Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
22


__ADS_3

Setelah berhasil terkena jebakan Bumi dan puas melampiaskan dengan memukuli Laut ketiga orang itu bergantian mencuci tangan di kran wastafel.


"Gila Lo Bumi, otak Lo jorok banget dah!" umpat Damar seraya mencipratkan tangannya yang masih basah ke wajah Bumi.


"Kak Damar tuh sukanya mengerjai orang giliran dibalas koq kesal sih?" Bumi mengusap wajahnya yang terkena cipratan.


"Lhoo ini ngapain jadi berdiri di sini? ribut-ribut lagi?" tanya Ayas yang masih mengenakan mukena. Bumi mendekati Ayas dan langsung bergelayut di lengan Sang Mama.


"Kita habis main tebak-tebakan, Mam."


"Seperti anak kecil saja Kalian ini!"


"Berisik ya, Tan?" tanya Damar cengar cengir.


"Kalian mana pernah tidak berisik, sih?" sindir Ayas.


"Ini Damar koq yang bikin ribut Mam," Ayesha ikut bicara. Merasa tidak enak dengan calon mertuanya itu.


Tiba-tiba Ayas mengingat sesuatu saat melirik Ayesha. Dia ingat kemarin malam Laut ditemani Bumi bicara pada Ayas ingin melamar Ayesha dan segera menikahinya dalam waktu dekat.


"Kakakmu sudah bilang belum kalau mau melamar Ayesha?" Ayas berbisik pada putrinya.


"Kayaknya belum, tuh lihat tangan Kak Ayesha masih polos. Belum memakai gelang," Bumi menunjuk pergelangan tangan Ayesha dengan dagunya.


Ayas berdehem, dan langsung menegakkan posisi berdirinya.


"Ayesha, sebenarnya ada hal penting yang ingin Mama bicarakan. Bisa Kita kumpul di ruang tamu?"


Ayesha sedikit kaget? Apa ada kesalahan yang Dia perbuat. Dia menatap Bumi mencari jawaban lewat mata Bumi. Namun, Bumi hanya menggedigan bahu sebagai pertanda tidak tahu.


"Ayok!" Ayas berjalan terlebih dahulu dengan Bumi yang masih bergelayut pada lengannya. Yang lain mengikutinya dari belakang. Laut yang mengetahui apa yang akan Sang Mama bicarakan sempat pergi ke kamarnya dan mengambil gelang emas yang akan diberikan pada Ayesha. Tak lama Dia kembali dan bergabung.


Setelah mengumpulkan keberanian yang cukup. Laut mulai membuka pembicaraan. Jantungnya berdetak tak karuan. Padahal ini hanya bicara di hadapan keluarga dan teman-temannya. Bukan di hadapan keluarga Ayesha.


"Mam, biar Laut yang bicara."


Dengan gelang di genggaman tangannya, Laut menghela nafas panjang. Sebelum mulai berkata, Dia bergumam membaca basmallah.


"Sha, will you marry me?"


Hanya empat kata, lima jika panggilan nama Ayesha dihitung. Tapi, membuat Ayesha yang duduk berhadapan langsung dengan Laut terperangah kaget. Tubuhnya serasa disengat listrik dengan hati yang bergetar hebat. Air matanya sudak memupuk di ujung mata. Bibirnya bergetar, ingin berkata namun tertahan di tenggorokan. Sebuah anggukan berat. Hanya anggukan yang mampu Ayesha berikan sebagai jawaban.


"Itu artinya Kamu mau?" tanya Laut memastikan apa yang dilihatnya.


Alih-alih menjawab, Ayesha malah mengangguk kembali dan meloloskan air mata jatuh dari tempatnya. Laut bahagia, Dia menengadahkan tangannya seraya menatap langit-langit rumahnya. Setelah mengucap Hamdallah dia menyapukkan kedua tangannya ke wajah.


Semua yang melihat merasa tersihir oleh interaksi kedua anak manusia yang sedang dimabuk cinta itu. Lila membyangkan andai berada di posisi Ayesha pasti rasanya akan sangat bahagia.


"Sini Sayang, peluk Mama!" Ayas merentangkan tangannya menunggu Ayesha memelukknya. Ayesha segera menghampiri Sang calon mertua dan menumpahkan tangis bahagianya di dada wanita paruh baya yang selalu lemah lembut itu.


"Terimakasih sudah mau menerima Laut, semoga Kalian bisa saling melengkapi."


Ayas mengusap kepala Ayesha dengan gerakan pelan membuat Ayesha sangat merasa disayangi.


"Aku nggak tahu harus bicara apa. Tapi, Aku juga mau bilang terimakasih Mama selama ini sudah mau menerima Aku," Ayesha mengeratkan pelukkannya. Elusan Ayas kini pindah ke punggung gadis berambut panjang itu.


"Kak, Aku juga mau peluk!" Bumi ikut memeluk keduanya.


Beberapa detik sampai dirasa cukup saling menumpahkan perasaan masing-masing mereka mengurai pelukan bahagia itu.


"Ayesha, selamat yaa. Sebentar lagi resmi jadi nyonya Bramasta Laut," ucap Lila merentangkan tangannya dan disambut oleh Ayesha dengan senyuman lebar.


"Makasih, Aku doakan Kamu dan Damar segera menyusul."


"Aamiin."


Kini giliran Laut yang mendapat selamat dari Akash dan Damar.


"Cepetan tuh lamar Lila, jangan memupuk dosa terus. Kasihan anak orang nggak dikasih kepastian." Ledek Laut pada Damar.


"Iya Lo, kalah cepat sama Laut. Padagal Kalian sudah pacaran sejak kelas satu SMA kan?" Akash ikut mengompori.


Para perempuan hanya tertawa melihat Damar yang dipojokkan.

__ADS_1


"Aah Lo juga sama kan, anak orang nggak dikasih kejelasan status? kapan Lo ngelamar Dia?" Damar tak mau kalah meledek Akash.


"Bulan depan," ucap Ayas mewakili jawaban Akash.


"Bulan depan?" Semuanya kompak bertanya.


"Iya bulan depan keluarga Ummi akan melamar Rere secara resmi." Ayas memperjelas kalimatnya.


Sakit. Itu yang dirasakan hati Bumi.


"Mama tahu dari mana?" Laut melupakan bahwa gelang yang Dia siapkan belum diberikan pada Ayesha.


"Mama tahu dari Ummi saat pengajian minggu lalu. Tadi juga saat bertemu Zahra dan suaminya di toko Mereka memberi tahu Mama."


Saat itu juga Bumi merasa tubuhnya mengerdil. Setelah beberapa waktu dibuat terbuai oleh perlakuan dan pernyataan perasaan dari Akash. Hari ini Bumi seperti menyadari sesuatu. Bahwa perasaannya pada Akash memang tidak penting. Cinta yang Dia pupuk dari awal seharusnya tidak boleh dibiarkan tumbuh dengan subur.


Bumi tergugu, melipat bibir yang bergetar. Kedua tangannya saling meremas. Gemuruh di dadanya bukti bahwa hatinya tidak baik-baik saja.


Laut menggeram, Dia menyerahkan gelang di tangannya pada Ayesha tanpa bicara apa-apa.


"Kenapa Lo diam dan malah membuat Bumi semakin susah jauh dari Lo?"


Brugh


Satu pukulan di wajah Akash melayang. Akash tak melawan, hatinya hancur. Akash memang tidak jujur pada Bumi. Dia begitu yakin bisa membatalkan pernikahan ini.


"Laut, jangan pukuli Akash. Kita bisa bicara baik-baik!" Ayas menahan tangan Laut yang kembali akan melayangkan pukulan pada Akash.


"Maaf," ucap Akash dengan suara parau.


"Kamu lebih baik pulang, Kash. Kita bisa membahas ini besok lusa. Mama juga telah bersalah dalam hal ini," Ayash yang masih memegangi tangan Laut berkata lembut.


Akash hanya mengangguk. Semua yang ada di ruangan itu iba sendiri melihat Bumi yang diam dengan keadaanya yang terpukul. Sekilas Akash melirik wanita yang dicintainya lalu segera berlalu ke kamar atas untuk mengganti celana dan mengambil barang-barangnya .


Ayas segera duduk kembali di samping Bumi, memeluk bahunya dari samping. Tak lama Akash sudah turun dan bersiap pulang.


"Maaf, Bumi."


"Mam, seharusnya Aku tidak menyimpan perasaan ini. Salahkah Aku jika Allah menggetarkan hatiku untuk mencintainya?"


"Tidak ada yang salah, Nak. Serahkan semua pada Allah," Ayas berusaha tersenyum agar air mata Bumi tidak jatuh.


"Bumi mau tidur dengan Mama," Bumi segera beranjaj ke kamar Mamanya tanpa menunggu jawaban. Dia hanya ingin menumpahkan tangisannya.


"Laut, antar Ayesha pulang." Ucap Ayas lalu segera menyusul langkah Bumi.


Laut dengan amarah yang masih meluap kembali duduk di sebelah Ayesha yang masih menggenggam gelang. Ayesha merasa bingung harus berbicara apa. Rasa bahagianya datang bersamaan dengan kekecewaan di hati Bumi.


"Maaf, Sha. Momen Kita jadi rusak."


"Nggak apa-apa, Aku cuma khawatir dengan Bumi."


"Sebenarnya hubungan Bumi dengan Akash itu gimana sih?" tanya Damar yang masih bingung kenapa jadi rumit seperti ini.


Akhirnya agar tidak ada kesalah pahaman Laut menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai akhirnya ketiga orang tersebuy manggut-manggut tanda mengerti.


"Untuk pertama kalinya Gue merasa lebih beruntung dari Akash. Walau kerjaan cuma jadi jongos di kantor Rere tapi setidaknya soal cinta Gue bisa mendapatkan cewek yang Gue cintai." Ujar Damar. Kalau saja suasana tidak sedang dingin seperti ini sudah dipastikan mereka akan tertawa mendengarnya.


"Gelang ini maksudnya apa?" tanya Ayesha saat sudah yakin dengan kondisi Laut yang mulai stabil.


"Oh iya sampai lupa, ini sebagai tanda pengikat antara Kamu dan Aku." Laut mengambil gelang emas putih dengan hiasan berbentuk love yang ditaburi permata di sisinya.


"Di bagian dalam sini ada nama Kita," ucap Laut seraya memakaikan gelang itu pada Ayesha.


"Kenapa harus gelang?"


"Karena kalau cincin nanti akan kupakaikan sesaat setelah ijab kabul dan terucap kata SAH dari penghulu," jawab Akash, mengusap lembut punggung tangan Ayesha.


"Aku juga ingin dilamar seperti itu," pekik Lila menarik-narik ujung kaos yang dipakai Damar.


"Sabar sayang, uangku belum cukup. Nanti Aku menabung dulu," Damar berupaya membujuk Lila.


"Jangan mau diberi harapan palsu, La. Tinggalkan saja Dia. Kalian pacaran sudah hampir sembilan tahun. Itu pacaran atau nyicil perumahan?" ledek Laut.

__ADS_1


"Sombong Lo, mentang-mentang udah jadi kaki tangan Bos Rere. Gaji Lo kan tiga kali kipat dari Gue. Wajar kalau Lo udah mampu nikahin anak orang," Damar membela diri.


"Melamar wanita itu bukan soal gaji, tapi soal keseriusan!" seru Lila merasa tidak diperjuangkan.


"Ok, kasih Aku waktu. Nanti Aku suruh Enyak Babe jual sawah dah buat melamar Neng Lila sayang."


Damar bicara dengan logat betawinya, suasana menjadi sedikit hangat.


"Nah gitu dong, Babe sama Enyak kan selain juragan tanah juga juragan kontrakan. Bener kata Lila, ini bukan soal seberapa besar gaji Lo. Ini soal keseriusan dan komitmen!" Laut ikut memanas-manasi.


"Eet dah bocah ngapa makin dipanas-panasin. Sabar ngapa, Gua kan kudu ngomong dulu sama Enyak Babe."


"Sekalian Encang, Encing, Engkong Lo Tong ajak ngomong." Laut meledek.


Suasana memang selalu seru saat bermain ke rumah Damar yang memiliki darah betawi asli. Seluruh keluarganya ramah walaupun gaya bicara mereka seperti mengajak ribut. Lila juga sebenarnya sudah diterima dengan baik di keluarga Damar. Hanya saja Damar yang memang masih merasa ragu.


"Udah ah, Aku mau balik. Kamu memang susah dibawa seriusnya," Lila akhirnya merajuk. Tanpa berpamitan Dia meninggalkan ruangan. Damar langsung mengejar kekasihnya itu. Terlibat percekcokan sebentar namun bukan Damar namanya jika tidak bisa dengan cepat meraih kembali hati pujaannya. Akhirnya mereka pulang dengan Lila yang sudah kembali tersenyum.


"Mereka itu ada-ada saja. Kebayang kalau nanti sudah menikah pasti walau tinggal berdua juga keadaan rumahnya selalu ramai," Ayesa menggeleng-geleng tertawa.


"Kalau Kita gimana?" tanya Laut menatap intens pada manik Sang calon istri.


"Bucin setiap saat sih kalau Kita," jawab Ayesha tersenyum malu.


Setelah mengobrol beberapa hal Ayesha pun diantar pulang oleh Laut tanpa berpamitan kepada Ayas. Laut berfikir lebih baik tidak mengganggu Bumi untuk sekarang ini.


Sementara itu di kamar Ayas, Bumi sudah bisa menghentikan tangisannya walau masih sesenggukan.


"Bumi boleh menangis, tapi setelah itu tersenyumlah. Yakinlah, apa yang sudah Allah takdirkan untuk Kita pasti tidak akan terlewat. Berdo'a dan memintalah pada Allah," ucap Ayas mengelus kepala Bumi yang masih menelungkupkan wajahnya di atas kasur.


Bumi membalikkan badannya, memindahkan kepalanya ke pangkuan Ayas yang duduk bersila di sampingnya.


"Bolehkah Bumi berdo'a minta dijodohkan dengan Kak Akash?"


Ayas tersenyum getir tak langsung menjawab boleh apa tidak.


"Hati setiap manusia itu memiliki pasangan, sejauh apapun mereka dipisahkan jika memang sudah jodohnya Allah pasti akan menyatukannya."


"Jadi boleh bumi meminta Kak Akash menjadi jodoh Bumi?" Bumi mengulangi pertanyaannya.


"Meminta dan memohonlah pada Allah, serahkan pada Allah."


Bumi tak lagi bicara, Dia memilih memejamkan matanya.


****


Flash back saat di toko


Ayas yang sedang berjalan keluar dari toko tak sengaja berpapasan dengan Zahra dan Ilham, suaminya. Mereka terlibat obrolan sampai akhirnya Zahra dan Ilham mengajak Ayas mampir sebentar di kafe sebelah toko untuk membahas beberapa hal.


Setelah minuman dihidangkan, Zahra mulai membuka pembicaraan.


"Sebelumnya maaf ya, Bu. Saya langsung saja ke inti pembicaraannya. Saya kurang suka jika Akash dan Bumi terlalu dekat. Akash sebentar lagi akan menikah. Mungkin bulan depan Kami sekeluarga akan melamar Rere dan setelah itu pernikahan akan dilakukan secepatnya."


Zahra berupaya agar tidak menyinggung perasaan Ayas.


"Saya juga tahu Bu, hari ini mereka berdua sedang pergi kan?" tanya Ilham, ada sedikit nada angkuh pada kalimatnya.


"Maafkan Saya ya Zha, Saya hanya berfikir mereka berdua sudah saling menyayangi layaknya seperti adik dan Kakak. Saya tidak berfikir sejauh itu."


"Saya juga awalnya berfikir begitu, tapi setelah beberapa waktu orang-orang suruhan Bang Ilham menyelidiki ternyata Mereka justru saling menyimpan perasaan."


"Saya mohon Bu, peringatkan pada Bumi untuk menjaub dari Akash." Ilham bicara sangat lembut namun penuh ancaman.


"Saya yakin Bu ayas lebih bijaksana dan memberikan Bumi pengarahan. Saya percaya pada Bu Ayas," Zahra mengusap punggung tangan Ayas. Sedikit memberi ketenangan setelah perkataan suaminya yang bernada ancaman itu didengar Ayas.


****


Untuk kesekian kalinya Ayas merasa tidak bisa memberikan apa yang Bumi inginkan. Ada perasaan sakit yang begitu menusuk jiwanya saat menyaksikan putrinya harus berkali-kali patah hati.


Sudah cukup. saat kecil Dia ditinggalkan Papanya. Selama tiga belas tahun hidup terpisah darinya. Saat dewasa dan mulai mengenal cinta justru Dia melabuhkan hati pada seseorang yang sudah pasti tidak bisa menerimanya.


Ayas memindahkan kepala Bumi pada bantal yang ditumpuk. Gadis itu sudah terlelap bersama kekecewaannya. Senggukan masih tersisa. Air mata yang menganak sungai di pipi menjadi tanda seberapa banyak tangisan yang tumpah.

__ADS_1


__ADS_2