
Di pelaminan lah kini Laut dan Ayesha berdiri setelah sah menjadi sepasang suami istri 30 menit yang lalu. Kedua pengantin itu kini sedang bersiap akan melempar bunga pada para tamu undangan terkhusus pada yang belum memiliki pasangan.
"Ayo Kak Lila, Kita baris paling depan. Siapa tahu Kak Lila bisa tangkap bunganya biar cepat menyusul nikah." Bumi menarik pergelangan tangan Lila yang nampak anggun dengan gaun panjang berwarna silver.
Lila menurut saja pada ajakan Bumi. Dia mencari-cari keberadaan sang kekasih namun tak nampak batang hidungnya.
"Damar sama Akash kemana sih?" Lila celingukan sendiri.
"Sudahlan biarkan jangan ajak Mereka."
Kini Bumi dan Lila sudah berdiri di barisan paling depan saat Auesha dan Laut hendak melempar bunga. Dengan arahan pembawa acara, pada hitungan ketiga bunga tersebut dilempar oleh pengantin baru. Lila sudah bersiap menangkap saat tiba-tiba tangan seseorang lebih dulu menangkap bunga itu.
"Damar?" Lila mengkerutkan keningnya. Kesal sendiri kenapa datang tiba-tiba dan mengambil bunganya.
"Sorry, Aku yang dapat bunganya. Gimana dong?" Damar mengerlingkan sebelah matanya dan dibalas dengan decakan kesal oleh Lila.
"Ini bunga yang lebih cocok buat Kamu," ucap Damar menyerahkan satu buket bunga mawar putih yang sedari tadi Dia sembunyikan. Tangan Lila reflek menerima buket bunga itu. Dia meraih sebuah kartu ucapan dengan tulisan KITA NIKAH, YUK?
Lila menutup mulutnya yang menganga dengan sebelah tangannya. Dia menatap Damar meminta penjelasan. Dama tertawa kecil lalu menyerahkan bunga yang dia peroleh dari pengantin pada Bumi yang berdiri di belakang Lila.
Damar mengeluarkam kotak kecil berisi cincin dari dalam saku celananya. Dengan sedikit menunduk namun dengan suara lantang Akash berbicara seraya meraih tangan Lila.
"Damara Baadillah hari ini meminta pada Kalila Sabrina untuk menjadi istri sekaligus wadah berkembang biaknya generasi selanjutnya dari keturunanku. Menikahlah denganku, Lila!"
Lila tak lekas menjawab, rasa bahaguanya bercampur geli dengan kalimat menjadi wadah berkembang biaknya yang Dia dengar. Ini romantisnya di mana?.
"Lila, nikah yuk?" Damar mengacungkan cincin yang dipegangnya tepat di hadapan wajah Lila. Semua orang yang melihat termasuk sang pembawa acara tidak ada yang berani bicafa. Ikut hanyut dalam suasana proses melamar dengan kalimat absurd dan aneh tersebut.
Lila memejamkan mata, menghela nafas panjang. Dengan kesusaham Dia meneguk salivanya sendiri dan berkata
"Iya, Aku mau."
__ADS_1
Hanya tiga kata dan langsung mendapatkan tepuk tangan riub dari seluruh tamu yang hadir di sana. Dengan tangan bergetar Damar memasangkan cincin emas putih di jari manis Lila.
"Makasih, La. Aku gugup banget. Pengen meninggal." Damar belum pernah merasa segugup ini, satu hal yang Dia sadari ternyata ini lah yang Laut rasakan kemarin sampai tidak fokus mengerjakan apapun.
"Aku senang akhirnya Kamu mau serius," ucap Lila seraya meraih jemari sang calon suami dan memberikan rasa nyaman. Bumi senang sekali melihatnya. Walaupun dengan sedikit berbohong karena mengarang cerita tentang Lila yang akan dijodohkan. Tapi, Dia berhasil membuat Damae yakin untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
"Selamat ya Kak, jangan kelamaan digantung karena Kak Lila bukan jemuran." Kata Bumi menepuk bahu Damar lalu memeluk tubuh Lila seraya kembali membisikan kata selamat.
"Hebat man, Akhirnya nyadar juga Lo sama dosa-dosa." Kali ini Akash yang memeluk Damar tentunya disambut Damar dengan bahagia.
"Eeh udah yuk Kita makan. Nggak enak juga dilihatin banyak orang." Ucap Bumi setelah melihat Zahra dan suaminya yang akan naik ke pelaminan memberi selamat pada Laut.
Entahlah semenjak kemarin tak sengaja Bumi mendengar pembicaraan Akash dan Zahra sesaat sebelum pulang, Bumi merasa sedikit kehilangan simpati pada sosok Zahra.
"Pokoknya Kakak nggak mau lihat lagi Kalian dekat, Kamu itu sebentar lagi menikah!"
"Setidaknya biarkan Kami dekat sebelum hari pernikahanku,"
"Kakak sekarang mirip dengan Bang Ilham, menilai orang dari status sosial saja. Dan soal selingkuh, boleh juga dicoba. Makasih sudah memberiku masukan."
Gara-gara obrolan yang tidak sengaja Bumi dengar itu, kemarin Bumi memutuskan pulang terlebih dahulu menggunaan ojol.
*******
Bumi tidak marah pada Akash, Dia hanya kembali merasa tidak pantas. Sedari awal acara Dia terus berusaha menghindar dari pria yang hari itu lagi-lagi memakai kemeja batik yang sama dengan kain batik yang digunakannya. Bumi terus berusaha mengacuhkan keberadaan Akash.
Bumi, Akash, Damar dan Lila sudah duduk dengan menikmati makanan masing-masing.
"Jadi ini ide Kamu?" tanya Lila pada Bumi yang sedang menikmati baksonya, perlu antrian panjang saat tadi akan mengambil semangkuk bakso saja.
"Iya, suka nggak?" Bumi balik bertanya.
__ADS_1
"Suka, makasih ya...." Lila mengusap punggung tangan Bumi sekilas. Akash yang duduk tepat di hadapannya dengan sengaja menendang kaki Bumi. Bumi yang merasa ada pergerakan di bawah meja reflek melihat ke sumber terduga. Kaki Akash menendangnya.
Akhirnya kedua pandang itu bertemu. Akash sedikit mengulas senyum tipis sementara Bumi hanya memutar bola mata. Kesal, apa maksudnya menendang-nendang. Akash mengambil ponsel lalu mengetikkan sebuah pesan yang Dia kirim pada Bumi.
/Kenapa sih?/
Bumi mengerutkan kening membaca pesan itu, dan membalasnya singkat.
/nggak apa/
Akash semakin yakin jika Bumi tidak baik-baik saja.
/Mau jujur atau Aku cium di sini saat ini juga?/
Bumi sedikit kaget namun singkat lagi pesan yang Dia kirim sebagai balasan.
/Cium/
Akash membelalakan matanya, Bumi yang melihat raut wajah kaget Akash bersorak dalam hati dan tetep berusaha tidak tersenyum.
Akash menggeser kursi ke belakang kemudian Dia beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Bumi. Bumi yang mendapati Akash semakin dekat mulai merasa gusar. Walaupun tidak mungkin Akash benar-benar melakukan hal gila itu. Akash kini sudah berada di hadapan Bumi. Lila dan Damar saling melempar pandang tak berani berkomentar. Keduanya sudah mengerti ada hal yang terjadi pada Akash dan Bumi.
"Jadi mau dicium di bagian mana?" tanya Akash dengan suara berat. Tidak hanya Bumi, Damar dan Lila juga mendengarnya. Baiklah, ini akan jadi tontonan seru saat Akash benar benar melakukannya.
"Bibir...." Jawab Bumi, menyembunyikan kegugupannya. Akash tersenyum tipis. Baiklah. Perlahan Akash mulai membungkukan badan, mendekatkan wajahnya ke wajah Bumi.
Bumi semakin tidak tahan saat kedua pandang Mereka kembali bertemu dengan tatapan Akash yang sulit diartikan. Bumi harus mengambil tindakan jika tidak ingin menjadi tontonan gratis. Dia segera berdiri lalu menarik pergelangan tangan pria jangkung itu dan membawa langkahnya pergi dari tempat itu.
Lila dan Damar hanya dibuat geleng-geleng dengan tingkah keduanya.
"Itu tadi mau dicium bukan sih si Bumi?" Pertanyaan Damar pada Lila membuat Lila hanya menggedigan bahu tanda tak tahu.
__ADS_1
Sementara Bumi terus melangkah dengan tangan masih memegang pergelangan Akash. Akash merasa di atas angin. Lagipula soal ciuman itu hanga gertakannya saja. Dia paling tidak tahan jika didiamkan oleh Bumi.