Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
67


__ADS_3

Kakak-kakak yang masih setia baca. Jangan lupa like, komen dan vote. Bisa minta tolong promosikan di sosmed kalian sekalian. Makasih.


*****


"Mam, Ayesha hamil." Beritahu Laut pada Ayas.


"Sudah dicek?" tanya Ayas tak yakin.


"Belum," keluh Laut. "Aku mau beli tespack sekarang." Lanjutnya seraya duduk dan mulai memakan sarapannya.


Kesemuanya melanjutkan makan tanpa patahan kata lagi. Hanya sendok dan piring yang saling beradu. Memindahkan sesuap demi sesuap nasi lezat itu ke dalam mulut. Hingga tandas tak berbekas.


Selesai makan Bumi merapikan meja, dibantu Akash. Walau awalnya Bumi menolak, tapi tetap kalah telak. Akash si batu yang diberi nyawa itu mana mau kalah.


Setelah kegiatan beberes selesai, Bumi dipanggil Ayas yang sedang menunjukan seragam untuk dipakai besok saat pernikahan Yudis.


"Suka nggak?" tanya Ibu saat Bumi menerima gaun panjang berwarna maroon itu.


"Bagus sih, tapi.... "


"Tapi apa?" tanya Ayas.


"Punyaku koq nggak ada hijabnya?" sesal Bumi.


Ayas mengkerutkan keningnya. Bumi kan memang tidak pakai hijab. Begitu pikirnya.


"Emang Kamu mau pakai hijab?"


"Mau lah Mam," aku Bumi kemudian katanya, "masa ke rumah ustad nggak pakai kerudung."


"Mama kira Kamu masih cuek," ucap Ayas. Tangannya kini mengusap pipi Bumi yang sedang mengerucutkan bibirnya.


"Nggak salah dong kalau Aku mau berubah?" tanya Bumi.


"Ya udah pakai hijab Uti, mau?" tawar Uti memberi solusi.


Bumi tambah merengut. Mengingat kerudung milik Uti pastilah bukan fashion seusianya. Bumi kembali memperhatikan gaun panjang di tangannya.


"Hijabnya warna apa Mam?" tanya Bumi lagi.


"Pink nude," beritahu Ayas seraya memperlihatkan hijab segi empat berukuran 130x130 itu. sudah dipastikan akan menutup dada hingga perut saat dipakai nanti.


Akash hanya menjadi penonton melihat interaksi ketiga wanita beda usia itu. Bumi masih menyisakan kekesalan di wajahnya. Sementara Uti memberikan saran yang tidak solutif. Dikata Uti, Bumi boleh saja menyanggul rambutnya nanti dipinjami konde jadul Uti. Hal itu mengundang tawa Ayas dan membuat Bumi merengut tentunya.


"Seru amat sih cewek-cewek ngobrolnya!?" adalah suara Akash yang baru datang.


"Apanya yang seru, lagi debat gini!" seru Bumi dengan dengusan kesal.


"Ya sudah, Kamu pakai punya Mama." Ujar Ayas menyerahkan jilbab itu ke pangkuan Bumi. "Nanti Mama pakai yang lain," ucapnya lagi.


"Tapi warnanya?" tanya Bumi.


"Mama punya koq, tenang aja." Kali ini usulan Ayaslah yang solutif.


Bumi tersenyum akhirnya masalah terselesaikan. Dia melipat rapi baju dan jilbabnya.


"Kash, anter Gue cari tespack, yuk!" ajak Laut pada Akash yang sedari tadi tak melepaskan pandangan dari Bumi.

__ADS_1


"Ayok!" sesingkat itu Akash menjawab.


"Ikut dong, Kak!" pinta Bumi yang langsung dilarang Uti.


"Kenapa nggak boleh sih?" rengek Bumi, baru saja baikan.


"Kamu antar paman nganterin sayuran ke rumah calon istri saja!" seru Yudis yang baru sampai rumah lepas dari pasar.


Yudis langsung duduk di samping Uti. Mengibas tangan ke wajah karena kepanasan. Nafasnya terengah-engah menandakan bahwa seberapa besar lelah yang dirasakannya.


"Nggak mau!" tolak Bumi.


"Dek, udah nurut aja!" seru Akash yang sudah mulai berdiri bersama Laut.


"Iya, lagian ngapain juga ikut?" tanya Laut.


Bumi tak menjawab hanya dengusan kecil dengan bibir mengerucut.


"Kita pergi dulu, ya." Pamit Laut pada kesemua orang.


"Hati-hati!" kompak Uti, Ayas dan Yudis berseru.


"Dek, dilepas handuknya. Nanti pusing." Ucap Akash sebelum benar-benar pergi.


Bumi memegangi kepalanya. Sampai tidak sadar masih menempel handuk membungkus rambutnya itu.


"Nah, bagaimana kalau besok juga pakai handuk saja?" kelakar Uti disambut tawa Ayas dan Yudis.


"Uti...." rengek Bumi, manja.


"Udah sana ganti baju, temani Paman." Sekali lagi Yudis membujuk Bumi.


"Nanti kita makan Bakso langganan," tawar Yudis.


Bumi berfikir sejenak. Ingatannya langsung pada bakso terenak dari yang sering Dia makan. Bakso kampung yang mangkal di ujung kampung. Bakso murah meriah dengan rasa istimewa.


"Boleh deh," ujar Bumi seraya berdiri. "Aku ganti baju dulu." teriaknya sambil berlalu membawa baju dan hijabnya.


Ayas hanya tersenyum melihat tingkah putrinya itu.


"Sudah besar ya, Bumi." Ujar Uti dengan wajah sendu.


Ingatannya kembali pada masa-masa dulu Bumi kecil. Sedikit sesal tidak membekali Bumi ilmu agama yang kuat sejak dini.


"Maafkan Ibu karena kurang mendidiknya perihal agama," sesal Uti.


"Jangan bicara seperti itu, Bu." Hibur Ayas. Tangannya mengusap punggung tangan Uti. "Lihat sekarang Dia mulai memperbaiki dirinya sendiri," tambah Ayas.


"Iya, tadi shubuh Aku dengar Dia mengaji." Kata Yudis.


"Dia selalu membaca Surah Yasin selepas shubuh," beri tahu Ayas.


"Alhamdullillah, Semoga disegerakan keinginan berhijab." Ujar uti yang diamini Yudis dan Ayas.


*****


Setelah berpakaian rapi, tidak lupa mengenakan hijab yang dipinjam dari Ayesha yang kini memilih berbaring di kamarnya, Bumi segera menghampiri Yudis yang sudah menungguinya di teras.

__ADS_1


Pohon mangga besar di depan rumah Uti sedang berbuah walau masih terlihat muda. Bumi memperhatikannya sejenak. Teringat waktu kecil pernah diam-diam menaiki pohon itu dan tidak bisa turun.


Jelas tetangga dan Keluarga dibuat panik dengan tingkahnya. Hampir setengah jam Bumi menangis sembari nangkring di atas pohon sementara Yudis saat itu sibuk mencari tangga, meminjamnya dari tetangga.


"Kenapa senyum-senyum?" todong Yudis.


"Inget waktu Aku naik pohon nggak bisa turunnya," jawab Bumi. Dia mengenakan celana kulot dengan sweater oversize warna lilac senada dengan hijab segi empatnya.


"Kirain apa," ujar Yudis. "Ayok jalan!" ajak Yudis.


Sebuah mobil pick up sudah terparkir di halaman. Bermacam sayuran dan bahan masakan lain kuga kardus bakso yang dibeli Bumi hari kemarin sudah berkumpul di bak belakang mobil.


"Banyak amat, Paman!" seru Bumi saat duduk di kursi penumpang.


"Semampunya Paman saja," Yudis merendah.


Bumi tak lagi berkomentar. Tangannya mulai menggulirkan jari di atas ponsel. Mencari aplikasi mp3 dan mulai memplay sebuah lagu dari Raisa dengan judul kali kedua. Earphone sudah terpasang sedari tadi.


"Maka cintamu pasti bisa, mengubah jalan hidupku," samar-samar suaranya mengikuti alunan lagu dari salah satu penyanyi terkenal itu.


Yudis hanya menggeleng melihat tingkahnya. Mobil sudah melaju meninggalkan rumah Uti.


"Pegang tanganku, bersama jatuh cinta." Bumi kembali berdendang pada bagian Reff lagu yang diciptakan Dewi Dee Lestari itu, seorang hit maker Indonesia.


Yudis menepikan mobil di sebuah warung kopi kecil. Sudah ada beberapa orang pemuda tanggung memakai sarung dan peci di sana.


"Assallamualaikum" salam Yudis pada para santri yang berjumlah 4 orang itu. Kompak mereka menjawab salam Yudis serta menyalaminya.


Bumi ikut turun tanpa mematikan musik dari ponselnya. Kali ini dia sedang memutar lagu I Love You 3000 nya Stephanie Poetri. Bibirnya kembali ikut bergumam pada bait awal lagu, "Babby take my hand, I want you to be my husband. 'Cause you're my iron man. And I Love You 3000."


Paman Yudis langsung mempersilahkan para santri itu membawa barang-barang yang ada di atas bak mobil untuk diberikan pada keluarga calon istrinya.


Keempat pemuda tanggung itu membawa barang-barang tanpa mengeluhkan berat sekalipun. Otot mereka sudah terlatih kuat.


"Kanapa nggak langsung ke rumahnya?" tanya Bumi yang sekarang sudah duduk di kursi panjang bersama pamannya.


"Kan lagi dipingit," jawaban singkat diberikan Yudis seraya menenggak minuman gelas berperisa mangga.


"Jangan keseringan minum kayak gitu," protes Bumi. "Nggak baik, kandungan gulanya dapat mengakibatkan risiko diabet." Lanjut Bumi, kemudian katanya lagi, "Bisa mengakibatkan kanker pankreas juga."


Sontak paman Yudis langsung membuang gelas plastik yang masih berisi setengah cairan berwarna kuning itu.


"Ngeri juga, ya?" ucap paman Yudis.


"Makanya kalau haus minum air putih saja," usul Bumi kembali melanjutkan bicara, "air hangat lebih baik, manfaatnya banyak."


"Kurang suka air hangat, di sini kan cuacanya panas." Keluh Yudis.


"Salah satu manfaat meminum air hangat itu adalah memperlancar peredaran darah." Ucap Bumu. Ponselnga kini menyuguhkan lagu Katty peri yang berjudul A thousand year, sebuah soundtrarck dari film kenamaan berjudul Breaking Dawn dengan tokoh utama Robbert Patinson dan Kristen Stewart. Film ini diadaptasi dari sebuah novel karya Stephani Meyer yang dirilis pada tahun 2011.


"Assallamuallaikum"


Salam seorang pria bersarung yang tiba-tiba mengagetkan keduanya. Pria itu menyalami Yudis, mencium punggung tangan Yudis.


Sementara pada Bumi, Dia mengatupkan kedua tangan di bawah dagu. Tak lupa seulas senyum manis dan dibalas Bumi dengan hal serupa.


"Ini Dia ponakan Saya, Bumi." Ujar paman Yudis memperkenalkan Bumi.

__ADS_1


"Saya, Hafidz." Pria itu memperkenalkan diri.


__ADS_2