Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
100


__ADS_3

Tak main-main, dalam bagasi mobil kijang berwarna hijau itu banyak sekali oleh-oleh yang Bu Haji bawakan. 10 kilogram gula batu, 10 bungkus teh tubruk aroma melati, 10 bungkus telur asin asli serta sekantung besar kacang tanah hasil panen beberapa waktu lalu. Masih ditambah sekardus mangga dan ayam serundeng buatan Ayas.


Hati Bumi gelisah sepanjang jalan. Ingin bertanya pada Zahra apa Akash ada di rumah, tapi rasanya malu. Padahal sudah berkali-kali mengetikkan pesan, namun kembali dia hapus.


Sampai akhirnya mobil yang dilajukan Hafidz tiba di gerbang rumah Ummi. Gerbang tinggi yang mewah.


"Aduh, ini nggak salah rumah, Bumi?" Pekik Bu Haji memegangi kepalanya.


"Ini memang rumahnya, mbak." Ayas bantu menjawab pertanyaan Bu Haji sebab Bumi kelihatannya sedang melamun.


"Mas, kenapa kamu nggak bilang rumahnya gedong begini?" Protes Bu Haji. "Kamu nggak mikir dulu bisa jatuh cinta sama anak orang kaya?" imbuhnya.


"Kan Mas sudah bilang, Mas minder sama Khumaira." Sahut Hafidz. "Jadi kita masuk jangan?" tanya Hafidz, "atau mau balik lagi aja?" tawarnya.


"Eeh udah sampai ya?" Bumi baru menyadari sedang di mana mereka sekarang.


"Aku buka gerbangnya dulu,"


Bumi turun dari mobil, berjalan ke arah gerbang dan membukanya. Bodoh sekali, bisa saja kan telpon Zahra untuk minta tolong gerbang dibukakan. Eh, Hafidz juga kenapa ikut-ikutan bodoh. Mestinya dia bunyikan klakson biar nanti Mang Mamin yang buka gerbang.


"Eeh Mbak, kenapa nggak klaksonin saya, Mbak?" tanya Mang Mamin berlari-lari kecil menghampiri Bumi.


"Biasa Mang, kalau lagi laper bawaannya jadi gini." Jawab Bumi, kemudian melambaikan tangan pada Hafidz agar melajukan mobilnya.


"Aku ke dalam ya, Mang, jangan lupa tutup lagi gerbangnya." Bumi mengedipkan sebelah matanya seraya menembak Mang Mamin dengan ibu jari dan telunjuk yang dibuat seperti pistol.


Mang Mamin hanya rerkekeh dengan tingkah Bumi, tak pernah berubah sedari kecil. Hanya sekarang memakai hijab saja.


Bumi menunggui rombongan di depan pintu utama, tak lama Hafidz menepikan mobil. Entah apa yang membuat mereka berlama-lama dalam mobil, tak kunjung turun.


Dengan malas Bumi mengetuk kaca mobil, segera Hafidz membukanya.


"Ngapain sih? lama banget turunnya?" todong Bumi, memutar bola mata sudah jengah dan lelah.


"Iya, ini mau turun."


Hafidz kembali menutup pintu mobil, kemudian semuanya turun. Tak lupa oleh-oleh dikeluarkan. Mang Mamin ikut membantu.


"Ini banyak amat, Mbak." Mang Mamin berkomentar, sekuat tenaga Beliau mengangkat kardus berisi 10 kilogram gula batu.


"Isinya bom, Mang, hati-hati bawanya." Canda Bumi, tersenyum miring.


Sontak membuat Mang Mamin melepaskan pegangannya pada kardus, membuatnya terjatuh ke atas paving blok.

__ADS_1


"Waah, sebentar lagi meledak tuh, awas!" seru Bumi menunjuk-nunjuk kardus yang terjungkal bebas.


Mang Mamin sudah kocar-kacir, tubuh gempalnya berlari menuju pos jaga. Sambil terus memegangi dadanya dan mulut yang bersungut-sungut.


"Bumi, kamu dari kecil suka banget jahilin Mang Mamin." Protes Ayas, tangannya sudah penuh membawa barang.


"Hiburan, Mam, nanti aku minta maaf." Bumi tertawa kecil, kardus yang tadi dijatuhkan oleh Mang Mamin dia angkat, sambil tertatih karena berat. Menyesal juga telah menjahili Mang Mamin, tak ada yang membantu.


Bumi segera menekan bel, Bu Haji dan Hafidz nampak gugup. Terlihat dari berkali-kali mereka mengusap dahi padahal tak ada keringat di sana.


"Jangan panik, bukan mau ketemu malaikat koq." Canda Bumi yang dibalas cubitan di tangan oleh Ayas.


Tak lama pintu dibuka, langsung menampakkan Zahra yang memakai gamis syar'i berwarna hitam, senada dengan kerudungnya.


Rombongan mengucap salam dan tentu dijawab ramah oleh Zahra. Selanjutnya mereka masuk setelah dipersilahkan oleh Zahra.


Oleh-oleh dibiarkan di depan pintu atas saran Zahra, nanti dibereskan ke dalam oleh asistwn rumah tangga. Zahra memanggil Mang Mamin agar membantu membawa barang-barang ke dalam. Ketar-ketir Mang Mamin menghampiri.


Mang Mamin bertanya apakah ada bom? dijawab tidak ada oleh Zahra. Dan, Mang Mamin menyadari sesuatu, Bumi menjahilinya.


Setelah semua duduk, Zahra pamit sebentar ke dalam. Tak lama kembali bersama Ummi yang berjalan dipapah Zahra.


"Assallamualikum," sapa Ummi ramah.


Bumi beranjak, berhamburan ke pelukan Ummi. Tentu saja Ummi menyambutnya hangat. Dibelai halus kepala bagian belakang Bumi.


"Apa kabar, Sayang?" suara Ummi terdengar menahan tangis. "Ummi rindu sekali sama Bumi." Ujar Ummi, tangannya mulai mengusap punggung Bumi.


"Bumi selalu baik, selalu rindu juga sama Ummi." Dalam pelukan itu Bumi dan Ummi saling menyapa, Ummi menahan tangis tapi justru Bumi sudah membasahi hijab Ummi dengan air matanya.


Keduanya melepas pelukkan bersamaan, saling menatap dan melempar senyum. Bumi memapah Ummi untuk duduk di sofa yang masih kosong.


"Apa kabar, Bu Ayas?" sapa Ummi, pandangannya beralih pada Ayas.


"Allhamdullillah, Ummi." Ayas beranjak mendekati Ummi, keduanya saling bersalaman dan sekilas berpelukkan.


"Selamat datang di rumah kami, ya, Pak, Bu, dan ....," Ummi tersenyum ramah menyapa Pak Haji, Bu Haji dan Hafidz.


"Saya, Hafidz, Ummi. Dan ini kedua orang tua saya." Hafidz mengatupkan tangan di bawah dagunya.


Malu-malu Bu Haji melakukan hal sama, hanya Pak Haji yang terlihat tenang.


"Gimana perjalanannya?" tanya Ummi.

__ADS_1


"Allhamdullillah lancar, Ummi." Jawab Hafidz, terdengar sekali suaranya bergetar.


Zahra setelah mengantar Ummi tadi, segera memanggil Nadia di kamarnya. Nadia yang sedang membaca novel awalnya enggan turun saat diberitahu ada tamu. Tapi, Zahra berhasil membujuknya dengan iming-iming akan membelikannya koin untuk membuka gembok novel kesayangannya.


Meski dengan bersungut-sungut dan kaki yang dihentak-hentakan Nadia mengikuti langkah Zahra.


"Awas ya, Kak kalau tamunya nggak penting!" ancam Nadia.


"Kalau nggak penting langsung usir aja, Dek." Zahra melirik adiknya yang masih merajuk.


Tak lama langkah keduanya sampai di ruang tamu, semakin membuat Hafidz gugup. Dan Nadia,


"Abqari ....," pekik Nadia, matanya mengerjap-ngerjap dengan mulut menganga yang dia tutup menggunakan kedua tangannya.


"Usir jangan, nih?" Zahra menyiku perut Nadia. Yang disiku tak bergeming, tetap pada posisinya.


"Nadia, salam, Nad bukan bengong." Tegur Ummi, namun masih tak membuatnya tersadar.


Akhirnya Zahra menepuk pundak adiknya itu, barulah Nadia tersadar. Dia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Gemetaran dia mengucap salam dan menyalami satu-satu tamunya.


Tiba saat menyalami Bumi, Nadia berhamburan ke pelukkan orang yang sudah dianggapnya seperti Kakak kandungnya itu.


"Kak Bumi jahat, chat aku nggak dibales, Telponku diabaikan. Aku DM nggak ada jawaban, tega kamu, kak." Rentetan protes terujar dari bibir Nadia. Pukulan-pukulan kecil di punggung, membuat Bumi meringis, tak sakit hanya sedikit ngilu.


"Maaf, Dek. Yang penting sekarang aku di sini. Langsung bawa orangnya, sama orang tuanya pula." Bisik Bumi, membuat Nadia mengurai pelukkannya. Keduanya saling memandang, Bumi menghapus air mata pada pipi merah Nadia. Kemudian keduanya tertawa, entah untuk apa.


"Bu Haji, kenalkan ini, Nadia. Calon menantu Bu Haji." Ujar Bumi.


Ummi yang sudah diberitahu Zahra tidak kaget, justru Nadia yang tercengang.


"Salam kenal ya, Nak Nadia." Patah-patah Bu Haji Endah menyapa Nadia, yang disapa mengangguk.


"Sebelumnya maaf, mungkin kedatangan kami sangat lancang ya," ujar Pak Haji Ma'sum. Wibawanya mulai keluar.


"Tapi, apakah di sini ada anggota keluarga laki-laki?" tanya Pak Haji, pandangannya menyapu seluruh ruangan.


"Ada, Pak, saya panggilkan sebentar." Zahra berujar seraya beranjak meninggalkan ruangan itu.


Kali ini giliran Bumi yang dibuat gugup, meski tak mau terlalu berharap tapi jika memang yang dipanggil itu adalah Akash mungkin ini akan jadi pertemuan yang lebih baik dari sebelumnya.


(灬♥ω♥灬)


meow, apa ada yang masih suka dengan ceritanya? terimakasih yang sudah komen dan like. Aku tunggu di ig anisa_harir yaaa.

__ADS_1


__ADS_2