Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
16


__ADS_3

Sore itu setelah acara pengajian selesai Bumi yang awalnya akan segera kembali pulang terpaksa tetap tinggal karena Nadia yang menahannya. Sebenarnya Bumi merasa tidak enak ditambah hari itu Rere dan orangtuanya juga mengikuti pengajian.


"Mama duluan pulang tidak apa-apa kan?" Ayas yang sudah berjanji segera pulang pada Laut karena di rumah sedang ada Ayesha.


"Iya Ma, Bumi juga sebentar koq. Kasihan Nadia kalau Bumi menolak ajakannya," walau berat hati Bumi membiarkan Ayas pulang lebih dulu.


Terlihat di ruang tamu dua keluarga yang anak-anaknya dijodohkan itu sedang bercengkrama. Bumi dan Nadia yang duduk di ruang keluarga samar-samar dapat mendengar pembicaraan Mereka. Hati Bumi terasa berdenyut sakit saat Rere dengan terang-terangan bergelayut manja di lengan Akash. Walaupun Akas beberapa kali terlihat menghindar, namun Rere seolah sengaja melakukannya.


"Re, Kamu sepertinya sudah sangat ingin segera menikah? jadi kapan Kalian siap nya?" tanya Yona, Ibunda Rere.


"Belum tahu sih, Mi. Aku masih nyaman seperti ini," jawab Rere yang memang selalu terlihat cantik dan anggun.


"Lebih baik disegerakan, nanti pacarannya setelah menikah saja." Usul Zahra.


"Iya, Nak. Tidak baik berlama-lama seperti ini. Ummi lebih ingin Kalian segera menikah!"


Bumi yang dengan jelas mendengar perbincangan itu rasanya sungguh tidak tahan lagi. Bumi mendongakan matanya menatap langit-langit untuk menahan air matanya agar tak jatuh. Nadia seolah mengerti perasaan Bumi berusaha mengalihkan perhatian Bumi.


"Kak Bumi jadi perawat itu susah gak sih?"


Bumi cepat-cepat menenangkan diri dengan mengatur nafasnya.


"Susah-susah gampang sih, Nad. Ada suka dukanya."


"Kak Bumi gak apa-apa kan?" Nadia khawatir karena suara Bumi terdengar parau.


"Nggak apa-apa, memangnya kenapa. Kaka cuma sedikit pilek aja nih. Makanya mata sama hidungnya berair," Bumi berkilah seraya mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya


"Kita ngobrol di kamar Aku aja gimana?" tanya Nadia.


Bumi terlihat berfikir sejenak, jika ke kamar Nadia berarti Mereka harus melewati ruang tamu dan Bumi sedang tidak ingin berpapasan dengan Akash dan juga Rere.


"Di sini saja, lagipula udah nyaman duduk di sini," Bumi menaikkan kedua kakinya ke atas kursi.


"Aku tuh sebetulnya tidak begitu suka sama sifat Kak Rere. Kasian Kak Akash, kaya tertekan banget," Nadia melirik ke arah Kakaknya yang memang kelihatan tidak nyaman. Di ruang tamu Akash tidak banyak bicara, Dia hanya sesekali tersenyum dan mengangguk menimpali percakapan yang didominasi oleh para orangtua itu.

__ADS_1


"Kak Rere cantik, koq. Cocok sama Kak Akash." Entah mengapa terkadang mulut dan hati tidak bisa satu jalur dalam melakukan tugasnya.


"Iya cantik, tapi...." Nadia menggantung kalimatnya karena Ummi memanggilnya.


"Sebentar ya, Kak." Berlari kecil menuju ruang tamu.


Dari dalam ruang keluarga Bumi dapat mendengar bahwa keluarga Rere sedang berpamitan ditandai dengan ucapan salam dari Mereka.


Tak lama derap langkah beberapa orang mendekati ruang keluarga. Bumi segera membetulkan posisi duduknya dengan lebih sopan. Dia menghela nafas, jangan sampai terlihat wajah kesal dan sedihnya.


"Maaf ya, Kak. Aku barusan disuruh salim sama Kak Rere." Nadia kembali duduk.


"Bumi, ayo nak Kamu mau apa saja ambil ya! Ummi mau ke kamar dulu."


"Kak Zha juga ke atas dulu ya, Bumi. Ayo, Mas!" Zahra menggandeng tangan suaminya berjalan di belakang Ummi menuju kamar mereka.


Akash yang hari itu hanya mengenakan sarung dan kaos hitam lengan pendek ikut duduk di sebelah Nadia. Sengaja Dia jatuhkan tubuhnya itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nadia.


"Sabar ya, Kak. Ini ujian hihihi," Nadia menggoda Kakakknya.


"Seneng banget Kakaknya menderita gini," Akas mencubit pipi Nadia.


Akash segera menarik kepalanya dari bahu Nadia.


"Dek, Kakak minta tolong buatkan teh manis!" Akash menyenggol bahu adiknya.


"Kakak..." Nadia merajuk.


"Adek, Kakak jarang lho ada di rumah," Akash membulatkan matanya pada Nadia seolah memberi isyarat untuk meninggalkannya dengan Bumi.


"Iya, deh!" Nadia beranjak dengan langkah malas.


"Maksud Kamu apa? Kamu sama saja ya seperti keluargaku!" Akas bicara dengan sedikit berbisik namun penuh penekanan.


"Aku harus bilang apa? Aku punya hak apa?" Bumi masih enggan memandang Akash. Dia meremas jemarinya, perasaannya campur aduk.

__ADS_1


"Kamu berhak melarangku, Bumi!"


"Memangnya Aku siapa? Aku cuma seorang Bumi yang sedari kecil sudah dengan sangat lancang memimpikan selalu bisa bersama Kak Akash. Menjadikan Kakak sebagai kiblat cinta. Satu-satunya lelaki yang ingin Aku tuju. Tapi Aku sekarang sadar, Aku hanya seorang Bumi yang tidak akan pernah bisa menggapai langit," Bumi memberanikan diri menatap Akash dengan air mata yang menggenang.


"Kamu menyerah?"


"A-kash artinya La-ngit seperti Kakak bilang saat Kita kecil, dari nama saja sudah menjelaskan di mana seharusnya posisi Kita!" Bumi mengusap sebutir bening kristal yang berhasil lolos dari matanya. Ingin rasanya mengerjap, tapi takut air mata tumpah.


"Itu sudah berlalu Bumi!" Akash berusaha menatao mata mata yang sedang memupuk luka itu.


"Bumi tidak akan pernah sampai menggapai langit!" sekali lagi air mata itu lolos dari peraduaannya dan segera Bumi mengusapnya.


"Jika Bumi tidak bisa menggapai langit, biarkan langit yang datang pada Bumi. Suatu saat langit itu akan runtuh, siapa yang pertama kali menangkapnya? Bumi! Jadi, jangan pernah berpikir bahwa langit dan Bumi tidak bisa bersatu!"


Akash beranjak, Dia berfikir tidak akan ada ujungnya bicara dengan Bumi yang sedang emosi seperti itu.


"Jangan macam-macam, Kak. Jangan memperumit keadaan yang sebenarnya mudah buat Kamu jalani!" perkataan Bumi menghentikan langkah Akash.


"Kamu sedang Aku perjuangkan, sebaiknya diam dan berdo'alah!" ujar Akash tanpa menoleh.


Bumi berdiri, lalu melangkah ke samping Akash.


"Aku bahkan malu untuk berdo'a setelah banyak dosa yang kuperbuat. Aku bahkan tak pantas meminta kebahagiaan."


"Ya sudah, duduk manis saja. Tunggu Aku, Aku akan berjuang dan berdo'a," Akash melirik Bumi. Dari dadanya yang naik turun Akash bisa tahu bahwa gadis itu sedang menahan tangis.


"Aku tidak pantas diperjuangkan, Kak. Aku shalat saja hanya mampu membaca surat Al-ikhlas. Aku terlalu buruk untuk berdampingan dengan Kamu yang sempurna!" Bumi mencengkran ujung jilbabnya.


"Makanya Aku yang sempurna ini harus bersanding denganmu untuk mengajarkanmu menghafal banyak ayat suci agar kamu tidak malu setiap kali datang pada Allah hanya membawa surat Al-ikhlas!" Akash masi melirik Bumi yang terlihat tersenyum tipis.


"Pulanglah! jika malu untuk meminta kebahagiaan, perbanyaklah mengucap istighfar sebab Allah maha mengampuni," Akas melangkah meninggalkan Bumi yang tersenyum. Air matanya mengering sendiri.


Bumi segera pamit setelah Nadia kembali, awalnya nadia menahannya. Namun, Bumi beralasan sudah ditunggu Mamanya di rumah. Dengan berat hati Nadia melepas kepulangan Bumi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2