Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
131


__ADS_3

Setelah kejadian kebakaran itu berlalu, Bumi mulai menguasai dirinya untuk menahan segala emosinya. Ia tak ingin membuat suaminya yang sedang merintis kembali salah satu usahanya harus direpotkan pula dengan tingkah-tingkah manjanya.


Meski semakin berat membawa perutnya. ia berusaha untuk tidak banyak mengeluh. Dokter sudah menyarankan agar bila sudah ada tanda-tanda melahirkan dirinya tak boleh panik agar orang-orang di sekitarpun tak ikut panik.


Pertengahan Desember curah hujan mulai sering terjadi. Seperti halnya jatuh cinta, hujan sering datang tiba-tiba.


Bumi sedang berjalan-jalan di sekitaran taman di bawah rintik hujan sisa tadi siang. Celin sudah beberapa hari tak datang, sebab sering terjebak hujan saat akan berangkat katanya dalam pesan yang ia kirim pada Bumi.


Dia merasa perutnya sudah mulai tak enak. Bumi menghitung berapa kali dari pagi tadi hingga sore ini perutnya kontraksi seperti itu.


"Kalian sudah mau lahir, Sayang?" ucapnya seraya mengelus perutnya. "Kita kerjasama supaya prosesnya cepat ya, Nak." Imbuhnya seraya menghentikan langkah karena merasakan panas di pinggangnya.


Sedari tadi ia berkali-kali mengecek saat buang air kecil apakah ada lendir bercampur darah? tapi belum. Kali ini keinginannya untuk buang air kecil ditambah pula dengan rasa mulas yang mendesak minta dikeluarkan.


Setelah dirasa pinggang sudah kembali normal, Bumi segera ke kamar mandi. Kali ini meski terkejut, dia mendapati lendir bercampur darah itu pada pakaian dalamnya.


Bumi mencari Mamanya untuk segera bersiap ke rumah sakit. Akash masih belum kembali dari Jakarta, ada beberapa hal yang belum selesai diurus katanya.


"Mama telpon suami kamu dulu." Ujar Ayas dan diangguki oleh Bumi.


Bumi segera ke kamar untuk mengambil tas berisi perlengkapan bayinya. Ia semakin yakin akan melahirkan sebab kontraksi sudah mulai sering terjadi. Ia ingat betul apa kata dokter Ayu saat seminggu lalu diperiksa. Bila kontraksi sudah sering terjadi antara 5 hingga 10 menit serta janin gerakannya mulai tidak aktif, segeralah ke rumah sakit jam berapapun itu.


"Suami kamu langsung jalan pulang, dia juga yang sudah mengabari dokter kandunganmu." Beritahu Ayas dengan wajah panik.


"Mam, jangan panik. Aku pasti baik-baik saja." Tutur Bumi seraya tersenyum hangat.


"Iya, Sayang." Jawaban singkat diberikan Ayas, ia tak menyangka justru putrinya terlihat lebih dewasa di saat akan melahirkan.


Yang dikhawatirkan Ayas adalah putrinya akan terus-terusan merengek saat kontraksi nyatanya tak terjadi. Bumi hanya terlihat meringis seraya terus menggulirkan tasbih di tangannya.


Sebelumnya Akash sudah menyiapkan seorang supir untuk mengantisipasi kejadian seperti ini. Begitu perlengkapan siap Bumi dan Ayas segera berangkat ke rumah sakit. Bumi merasakan ada air yang merembes dari bawah sana, ia yakin itu pasti air ketubannya yang pecah.


Ditambah dengan rasa ingin buang air besar, tapi ia tahu itu hanya kamuflase. Seperti tadi, saat ke kamar mandi justru tak ada sedikitpun yang keluar.

__ADS_1


Di dalam perjalanannya, Bumi berusaha mempraktekan apa yang sudah ia pelajari saat senam hamil. Badannya ia miringkan seraya terus membuang nafas pelan. Lakukan seperti orang sedang kepedasan, begitu kata bidan waktu itu.


"Semakin sakit sayang?" tanya Ayas yang tak berhenti mengusap pinggangnya.


"Mama bacakan aku do'a nur buwat. Aku nggak konsen, cuma bisa berdzikir." Ucapnya tanpa menghentikan dzikir dalam hati, tasbih masih terus ia gulirkan.


Ayas menganguk mengerti. Bumi berusaha menyembunyikan segala rasa sakitnya, ia alihkan jemarinya untuk lebih erat memegangi dan menggulirkan tasbih.


Beruntung jalanan tidak macet, dalam waktu kurang dari 20 menit mereka sudah sampai. Sang sopir yang bernama Mang Sana segera membawakan perlengkan majikannya. Ia berkata akan meminta kursi roda pada satpam, tapi Bumi melarangnya. Ia ingin jalan saja.


Ternyata dokter Ayu memang sudah menunggunya. Dokter itu memang sangat bertanggung jawab. Dia sedang di lobby Rumah Sakit saat Bumi datang.


"Tadi begitu Bang Akash telpon saya langsung ke sini menunggu kedatangan Mbaknya." Ujar Dokter Ayu yang direspon dengan senyuman oleh Bumi.


Wajah yang sudah dipenuhi peluh itu nampak pucat, Ayas bahkan sangat sedih melihatnya. Dokter Ayu menyarankan agar Bumi menggunakan kursi roda, tapi lagi-lagi Bumi menolak. Ruang bersalin ternyata sudah disiapkan. Dokter yang menanganinya bukan hanya satu melainkan dua.


Di ruang bersalin itu seorang dokter lagi sudah siap menunggu bersama beberapa orang perawat pula. Bumi mengulas senyum walau masih terlihat pucat.


"Pakaian dalamnya dibuka saja ya, Mbak." Ucap dokter Ayu Bumi mengangguk seraya pamit ke kamar mandi juga karena ingin buang air kecil.


"Semuanya normal, InsyaAllah bisa normal nih melahirkannya, Mbak. Sesuai keinginan." Ujar dokter Ayu. Ia ingat betul terakhir diperiksa posisi kepala bayi sudah sangat bagus, sesuai pada tempatnya


"Posisi melahirkan, ya, Mbak. Sesuai yang sudah diberitahukan." Ujar Dokter Ayu.


Bumi mengangguk mengerti, ia menekuk kedua kakinya dengan posisi mengangkang. Di bawah sana ia merasakan benda dingin disapukan di area intimnya. Dia juga merasakan sesuatu memasukinya, ingin berteriak karena rasanya semakin sakit namun ia tahan.


"Waah sudah bukaan 8." Bisik dokter Ayu pada rekannya yang bernama Dokter Army.


"Hebat ya Mbaknya tidak banyak mengeluh." Bisik dokter Army.


Ayas yang berdiri di samping Bumi terus merapalkan do'a dalam hati seraya mengelap dahi yang masih membanjiri keningnya.


"Suaminya sebentar lagi sampai, rileks ya, Mbak." Bumi mengangguk tanpa bertanya dari mana dokter cantik itu tahu Akash akan segera sampai.

__ADS_1


"Mbaknya lapar? bisa makan dulu, ya?" tawar Dokter Ayu.


Bumi mengangguk sebagai tanda menghargai, ia hanya takut tak bisa lagi berbuat kebaikan setelah ini. Setidaknya ia tak ingin merepotkan orang-orang dengan sikap susah diaturnya.


Seorang perawat mendekat ke arahnya membawa nampan berisi nasi putih, sayur sop dan ayam yang hanya direbus saja sebab warnanya pucat pasi. Seperti penampakan wajahnya saat ini.


Perlahan Bumi menerima dan mengunyah suapan demi suapan yang diberikan perawat itu. Dia berusaha bekerja sama dengan menghabiskan makanan itu. Sebab ia pernah merasakan menjadi perawat dan amat kesal bila mendapati pasien yang tak mau makan.


"Waah Mbaknya hebat. Jika semua pasien yang akan melahirkan seperti ini, saya tak perlu repot membujuk." Seloroh perawat itu seraya berlalu membawa nampan yang sudah tandas isinya.


Akash masih belum sampai saat Bumi mulai tak kuat lagi menahan rasa mulas dan panas di pinggangnya. Ayas masih dalam posisinya tak berhenti berdo'a.


"Mbak usianya berapa?" tanya dokter Ayu.


Bumi tahu dokter itu sedang mengulur waktu hingga bukaannya tiba di angka sepuluh. Meski sambil menahan sakit, Bumi tetap berusaha menjawab.


"Hebat ya, Mbaknya. Bisa tenang seperti ini." Ujar dokter Army.


Bersamaan dengan itu Akash datang, helm di tangannya menandakan bahwa ia mengendarai motor saat perjalanan ke rumah sakit. Pria itu langsung berhamburan ke arah Bumi. Melihat wajah istrinya yang penuh peluh dan pucat ia panik.


"Sakit, Sayang?" tanyanya, menaruh sembarangan helm tak peduli saat helm itu mengenai kaki salah satu perawat.


"Bang, lebih baik cuci tangan dulu." Dokter Ayu mengingatkan. Akash mengerti, ia segera menuju wastafel yang terletak di pojok ruangan. Setelah mengeringkan tangannya ia kembali menghampiri istrinya.


"Mana yang sakit?" desaknya seraya mengelap keringat di dahi istrinya yang tak berhenti mengucur.


"Nggak sakit, kok." Sahut Bumi menangkup kedua pipi suaminya yang amat dingin.


"Maafkan aku yang banyak salah sama kamu." Ujar Bumi membuat Akash menggeleng dan mengambil salah satu tangan Bumi untuk ia ciumi. Keduanya tak peduli dengan beberapa pasang mata yang sedang menyaksikannya.


"Enggak, kamu nggak pernah salah apa-apa. Aku ikhlas." Ujar Akash seraya beralih memandang dokter Ayu seolah bertanya keadaan istrinya.


"Semuanya aman, posisi bayi sudah bagus. Tinggal menunggu bukaan lengkap." Dokter Ayu menjawab kekhawatiran Akash.

__ADS_1


Ia pandangi wajah istrinya yang pucat pasi. Bibirnya terlihat terus berdzikir dengan tasbih yang masih ia gulirkan di tangan. Akash bersyukur karena yang dikhawatirkannya tak terjadi. Bumi justru lebih tegar dan kuat di saat-saat seperti ini.


__ADS_2