
"Tapi, kak Laut nggak pernah cerita sama aku kalau punya mantan namanya Dinda." Bumi masih enggan percaya pada perkataan suaminya.
"Yang selalu deket sama Laut siapa?" Ucapan Akash membuat Bumi sejenak berfikir.
"Pokoknya aku marah sama kakak!" tegas Bumi seraya memukul dada Akash. "Lepas! aku mau turun," amuknya membuat Akash mengalah melepaskan kunciannya.
"Tuh, lihat! telinga Neng Ara luka. Kamu ngerti nggak sih kalau aku capek?" keluhnya dengan air mata berderai yang sedari tadi ia tahan.
"Kamu nggak ngerasain gimana pegelnya aku saat ngasih nen Mas Ar?"
"Gimana sakitnya aku saat dua jagoan itu menggigitku."
"Kamu juga nggak ngerasain gimana susahnya aku nahan ngantuk kalau malem-malem nen in mereka!"
Rentetan keluhan Bumi hanya mendapat ulasan senyum dari bibir Akash. Dia mengerti betul istrinya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Merasa lelah, kesal dan marah dengan keadaan yang seolah menjadikannya korban.
"Boleh aku bicara?" pinta Akash. Namun, Bumi tak menjawab, ia masih larut dalam tangisnya.
"Aku anggap boleh, ya?"
"Kalau boleh aku minta sama Allah, aku ingin menggantikan segala kesal, lelah dan sakit kamu."
"Tapi, justru disitulah letak keistimewaan kamu. Allah dan Rasul sangat meninggikan derajat seorang Ibu. Sampai Allah membuat label bahwa surga berada di bawah telapak kaki Ibu."
"Setiap yang kamu lakukan adalah ibadah yang pahalanya besar. Menyisir rambut anak adalah ibadah, mencuci pakaian anak-anak adalah ibadah, menyusui anak-anak adalah ibadah."
"Bahkan, Rasul menyebut nama ibu sebanyak tiga kali sebelum bapak, saat ditanya siapa yang harus seorang anak muliakan terlebih dahulu?"
"Aku bahkan iri padamu, setumpuk pahala menantimu."
"Aku tahu ini berat, tapi, cobalah ikhlas."
"Maaf, kalau memang sebagai suami aku tidak bisa membuatmu merasa nyaman. Tapi, percayalah aku ada untuk menemani perjuanganmu."
__ADS_1
"Kamu boleh marah, tapi jangan lama-lama. Marahmu buatku takut, takut akhirnya ada setitik benci dalam hatimu."
"Aku takut setan akan memprovokasi kamu dan membuat amarah itu menjadi boomerang untuk rumah tangga kita."
Bumi semakin menangis mendengar kalimat demi kalimat yang Akash lontarkan. Tubuh yang awalnya duduk di tepian tempat tidur itu kini luruh ke atas lantai. Bumi membenamkan wajah di antara dua kaki yang ia tekuk. Ia peluk erat kedua kakinya itu. Bahunya turun naik menandakan masih menangis walau tanpa suara.
Akash ikut duduk di sampingnya. Ia usap penuh sayang pucuk kepala istrinya itu.
"Maaf, ya. Belum bisa jadi suami yang baik. Padahal aku sudah merepotkanmu dengan tiga orang anak."
"Aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, tapi mulai sekarang, aku akan berusaha sebaik mungkin membantu kamu."
Bumi mengangkat kepalanya, ia letakkan kepalanya di bahu suaminya. Merasa malu sendiri sebab sudah terlalu banyak mengeluh. Kalimat-kalimat Akash tadi menjadi pengingat diri. Dia terlalu banyak merajuk dan mengeluh. Merasa jadi satu-satunya orang yang jadi korban atas keadaan ini. Padahal suaminya pun sama. Ia harus memutar otak untuk menjalankan bisnisnya.
Akash yakin, hati istrinya kini sudah berangsur membaik. Dia tarik tubuh itu agar bisa mendekapnya lebih dalam.
"I love you!" bisiknya nyaris tanpa suara namun mampu memacu adrenalin Bumi hingga membuatnya tanpa rasa malu menyentuhkan wajahnya pada wajah suaminya. Akash tentu menyambutnya senang. Keduanya saling memburu, menuntut bahkan menginginkan lebih. Mungkin. Sebab decapan itu kian lama kian berubah menjadi ....
Ketukan pintu yang terdengar tak sabaran terpaksa menghentikan kegiatan yang hampir saja membuat keduanya mendayung di atas awan, padahal di atas lantai.
Seraya mengancingkan pakaian yang entah sejak kapan terbuka padahal bukan habis mengASIhi putranya. Bumi tertawa sendiri merutuki kebodohan sekaligus kegilaannya barusan.
Begitu Akash membuka pintu, masuklah kedua bocah yang sepertinya sudah sangat kehausan diantar oleh Eli dan Lina. Akash mengucapkan terimakasih pada keduanya serta mengizinkan mereka untuk istirahat.
Bumi langsung saja meraih Aro terlebih dahulu. Anak itu harus segera ditidurkan agar tak lagi mengganggu adiknya. Akash sendiri membawa Akhza keluar dari kamar, agar Aro konsen dengan kegiatan kesukaannya.
Rupanya Aro memang sudah mengantuk, ia tak banyak melakukan pergerakan. Matanya langsung terpejam saat baru beberapa menit melakukan kegiatannya. Bumi membelai rambutnya yang basah karena keringat. Aro jauh lebih aktif daripada Akhza. Semakin dilarang, dia akan semakin melakukan. Tak ada satupun hal yang membuat anak itu takut.
Selesai menyusui Aro, Bumi segera mencari suami dan anaknya yang ternyata sama-sama tertidur di kamar Laut. Ada rasa sesal dalam dirinya sebab telah marah-marah tidak jelas pada suaminya itu. Bumi membelai pipi Akhza agar bayi itu bangun seraya berbisik "bangun, nak! nen dulu."
Akhza meyngerjap-ngerjapkan mata seraya langsung duduk. Merasa ada pergerakan, Akash ikut bangun dari tidurnya.
"Salat dulu, baru tidur. Aku bawa Abang ke kamar." Beritahu Bumi seraya beranjak menggedong Akhza.
__ADS_1
Di kamar, Aro sudah terbaring dengan posisi berbeda dari yang terakhir Bumi tinggalkan. Anak itu sudah hampir menempati tepian tempat tidur. Beruntung Akash segera datang. Dengan hati-hati memindahkan tubuh putranya itu ke tengah kasur.
"Kayaknya nggak cukup kalau kita tidur berlima." Ujar Akash.
"Kita berdua di bawah aja, biar anak-anak di atas." Usul Bumi seraya segera membawa Akhza duduk agar segera mendapatkan ASInya.
Tidak akan ada drama apa-apa jika menyusui Akhza, dia itu lembut dan tak banyak berontak. Terlebih bila sudah mengantuk, maka akan cepat lelap dan tidak sampai membuat Bumi pegal.
Selesai mengatur letak tidur ketiga bayinya, Bumi memilih meninggalkan mereka untuk mencari makanan. Menyesal juga tadi pergi dari resepsi Nadia tanpa membawa makanan.
"Lapar, ya?" tebak Akash saat Bumi sampai di ruang makan dan dirinya sedang membuat kopi.
"Kamu ngagetin aja, aku kira ke kamar Kak Laut lagi," ungkap Bumi seraya membuka tutup saji. Matanya berbinar demi melihat banyak makanan.
"Dari mana ini?" gumamnya.
"Aku yang bawa," sahut Akash cepat. "Tuh sama itu," tunjuknya pada keranjang berisi camilan yang berada di atas kulkas.
"Wow, banyak banget." Binar kebahagiaan jelas terpancar dari mata Bumi.
"Kan biar kamu kuat nanti malam." Jawab Akash membuat Bumi segera memukul lengannya.
"Kuat kasih nen anak-anak," ralat Akash dengan seringai jahil.
Bumi hanya berdecak sebal seraya menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Tapi, dia enggan sekali untuk memulai makan. Padahal piring sudah tersedia di hadapannya. Tinggal menyendok nasi dan lauk pauknya.
"Ayo, makan!" suruh Akash.
"Kok aku pengennya disuapin ya?" sahutnya seraya melipat kedua tangan di atas meja.
Tanpa disuruh, Akash segera menyendok nasi beserta lauk pauk. Dia sabar menyuapi istrinya hingga suapan terakhir dan Bumi mengatakan sudah kenyang.
"Besok dites ya?"
__ADS_1
"Hah, tes apa?"