Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
32


__ADS_3

Sebelumnya Aku ucapkan terimakasih bagi yang udah mau mampir dan baca. Kasih dukungan lewat vote like dan komen dong. Komennya cukup up atau next aja Aku udah seneng banget looooh. Ditunggu


**********


Setelah selesai shalat shubuh semua anggota keluaraga dibuat sibuk mengurusi barang yang akan dibawa seserahan ke rumah Ayesha.


"Siapa sih yang bikin peraturan harus seserahan dulu baru akad? Kenapa nggak langsung saja besok dibawanya?"


Gerutu Damar yang sedang membantu memasukan beberapa parcel ke dalam bagasi mobil.


"Udah sih Yang, nggak usah ngedumel terus. Ikhlas nggak sih?" Lila yang sedang mengatur letak parcel agar tidak menumpuk berusaha meredam kekesalah kekasihnya itu.


"Nanti bilangin ya sama orangtua Kamu kita nikahnya jangan ribet-ribet kayak gini. Kalau bisa langsung saja malam pertama." Omelan itu kembali berlanjut. Lila hanya berdecak kesal.


Setelah semua parcel dipastikan rapi dan aman Lila menutup bagasi mobil.


"Enak saja langsung malam pertama, melamar saja belum," ucap Lila melengos meninggalkan Damar.


Damar segera mengikutinya dan mensejajarkan langkah Mereka.


"Besok Aku mau lamar Kamu."


Perkataan Damar menghentikan langkah Lila. Damar pun ikut berhenti, tak peduli dengan lalu lalang keluarga Mama Ayas yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Jangan PHP deh, Kamu!" Lila membulatkan matanya dam berlalu meninggalkan Damar dalam kebisuan.


"Ampun dah cewek giliran mau serius malah suudzon. Seburuk itukah Gue?" Damar melangkah seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sementara di kamar Mama Ayas Bumi sedang membantu Sang Mama merias diri.


"Jangan terlalu aneh-aneh ya, ini cuma seserahan bukan resepsi." Ayas protes dan menolak saat Bumi hendak memasangkan bulu mata palsu.


"Lagipula repot begini acaranya Mam, kenapa tidak sekalian besok saja sih seserahannya saat akad? Beruntung Kak Laut membelikan dua kebaya untuk kupakai. Kalau tidak Aku bingung sendiri mau pakai baju apa?" Bumi memoles bibir Sang Mama dengan lipmatte warna pink nude.


"Ya sudah jangan menggerutu terus, sana Kamu mandi. Lihat Kakakmu sudah siap belum?" Ayas mematut dirinya di depan cermin. Hasil riasan Bumi pada wajahnya sangat natural dan tidak berlebihan.


"Uti mau pakai lipstik nggak?" Bumi bertanya pada Uti yang sudah terlihat cantik dengan gamis syar'i nya.


"Tidak, Uti sudah tua begini." Uti reflek menutup bibirnya dengan kipas lipat yang dipegangnya.


"Sudah sana bersiap, malah ganggu Uti!" Ayas kembali menyuruh Bumi segera bersiap.

__ADS_1


"Siap Ibunda Ratu," ucap Bumi segera membungkukan badannya lalu berjalan mundur meninggalkan kamar Ayas. Ayas dan Uti hanya tersenyum melihat tingkah Bumi.


Di kamarnya Laut malah belum bersiap sama sekali. Dia masih mengenakan boxer dan kaos putih oblong berjalan mondar-mandir membuat Damar dan Akash pusing melihatnya.


"Santai saja bisa nggak sih? pusing lihatnya!" Akash mengomentari pria yang diharapkan bisa menjadi Kakak iparnya itu.


"Loe nggak ngerti sih gimana rasanya, deg deg an Gue." Laut mendudukan dirinya di tepi tempat tidur.


Ceklek. Pintu dibuka dari luar. Kepala Bumi menyembul di balik pintu. Rambutnya yang diikat berantakan tidak mengurangi kecantikan khas wanita Indonesianya.


"Kalian udah pada mandi?" Bumi menatap satu-satu ketiga pria yang masih mengenakan pakaian rumah itu.


"Sudaah." Jawab ketiganga kompak.


"Kakak koq belum pakai bajunya?" tanya Bumi seraya menghampiri Laut yang malah mengacak rambutnya.


"Kakak gugup nih, padahal bukan mau akad ya?" Laut menatap frustasi adiknya yang tersenyum.


"Kakak mau dibuatkan apa supaya nggak gugup? kopi, susu atau teh manis?"


Bumi menawarkan beberapa minuman siapa tahu Laut ingin meminumnya untuk menghilangkan gugupnya.


Bumi tertawa geli melihat Kakaknya itu. Diraihnya kedua tangan Sang Kakak dan berkata


"Jangan gugup, jangan panik. Ingat nanti malam pertamanya saja." Bumi berusaha mencairkan kegundahan Sang Kakak dengan mwnggodanya.


"Apalagi kalau ingat itu Kakak tambah gugup, Dek." Laut terlihat semakin frustasi.


Bumi menghela nafas pelan, dengan gerakan perlahan melepas genggaman pada tangan Kakaknya.


"Rasanya baru kemarin ya Kak Kita selalu ribut soal makanan, soal siapa yang boleh tidur dekat Mama. Siapa yang bisa pakai mangkuk gambar ayam jago karena kita cuma punya satu. Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Aku banyak kehilangan waktu sama Kakak tapi setiap hari selalu ingat Kakak. Aku tahu, Kakak juga pasti sama kan? Aku sedih sih lihat Kakak menikah tapi sedihku itu tidak sebanding dengan kebahagiaan Kakak dan itu yang membuat Aku jauh merasa bahagia. Lihat Kakak selalu antusias menyiapkan pernikahan Kalian. Aku kadang berfikir, siapapun calon imamku kelak semoga Dia sebaik dan setulus Kakak." Bumi memeluk erat Kakaknya. Menumpahkan segala perasaannya yang selama ini tertahan.


Perlahan Laut mulai hanyut dalam kesedihan. Rasa gugupnya hilang begitu saja. Dia membalas pelukkan Bumi erat. Diusapnya punggung adik kecilnya itu.


"Aku sayang Kak Laut." Bumi sudah berderaian air mata.


"Kakak juga sayang adek. Maaf karena terlalu banyak mengabaikanmu." Ucap Sang Kakak berpindah mengelus rambut Bumi yang diikat asal itu.


Bumi menguraikan pelukkannya dan tersenyum. Ditangkupnya kedua pipi Kakaknya itu, dihapusnya air mata pada pipi Kakaknya dengan ibu jarinya.


"Kakak sekarang pakai bajunya, Aku ambilkan ya?"

__ADS_1


Hanya anggukan yang Laut berikan sebagai jawaban. Bumi membuka lemari pakaian Kakaknya. Diambilnya kemeja batik warna coklat dan celana warna senada.


"Kakak pakai dulu!" Bumi menyerahkan pakaian yang memang sudah Bumi siapkan dari semalam itu. Laut mengambilnya lalu mulai memakainya dengan perasaan gugup yang sudah hilang.


"Kalian malah bengong, sana siap-siap!" Bumi memandang Damar dan Akash bergantian.


"Cerewet banget dah Lo, Lo sendiri masih pakai piyama gitu. Gambar kodok lagi. Pasti belum mandi kan?" tuduhan Damar memang tepat sasaran. Bumi memang belum mandi. Tadi Dia hanya berwudhu dan sikat gigi.


"Koq Aku menyesal ya bantuin Kakak buat lamar Kak Lila?" Bumi memicingkan matanya. Perkataannya halus namun menusuk sanubari Damar.


"Jangan gitu dong, Bumi. Kakak kan bercanda, maaf ya?" Damar cengar cengir memgatupkan kedua tangannya seraya membungkukan badannya. Layaknya seorang budak meminta ampunan dari sang raja.


Bumi memutar bola mata jengah seraya kembali melihat penampilan Kakaknya. Sempurna. Pakaiannya sudah rapi dengan sepatu pantopel berwarna senada. Rambutnya disisir rapi dan wajahnya berseri.


"Masih gugup nggak?" Bumi mengambil selembar bulu mata yang terdapat di pipi Laut.


"Enggak, makasih ya!" Laut mengacak rambut adiknya.


"Kak Ayesha sudah rindu berat sepertinya, bulu mata Kakak sampai jatuh begini." Bumi meniup bulu mata itu.


Dia berbalik memperhatikan penampilan Akash. Tidak ada cela yang Dia temukan pada sosok pria yang dia sebut sebagai kiblat cintanya. Kemeja batik yang Akash pakai akan sama corak dan warnanya dengan kain yang akan Bumi gunakan.


"Ok, tugasku memantau Kalian sudah beres. Aku mau mandi dulu." Bumi melangkahkan kakinya meninggalkan ketiga pria yang sudah rapi dengan penampilan masing-masing.


"Koq Gue merasa Akash lebih ganteng dari Laut ya? Pantas Bumi tergila-gila sama Lo Kash." Ujar Damar yang langsung mendapat tendangan di bokongnya dari Laut.


"Berlebihan Lo, justru Gue yang cinta mati sama Bumi. Gue sekarang lagi merasa nyawa Gue diincar sama malaikat. Bagi Gue berpisah dari Bumi itu artinya mati. Semoga pernikahan Gue gagal." Ucap Akash dengan wajah sendu.


"Amin kan jangan Kash, soalnya itu Do'a sedikit jahat sih." Ujar Damar yang tengah menengadahkan tangannya.


"Amin kan saja, biar diijabah." Jawab Akash seraya mengucap Aamiin dan menyapukan kedua telapak tangan pada wajahnya. Seperti tersihir, Damar dan Laut mengikuti perbuatan Akash.


"Yakin bakal gagal?" tanya Damar dengan nada mengejek.


"Sesungguhnya Allah sebagaimana hati hambanya," ucap Akash penuh keyakinan dan dijawab kompak oleh kedua sahabatnya dengan "aamiiin." Lagi-lagi ketiganya menyapukan telapak tangan ke wajahnya.


.


.


.LIKE KOMEN DAN VOTE DULU DONG KAK.

__ADS_1


__ADS_2