuanya terjadi, kali ini bukan hanya Ummi yang harus kamu luluhkan. Ada Kakakmu dan keluarga Rere yang pasti sulit diluluhkan," Ummi meraih tangan putranya dan menggenggamnya erat.


"Minta saja pada Allah, pasrahkan. Ummi selalu mendoakan."


Akash tak bisa lagi menjawab, Dia menangis tanpa suara. Ummi mengetahuinya dari tubuh anaknya yang bergetar. Hanya usapan dipunggung yang Ummi berikan. Kalimat seindah apapun tidak akan bisa menenangkan hati anaknya saat ini. Benar kata Bumi, Akash layaknya batu yang diberi nyawa. Keras.


****


Bumi pertama kalinya mendatangi rumah Nenek Karina. Rumah besar bercat putih dengan dua lantai. Lantainya bahkan sangat bisa dibuat bercermin. Pintunya saja sudah membuat Bumi insecure.


"Bukankah Nenek tinggal di panti jompo?" tanya Bumi saat mereka mulai memasuki rumah itu.


"Bohong, Nenek Karina hanya mencari perhatian setiap orang agar mengasihaninya."


"Sesepi itukah hidupnya?" gumam Bumi yang didengar Guntur.


"Dan Kamu bisa membuatnya tak kesepian," ucap Guntur membawa Bumi ke kamar Nenek Karina yang sudah sering Dia kunjungi.


Ternyata di sana ada Rere yang sedang menemani Neneknya itu. Keduanya tampak tertawa seraya melihat layar ponsel, sepertinya sedang menonton.


"Wow, kejutan. Apakah Kita mengganggu?" Guntur bertanya layaknya orang yang sudah sangat akrab dengan Rere.


"Apaan sih?" Rere mematikan video dari ponselnya.


"Bumi, kemari Nak. Nenek kenalkan pada cucu Nenek!"


"Tidak usah Nek, Rere sudah kenal. Bumi itu adik teman Rere. Sekaligus orang yang dicintai Akash, yang sering Rere ceritakan."


Bumi merasa tidak enak. Apa setelah ini Nenek Karin akan membencinya. Bumi melangkah mendekat dan meraih tangan Nenek Karina yang dibalas Nenek Karina dengan mengusap punggung tangan Bumi.


"Bumi, Saya bicara dengan Rere dulu. Kamu temani Nenek Karina ya?" Guntur tanpa mendapat jawaban sudah melangkah keluar bersama Rere.


Jadi Bumi diajak hanya untuk menemani Nenek Karina sedangkan Guntur menemui Rere.


"Dikerjain nih ceritanya?" gumam Bumi menertawakan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2