
Perkara merelakan aku bisa saja. Tapi perkara melupakan, aku bukan ahlinya.
********
Seminggu ini Bumi tak datang ke rumah Haji Endah. Selain karena sedang halangan, kondisi kesehatan Uti juga penyebabnya.
Mengeluh pusing dengan kaki yang juga terasa sakit saat dipijakkan.
Sama halnya dengan Uti, kesehatan Karina juga memburuk. Terlebih saat percobaan bunuh diri yang Rere lakukan.
Rere melakukan percobaan bunuh diri setelah berkali-kali permintaan bercerainya pada Akash ditolak mentah-mentah.
Namun, si keras kepala itu rupanya tidak main-main dengan ucapannya soal lebih baik mati daripada menjalani rumah tangga bersama Akash.
Hari itu di kediaman Anggara dua keluarga besar berkumpul karena kondisi Rere yang sakit. Menyengaja tidak makan dan minum selama beberapa hari membuat kondisi kesehatan menurun.
Saat itu semua sedang berkumpul di ruang tengah, tepat di depan pintu kamar Rere. Hanya Rere yang tidak ikut berkumpul, tubuh lemahnya memilih berbaring.
Saat sedang berbincang, terdengar suara prang dari kamar Rere. Membuat semua yang mendengar berhamburan menuju kamar.
Sang penghuni kamar rupanya melempar cermin rias dengan vas bunga. Mungkin berniat memutus urat nadi dengan pecahan kaca. Namun, karena kondisi tubuh yang sudah lemah. Dia pingsan sebelum urat nadinya terputus. Terlihat dari salah satu tangan yang memegang pecahan kaca, tapi urat nadinya tak ada yang terluka.
Anggara yang paling histeris. Diraihnya tubuh putrinya itu. Teriak menyuruh menantunya menyiapkan mobil.Anggara menggendong sendiri tubuh putrinya. Baru kali ini merasa ketakutan akan kehilangan anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, menurutnya begitu.
Anggara terus saja menyuruh Akash menancap gas, tangannya terus menepuk pipi Rere. Yona bukan lagi, dia menangis tersedu sedan. Rasanya tak bisa memaafkan diri sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Rere.
Rere dimasukan ke UGD begitu sampai rumah sakit. Anggara ingin ikut masuk namun dokter melarang. Pikiran Yona sudah kemana-mana, bagaimana jika Rere tak selamat?
Keduanya berpelukan di depan pintu UGD, berbagi tangisan.
Akash juga ikut berdiri di sana, berkali-kali mengusap wajah kasar. Dia tak menyangka ancaman Rere itu bukan isapan jempol semata.
Tak lama dokter keluar dari UGD, Rere sudah ditangani. Sebentar lagi bisa dipastikan siuman. Hanya dehidrasi penyebab tak sadarkan dirinya.
Dokter menjelaskan ketika kadar elektrolit di dalam tubuh tidak seimbang, kontraksi otot bisa terjadi dan tubuh bisa mengalami kejang-kejang. Bahkan, tidak menutup kemungkinan penderitanya juga akan kehilangan kesadaran. Seperti yang dialami Rere saat ini.
Tak lama Zahra dan Ilham tiba di rumah sakit, Nadia dan Ummi tak ikut. Mereka pulang ke rumah membawa Alisha.
Setidaknya mereka bisa bernafas lega dengan penjelasan dokter, tinggal menunggu Rere siuman.
***
Selama Bumi tidak ke rumah Bu Haji rupanya hampir setiap hari Hafidz mengiriminya makanan. Yang datang bukan dirinya, melainkan santri suruhannya.
"Buat Mbak Hansa, dari Mas Hafidz." Begitu ucapan santri saat memberikan makanan itu pada Bumi.
Entah mengapa hatinya sedikitpun tak tersentuh, tak bergetar. Walaupun, makanan itu tetap dimakannya.
Setelah tamu bulanannya pergi, pagi itu Bumi memutuskan ke rumah Haji Endah. Ada sesuatu hal yang perlu juga dia bahas dengan Hafidz.
Mengenakan kulot hitam dengan kemeja hitam juga hijab yang membelit kepalanya berwarna hitam. Sempat mendapat protes dari Ayas, seperti ingin takziah saja.
Dengan diantar ojeg langganannya Bumi tiba di kediaman Haji Endah dan langsung mencari keberadaan Hafidz.
Didapatinya Hafidz sudah rapi mengenakan jenas dan kemeja panjang. Bukan sarung seperti hari-hari lalu.
"Mau kemana?" tanya Bumi, sudah pasti bukan mengajar karena ini hari minggu.
__ADS_1
"Ke kota, ada kenalan di sana ngadain syukuran aqiqah anaknya. Mau ikut?"
Langsung ditolak ajakan itu oleh Bumi.
"Bisa bicara sebentar?" pinta Bumi.
"Boleh, di luar saja." Ucap Hafidz seraya melangkah terlebih dahulu.
"Ada apa Hansa?" tanyanya.
Keduanya berdiri di bawah pohon kersen yang jika buahnya matang satu saja langsung jadi rebutan para santri.
"Kenapa kamu menerima perjodohan ini?"
"Karena saya harus menikah."
"Memang nggak bisa cari sendiri?"
"Takut salah pilih, takut tidak sesuai dengan keinginan Ibu dan Ayah." Suaranya berat, serius, sampai mengenai hati Bumi.
"Memang nggak pernah naksir seseorang?" tanya Bumi.
"Pernahlah, memangnya saya nggak normal."
"Kenapa nggak berusaha dideketin? kenapa nggak sama dia aja nikahnya?" todong Bumi.
"Takut dianya nggak naksir," keluh Hafidz. "Minder juga sih," tambahnya dengan wajah murung.
"Terus kenapa mau sama Aku?" kali ini penuh desakan.
"Nurut saja sama orangtua." Jawabnya.
"Bantuin kamu biar lupa sama cinta masa kecil kamu, ditinggal nikah kan?" Jelas itu bukan tebakan.
"Siapa yang kasih tahu?"
"Keluargamu."
Bumi mendengus kesal, bagaimana mungkin Hafidz tahu banyak tentangnya jika memang bukan keluarganya yang bercerita.
Jadi bukan cinta yang bikin kamu menerima perjodohan ini?
"Kamu nggak mau tahu tentangku? Nama lengkap dan tanggal lahirku?"
"Nanti juga tahu kalau sudah tercatat di buku nikah." Jawab Bumi.
Hafidz membulatkan matanya, itu artinya Bumi menerima juga perjodohan ini?
"Maksud kamu kita akan menikah?"
"Itu kan tujuan perjodohan ini?"
Akhirnya Bumi menerima perjodohan ini. Entahlah ini salah atau benar. Yang pasti perkataan Uti yang terus memaksanya agar menerima perjodohan ini.
Tidak ada cinta di hati keduanya. Bahkan Hafidz juga mengatakan tidak tahu saat Bumi bertanya apa sudah memiliki perasaan terhadapnya.
keduanya hanya sepakat untuk menurut pada orang tua masing-masing.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Hafidz pamit segera berangkat. Dia bilang sore sudah pulang dan berjanji membawa oleh-oleh untuk Bumi. Matanya mengerling dan mendapat pelototan tajam dari Bumi.
Saat Bumi bilang jangan suka menatapnya Hafidz malah menjawab "cinta itu dari mata turun ke hati, bagaimana bisa mencintaimu jika menatap saja tidak boleh?"
Bumi sudah tak berkata-kata lagi. Pria itu benar-benar pergi.
***
Bumi memutuskan menunggu di rumah Lili setelah Hafidz pergi. Dia duduk sendiri di halaman belakang. Melihat dari jauh pamannya yang sedang memberi makan bebek. Rekaman ingatannya tiba-tiba memutar kejadian saat pertama bertemu dengan Hafidz di tempat ini.
Ternyata Hafidz yang menyebalkan dan memiliki kadar percaya diri ternyata merasa minder juga saat menaksir seorang gadis.
Bumi mengayun-ayunkan kakinya sambil berdendang kecil. Menikmati pemandangan pamannya yang dikerubuti bebek.
"Bumi, mau ikut nggak ke kebun?" suara Lili mengagetkan Bumi.
"Ke kebun?" Bumi balik bertanya.
"Iya, nganter makanan buat Ayahnya Mas Hafidz." Jawab Lili, "buat santri juga. Mereka lagi panen kacang tanah."
"Jauh nggak?"
"Deket koq, tinggal jalan kaki."
Bumi mengangguk, tidak ada salahnya kan ikut. Dirinya beranjak, namun sebelum melangkah ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Nadia pengirimnya.
Bumi masih sering berbalas pesan dengan Nadia. Bertukar kabar dan cerita.
/Kak Zha sudah setuju aku sama Abqari. Tapi, Abqarinya nggak ada kabar/
Nadia sempat bercerita bahwa Zahra dan Ilham tidak akan ikuy campur soal siapa calon suaminya. Asalkan baik dan bertanggung jawab. Sudah cukup.
Zahra tidak ingin melakukan kesalahan sama pada Nadia.
/Baik-baik di sana Kak. Nanti kita bertemu ya/
Pesan terakhir tak sempat Bumi balas karena Lili sudah meneriakinya. Bumi segera bergegas menuju sumber suara. Lili di depan rumah menunggunya dengan dua rantang makanan. Bumi membawakannya satu.
Saat ditanya mana piringnya, Lili menjawab Di kebun juga banyak. Sebab sengaja disimpan di sana agar mudah saat makan siang.
***
Sore hari Rere mulai dipindahkan ke ruang perawatan. Anggara dan Yona lega sekali. Rere masih lemah tapi setidaknya sudah sadar.
Berkali-kali Anggara meminta maaf pada Rere dan dibalas anggukan oleh Rere.
Akash menawarinya makan, Rere menolak. Lebih ingin disuapi Yona. Beberapa suap Rere memakan buburnya. Mulutnya masih terasa pahit.
"Pi, izinkan aku mengakhiri pernikahanku."
Tak ada yang menjawab. Anggara dan Yona saling pandang. Sedangkan Akash tidak kaget mendengarnya sebab perkataan itu sudah sering Rere layangkan padanya.
Akash sedikitpun tidak ingin menceraikan Rere. Dia hanya ingin memperbaiki semuanya. Rere tidak pernah mau memberinya kesempatan. Setiap perkataan Akash selalu dibantahnya.
"Nak, perceraian itu dibenci Allah." Ucap Yona.
"Tapi, jadi istri durhaka juga dilaknat oleh Allah kan?" Ujar Rere dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
.
. Like dan komennya Kakak. Makasih yang selalu komen dan kasih saran. Luv luv luv