Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
79


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Rere suasana ramai tercipta. Sanak saudara dari Yona sang Mami juga Anggara sang Papi sengaja menginap untuk menghadiri akad sekaligus resepsi pernikahan Rere.


Rere sendiri enggan berbaur, dirinya memilih melakukan perawatan di kamar pribadinya. Kegiatan itu sudah bsrlangsung sedari sore. Tapi, sudah sampai pukul 21:00 masih berlangsung.


Rere yang hanya mengenakan kimono handuk sedang melakukan menicure padicure. Tubuhnya ia buat nyaman dengan duduk di sofa panjang.


Ponselnya yang di taruh di atas meja rias berdering, Bumi meminta salah satu asisten rumah tangganya yang bernama Ida untuk mengambilkan ponselnya. Ternyata Guntur yang menelpon.


"Kamu lagi di mana?"


"Masih di rumah sakit."


"Besok jangan telat, ya!"


"Jam 9 kan?"


"Iya, aku tunggu pokoknya."


"Aku deg-degan."


"Harus yakin dong!"


"Ya sudah, istirahat yang cukup."


"Kamu juga, bye."


Rere mematikan sambungan telponnya. Diletakannya ponsel mahal itu di pangkuannya. Petugas salon selesai mentreatmen seluruh tubuh Rere. Setelah merapikan peralatannya, petugas salon yang memang didatangkan khusus dari salon langganan Rere itu pamit undur diri.


Rere dengan sifat angkuhnya hanya mengangguk. Enggan mengganti pakaian dirinya langsung merebahkan diri di atas kasurnya. Baru akan terpejam, Yona sudah datang dan duduk di sebelahnya.


"Kamu udah mau tidur?" tanya Yona.


"Baru mau, Mi." Jawab Rere kembali mendudukan badannya.


"Apa kamu bahagia?"


"Enggak, wanita mana yang bahagia menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya?"


"Perlahan Akash pasti mencintaimu," hibur Yona mengusap Bahu Rere.


"Aku nggak pernah membayangkannya." Ucap Rere lirih.


"Papi mu sudah banyak mengucurkan dana di perusahaan Ilham," cerita Yona.


"Nggak peduli, harusnya nggak usah sangkut pautkan pernikahan dengan bisnis."


"Memiliki menantu seorang cucu kyiai akan membuat Papi semakin banyak disegani," Yona terus melanjutkan cerita.


"Banyak kolega bisnis papi yang menjadikan pamannya Akash sebagai guru spiritual mereka."


"Dan Papimu beruntung, karena ikatan pernikahan kalian bisa menjadikan kitabagian dari keluarga mereka."


"Apa hebatnya menikah dengan Akash? dia itu ilmunya masih cetek, Mi."


"Kamu tahu selain bisnis, apalagi yang melatar belakangi Papi dan Mami keukeuh menyuruhmu menikah dengan Akash?"

__ADS_1


"Ya karena ingin dipuji banyak orang kan?" Rere balik bertanya.


"Bukan, melainkan Papi dan Mami ingin kamu memiliki suami yang taat ibadah. Bisa membawamu ke dalam kebaikan." Ucap Yona dengan suara melembut.


"Ummi adalah sosok wanita yang sangat dicintai banyak jemaah, tutur kata lembutnya akan membuat kamu nyaman jadi menantunya."


"Mami dan Papi tidak ingin kamu menikah dengan sembarang orang,"


"Mami dan Papi percaya dengan bermertuakan Ummi, hidup kamu akan lebih terarah." Yona mengakhiri bicaranya dan memeluk tubuh Rere.


"Akash bisa membimbingmu ke dalam kebaikan, lambat laun kalian pasti bisa saling mencintai.


Yona mengurai pelukkan dari anak gadisnya yang sudah berkaca-kaca.


"Maafkan Rere yang sempat berburuk sangka."


"Rere pikir pernikahan Rere hanya ajang bisnis." Ujar Rere.


"Bukan hanya itu Sayang," adalah suara Anggara yang baru saja datang.


"Papi ingin kamu memiliki hidup yang terarah dengan bersuamikan Akash yang banyak mengerti ilmu agama."


"Papi ingin memberimu mertua sebaik Ummi, Papi tidak ingin anak papi mengalami nasib memiliki mertua yang galak."


Perkataan Anggara dan Yona membuat Rere terharu, kesal dan bencinya menguap begitu saja. Sejauh itu kedua orangtuanya memperhatikannya.


"Makasih Pi, Mi." Ucap Rere kembali dipeluk oleh kedua orangtuanya.


Sedikit rasa bersalah terbesit di hati Rere. Tentang rencananya yang akan menggagalkan pernikahannya sendiri pasti akan membuat kedua orangtuanya kecewa.


*****


Bumi dan Ayesha terlihat kompak mengenakan gamis syar'i berwarna gold dipadukan dengan hijab berwarna maroon. Tampak elegan meski sangat simple. Bumi sudah memasukan kadonya ke dalam papper bag.


Jam sudah menunjukan pukul 08:00 dan ketiganya mulai meninggalkan rumah. Laut diminta oleh Ummi untuk datang terlebih dahulu ke kediaman Ummi. Mereka akan berangkat berasama ke rumah Anggara dari rumah Ummi.


Di kediaman Ummi suasana tak kalah ramai. Tentu saja sanak keluarganya merupakan para kiayi juga ustadzah. Tampak anggun dan cantik-cantik para wanita itu. Meski tanpa sentuhan make up. Mereka semua kompak mengenakan gamis berwarna silver dengan hijab syar'i berwarna senada.


Alisha pun tak mau ketinggalan. Tubuh mungilnya nampak manis dengan memakai balutan gamis berwarna silver dengan keeudung berwarna senada.


"Mereka berdua ini anaknya Ayas ya?" tebak seorang wanita seusia Umi, yang mana beliau adalah istri dari paman Akash.


"Betul, Ummi haji." Jawab Laut.


"Kalian sudah besar," ucap wanita itu seraya mengusap pipi Bumi yang memang duduk di sebelahnya.


"Saya pikir yang akan dinikahkan dengan Akash itu kamu?"


Perkataan Ummi Haji tentu membuat hati Bumi terasa dihantam benda keras.


"Enggak, Ummi. Kak Akash buat Bumi sudah seperti kakak sendiri." Bumi berkilah, "sama seperti dengan Kak Laut."


"Kalau Ummi punya anak lelaki pasti kamu sudah Ummi jadikan menantu," ucap Ummi Haji. "Kamu cantik, ayu tenan." Ummi Haji lagi-lagi mengusap lembut pipi Bumi.


Itu kan karena Ummi haji nggak tahu seberapa bobroknya aku.

__ADS_1


Batin Bumi seraya tersenyum tulus pada Ummi haji.


"Kak Bumi!" sapa Nadia yang baru datang bergabung.


"Hai, Dek. Kamu cantik banget deh." Bumi menjawil hidung Nadia.


"Kak ikut bentar yuk ke kamarku," ajak Nadia seraya menarik pergelangan tangan Bumi bahkan sebelum Bumi berkata iya.


Bumi menurut saja, langkahnya terseret-seret mengimbangi Nadia yang berlari-lari saat menaiki tangga.


Nadia membuka pintu kamarnya, Bumi sedikit kaget pasalnya di sana ada Akash yang tengah duduk di tepi tempat tidur.


Tampak jauh lebih tampan mengenakan pakaian serba putih, pakaian khas pengantin.


"Udah nih, Kak. Aku keluar ya!?" kata Nadia, namun Bumi mencegahnya.


"Jangan dong, Dek." Ucap Bumi dengan wajah mengiba. "Kamu keluar, aku juga keluar." Ancam Bumi.


"Udah, Dek. Kamu di sini aja!" seru Akash seraya berdiri.


"Nontonin drama kalian gitu?" cibir Nadia.


"Aku cuma pengen ngomong bentar koq." Ucap Akash seraya mendekati Bumi.


"Bumi, kalaupun hari ini akhirnya aku menikah dengan Rere, kamu mau kan menungguku?"


Bumi diam, tak mampu menjawab. Hatinya teiris perih, bagaimana bisa dia menjawab iya untuk sesuatu yang mustahil. Meskipun bagi Allah tak ada sesuatu yang mustahil, tapi berharap Akash kembali berpisah dengan Rere bukannya merupakan sesuatu yang jahat.


"Aku hanya ingin menghabiskan hidupku denganmu, Bumi." Akash mulai mengiba. "Seperti janji kita di masa kecil. Kamu ingat?"


Bumi masih tak menjawab, meski tentu saja dia mengingatnya. Tak ada sedikitpun hal yang dapat dia lupakan dari Akash.


"Bumi, jawab Aku!"


"Kak, mari kita berpisah hari ini." Ucap Bumi, berusaha tegar. "Mari kita berpisah, saling melepaskan."


"Iya, Bumi. Tapi suatu hari jika aku kembali, apa kamu masih tetap berada di tempat yang sama?"


"Kita serahkan pada Allah, Kak." Jawab Bumi tersenyum tulus, "Maa fii qalbi gairullah."


"Jadikan Allah satu-satunya tempat kita meminta."


"Aku bahagia sudah mengenal Kakak, menghabiskan waktu bersama Kakak adalah hal terindah dalam hidupku. Meski sebentar, tapi itu rasanya cukup membuatku merasa dicintai."


"Maafkan Aku, terlalu lemah memperjuangkanmu."


"Berbahagialah, Kak. Aku ikhlas." Ucap Bumi seraya berlalu dari kamar Nadia.


Tidak ada tangisan, dia sudah berjanji untuk tidak lagi meratapi takdirnya.


Kuserahkan pada-Mu ya Rabb.


Bumi kembali ke lantai bawah dengan senyuman seolah tak terjadi apa-apa. Dirinya sudah resmi berpisah dengan Akash. Dengan indah mengakhiri rasa yang selama ini keduanya pupuk bersama.


Seindah apapun mengakihirinya, perpisahan tetaplah menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2