Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
132


__ADS_3

Sementara menunggu bukaan lengkap, Ayas pamit keluar untuk melaksanakan shalat maghrib setelah Akash kembali dari shalatnya. Bumi merasa ingin buang air besar kembali, awalnya ia tahan sebab takut itu hanya tipuan saja. Tapi rasa ingin buang air kecil juga mendorongnya untuk beranjak dari tempat tidur.


"Mau buang air kecil boleh 'kan, dok?" tanyanya seraya diangguki kedua dokter itu.


"Bahkan boleh juga jalan-jalan bila Mbaknya kuat, itu dapat mempercepat proses pembukaan." Sahut dokter Ayu yang diangguki dokter Army.


Akash segera membantu istrinya ke kamar mandi. Pelan-pelan sekali Bumi melangkah dipapah oleh suaminya. Namun, saat tiba di dalam kamar mandi bumi menyuruh suaminya keluar.


"Aku bisa sendiri." Ujarnya ketus.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa." Akash memberi alasan kenapa dirinya ingin menemani istrinya itu di dalam kamar mandi. Namun sebuah pelototan mengurungkan niatnya.


Akash keluar dan menutup pintu sesuai keinginan istrinya. Di dalam kamar mandi Bumi duduk di atas kloset. Ia merasakan air seninya keluar bersamaan dengan kontraksi dan panas di pinggangnya.


Ia tak tahan, ucapannya pada Akash tentang tidak sakit hanyalah bualan. Nyatanya ia kesakitan, hanya tak ingin membuat suaminya panik. Selesai buang air kecil Bumi segera kembali melangkah untuk keluar, namun sakit di pinggangnya semakin terasa dan makin panas. Ia bersandar pada dinding, air matanya luruh.


Memutuskan untuk menangis saja sebelum keluar. Ia tak ingin menangis di hadapan mama dan suaminya.


"Dek, udah belum?" Akash menggedor pintu tak sabaran sebab merasa Bumi sudah terlalu lama di kamar mandi.


Bumi menyeka air mata dan hidungnya menggunakan ujung jilbabnya. Ia mengatur nafas dan berdehem agar suaranya terdengar normal.


"Iya sebentar, kamu bawel deh." Ia sengaja bicara dengan nada ketus agar suaminya berfikir bahwa dirinya baik-baik saja.


Bumi membuka pintu dengan tangan memegangi perut. Akash segera merengkuh lengan Bumi dan membawanya kembali ke tempat tidur. Bumi kembali berbaring dengan posisi miring ke kiri.


Akash mengusap-usap pinggang Bumi hingga ke punggung.


"Mama," suara Bumi lirih terdengar.


Ayas yang baru kembali dari masjid langsung menghampiri Bumi.


"Iya, sayang. Kamu mau apa?"


"Maafin aku banyak salah sama mama," ucapnya menahan sakit. "Aku mau telpon Kak Laut, mau bicara sama Ummi juga."


"Kamu nggak pernah salah apa-apa sama mama, justru mama yang banyak salah sama kamu." Sahut Ayas seraya membungkukan badan dan menciumi wajah putrinya.


Sementara Akash terus mengusap punggungnya dan mengambil tasbih yang Bumi lepaskan sembarang di tempat tidur saat hendak ke kamar mandi tadi. Akash berdizikir dalam hati seraya menggulirkan tasbih di tangannya.


"Kak, aku ingin telpon Ummi." Tanpa berbalik Bumi mengutarakan keinginannya pada Akash.


"Ummi sedang di jalan, Sayang. Sebentar lagi sampai." Jawab Akash tanpa melepaskan usapannya.


"Tapi aku mau bicara sekarang, ini udah makin hhhh." Bumi membuang nafasnya kasar. Menghirupnya kembali lewat hidung kemudian melepaskannya lewat mulut.


"Dokter, periksa lagi dok." Pinta Akash. Benar saja, melihat istrinya seperti itu membuat ia panik sendiri.


"Tenang, Bang. Istrinya saja tenang." Ujar dokter Ayu sambil tersenyum dan mendekat ke arah Bumi.


"Boleh ditekut seperti tadi lagi kakinya ya, Mbak." Dokter Ayu memberi arahan.


Bumi segera melakukan perintah dokter itu. Dokter kembali memeriksa.

__ADS_1


"Rileks, tenang, sudah bukaan 9." Ujar dokter Ayu. "Tunggu 30 menit lagi ya." Beritahu dokter Ayu.


"Tapi dokter jangan kemana-mana, tetap di sini siapa tahu malah 10 menit lagi." Ujar Akash dengan nada ketakutan.


"Iya, Bang. Santai, tenang saja. Istrinya saja tenang." Sahut dokter Army melirik dokter Ayu lalu keduanya tertawa tanpa suara. Baru kali ini mendapati pasien yang ingin melahirkannya tenang tapi yang menungguinya panik seperti itu.


"Kak, aku mau telpon Ummi." Ujar Bumi setelah kembali meluruskan kakinya.


Akash segera melakukan panggilan pada Ummi, dua kali dering dan langsung dijawab.


"Ummi, maafin aku banyak salah. Aku mau melahirkan, do'akan ya, Mi." Cerocos Bumi begitu suara salam di seberang sana mwnyapa.


"Iya sayang, tenang ya. Bumi kuat, Bumi hebat. Ummi yakin pasti Allah mudahkan prosesnya. Ini Ummi sebentar lagi sampai. Kuat ya, Sayang."


"Makasih, Ummi. Hati-hati."


Tanpa menutup panggilan Bumi menyerahkan kembali ponsel pada Akash.


"Sekarang telpon Kak Laut, cepetan!" suruhnya padahal perutnya semakin sakit. Namun ia mampu mengendalikan diri, tak mengeluh apalagi berteriak.


Akash segera melakukan apa yang diinginkan istrinya. Dokter dan perawat saling melempar senyum sebab melihat Akash yang begitu sabar meladeni istrinya. Dan Bumi terlihat kuat padahal sudah dipastikan seperti apa rasanya akan melahirkan.


"Hallo, Dek. Kamu udah lahiran. Tadi adik ipar durhaka sudah kirim pesan."


"Kakak, aku minta maaf. Do'akan biar prosesnya lancar. Ini bukaan 9. Sebentar lagi keluar kayaknya, hhhh."


Tanpa menutup panggilan Bumi kembali mendesah.


"Kenapa ini, kenapa Sayang." Akash panik melihat istrinya yang meringis dan terus berujar Allahu akbar.


"Allahu akbar."


"Astaghfirullah...."


"Astagfirullah...."


"Dok cepat periksa lagi, kasihan istri saya." Akash sampai mendorong punggung dokter Ayu.


Ayas melangkah mendekati menantunya, sementara Bumi sudah tak ingin lagi berkata-kata karena sesuatu di dalam sana seperti memaksa ingin dikeluarkan.


Dokter Ayu kembali melakukan periksa dalam.


"Sudah lengkap, pembukaan 10." Ujarnya sumringah.


"Mbaknya ubah posisi jadi setengah duduk saja ya biar tenaganya lebih kuat." Saran dokter Army.


"Bang, pegang punggung istrinya." Seru dokter Ayu dan langsung diangguki Akash. Dia memegang kuat punggung istrinya.


"Kuat ya, Sayang. Kamu hebat, i love you." Bisiknya membuat Bumi tersenyum dan seperti mendapatkan energi lebih.


"Saat mengejan panggulnya tetap di kasur agar tidak sobek ya, Mbak."


Meski tak mengerti apa yang akan sobek Bumi mengangguk. Sementara Ayas hanya mampu memperhatikan dengan air mata yang sudah berlinangan dan tubuh gemetar.

__ADS_1


Akash terus menciumi pucuk kepala istrinya seraya tiada henti berdzikir.


"Bang tolong ditahan punggung dan kaki istrinya." Ujar dokter Ayu.


"Mbak matanya fokuskan ke arah bayi yang mau keluar ya." Seru dokter Army dan diangguki Bumi.


"Kita mulai ya."


"Tarik nafas dalam-dalam...."


"Dorong...."


Bumi mengejan tanpa suara sementara Akash yang terus memegangi punggung dan kakinya hanga dapat menciumi kening yang sudah dipenuhi oleh peluh.


Setelah mengejan untuk yang ketiga kalinya, suara bayi yang sangat kencang memenuhi seluruh ruangan. Namun kelegaan belum berakhir sebab bayi yang satunya belum keluar.


"Masih kuat ya, Mbak?" tanya dokter Ayu.


"Sambil saya bantu dorong perutnya, permisi ya Mbak." Dokter Army mendorong pelan perut Bumi sementara dokter Ayu menuntun Bumi untuk kembali mengejan. Bayi kedua berhasil dikeluarkan setelah 10 menit kemudian.


"*Allhamdullillah."


"Allhamdullillahirabbil'alamiin*" Bisik Akash seraya memeluk tubuh istrinya yang melemah.


"Terima kasih, Sayang. Kamu hebat." Akash menciumi kening Bumi bertubi-tubi.


Dokter segera menyuruh Bumi membuka kancing atas bajunya untuk melakukan IMD (inisiasi menyusui dini). Dibantu Akash ia membuka kancing baju dan menyingkap hijabnya.


Setelah bayi dipotong tali ari-arinya dan dibersihkan dari darah dan lendir, dokter menimang berat bayi.


"Yang satu beratnya 2700 gram dan satu lagi 3000 gram."


Lalu dibantu perawat, kedua bayi merah itu diletakkan ke atas perut Bumi. Akash menatap haru ke arah dua buah hatinya.


"Sehat, lengkap tak kurang satu apapun." Ujar dokter Ayu dan diangguki dokter Army.


Kedua bayi itu berdecap mencari sesuatu yang dapat dihisap. Seolah sudah mengerti apa yang sedang dicarinya.


"Ke atas, Sayang. Di sini." Ucap Akash menyentuhkan wajahnya pada bagian tubuh Bumi yang akan jadi sumber kehidupan dua buah hatinya.


"Kakak, biarin nanti nyampe sendiri." Omel Bumi.


Sementara di bawah sana Bumi merasakan sesuatu seperti sedang mengigit area intinya.


"Dokter lagi apa?" tanyanya pada perawat yang berdiri di sampingya.


"Sedang menjahit, sedikit kok, Mbak. Nggak sakit kan?"


Bumi menggeleng, ia lebih tertarik memperhatikan kedua putranya yang sedang berdecap.


"Iih dia sudah bisa meraih ****** kamu." Akash berseru riang.


"Waah dedek hebat ya, Sayang." Ujar Ayas, hatinya sudah lega. Ia pandangi dua cucu yang sedang tengkurap di atas perut putrinya. Kini dua bayi itu sudah dapat meraih apa yang sedari tadi dicarinya. Menghisap dengan rakus sumber kehidupannya itu.

__ADS_1


__ADS_2