Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
71


__ADS_3

Hai kakak kakak reader kesayangan otor amburadul yang otaknya sebiji stoberi!!! Aku liat di statistik yang baca tuh banyak loh tapi like dan komennya dikit ya. Apa cuma di skip skip aja ya? hehe. Like dan komennya dong Kakak. Aku kan sayang kalian, mari kita warnai hari-hari di jagat noveltoon ini bersama-sama.


Follow ig Anisa_Harir.


*****


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 44 menit dengan melewati tol Cikopo, akhirnya ke empat anak manusia itu telah sampai kembali di Jakarta tepat pukul 21:00.


"Allhamdullillah"


Bumi mendudukan diri di sofa ruang tamu, diikuti Ayesha yang terlihat sangat lelah. Perubahan secara tiba-tiba pada tubuhnya itu membuatnya mudah lelah dan tak bersemangat.


Akash sendiri setelah membantu mengeluarkan barang-barang dari mobil pamit pulang. Berbincang sebentar dengan Bumi lalu pamit setelah menyuruh Bumi pindah ke kamar. Namun sebelun pergi, keduanya telah membuat janji untuk besok sore selepas Bumi pulang bekerja untuk bertemu.


****


Meski dalam kondisi tidak enak badan, Ayesha tetap memaksakan diri bekerja. Laut menitipkan istrinya pada Bumi. Mewanti-wanti agar segera menghubunginya jika terjadi sesuatu. Laut juga berjanji untuk datang pada jam istirahat agar dapat menemani Ayesha memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Untuk pertama kalinya hari itu Bumi bekerja menggunakan hijab, rekannya selalu berucap sama saat mengomentari perubahannya. "Semoga istiqomah ya, Bumi." Dan Bumi akan menjawabnya dengan aamiin yang panjang.


Pagi itu Bumi kembali bertemu dokter Guntur. Terlihat lebih kurus dari terakhir bertemu. Bumi dengan segala peralatan medisnya mengikuti langkah Guntur masuk ke ruangan kelas 3 bernama kenanga.


Dalam ruangan itu terdiri dari empat orang pasien dengan gejala penyakit yang sama. Yaitu, paru-paru.


Wajah-wajah pasien pagi itu terlihat sangat ceria, ditemani sanak keluarga masing-masing keenamnya sumringah mendapat kunjungan dari dokter dan suster yang akan memeriksanya.


"Pagi Pak Ham-ba-li," sapa Bumi menyapa Pasien bernama Hambali yang Dia tahu namanya dari secarik kertas yang dipegangnya.


"Saya yang periksa dan kamu yang catat ya?!" intruksi Guntur pada Bumi.


Guntur mulai memeriksa tekanan darah pasien dan menyebutkan hasilnya kemudian Bumi mencatatnya dengan telaten.


Setelah memberikan obat pada pasien yang satu, keduanya berpindah ke pasien yang lain. Begitu seterusnya hingga pasien ke empat.


Sebelum meninggalkan ruangan Bumi masih sempat menyemangati para pasien. Bicara penuh energi agar menularkan rasa percaya diri pada pasien untuk segera sembuh.


"Nanti kalau udah pulang, jangan lupa sama Bumi ya." Pinta Bumi sebelum mengakhiri pembicaraannya.


"Iya, suster." Kompak para pasien menjawab.


Bumi melambaikan tangan setelah mengucap salam. Menatap satu persatu pada pasien baru setelahnya pergi keluar.


"Bumi, bisa bicara sebentar?" tanya Guntur.


"Emang boleh? kan masih jam kerja!?" Bumi bertanya balik.


"Santai aja, duduk bentar yu di situ!" Guntur menunjuk kursi alumunium yang diletakan di depan kamar pasien.


"Kamu udah tahu rencana saya sama Andrea?" tanya Guntur tanpa basa-basi.

__ADS_1


Bumi mengangguk, meski tak 100 persen yakin akan berhasil. Dirinya tak ingin banyak berharap.


"Saya sebetulnya pernah pacaran sama Rere saat SMA," ucap Guntur, ingatannya kembali ke beberapa waktu silam.


"Saya tahu, Rere sebenarnya sempat menaruh perasaan pada Akash," lanjut Guntur.


Bumi masih diam tak berniat menjawab.


"Siapa yang tak terpesona pada Akash, kamu juga termasuk kan?" todong Guntur membuat pipi Bumi bersemu merah.


Cinta memang dahsyat, sekedar mendengar nama orang yang dicinta disebut, hati dapat bergetar hebat. Seperti yang Bumi rasakan sekarang.


"Tapi setelah bertemu lagi dengan saya karena Nenek Karina juga, saya memberanikan diri kembali menyatakan cinta pada Rere." Beri tahu Guntur pada Bumi.


"Rere ternyata menyambut dengan baik, bahkan terlihat kalau dia sangat menyayangi saya."


Bumi masih diam menyimak, belum tahu ke mana arah pembicaraan Guntur.


"Rere memang sudah melupakan Akash, mungkin karena Akash sendiri yang selalu bersikap tidak baik padanya."


"Iya saya tahu, Dok." Sahut Bumi, mulai terusik karena Guntur mulai menyinggung nama Akash.


"Saya harap kamu juga bisa berjuang untuk Akash," saran Guntur. "Rere bilang kamu mau menyerah?" selidik Guntur.


"Saya serahkan pada Allah, Dok." Jawab Bumi tersenyum tipis. "Terakhir kali saya percaya pada Kak Akash, hasilnya hanya kekecewaan."


"Saya nggak tahu harus dukung atau gimana dengan rencana kalian, sebab kalian akan membohongi banyak pihak di sini." Ucap Bumi penuh penekanan.


"Saya cuma mau bilang, berjuanglah untuk cinta kamu." Kata Guntur memberikan Bumi semangat.


"Kenapa tiba-tiba peduli pada saya?"


"Karena kamu orang baik," ucap Guntur seraya beranjak dan pergi meninggalkan Bumi.


"Ayo ke ruangan berikuynya!" seru Guntur tanpa menoleh.


Bumi berdecak sebal. Kembali beranjak menyusul langkah Guntur yang sudah masuk lebih dulu ke ruangan berikutnya.


****


Sesuai janjinya, siang itu Laut datang ke rumah sakit untuk menemani istrinya memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Setelah mendapar giliran, keduanya masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan. Dokter itu bernama Oktavia Diyanti, SpOG. Kebetulan Ayesha dan Dokter itu saling mengenal.


"Jadi udah telat berapa minggu nih?" tanya Via.


"Seminggu sih dok," jawab Ayesha.


"Ok, biasanya kalau seminggu telat itu artinya usia kandungannya 5 minggu." Ucap sang Dokter membuat Laut keheranan. Sementara Ayesha lebih tenang.

__ADS_1


"Usia kehamilan adalah panjang waktu kehamilan yang dihitung sejak hari pertama haid terakhir." Papar dokter Via.


"Dlam satu siklus menstruasi, sebuah sel telur dilepaskan oleh ovarium 14 hari sebelum haid berikutnya, ini yang disebut ovulasi."


Laut dan Ayesha masih menyimak, Laut mulai mengerti.


"Telur akan masuk ke dalam saluran di mana fertilisasi, hasil pembuahan terjadi."


"Selanjutnya hasil pembuahan akan ditransportasi ke dalam rahim, jika tidak terjadi kehamilan sel telur akan berdegenerasi dan dikeluarkan dari rahim bersama dengan darah haid."


"Jika tidak haid berarti proses pembuahan berhasil. Kehamilan biasanya dihitung dengan satuan minggu yang dimulai dari hari pertama haid terakhir."


"Berarti kalau seminggu telat, artinya usia kandungannya 5 minggu ya."


Begitulah penjelasan mendetail sang dokter. Laut mengangguk mengerti. Setelah melewati beberapa pemeriksaan, Ayesha dinyatakan positif hamil dengan usia kandungan 5 minggu.


Dokter tak lupa menyarankan agar Ayesha lebih banyak istirahat dan memakan asupan gizi yang baik mengingat morning sicknes akan terjadi sekitar tiga bulan awal usia kehamilan.


Laut sempat mengantar pulang terlebih dahulu Ayesha, sementara Bumi memilih pergi ke rumah Ummi untuk memberikan ayam serundeng titipan Ayas.


Bumi sengaja mengganti pakaian kerjanya dengan baju ganti yang dia bawa. Rok plisket berwarna hijau botol dia padukan dengan tunik berwarna cream dan hijab berwarna senada. Langkahnya sedikit berat saat mulai menapaki paving blok kediaman Ummi.


Nyalinya menciut saat gerbang tinggi itu dibuka oleh salah seorang pegawai di rumah Ummi. Kaki yang dibungkus sneaker putih seharga 200 ribuan itu melangkah pelan menuju ke dalam rumah.


Setelah dibukakan pintu oleh orang yang sama dengan yang membuka gerbang, Bumi mulai masuk ke dalam rumah. Dipersilahkan langsung ke teras belakang karena Ummi sedang bersantai di sana.


"Assallamuallaikum, Ummi," salam Bumi begitu mendapati Ummi di teras belakang.


"Waalaikumssallam, Sayang." Jawab Ummi seraya memeluk Bumi setelah Bumi mencium bolaj balik tangannya.


Bumi duduk di hadapan Ummi setelah dipersilahkan Ummu.


"Bumi bawa ayam serundeng titipan dari Mama," ucap Bumi meletakan bungkusan itu ke atas meja bulat dihadapannya.


"Allhamdullillah, jazzakilah khairan katsiiraa."


Tak lama seseorang datang membawakan Bumi minuman, Ummi memintanya sekalian membawa ayam serundeng itu untuk ditaruh ke dapur. Tak lupa Ummi meminta pegawainya itu memberi tahu Nadia akan kedatangan Bumi.


"Gimana kabar Mama kamu?" tanya Ummi.


"Allhamdullillah, Mama titip salam buat Ummi." Jawab Bumi yang dijawab dengan salam.


"Kak Bumi, kemana aja sih?" teriakan itu datang dari Nadia. Si gadis sholehah yang sedang jatuh cinta.


"Ada aja koq, kamu nih yang ke mana aja."


Keduanya saling berpelukan sebentar. Nadia ikut duduk pada kursi yang masih kosong. Hijab yang dikenakannya menarik perhatian Bumi. Hijab bergo bewarna hitam yang menutupi dada hingga perut. Yang menariknya adalah pada ujung hijab terdapat nama Nadia, mungkinkah sebagai merk?


"Kamu produksi hijab?" tanya Bumi, mengingat Nadia mengambil jurusan fashion design saat ini.

__ADS_1


"Coba-coba doang, Kak. Masih koleksi pribadi." Jawab Nadia dan di oh kan Bumi.


Tak lama suara salam dari Akash terdengar. Suara itu disusul oleh suara Zahra dan juga Ilham. Seketika hati Bumi menciut. Dirinya merasa mengerdil. Apa yang akan terjadi? pertemuan dengan Zahra adalah hal yang paling dia hindari.


__ADS_2