
"Cowok yang pake kaos, sarung dan jam tangan hitam."
"What?" pekik Akash.
Maksud Lo, hantu itu Gue?
Bang Ohim hanya menggeleng melihat dua orang dewasa yang tingkahnya seperti anak kecil itu. Pasalnya, menurut pengamatannya sedari tadi kedua orang ini terus saja berselisih.
"Pacarnya lagi ngambek, ya?" Bang Ohim berbisik.
"Iya, gimanain dong biar nggak ngambek lagi?" Akash balas berbisik.
"Lamar aja, biar klepek-klepek?" saran yang sangat tidak memberikan solusi.
Bumi yang menyaksikan interaksi kedua pria beda usia di hadapannya itu hanya mendengus kesal.
"Ngomong yang bener jangan bisik-bisik. Udah kaya tetangga aja kalian berdua." Protes Bumi.
"Koq jadi tetangga?" Tanya Bang Ohim.
"Iya kan tetangga kalau ghibah kaya gitu, bisik-bisik tapi bisa didengar satu Rt."
"Emang barusan denger kita bisik-bisik apa?" tanya Akash.
Bumi tak menjawab, Dia beranjak dari duduknya dan merenggangkan badannya.
"Makasih Bang, harusnya sih bayarannya nggak cuma semangkuk. Tapi, berhubuhng buburnya habis, tahu dirilah besok-besok anterin ke rumah." sindir Bumi membuat Bang Ohim merasa tak enak karena sudah mempekerjakan keduanya. Apalagi Bumi, Dia tugasnya paling berat.
"Iya Eneng yang banyak mau," ucap Bang Ohim seraya mengacungkan dua jempolnya. Bibirnya tersenyum menampakan deretan giginya yang menguning, perokok berat Dia.
Bumi hanya tersenyum tipis lalu pamit pergi. Namun baru melangkah Dia kembali bicara pada Bang Ohim tanpa membalikkan badannya.
"Oh ya Bang, Aku bukan pacar cowok itu. Dia cuma halu."
Detik selanjutnya Bumi benar-benar melangkah pergi meninggalkan Akash dan Bang Ohim yang saling melempar pandang.
__ADS_1
"Kayaknya urusan kalian berdua bener-bener rumit, sana kejar!" seru Bang Ohim menendang bokong Akash dan itu sangat menyakitkan. Ingat, Bang Ohim memakai sepatu boot yang biasa digunakan orang lain saat bekerja di proyek bangunan.
Akash segera berlari berharap bisa menyusul langkah Bumi. Beruntung, Bumi hanya berjalan kaki meskipun dengan langkah lebar. Akash bisa mengejarnya.
"Jangan suka ninggalin Aku di belakang!" seru Akash saat langkah mereka kini sudah sejajar.
"Kamu yang ninggalin Aku, Aku nggak pernah kemana-mana."
"Diamlah di tempatmu sampai Aku datang!" seru Akash kali ini nadanya seperti memerintah. Dia menghentikan langkahnya seraya menarik ujung kaos yang dipakai Bumi. Membuat langkah gadis itu juga mau tidak mau terhenti.
"Aku akan tetap di tempatku, Kamu yang harus pergi. Cukup sekali Aku merasa kehilanganmu. Sekarang jangan ngasih Aku harapan lagi. Kita udah saling melepaskan, jangan buat Aku berharap lagi." Kali ini Bumi memberanikan diri menatap Akash.
"Tetap Diam sampai Aku kembali," Akash kembali mengucap kalimat yang sama dengan susunan berbeda.
"Kalau Kamu nggak kembali?"
Pertanyaan Bumi tidak dapat dijawab Akash. Bumi menarik kaosnya yang sedari tadi masih dipegang Akash. Dia kembali melanjutkan langkahnya. Akash hanya mengikutinya dengan langkah gontai. Saat sampai di rumah, Bumi langsung menutup kembali pintu setelah masuk. Membiarkan panggilan Akash.
Bumi bersandar di balik pintu, badannya melorot hingga duduk dan memeluk kedua lututnya.
Aku nggak tahu harus gimana, Kak. Terakhir Aku berharap, Aku malah menelan kekecewaan.
Bumi masih dalam posisi duduk memeluk lutut. Ada perasaan senang yang dibalut dengan ketakutan. Takut jika harapannya akan kembali berbalas kekecewaan. Ingatannya saat tempo hari Ilham memberikannya ultimatum masih melekat. Bahkan nasihat Ummi yang sangat lembut di hari yang lalu juga masih terngiang. Mencintai seorang Akash nyatanya memang tidak semudah mengupas kuaci yang sering Dia makan.
Untuk masuk ke dalam kehidupan seorang Akash dan menyandingkan diri dengan keluarga besarnyapun tidak semudah log in sosial media dengan menggunakan jaringan wifi, langsung masuk tanpa loading yang lama. Tidak sesederhana itu.
Bumi kembali terngiang ucapan Zahra tentang dirinya yang hanya seorang anak supir. Apa kata keluarga besar Akash nanti?
Siapa calon istri Akash? oh itu anak dari supir pribadi mereka yang membawa majikannya ke dalam kecelakaan dan mengantarkannya ke liang lahat.
Apa penyebab kecelakaan? penyebabnya adalah sang anak supir yang merengek agar Papanya segera pulang sehingga membuat sang supir membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Siapa namanya? Bumi Hansa.
Dialog dalam diri Bumi membuat jiwanya ketakutan. Bukan perkara Rere yang telah menyusun rencana untuk mengagalkan pernikahan. Tapi kenyataan bahwa dirinya hanya anak dari seorang supir pun saat ini menjadi keraguan terbesar untuk meneruskan perjalanan cintanya dengan Akash.
__ADS_1
Kesalahan Bumi selama ini adalah memupuk rasa cinta yang terlalu dalam pada Akash. Setiap hari pikirannya hanya mengulang-ulang rekaman wajah Akash. Dia tidak sadar bahwa mencintai terlalu berlebihan itu mengakibatkan patah hati yang paling parah saat kenyataan tidak bisa membuatnya meraih cinta itu.
"Bumi, Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa tolong kabari Nadia saja." Suara teriakan dari Akash memangkas monolog panjang Bumi.
Bumi mengusap wajahnya pelan, merapikan rambut yang sedikit menutupi wajahnya. Perlahan Dia mulai berdiri dan membuka pintu. Akash sudah berganti memakai celana panjang lengkap dengan jaket dan sneaker hitamnya. Motornya pun sudah terparkir di halaman.
"Aku kira kemarin Kakak pulang?"
"Nyatanya Aku di sini, kedinginan karena semalaman hujan." Jawab Akash yang sedang menyampirkan ransel ke punggungnya.
"Aku dengar suara motor Kakak pergi," ucap Bumi. Dia sebetulnya penasaran kenapa hal itu bisa terjadi. Motor tidak bisa jalan sendiri kan?.
"Dititip ke pak satpam sekalian Aku kasih burger dan kopi yang ditolak sama seseorang." Jawab Akash seraya merapikan rambut dan mulai memakai helm.
Bumi jadi merasa tidak enak, Dia merasa sikapnya terlalu berlebihan terhadap Akash.
"Kak, Aku rasa gagal atau tidak pernikahan kalian kita tetap nggak bisa sama-sama."
Akash yang mendengar hal itu reflek membuka kembali helmnya. Dia berjalan mendekati Bumi dan berdiri di hadapannya. Setelah menaruh helm pada pergelangan tangannya Akas memegang kedua bahu Bumi. Seperti tersihir, Bumi malah mendongakan kepala dan membuat tatapannya bertemu dengan tatapan Akash.
"Istirahatlah, jangan bicara macam-macam. Aku bilang, Diam di tempatmu sampai Aku kembali datang. Ok?"
Bumi tak menjawab, tangannya menepis halus kedua tangan Akash yang memegang bahunya.
"Pulanglah...."
"Bumi, cukup cuaca aja yang dingin sikapmu jangan. Hatiku repot mengatasinya. Aku pulang...."
Setelahnya Akash mulai kembali memakai helmnya lalu segera menaiki dan menstarternya. Sebelum benar-benar pergi Akash sempat menatap Bumi yang masih berdiri di bibir pintu. Punggung gadis itu bergetar. Akash tahu Bumi sedang menangis. Mungkin Bumu memang butuh waktu sendiri. Dengan berat hati Akash melajukan motornya.
Mendengar deru motor meninggalkan halaman Bumi reflek berlari dan masib sempat melihat motor itu baru saja keluar dari gerbang rumahnya. Bumi memandanginya hingga Akash bersama motornya hilang keluar dari gapura besae perumahannya berbaur dengan kendaraan lain di jalan utama.
Bodohnya Bumi, Dia tidak tahu bahwa aksinya mengintip Akash tertangkap kaca spion motornya.
Kenapa harus membohongi diri sendiri Bumi? Tunggulah, Gue nggak akan pernah ninggalin Lo.
__ADS_1