Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
109


__ADS_3

Setelah Bumi terus mendesak, akhirnya Akash mau juga meminta maaf pada Nadia. Sore itu, Akash dan Bumi menemui Nadia yang berada di kamarnya.


"Maaf ya, dek. Aku hanya ingin kamu pikirkan baik-baik keputusan kamu." Akash berkata sambil memeluk bahu adiknya yang sedang duduk bersandar pada headboard tempat tidur.


"Kakak tahu kan rasanya gimana saat kita suka sekali sama orang tapi dilarang sama saudara kita?" tanya Nadia.


"Kakak nggak larang, Dek," elak Akash. "Kakak hanya ingin kamu bereskan dulu kuliahmu," lanjut Akash masih memeluk bahu itu.


"Tapi masih lama Kak, satu tahun lagi." Rengek Nadia.


"Aku aja 13 tahun nggak ketemu tapi kalau jodoh tetap bisa bersatu," lagi, Akash membujuk Nadia agar bisa bersabar sedikit saja.


"Aku nggak sekuat istri Kakak, aku takut nggak bisa." Keluh Nadia.


"Dek, kamu fikir baik-baik," Akash merubah posisi duduknya agar berhadapan dengan Nadia. Dirinya bersingsut ke tengah tempat tidur lalu menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya dan berkata, "sini, Sayang," pada Bumi yang sedari tadi masih berdiri.


"Kenapa berdiri terus?" tanyanya pada Bumi setelah istrinya itu duduk di sampingnya.


"Terkesima lihat adik kakak lagi romantis-romantisan," kilah Bumi seraya tertawa kecil. Akash mengusap pucuk kepalanya kemudian mencubit pipinya gemas. Nadia malu sendiri melihat perlakuan Akash pada Bumi yang terlihat begitu menyayanginya.


"Dek, gini ya....," fokus Akash kembali pada Nadia sebelah tangannya menggenggam tangan istrinya yang kini duduk di sampingnya.


"Hafidz kan kerjanya di sana jadi dia nggak mungkin pindah ke sini kalau kalian sudah menikah." Akash mencoba memberi pengertian pada Nadia.


"Mas Hafidz memang sudah bilang kalau bisa aku yang pindah ke sana," cerita Nadia. "Apalagi sekarang dia sedang ikut program sertifikasi dan apa gitu," imbuhnya dengan berfikir keras tentang kegiatan yang Hafidz lakukan, dia lupa.


"Dek, kalau sudah menikah bisa Kakak pastikan kalian tidak akan bisa dipisahkan barang sehari saja," ujar Akash sambil melirik istrinya yang sedang mengamatinya. Bumi jadi salah tingkah ketahuan sedang memperhatikan suaminya itu. Sempat-sempatnya Akash membisik, "i love, you."


Hal itu tentu saja didengar Nadia apalagi Bumi. Wajahnya merah padam, tubuhnya mengawang rasanya dikelilingi ribuan kupu-kupu. Definisi kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Nanti kalau kamu pindah, bagaimana kuliahmu?" tanya Akash membuat Nadia menyadari hal yang selama ini tak terpikir olehnya.


"Iya juga ya, Kak. Aku nggak kepikiran," keluh Nadia.


"Jangan bingung, lusa kita mau ke kampung. Jadi kamu ikut aja, kita bisa bicarakan sama Bu Haji dan Pak Haji." Bumi memberikan usulan, Nadia mengangguk mantap tapi tidak dengan suaminya.


"Nggak, aku nggak mau kamu ketemu sama cowok itu dan keluarganya." Akash menggeleng.


"Kenapa nggak boleh?" rengek Bumi, sorot matanya mengiba.


"Biar gimana kamu sempat dekat kan sama mereka, aku gak mau hal itu terulang." Akash bicara tanpa menatap lawan bicaranya yang justru sedang menatapnya lekat. Bumi bergelayut manja di lengannya, sengaja agar suaminya luluh.


"Suamiku tampan sekali, jantungku bisa copot dari tempatnya setiap hari melihatnya." Bumi mencoba membujuk.


"Nggak terima gombalan," sindir Akash membuat Bumi mengerucutkan bibir.


"Kak Akash berlebihan, Kak Bumi nggak akan kayak gitu lah. Inget Kak, jangan cemburu tanpa alasan gitu, nanti malah memantik api pertikaan." Ucap Nadia mengingatkan Akash. Nadia sering mendengar hal ini dari Ummi saat sedang mengisi pengajian.

__ADS_1


Akash beristighfar, diusap wajahnya pelan. Menghirup udara panjang dan melepaskannya perlahan. Berharap emosinya keluar bersamaan dengan nafas yang ia buang.


"Maaf ya, Sayang. Iya kita datang bersama-sama demi Nadia." Ucap Akash seraya menatap balik Bumi. Yang ditatap tentu menyambutnya dengan riang gembira sampai reflek mendaratkan ciuman di hidung mancungnya dan mendapat protes dari Nadia.


"Kalian ini bikin mataku ternoda aja, udah sana kembali ke kamar kalian." Ujar Nadia, pura-pura marah.


Hanya kekehan dari kedua pengantin baru itu, seraya turun dari tempat tidur dan meninggalkan ruangan sambil terus berpegangan tangan.


*****


Malam hari setelah selesai makan malam dan hendak bersiap tidur, getaran di atas meja rias membuat Bumi reflek meloncat dari tempat tidur untuk mengambil benda pipih yang bergetar itu.


"Hati-hati, Sayang....," Akash memperingatkan dan hanya dibalas Bumi dengan mengacungkan ibu jari sebagai pengganti kata ok.


"Waalaikumsalam, Mam...."


Akash melambaikan tangannya, menepuk tempat kosong di sampingnya agar Bumi duduk.


"Lusa ya, Mam" katanya pada lawan bicaranya di seberang sana seraya berjalan menuju tempat tidur dan duduk di samping suaminya yang langsung merangkul bahunya.


(....)


"Iya Allhamdullillah udah dihandle keluarga Kakak semua,"


(....)


"Do'akan ya, Mam. Semoga lancar."


(....)


(....)


"Waalikumsalam," seraya meletakan ponsel sembarang di tengah kasur setelah Sang Mama menutup panggilannya.


"Apa kata Mama?" Akash penasaran karena setelah menerima telpon wajah Bumi jadi murung.


"Mama nggak mau pindah lagi ke sini, Kak." Adu Bumi seraya menyandarkan kepalanya di dada Akash.


"Tunggu deh, tiduran aja yuk." Akash menjauhkan kepala Bumi, dirinya berbaring merentangkan tangan sebelah kanannya dan menepuk-nepuk lengannya sendiri, "sini tiduran," tentu saja Bumi langsung menurut. "Buka dulu jepit rambutnya," suruh Akash, tapi malah dia sendiri yang melepas jepit itu dan mengaitkannya pada ujung kaos yang dipakainya.


Bumi langsung merasa nyaman saat harum tubuh suaminya terhirup dan aromanya menguar ke selurung rongga hidung, memanjakan indera penciumannya itu.


"Kamu suka banget sih endus-endus gitu," protes Akash saat istrinya menggesekkan hidungnya ke bagian ketiaknya.


"Abisnya wangi Kakak enak, kalau makanan pasti udah abis aku makan." Kelakar Bumi dan dihadiahi ciuman bertubi-tubi di wajahnya.


"Udah udah, geli tahu!" protes Bumi saat Akash tak kunjung menghentikan aksinya.

__ADS_1


"Udah ih, kan aku mau cerita," Bumi merajuk membuat Akash terpaksa menghentikan aksinya.


"Ya udah maaf, ayo cerita." Akash merapikan rambut istrinya yang menutupi sebagian wajahnya, diselipkan rambut itu di balik telinga Bumi.


"Mama mau balik lagi Kak ke kampung," ucap Bumi lirih, raut wajahnya menampakkan kesedihan. "Nanti aku kangen gimana?" keluhnya seraya mendapati diri tak bisa menahan tangisan. "Sekarang jadi kangen, padahal tadi juga kan bertemu." Selanjutnya tangisnya pecah.


Akash tak menjawab, dia hanya mendekap tubuh istrinya dan membiarkannya menangis dalam dekapannya. Rupanya air matanya cukup deras, Akash merasakan basah pada kausnya.


Cukup lama Bumi menangis, sampai akhirnya dia meredakan sendiri tangisnya. Akash sedari tadi membelai rambut dan punggung Bumi bergantian. Tak berani bicara apa-apa.


Bumi mengurai pelukkannya, dia mendongakan kepala mencari netra suaminya untuk ditatap.


"Kenapa, Sayang?" tanya Akash begitu pandangan keduanya bertemu.


"I love you," ucap Bumi lirih seraya kembali menenggelamkan wajahnya di dada suaminya sebelum muka merahnya dilihat olehnya.


Akash lagi-lagi menghujaninya dengan ciuman, kali ini pada pucuk kepalanya. Entahlah sudah sebahagia apa Bumi dibuatnya, jika ini mimpi rasanya tidak ingin bangun kembali. Beruntungnya ini nyata.


*****


Keesokan harinya Akash mengajak Bumi ke restoran setelah beberapa hari ini suaminya itu tidak datang ke sana.


"Kita menginap di sana, ya!" seru Akash yang sedang mengancingkan kemeja pada Bumi yang sibuk memakai hijab berwarna hitam senada dengan warna gamisnya.


"Siap, komandan." Jawab Bumi seraya membuka lagi hikabnya karena lupa tidak mengikat rambutnya yang masih lembab, belum sepenuhnya kering. Kegiatan mendayung di atas awannya semalam meski tak lama seperti malam kemarin tetap saja selalu meninggalkan ulasan senyum di bibirnya.


"Aku beli mobil baru, Bang Ilham sih yang urus. Siang ini dikirim ke restoran." Beritahu Akash, bilang beli mobil baru seringan bilang beli kacang goreng. Tanpa beban, seolah hal biasa saja.


"Hmm, padahal mobil Ummi aja ada dua Kak. Jarang dipakai pula." Protes Bumi, istri di mana-mana selalu penuh perhitungan.


"Kan itu punya Ummi, yang aku beli punya kamu."


"Maksudnya?"


"Mobilnya aku beli atas nama kamu, jadi milik kamu." Akas memperjelas ucapannya.


Bukannya senang Bumi malah memberengut, "nggak usah segitunya juga, Kak."


"Kamu berhak mendapatkan yang lebih dari ini." Ucap Akash seraya mendekatinya dan memeluknya dari samping.


"Makasih kalau gitu, nanti aku mau belajar menyetir." Ucap Bumi yang langsung diprotes Akash


"Nggak boleh, cukup aku yang jadi supir. Kalau kamu bisa sendiri nanti kamu nggak butuh aku lagi."


"Kak, kan biar nggak ngerepotin kamu terus," elak Bumi.


"Di saat aku tidak direpotkanmu, di saat itulah aku mulai tidak dibutuhkan. Aku inginnya kamu selalu membutuhkanku, seperti aku yang selalu membutuhkanmu."

__ADS_1


.


. Like dan komennya ditunggu Kakak


__ADS_2