
Cukup lama Bumi tertidur, sudah lewat zuhur. Bahkan Aro sudah tak bisa lagi dialihkan perhatiannya oleh Eli. Bocah itu tak suka minum ASI dari botol. Dia hanya ingin minum ASI langsung dari sumbernya.
Eli sudah kehabisan akal, Aro berontak saat Eli mencoba menjauhkan anak itu dari Bundanya yang masih terlelap. Hingga akhirnya, Bumi sayup-sayup mendengar suara tangisan putranya itu. Ia menyipitkan matanya sebelum akhirnya mata itu terbuka sempurna.
Bumi segera beranjak dari berbaringnya. Ia duduk seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit. Aro sudah tak sabaran. Bocah itu langsung berhamburan ke pangkuan Bundanya. Dengan gerakan cepat ia memukul-mukul dada Bumi.
"Sabar, Mas. Kamu tuh kebiasaan," omel Bumi. Eli hanya membulatkan mata mendengar Bumi yang tidak biasanya mengomel pada putranya.
"Bunda tuh pusing, kamu harusnya mau dong minum ASI dari botol." Keluh Bumi, seraya mulai mengeluarkan kesukaan putranya.
Aro seolah paham, dia tak serakus biasanya. Tangan dan kakinya pun diam. Bayi itu mengerti bahwa Bundanya sedang tidak baik-baik saja.
"Abang di mana, Bi?" Bumi sedikit berteriak pada Eli yang sedang membereskan mainan kedua bocah itu.
"Dibawa Teh Lina ke kamar Jida. Tadi di sini sudah tidur, tapi sama Mas Ar diganggu terus," papar Eli membuat Bumi gemas pada putranya yang sedang menyusu.
"Mas tuh kenapa sih nggak sama Abang, nggak sama Neng Ara sukanya ganggu terus?"
Aro seolah mengerti, ia melepaskan kesukaannya itu dan menatap Bundanya dengan binar mata sesal. Seolah meminta maaf atas perbuatannya.
"Udah, nen lagi. Bobok!" titah Bumi yang langsung dituruti putranya. Aro kembali menghisap kesukaannya dengan memejamkan mata.
"Neng Ara di mana?" Bumi khawatir putri kecilnya juga jadi sasaran kejahilan Aro.
"Neng Ara dibawa juga ke kamar Jida." Eli sedikit ragu akan memberitahukan keadaan Ara pada Bumi.
Beruntung Bumi tak lagi banyak bertanya. Meski setelah mengetahuinya nanti, Bumi pasti akan marah atau setidaknya mengomel.
Saat Eli salat Zuhur tadi, Aro menjambak rambut Ara hingga Ara menangis. Lina yang sedang menemani Akhza minum susu tak sempat melerai kedua bocah itu. Tak hanya menjambak rambutnya, Aro juga menarik kuping Ara hingga anting yang dipakai Ara terlepas dari tempatnya. Meninggalkan luka berdarah pada telinga Ara.
Seperti biasa, Aro tak bisa sebentar jika menyusu pada Bundanya. Bumi bahkan berkali-kali memencet hidung putranya itu, namun tak kunjung Aro lepaskan mulutnya dari kesukaannya itu.
Hingga hampir pukul 14.00 kegiatan Aro selesai. Bayi itu sudah terlelap. Bumi segera menidurkannya, sementara ia segera mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Zuhur yang waktunya hampir habis.
Selesai salat ia meninggalkan kamar, membiarkan Eli yang tertidur di samping putranya. Bumi melangkah menuju kamar Ummi. Ia dapati Ara dan Akhza sedang terlelap ditunggui Lina yang sedang memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Sudah makan belum, Teh?" tanya Bumi pada Lina yang terlihat kaget dengan kedatangan Bumi.
"Su-sudah, Mbak." Patah-patah Lina menjawab pertanyaan Bumi.
Bumi segera mendekati Ara dan Akhza. Matanya langsung tertuju pada wajah Ara yang merah, matanya seperti habis menangis hebat. Dan ....
"Kuping Neng Ara kenapa, Teh?" Bumi histeris demi melihat telinga sebelah kiri Arah merah, terdapat darah mengering di sana.
Ingin segera memegang dan mengamati lebih dekat, tapi Ara terlihat sedang lelap sekali.
"Kenapa, Teh?" desak Bumi pada Lina yang kini gemetaran.
"Teh, aku tanya. Kuping Neng kenapa berdarah?"
Dengan terpatah-patah Lina menceritakan kejadian tadi secara mendetail. Membuat Bumi menangis merasa sangat bersalah. Tapi, tubuhnya benar-benar terasa lelah. Dia tak bisa mendengar apa-apa tadi.
"Ayahnya emang nggak ada nyamperin ke kamar?" tanya Bumi membuat Lina menunduk. Belum pernah Bumi seemosi ini.
"Tadi ada sebentar, tapi keluar lagi," sahut Lina.
Dengan langkah cepat Bumi menuruni undakan tangga. Ia bahkan harus mengangkat gamisnya agar dapat melangkah lebar-lebar. Entahlah, mengapa perasaan marahnya justru tertuju pada Akash?
Di bawah ternyata tamu masih banyak yang berdatangan. Bumi menyapukan pandangan ke sana ke mari demi mencari suaminya. Dia sampai harus menuju taman belakang agar dapat menemukan suaminya. Sempat saling sapa dengan beberapa kerabat Ummi.
Tiba di taman belakang yang sudah dihias sedemikian indah, Bumi akhirnya mendapati sekumpulan orang yang dapat dipastikan adalah suaminya dan juga kakaknya. Benar saja, dia hafal punggung siapa itu yang sedang duduk menghadap meja. Tapi, kenapa ada perempuan yang tak ia kenal di sana.
Perempuan berambut panjang duduk bersebelahan dengan suaminya. Bumi memang hanya dapat melihat punggung keduanya, tapi bisa dipastikan itu adalah suaminya. Ia pelan-pelan mendekati mereka. Bahkan Laut dan Damar pun tak menyadari keberadaannya.
"Lo nikah nggak ngundang-ngundang sih!" protes perempuan itu seraya menyikut perut Akash.
Bumi sudah mulai kesal. Tapi, dia ingin mendengar lebih banyak obrolan mereka. Dia menahan diri demi mendengar jawaban Akash.
"Gue lupa atau apa ya?" sahut Akash yang kembali mendapat respon berlebihan dari perempuan itu yang menepuk bahu Akash.
"Sengaja kan biar pas ketemu bisa ngaku masih bujang?" todong perempuan itu membuat Bumi semakin geram namun tetap menahan diri.
__ADS_1
"Enak aja, ngaco! lo sendiri kapan kawin?" Akash terlihat menggeser kursinya agar berjauhan dengan temannya itu.
"Cowok yang gue suka udah keburu nikah. Nggak laku gue," timpal perempuan itu membuat Akash tertawa.
"Mana ada nggak laku. Udah cantik, pengusaha muda, dan pintar. Pasti banyak yang ngantri," puji Akash.
Baiklah, Bumi sudah tak dapat menahan emosinya. Ia melangkah cepat dan langsung berteriak pada Laut yang sedari tadi tak menyadari keberadaannya.
"Kak, kunci rumah mana?"
"Dititip di satpam, Dek," jawab Laut seraya berdiri.
Akash ikut berdiri, ia langsung menarik lengan istrinya tanpa merasa bersalah.
"Sayang, makan dulu, yuk!" ajak Akash yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bumi.
"Lepas!" tegas Bumi seraya mengibaskan lengannya hingga membuat pegangan Akash terlepas.
"Jangan ikutin aku!" telunjuknya terangkat, membuat Akash tak berani mengikutinya. Ia paham, seberapa keras istrinya itu.
Bumi segera berlari ke depan. Melewati keramaian orang-orang yang sedang bersanda gurau. Menikmati euforia kebahagiaaan Nadia dan Hafidz.
Tapi, tidak dengan hatinya. Ia sekarang merasa kacau. Apa-apaan suaminya malah sedang memuji wanita lain saat putri mereka terluka.
"Mang, tolong ikut saya ke atas!" pinta Bumi pada mang Mamin yang sedang berjaga di pos. Mamin tentu langsung mengangguk.
"Pak Panji, siapkan mobil. Sebentar lagi antar saya pulang ke rumah Mama." Panji, sang sopir pribadi Ummi tentu mengangguk hormat seraya beranjak dari duduknya.
Kedua orang itu tak ada yang berani berkata demi melihat raut wajah serius Bumi.
Setelah itu, Bumi segera berlari diikuti Mamin. Pertama ia masuk ke dalam kamar Ummi untuk memberitahu Lina agar segera bersiap karena mereka akan segera berangkat.
Selanjutnya Bumi kembali masuk ke kamar Akash, membangunkan Eli dan segera menyuruhnya bersiap-siap. Eli tentu dengan cekatan menyiapkan tas dan barang-barang yang akan dibawa pergi. Setelah selesai, Bumi meminta Mamin membawanya terlebih dahulu ke mobil.
Setelah dirasa tidak ada yang ketinggalan, Bumi segera kembali ke kamar Ummi. Dia menggendong Ara yang masih terlelap. Aro digendong oleh Eli dan Akhza oleh Lina.
__ADS_1
Kedua asistennya itu hanya dapat mengikuti Bumi dengan bermacam tanya di benak. Bumi merasa sangat marah pada suaminya. Saat ini ia hanya ingin pergi dari rumah Ummi. Perasaannya jadi berkecamuk hancur karena sesuatu yang belum jelas asal usulnya. Ia hanya ingin pergi dari situasi yang menurutnya menyebalkan itu.