Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
104


__ADS_3

Bukan tanpa alasan Akash ingin mengadakan syukuran Bada ashar. Apalagi hari pernikahannya tepat di hari kamis, masuk ke dalam hari jum'at jika sudah lewat ashar. Dia ingin mencari keberkahan di waktu ashar itu. Doanya tak banyak, hanya ingin menjadi suami dan ayah yang dapat menjadi tauladan bagi anak istrinya.


Menjelang maghrib acara itu selesai, ditutup doa serta santunan terhadap anak yatim yang agendanya mendadak Akash masukkan pada jadwal syukuran.


Selesai sarapan menjelang makan siang tadi, dirinya meminta bantuan satpam untuk mengundang anak yatim di sekitaran luar perumahan.


"Waaah selamat ya, Bang. Nggak sia-sia tempo hari semalaman tidur di teras, dan sekarang dinikahin juga," seloroh satpam kompleks membuat Akash ingat bahwa dialah orang yang Akash titipkan motor tempo hari.


Perkataan satpam itu didengar juga oleh Bumi, hatinya tiba-tiba berdenyut nyeri.


"Maaf, ya. Aku dulu suka tega sama Kakak," sesal Bumi seraya memeluk lengn Akash


"Kamu tuh nggak bisa dimaafkan, nanti kamu harus bayar kesalahan kamu," cicit Akash menciutkan nyali Bumi.


"Bayar pake apa? aku kan sekarang pengangguran," keluh Bumi mengiba.


"Aku nggak minta uang kok," ucap Akash sedikit membuat Bumi lega. "Cuma minta sedikit waktu dan tenaga kamu aja," imbuhnya, terdengar ambigu. Namun Bumi tak mau ambil pusing dia mengangguk saja atas perkataan suaminya itu.


Keduanya kini berada di kamar, Akash tidur di pangkuan Bumi, benar-benar menagih bayaran yang dia katakan sore tadi.


"Jadi pijat kepala doang kan bayarannya?" Bumi dengan gerakkan lembut memijat kepala suaminya.


"Nggak dong, ada yang lain," ujarnya dengan mata terpejam.


"Apa?" tanya Bumi penasaran, asalkan jangan uang.


Akash tiba-tiba duduk, menghadap ke arah Bumi. Ditatapnya lekat-lekat istri yang rambutnya kini sudah agak panjang itu.


"Salat dua rakaat dulu, yuk!" ajaknya, "jangan protes, nanti dilaknat sama Allah." Akash memberi peringatan, telunjuknya terangkat ke hadapan wajah Bumi.


"Kakak bikin aku takut, ih." Bumi merajuk, seraya bangkit.

__ADS_1


"Eh mau ke mana?" teriak Akash.


"Ambil wudu, katanya mau shalat, " jawab Bumi suaranya hilang di balik pintu kamar mandi.


Akash menggeleng dengan tingkah polos istrinya itu. Apa Bumi mengerti shalat dua rakaatnya bertujuan untuk apa.


"Bumi ... Bumi," gumam Akash seraya turun dari tempat tidur menunggui Bumi.


Bumi ternyata tak lama keluar dari kamar mandi. Wajah dan tangannya basah, sengaja tidak dilap. Membuat bulu-bulu halusnya tertidur, seperti putri malu yang disentuh.


Akash berniat memegang tangannya, mencoba menjahilinya.


"Kakak ih, nanti aku batal lagi," pekik Bumi, menjauh dengan sengaja mencipratkan sisa-sisa air yang masih ada di tangannya.


Akash tak menjawab, hanya mengerlingkan mata seraya masuk ke dalam kamar mandi tanpa menutup pintunya.


Saat kembali mengambil air wudhu Bumi sudah siap menjadi makmum. Bahkan sajadah dan sarung untuk Akash shalat sudah ia siapkan. Akash segera memakai perlengkapan shalatnya. Tak lupa peci hitam pemberian Bumi tempo hari turut ia pakai.


Shalat berjamaah pertama untuk keduanya, membuat Bumi meneteskan air mata di akhir salamnya. Tak cepat beranjak keduanya menyempatkan berdoa dan kembali bersujud sebelum akhirnya membereskan kembali mukena dan yang lainnya.


"Cuma ini yang besar, Kak." Ucapnya seraya memasukan baju itu ke kepala suaminya. Selanjutnya Akash sendiri yang memakainya hingga sempurna melekat pada tubuhnya.


"Tangannya kepanjangan, Dek." Keluh Akash menunjukkan tangannya hilang akibat lengan baju yang terlalu panjang.


Kekehan dari bibir Bumi, dia dengan telaten menggulung lengan baju Akash hingga tangannya kembali terlihat.


"Aku berasa punya anak kalau kayak gini," ujar Bumi seraya tangannya merapikan rambut Akash yang berantakan.


"Janji untuk selalu melakukan hal-hal kecil seperti ini setiap hari?" pinta Akash, jari kelingkingnya terangkat ke udara, meminta disambut oleh kelingking istrinya. Dia tahu dari Alisha kalau berjanji harus saling menautkan kelingking.


"Insya Allah," Bumi menautkan kelingkingnya. Keduanya tertawa dan saling menikmati kebersamaan itu.

__ADS_1



"Tapi masih ada satu yang belum dilakukan buat bayarannya," ucap Akash setelah Bumi menarik tangannya kembali.


Bumi terlihat berfikir, dia beranjak dari tempat tidur dengan gerakan slow motion. Kini berdiri di tepi tempat tidur, menatap tepat pada manik hitam Akash.


Bumi melakukan hal yang di luar dugaan Akash, dia meloloskan pakaian dari tubuhnya. Di balik sikapnya yang terkadang masih kekanak-kanakan dan polos, tubuh sintal itu nyatanya membuat Akash bergetar hanya dengan melihatnya. Benar-benar gambaran ranum yang sesungguhnya. Hampir air liur menetes dari ujung bibir Akash. Akal sehatnya tak lagi waras, dia ingin sekali menarik istrinya saat itu juga.


"Tadi kita sholat untuk ini, kan?"


Paras Bumi memang manis, kulitnya yang kuning langsat bersih terpendar-pendar diterpa cahaya lampu. Akash benar-benar sudah tidak bisa menahan hanya berdiam diri.


Dia beranjak, menarik dengan halus tangan Bumi. Membawa tubuh itu kembali ke tempat di mana seharusnya mereka melakukan itu. Bumi tak menolak setiap usapan lembut itu. Dia turut dan hanyut.


Akash mendekatkan wajahnya ke wajah Bumi. Keduanya bermain di sana, Bumi benar-benar menyambutnya sepenuh hati. Keduanya hanyut dalam buaian yang indah.


Seolah sedang bermain di atas awan, menyenangkan tak ingin diganggu. Aliran darah yang terasa begitu hangat, gelenyar aneh namun membuat keduanya enggan melepaskan.


Akash membawa Bumi menuju nirwana, membuainya dengan rasa yang baru ia kenal dan mungkin akan selalu ingin ia rasakan setelah ini. Mendayung di atas awan yang Akash lakukan nyatanya benar-benar membuat Bumi bahagia. Merasa ada di surga mungkin seperti itu definisinya.


Suara merdu dari bibir Bumi tiap kali gelenyar itu datang menjadi alunan indah yang dapat Akash dengar. Mulai hari ini ia ingin setiap hari mendengarnya. Keduanya tiba di puncak nirwana, saling melepaskan namun tetap tak ingin menyudahi.


Akash menjauhkan wajahnya dari wajah Bumi, yang terlihat menitikan air mata.


"Kamu nangis?" panik Akash setelah menyelesaikan kegiatan mendayung di atas awannya. "Sakit?" pertanyaan ambigu yang terdengar menggelikan.


Bumi hanya menggeleng, sesuatu di bawah sana masih sangat panas dan nyeri. Membuatnya sedikit meringis saat mendudukan diri.


"Mau mandi sekarang?" tawar Akash, membantu Bumi meraih pakaiannya.


"Kakak duluan, aku mandinya lama," tolak Bumi, pakaiannya sudah kembali membungkus tubuhnya.

__ADS_1


"Ya udah, nanti aku siapkan air hangat," ucapnya, tak lupa mengecup sekilas kening istrinya. Dia memakai kembali celana dan baju yang berserakan di lantai.


Langkahnya terasa ringan, seulas senyum dari bibirnya yang masih terasa panas tersimpul. Jika ditanya kapan hari paling bahagia dalam hidupnya? Jawabannya adalah malam ini, baru saja.


__ADS_2