Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
144


__ADS_3

"Gue susul Bumi sekarang deh." Akash bersiap hendak beranjak, namun ditahan oleh Laut.


"Jangan dulu, biarin dia marah-marah sendiri dulu," saran Laut membuat Akash kembali duduk.


"Istri lo adiknya Laut?" tanya perempuan yang bernama Dinda itu seraya memandang Laut dan Akash bergantian.


Dinda adalah teman mereka semasa SMA dulu. Memang tidak terlalu dekat seperti dengan Ayesha dan Lila. Hanya satu angkatan, tidak pernah satu kelas. Tapi cukup sering nongkrong di kantin bersama saat jam istirahat. Dinda diundang oleh Ilham sebagai rekan bisnisnya. Saat bertemu dengan Akash, ia tak menyangka bahwa yang menikah adalah adik Akash.


"Iya ...." jawab Akash seraya menggasak rambutnya frustasi.


"Dia nggak pernah semarah ini, pasti ada sesuatu," gumam Akash.


"Beneran hamil lagi kali?" tebak Damar. Sesama lelaki, Damar sudah paham jika tiba-tiba suasana hati istri berubah-ubah. Kalau tidak sedang datang bulan, maka sedang hamil.


"Gue pengen susul sekarang aja." Akash sudah tak sabar. Ia takut sekali saat tadi melihat mata menyalang Bumi.


"Jangan!" cegah Laut, "kata satpam, mereka baru aja nyampe," beritahu Laut, membuat hati Akash sedikit lega.


"Gue takut kalau dia marah kaya gini," keluh Akash yang langsung mendapat cibiran dari Dinda.


"Ya elah, lo takut istri ternyata? payah lo, badan aja tinggi sama istri aja takut,"jek Dinda.


"Gue bukan takut dalam konteks seperti yang ada dalam pikiran lo. Gue takut kehilangan dia. Gue takut dia nggak butuh lagi sama gue!" tegas Akash membuat Dinda tak berani lagi menjawab.


***


Begitu sampai di rumah, Bumi segera membersihkan darah kering pada telinga Ara.


"Sayang, maafin Bunda, ya," ucapnya pada Ara yang sedang menangis karena merasa terganggu oleh kelakuan Bundanya yang sedang membersihkan kupingnya.


"Bunda janji, Bunda berusaha buat nggak lengah lagi." Bumi menyentuh pipi putri kecilnya itu. Ditiupinya kuping yang bau saja ia bersihkan.


Sementara itu, Aro dan Akhza ditidurkan di kamar ibu. Lia dan Eli tentu setia menunggu.


"Mbak Bumi bisa marah juga ya?" komentar Eli.


"Namanya juga manusia, nggak ada yang sempurna," timpal Lina membuat Eli mengangguk.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Bumi masuk ke dalam kamar menggendong Ara yang yang tengah tertawa-tawa kecil karena dibawa sambil setengah berlari-lari oleh Bumi.


"Teh Lina sama Bi Eli tidur aja, kasihan pasti capek ngurusin si kembar," tutur Bumi seraya duduk di tepian kasur. Perasaan bersalahnya menumpuk pada Aro. Ia tadi sedikit mengomeli anak itu.


"Aku minta maaf sama kalian berdua," sesalnya membuat Eli dan Lina kompak mengangguk.


"Nggak apa-apa, Bunda," timpal Eli dan diangguki oleh Lina.


"Aku cuma kaget lihat kuping Neng Ara berdarah, sampai antingnya lepas. Pasti dia kesakitan." Wajah sendu Bumi tak dapat ia sembunyikan.


"Neng sakit? maafin Mas Ar, ya?" Bumi membalikan tubuh Ara agar menghadap padanya. Ia tempelkan cuping hidungnya dan hidung Ara. Membuat gadis kecil itu terkekeh.


"Mas Ar sedikit beda sama Abang ya, Mbak?" Lina berkomentar seraya memandangi kedua batita yang sedang terlelap itu.


"Bukan sedikit, tapi banyak. Mereka berdua tuh bertolak belakang banget," sahut Bumi, masih gemas pada Aro. Ada perasaan khawatir, takut Aro hingga besar akan terus kasar pada Ara.


"Padahal aku sama kakak udah sebaik mungkin ngasih Mas Ar contoh, tapi ...." Bumi menggantung kalimatnya saat Ara tiba-tiba turun dari pangkuannya. Gadis kecil itu meronta ingin meraih tangan Aro.


"Jangan ganggu mas, Bundanya masib capek. Nanti masnya marah kalau diganggu," larang Bumi pada Ara. Namun, Ara tak mengerti. Ia terus menunjuk-nunjuk tubuh Aro.


Bumi akhirnya memindahkan posisi Ara agar berdekatan dengan Aro. Tangannya menunjuk pada wajah Aro seraya tertawa bahagia.


"Sudah ashar, Neng. Neng mandi duluan yuk!" Bumi segera mengangkat tubuh putrinya seraya berkata pada Lina dan Eli untuk bergantian salat sebelum si kembar bangun.


***


Selepas magrib Bumi kembali ke kamarnya bersama Ara. Sementara si kembar ia biarkan bermain bersama Eli dan Lina di ruang tengah. Bumi sedang berusaha menyembuhkan luka pada diri Ara. Ia tak mau Ara merasa tidak disayang oleh kakak-kakaknya.


Sambil berbaring, Bumi melafalkan beberapa surah pendek. Ara memang anak yang baik. Saat Bumi memintanya berbaring saja, maka gadis itu menurut. Bibir Ara tergerak mengikuti gerak bibir Bundanya. Membuat Bumi gemas dengan sesekali menciuminya.


Aro dan Akhza sibuk dengan mainannya saat Akash tiba. Dia datang sendiri sebab Laut pulang ke rumah mertuanya dan ibu menemani Bu haji Endah menginap di rumah Ummi.


"Anak sholeh lagi pada ngapain?" sapa Akash yang datang membawa jinjingan berisi makanan dan cemilan. Dia menyuruh Lina merapikan makanan yang ia bawa itu.


"Bundanya ke mana, Bi?" Akash bertanya pada Eli yang sedang membantu Aro mengambilkan bola ke kolong meja.


"Ke kamar, Pak. Tadi ada keributan antara Mas Ar dan Neng Ara," Beritahu Eli membuat Akash bertangya lebih lanjut.

__ADS_1


Eli menceritakan kejadian tadi siang, hingga Akash menarik kesimpulan bahwa bukan hanya kehadiran Dindalah yang membuat Bumi terlihat marah.


Setelah mendapat info dari Eli, Akash segera menemui istrinya di kamar. Pintu tidak ditutup, Akash masuk begitu saja ke dalam kamar. Didapatinya Bumi dan Ara terlelap saling berhadapan. Rambut hitam Bumi yang kini semakin panjang masih terlihat basah.


Akash dengan hati-hati ikut berbaring di samping Bumi. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Bumi. Meletakan dagu pada leher istrinya yang tertutup oleh rambut yang masih basah, namun sangat harum.


"Sayang, bangun yuk! makan dulu!" bisik Akash membuat Bumi segera terbangun. Ia merasakan hembusan nafas pada lehernya. Tangan kirinya digenggam oleh telapak tangan suaminya yang lebar.


"Sudah bangun?" Akash kembali berbisik membuat darah Bumi berdesir hebat.


"Lepasin, kak!" Bumi berusaha melepaskan genggaman tangan Akash, namun tenaganya tidak lebih besar dari tenaga Akash.


"Kamu marah sama aku?" Akash masih bicara dengan cara berbisik.


"Salah kamu hari ini banyak!" sentak Bumi.


"Ya udah, maaf. Maaf buat segala kesalahan aku." Suara Akash semakin melembut. Membuat Bumi rasanya ingin berbalik dan memeluknya saja. Tapi. dia sedang marah. Marah untuk sesuatu yang entah apa penyebabnya.


"Emang kamu tahu kesalahan kamu apa?"


"Aku nggak ikut jagain anak-anak, aku nggak berusaha bangunin kamu, aku ngobrol sama temen aku, dan aku telat datang ke sini." Akash berusaha mengabsen kesalahannya. Semoga saja benar, agar istrinya tak terus menerus marah.


"Dinda itu temen SMA kita."


"Dia diundang Bang Ilham karena merupakan rekan kerjanya."


"Tadi kita cuma ngobrol biasa."


"Tapi, Kakak nyebut dia cantik!" teriak Bumi, memangkas kata-kata Akash.


"Masa' harus nyebut dia ganteng?" canda Akash namun tak sedikit pun membuat Bumi terhibur.


"Kakaaak ... aku lagi marah!" omel Bumi dan malah dihadiahi ciuman bertubi-tubi di kepalanya dari Akash.


"Tapi tadi dia bilang cowok yang dia suka udah nikah, jangan-jangan itu kamu?" tuduh Bumi.


Akash semakin gemas dengan istrinya, dengan sekuat tenaga ia mengangkat tubuh Bumi hingga posisinya berada di atas tubuhnya.

__ADS_1


"Dinda, itu namanya. Dia itu mantan Laut."


__ADS_2