
Bumi menepati janjinya, setelah satu jam Dia kembali menghubungi Nina.
"Sudah bangun belum, Mbak?"
"Sudah tapi katanya masih lemas, Mbak Bumi mau ke sini nggak?"
Bumi tidak langsung menjawab, Dia melipat bibirnya lalu berdecak.
"Saya sebenarnya capek banget, mbak. Tapi, nanti diusahakan ke situ. Sekalian saya mau berikan vitamin."
"Ya sudah, saya lanjut kerja ya Mbak."
Bumi memutus panggilannya setelah salamnya dibalas Nina. Dia kembali ke ruangannya. Rasanya butuh sekali nasihat, pencerahan. Tapi, jika bertanya pada Mamanya Dia malu sekali. Bumi hanya ingin bisa melepaskan dengan ikhlas. Dengan asal jarinya menggulirkan layar ponsel dan menyentuh aplikasi instagram. Dia tertarik pada sebuah quote yang entah siapa pemilik akunnya. MERELAKAN ADALAH BUNGA YANG TUMBUH DARI DAHAN BERNAMA KEIKHLASAN.
Bumi berfikir sejenak, sudahkah Dia ikhlas?.
"Dek, ngelamun terus sih? mau izin pulang aja?" Tanya Ayesha.
"Kakak pernah nggak sih kehilangan sesuatu yang paling berharga, gimana sih caranya biar Kita ikhlas?"
"Nggak pernah, Aku kan orangnya teliti. Hmm Aku nggak bisa nasehatin Kamu. Aku cuma bisa nyuruh Kamu pulang aja gih, Kamu kerjanya kalau kayak gini malah salah data keadaan pasien nantinya."
Bumi terlihat berfikir. Rasanya belum pernah Dia mengalami tekanan seperti ini sebelumnya. Keyakinannya tentang Akash yang bisa menggagalkan pernikahannya berbuntut kekecewaan. Undangan saja sudah siap disebar. Apalagi yang bisa Dia lakukan selain menerima.
"Ya sudah Aku pulang, Aku mampir bentar ke restoran Kak Akash. Sekalian bawakan Dia vitamin." Bumi beranjak dan mengambil cardigan yang ditaruhnya di dalam ransel kemudian segera berlalu meninggalkan Rere setelah berpelukan dan salamnya dijawab Rere.
*****
Sementara itu di restoran Akash sedang menerima tamu, Anggara. Calon mertuanya itu sengaja datang dan mengajak bicara serius tanpa basa-basi.
"Saya sudah tahu apa yang terjadi di antara Kamu dan gadis itu, jika penyebab Rere pergi tempo hari adalah karena hal itu Saya pastikan posisi Kakaknya terancam dari perusahaan."
Akash mengepalkan tangan mendengar kalimat panjang lebar itu. Sebuah ancaman sudah terang-terangan dilayangkan Anggara.
"Saya mengerti, Pak. Anda tidak perlu khawatir." Akash harus sedikit menurut pada calon mertuanya itu agar keadaan tidak semakin rumit.
"Bagus, sampai berjumpa saat ijab kabul. Jangan pernah macam-macam. Silahkan jika ingin sekedar menghabiskan waktu sebelum Kalian benar-benar harus berpisah. Saya permisi." Ucap Anggara berdiri dengan elegan dan melangkah seraya mengancingkan jasnya yang Dia buka saat hendak duduk tadi.
Bumi berlari-lari kecil menyebrang dari rumah sakit menuju restoran karena gerimis mulai turun. Saat di depan restoran Dia berpapasan dengan Anggara. Bumi mengenalnya, Dia sempat melihatnya tempo hari di kediaman Ummi. Anggara berjalan dengan tatapan angkuh saat berpapasan dengan Bumi. Seolah tersihir, bola mata Bumi mengikuti langkah pria berwibawa itu dari mulai membuka pintu mobil hingga melajukannya.
__ADS_1
"Bukan tandingan lagi itu sih." Bumi mendesah lalu kembali melanjutkan langkah dengan merapikan poni rambutnya yang tertiup angin.
Saat tiba di depan kamar Akash, Dia melihat Nina baru saja keluar dari sana.
"Mbak, udah bangun Dia?"
"Sudah Mbak, barusan Saya membawakan bubur. Silahkan Mbak kalau mau masuk."
"Makasih, Mbak."
Bumi segera membuka kembali pintu yang sebelumnya sudah ditutup oleh Nina. Dia langsung menangkap sosok Akash duduk menghadap jendela, melihat rumah barunya yang sudah jadi.
"Assallamuallaikum, Kak."
Salam dari Bumi membuat pria itu memutar badannya dan menyambut salam dari gadis yang rambutnya sedikit basah itu.
"Waalaikumsalaam, Kamu tumben jam segini sudah selesai? tanya Akash seraya berdiri dari duduknya.
"Iya, lagi kurang fokus jadi disuruh pulang sama Kak Ayesha." Kata Bumi seraya menyerahkan plastik kecil berisi tablet vitamin pada Akash dan langsung diterima olehnya.
Akash melihat dan membacanya sekilas, senyum mengembang di bibirnya.
Bumi mengacungkan jempolnya seraya mengerlingkan matanya lalu tertawa kecil.
"Kita ke rumah Ummi yuk?"
"Kapan?"
"Sekarang, yuk?"
Bumi berfikor sejenak. Mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya.
"Mau lah ya, Ayok."
Akash segera menarik ujung lengan cardigannya setelah meletakan vitamin itu sembarangan di atas kasur. Bumi mau tidak mau harua mengikuti langkah kaki Akash.
"Nggap pakai jilbab lho ini?"
"Nggak apa-apa, kan bukan mau pengajian."
__ADS_1
Akash masih terus melangkah dengan memegangi cardigab Bumi. Bumi senyum-senyum sendiri. Ini lebih mirip seorang paman yang sedang mengasuh keponakannya.
"Pelan-pelan Bos jalannya, Kakiku pendek." Ujar Bumi yang kepayahan mengimbangi langkah Akash. Akash berhenti membuay Bumi ikut berhenti.
"Mau pegangan tangan atau digendong biar cepat sampai depan?"
"Aku lari duluan aja, pilihannya sulit." Bumi tersenyum meringis lalu melarikan diri tanpa mempedulikan Akash yang masih berdiam dan menggeleng melihat tingkahnya.
Bukan tanpa alasan Akash mengajak Bumi pergi ke rumah Umminya. Tujuan utamanya adalah menukar mobil Umminya dengan motornya yang Dia taruh di sana.
Jalanan di sore hari sedikit padat, suara klakson saling bersahutan menandakan orang yang membunyikannya adalah orang dengan tingkat kesabaran terendah.
"Nyalain musik, Kak!"
Bumi memberi usul agar mengusir kebosanan saat terjebak macet seperti ini. Akash menggeleng, Dan, memberikan alasan bahwa Umminya tidak suka jika anak-anaknya menyalakan musik saat berkendara.
"Ya udah Aku dengar dari ponsel Aku aja pake earphone." Bumi mulai membuka galeri musik dan memplay sembarang lagunya. Ternyata lagu surrender milik Natalie Taylor yang langsung telinganya dengar.
Deg.
Lirik lagu itu kenapa cocok sekali dengan keadaan hubungannya dengan Akash. Bumi tanpa sadar ikut melantunkan bait demi bait lagu tersebut. Dan, akan melirik Akash tepat saat kata surrender dia lafalkan.
Kendaraan mulai melaju, kemacetan mulai terurai sebab hujan turun dengan deras membuat para pengendara roda dua memilih menepi untuk meneduh. Kesempatan ini tentu digunakan para pengendara roda empat berebut untuk melajukan kendaraannya paling depan.
Akash melirik Bumi yang masih melafalkan lagu dan sesekali juga meliriknya dengan mata berkaca-kaca.
"Denger lagu apa sih sampe menghayati gitu?"
Pertanyaan Akash tentu tidak didengar Bumi, Dia terlalu hanyut dengan lirik lagu dan memilih memandang keluar jendela. Melihat hujan deras yang dengan ikhlas turun dan terjatuh tanpa meminta kembali.
Akash menarik sebelah earphone Bumi dan meletakkannya di kuping. Tepat saat lagi-lagi kata surrender yang berputar di ponselnya. Akash langsung tersadar. Lagu itu memang memiliki arti yang seperrtinha cocok sekali dengan keadaannya saat ini.
"Jangan dilanjut, matikan. Jangan terlalu menghubung-hubungkan sebuah lagu dengan keadaan Kita apalagi membuat Kita sedih." Akash dengan kasarnya menarik erphone dari telingan Bumi hingga terlepas.
"Maaf, Aku nggak mau kamu terlalu larut dalam kesedihan ini. Ini memang berat, tapi Aku ternyata nggak bisa melawannya. Aku terlalu kecil melawan Anggara dan Ilham." Akash menepuk stir mobilnya dengan kaca yang membingkai bola matanya. Sekejap saja Dia berkedip maka kaca itu akan pecah.
"Kita sama-sama menyerah saja ya, Kak?" Bumi mengajukan usulan. Tanpa berfikir panjang, Akash mengangguk. Semakin Dia keukeuh ingin menyudahi perjodohan maka akan semakin mengancam posisi Laut.
"Kita harus sama-sama saling melepaskan," ucap Akash seraya membunyikan klakson meminta seseorang membuka gerbang tinggi rumah Umminya. Tak lama pintu dibuka oleh seorang asisten rumah tangga. Akash segera melajukan kembali mobil setelah membunyikan klakson dan mengangguk hormat seraya tersenyum pada pegawai Umminya.
__ADS_1
"Kita sudahi saja kisah kita, Bumi. Maaf nyatanya Aku hanya mampu mengembalikanmu ke Bumi tanpa mengajkmu melayang lebih lama." Ucap Akash seraya keluar terlebih dulu dari mobil.